
Paloma membuka mata dengan segera. Dia mengumpulkan tenaga dan kesadaran sambil terduduk di tepian ranjang. Dilihatnya Flor yang berdiri dekat pintu. Wanita muda itu memandang Paloma dengan tatapan aneh. “Selamat pagi, Flor,” sapa Paloma hangat. Dia berusaha bersikap normal di depan rekan satu kamarnya tersebut.
“Selamat pagi, Paloma,” balas Flor ragu. “Kau sudah ditunggu oleh Tuan Sebastian di ruang kerjanya,” ucap wanita muda berambut pirang itu memberitahu.
“Tuan Sebastian? Untuk apa?” tanya Paloma.
“Entahlah. Kulihat ada seorang pria asing di sana. Nyonya Raquela mengatakan bahwa dia adalah dokter yang akan memeriksamu,” ujar Flor terdengar ragu. Dia mungkin merasa tak enak saat harus mengatakan hal demikian kepada Paloma.
“Dokter? Sepagi ini?” pikir Paloma. Wanita muda itu menautkan alisnya. Dia lalu bangkit dan berjalan menuju kamar mandi di sudut kamar. “Bolehkah aku meminta bantuanmu?” Paloma kembali menoleh, sebelum membuka pintu yang terbuat dari fiber.
“Katakan saja.” Flor mengangguk pelan
“Tolong sampaikan kepada Tuan Sebastian, bahwa aku akan bersiap-siap terlebih dulu,” pesan Paloma.
“Baiklah.” Tanpa banyak bicara lagi, Flor bergegas keluar dari kamar. Dia kembali ke ruangan di mana Sebastian dan pria yang merupakan dokter ahli tengah menunggu kehadiran Paloma.
Sementara Paloma segera membersihkan diri. Hari ini, dia tidak mengenakan seragam pelayan. Wanita muda tersebut, memilih mengenakan pakaian yang dibawanya dari Granada. Paloma membiarkan rambut cokelatnya yang sebatas lengan, tergerai indah setelah disisir rapi.
Beberapa saat berlalu. Paloma sudah bersiap untuk menemui Sebastian dan dokter, yang telah menunggunya sejak tadi. Dengan langkah penuh percaya diri, dia menyusuri koridor. Kali ini, Paloma rupanya menjadi orang terkenal di Casa del Castaneda. Semua orang yang yang berpapasan dengannya, pasti menoleh dan menatap dia. Walaupun Paloma sadar bahwa itu bukan sorot mata yang bersahabat.
Paloma berusaha untuk terlihat tenang dan biasa saja. Padahal, dalam hati ada perasaan yang kembali berkecamuk. Dia berjalan dengan pikiran melanglangbuana tak tentu arah. Segala hal muncul dan berseliweran. Membuatnya merasa bingung harus mendahulukan yang mana.
“Paloma!” panggil sebuah suara yang tak asing lagi di telinga wanita muda, dengan midi dress floral lengan pendek tadi.
Paloma tersadar dari lamunannya. Dia menoleh. Si pemilik mata hazel tersebut menyunggingkan senyuman hangat, saat melihat Martin yang tengah berjalan setengah berlari ke arahnya. “Selamat pagi, Martin,” sapa wanita muda itu.
__ADS_1
“Selamat pagi, Paloma. Apa kau hendak ….”
“Ya. Tuan Sebastian dan seorang dokter sudah menungguku di ruang kerjanya. Aku harus segera ke sana," sela Paloma memotong ucapan Martin.
“Sepagi ini?” Martin menautkan alisnya.
“Sepertinya, Tuan Sebastian sudah tak sabar untuk memberikan hukuman padaku,” ujar Paloma. Sebuah senyuman getir terlukis di bibirnya yang tampak pucat.
Martin tak tahu harus menanggapi bagaimana. Pria itu berusaha untuk bersikap netral. Bagaimanapun juga, Sebastian merupakan majikan tempatnya mengabdi selama sekian lama. Sedangkan Paloma, entah apa arti kehadiran wanita berambut cokelat itu baginya. Martin tak mengerti, mengapa dia harus memberikan perhatian lebih kepada si pemilik mata hazel tersebut.
“Semua akan baik-baik saja. Yakinkan itu pada dirimu. Dengan begitu, kau akan dapat menghadapi apapun tanpa merasa terbebani.” Refleks, Martin meraih kedua tangan Paloma. Menggenggamnya erat, seakan tengah menyalurkan sebuah energi positif kepada wanita muda tersebut.
Paloma tak menolak semua perhatian yang Martin berikan padanya. Dia tersenyum lembut seraya mengangguk pelan. Keyakinan dalam hati kembali muncul. Dukungan yang ditunjukkan Martin, berdampak sangat besar bagi dirinya. “Terima kasih untuk semua dukunganmu, Martin. Kau harus segera ke perkebunan. Aku akan menemui Tuan Sebastian dan dokter.”
Perlahan, Paloma melepaskan genggaman tangan sang mandor tampan. Dia membalikkan badan. Melanjutkan langkah menuju ruang kerja Sebastian. Sementara, Martin mengiringi kepergian Paloma, hingga wanita itu berbelok dan hilang dari pandangannya.
Di dalam sana, tampak Sebastian tengah duduk penuh wibawa bersama seorang pria paruh baya, dengan penampilan rapi dan bersih. Paloma yakin, bahwa pria itu merupakan dokter yang akan memeriksanya. Ragu, wanita muda tersebut melangkah ke dekat sofa, di mana ada dua pria yang sama-sama memandang ke arahnya. Paloma terlihat kikuk. Dia hanya dapat memainkan jemari yang saling bertaut di depan perut. “Selamat pagi, Tuan-tuan.” Paloma menyapa dengan lembut dan sopan.
“Duduklah,” titah Sebastian tanpa membalas sapaan Paloma. Sorot mata pria itu terlihat tak bersahabat. Sama seperti semalam. Namun, Paloma tak ingin memedulikan hal tersebut. Dia lebih memilih fokus pada pria paruh baya yang menyapanya dengan ramah.
“Selamat pagi, Nyonya ….”
“Paloma. Paloma Sanchez de Luna.” Sebuah senyuman lembut, terlukis di wajah cantik tanpa polesan make up Paloma saat menyebutkan namanya. Sepasang lesung pipi juga terlihat menghiasi, menambah manis sikap wanita muda dengan midi dress floral tadi di depan dokter itu. Sebuah pemandangan yang menjadi perhatian Sebastian untuk beberapa saat, sebelum dirinya mengalihkan perhatian kepada sang dokter.
“Baiklah, Nyonya de Luna.” Dokter dengan bagian depan kepalanya yang botak tersebut, mulai membuka perbincangan. “Namaku Alonzo Carvajal. Tuan Sebastian memintaku datang kemari untuk berbincang dengan Anda." Pria bernama Alonzo tersebut tersenyum ramah. Sikap yang sangat berlainan jika dibandingkan dengan Sebastian.
__ADS_1
Paloma mengangguk sopan. "Aku sudah siap, Dokter Carvajal," sahut Paloma kembali tersenyum lembut.
"Baiklah. Sebutkan berapa usia Anda, Nyonya de Luna?" pinta sang dokter.
"Dua puluh lima tahun," jawab Paloma singkat, tapi membuat Sebastian segera mengalihkan pandangan terhadapnya. Pria itu tak menyangka bahwa Paloma ternyata masih berusia terbilang muda.
Sebastian tak banyak bicara. Dia hanya menyimak interaksi yang berlangsung antara Paloma dan sang dokter. Beberapa pertanyaan dijawab dengan baik oleh wanita muda itu. Paloma pun terlihat jauh lebih tenang dan nyaman saat berkomunikasi dengan dokter tadi.
Sekitar satu setengah jam telah berlalu. Berbagai pertanyaan sudah diberikan. Dokter Carvajal mengakhiri sesi tanya-jawab itu. Dia mempersilakan Paloma untuk meninggalkan ruang kerja. Sementara, sang dokter berdiskusi dengan Sebastian. Sang penguasa Casa Del Castaneda itu menyuruh Paloma agar menunggu di luar.
"Jadi, bagaimana hasilnya, Dokter?" tanya Sebastian.
"Dari pengamatan tadi selama melakukan sesi tanya-jawab, Nyonya de Luna terlihat biasa saja. Anda menyaksikan sendiri bahwa dia menjawab semua pertanyaan dengan baik. Tak terlihat ada sesuatu yang aneh pada dirinya," jelas sang dokter. "Itu berarti, dapat disimpulkan bahwa Nyonya de Luna tak memiliki gangguan kejiwaan apapun. Aku rasa cukup, Tuan. Tak ada pemeriksaan tambahan untuknya," putus dokter itu.
"Begitu, ya?" Sebastian manggut-manggut. "Baiklah. Terima kasih atas kehadiran Anda di sini. Mari kuantar keluar." Sebastian beranjak dari tempat duduknya. Dia mengarahkan sang dokter menuju pintu. Setelah Dokter Carvajal berpamitan dari sana, Sebastian mengisyaratkan kepada Paloma agar mengikutinya masuk.
Pria tampan nan gagah itu duduk di kursi kebesarannya. Sementara, Paloma berdiri dengan tatapan tertuju kepada Sebastian. Hal itulah yang membuat pemilik perkebunan zaitun terbesar di Porcuna tersebut merasa tertantang, dengan sikap wanita yang berdiri di depan meja kerjanya. Selama ini, tak ada seorang pun dari pelayan di Casa Del Castaneda yang berani bersikap demikian.
"Kau boleh bernapas lega," ucap Sebastian memecah kesunyian di dalam ruang kerja dengan nuansa merah hati itu.
"Syukurlah. Aku sudah menegaskan dari awal bahwa diriku baik-baik saja," ucap Paloma menanggapi.
"Kau tahu apa artinya?" Sebastian melayangkan tatapan intens kepada wanita di hadapannya.
Sedangkan Paloma tak segera menjawab. Dia sudah mengetahui ke mana arah pembicaraan Sebastian. Wanita muda itu menyelipkan rambut ke belakang telinga. "Biarkan aku pergi dari sini. Aku akan kembali ke Granada. Anda tak harus melihatku lagi, Tuan," ucap Paloma setelah beberapa saat terdiam.
__ADS_1
"Kau akan tetap di sini. Bekerja padaku. Tanpa mendapatkan upah."