Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Di Padang Tandus


__ADS_3

“Aku tidak mau!” Paloma masih tetap berontak. Dia berusaha melawan. Akan tetapi, semua yang dilakukan wanita berambut cokelat itu hanya sia-sia. Namun, Paloma masih berusaha membuka pintu mobil. Dia juga menggedornya dari dalam, meskipun semua tetap tak membuahkan hasil.


Sementara, di lain tempat. Sebastian tampak berjalan gagah. Sepertinya, dia baru kembali dari perkebunan. Iseng, pria itu berbelok ke dekat dapur umum, yaitu tempat yang biasa digunakan untuk menyiapkan makanan bagi para pekerja perkebunan.


Niat Sebastian tadinya sekadar untuk melihat apa yang sedang Paloma lakukan, berhubung hari itu dia belum memberikan hukuman konyolnya terhadap wanita muda tersebut. Sebastian tertegun. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan. Ada kesibukan rutin yang seakan tak ada habisnya di sana. Pria itu melihat satu per satu pelayan wanita yang tak menyadari kehadirannya.


Ada rasa kecewa dalam raut wajah duda tampan itu, ketika mata cokelat madunya tak menemukan sosok Paloma. Sebastian pun membalikkan badan. Dia melanjutkan langkah menuju ruang kerja.


Dalam perjalanannya menuju ruang yang biasa menjadi tempat dia menghabiskan waktu, Sebastian berpapasan dengan beberapa pelayan. Tanpa sengaja, dia mendengar perbincangan para wanita dengan rentang usia hampir sama seperti Paloma.


"Apakah menurutmu yang dikatakan Paloma waktu di perjamuan memang benar? Dia mengaku bahwa Tuan Hernandez adalah suami yang mencampakkannya,” tanya salah seorang pelayan pada rekannya. Wanita itu sama sekali tak menyadari kehadiran sang tuan besar yang berada di belakangnya.


“Kurasa Paloma memang gila, seperti yang dikatakan oleh Tuan Hernandez,” balas sang rekan yang berjalan di samping pelayan itu.


“Kau melihat sendiri tadi, betapa kasarnya Tuan Hernandez saat menarik dan menyeret Paloma ke dalam mobil. Kurasa, walaupun Paloma benar-benar gila, dia tidak berhak diperlakukan demikian. Kasihan sekali wanita itu,” ujar si pelayan yang lain.


“Apa Tuan Hernandez datang kemari?” tanya Sebastian, membuat para pelayan tadi seketika tertegun, lalu menghentikan langkah. Mereka membalikkan badan dan menatap pria rupawan itu dengan gugup.


“Ya, Tuan. Namun, dia langsung pergi lagi dengan membawa Paloma,” jawab salah seorang dari mereka.


Sebuah jawaban yang membuat Sebastian terkejut bukan main. Entah mengapa, dia merasa ada sesuatu yang tak beres. Tanpa berpikir panjang, pria tampan berpostur tegap tersebut bergegas mengambil kunci kendaraan. Setelah itu, dia langsung menuju garasi.

__ADS_1


Sebuah mobil double cabin hitam, keluar dari bangunan luas tempat menyimpan beberapa koleksi mobil milik Sebastian. Dengan kecepatan sedang, dia menjalankan kendaraan tadi meninggalkan area Casa del Castaneda. Entah akan ke mana dirinya saat itu. Sebastian tak tahu arah yang Rafael tuju.


Tiba-tiba, pikiran Sebastian teringat akan penginapan mewah yang biasa menjadi tempat tinggal sementara Rafael selama di Porcuna. Pria itu pun segera memutar kemudi dan mengarahkan kendaraannya menuju ke tempat yang berada di sisi lain kota.


Jalan yang menghubungkan antara wilayah Castaneda dengan penginapan tersebut, melintasi padang tandus dan berdebu. Hanya beberapa semak belukar yang tumbuh di sana. Padang luas itu dulunya adalah milik tuan tanah yang juga memiliki perkebunan zaitun. Namun, tuan tanah tersebut mengalami kebangkrutan. Akhirnya, dia menelantarkan ribuan hektar perkebunan dengan begitu saja.


Sebastian semakin mempercepat laju mobilnya, karena kondisi jalanan siang itu begitu lengang. Tak ada satu pun mobil yang melintas sejak tadi.


Akan tetapi, Sebastian langsung menginjak pedal rem secara spontan, ketika tatapannya menangkap sebuah kendaraan. Dia mengenali mobil itu sebagai milik Rafael.


Duda tampan tersebut segera turun dari mobil. Sebastian menghampiri kendaraan Rafael yang ternyata kosong. Anehnya, satu pintu penumpang belakang terbuka lebar.


Sebastian nekat menyibak tumbuhan yang menghalanginya tersebut. Dia terus berjalan, hingga sayup-sayup terdengar pekikan suara wanita. “Paloma?” desisnya.


Pria bertubuh tegap itu bergerak semakin cepat menuju arah suara. Dia tertegun luar biasa saat melihat adegan mengerikan tepat di depan mata.


Paloma terbaring di atas tanah, dengan posisi tertelungkup. Sedangkan Rafael berdiri tegak sambil mengacungkan pistol tepat ke arah kepala wanita itu.


“Apa yang kau lakukan, Tuan Hernandez!” seru Sebastian begitu lantang, hingga burung-burung yang bertengger pada dahan beberapa Pohon Akasia di sekitar tempat itu terganggu, lalu terbang tak tentu arah.


“Tuan Castaneda.” Rafael terkejut bukan kepalang, sampai-sampai tak sadar jika dirinya mengarahkan pistol itu kepada Sebastian.

__ADS_1


“Oh, sekarang kau berniat untuk membunuhku?” Sebastian tersenyum sinis. Sedangkan ekor matanya melirik pada Paloma yang masih berada dalam posisinya tadi. Jika dilihat dari bahu rapuh yang bergetar, Sebastian dapat memastikan bahwa Paloma sedang menangis.


“Dengan segala hormat, Tuan Castaneda. Pergilah dari sini. Ini sama sekali bukan urusan Anda,” pinta Rafael berusaha bersikap tenang.


“Tentu saja ini merupakan urusanku. Paloma berada di bawah tanggung jawabku, karena dia adalah salah satu pelayan yang terdaftar secara sah dalam data tenaga kerja administrasi perkebunan,” balas Sebastian dengan sorot mata tajam.


“Kumohon, Tuan. Aku tidak ingin berdebat. Pergilah dari sini. Anggap saja kau tak pernah melihat atau mendengar apapun. Lagi pula, Paloma hanya pelayan rendahan. Tak akan ada yang menyadari jika dirinya menghilang. Anda juga bisa memanipulasi data pegawai dengan menghapus nama Paloma.” Rafael tetap bergeming. Dia kini bahkan berani menarik pelatuk pistol yang ujungnya masih mengarah pada Sebastian.


“Kau pikir aku takut padamu, Rafael Hernandez?” geram Sebastian. “Kau hanyalah pria pendatang di Porcuna. Sementara, aku telah tinggal di tempat ini jauh sebelum kau menjejakkan kaki di sini. Jika aku mati, akan ada banyak orang yang mencariku dan menyelidiki penyebabnya!” Sebastian tertawa pelan, saat melihat wajah Rafael yang mendadak pias.


“Aku bukan orang bodoh sepertimu. Selama menuju kemari, aku sudah meninggalkan jejak dan bukti-bukti yang semuanya bisa mengarah padamu. Selain itu, pelayan di tempatku bisa menjadi saksi mata Mereka melihatmu menyeret Paloma. Mereka juga tahu bahwa aku mengejarmu hingga kemari,” ujar Sebastian sambil menyeringai. Dia tak menyesal meskipun menambahi kata-katanya hingga tak sesuai dengan kenyataan. Sebastian terpaksa melakukan hal itu untuk menggertak Rafael. Usahanya tadi ternyata membuahkan hasil. Rafael tampak semakin gugup.


“Bayangkan seandainya Nyonya Vidal mengetahui perbuatan kriminal yang kau lakukan. Dia pasti akan menendangmu kembali ke jalanan, tempat di mana seharusnya kau berada!” ancam Sebastian. “Kau tahu bukan? Dia sangat membenci penjahat dan orang-orang yang liar.”


“Sialan kau, Tuan Castaneda!” sentak Rafael keras. “Seharusnya kau berada di pihakku, bukannya membela wanita rendahan seperti dia!” Telunjuk pria yang tengah diliputi amarah itu, tertuju pada Paloma yang menangis sesenggukan. Dia sama sekali tak berani menampakkan wajahnya.


“Pergi dari sini, atau kau akan menyesal karena telah memantik emosi seorang Sebastian Cruz Castaneda,” ancamnya. “Kau tak akan menyangka, bahwa aku juga bisa melakukan yang jauh lebih bengis dari apa yang hendak dirimu perbuat saat ini.”


Sebastian melangkah maju dengan sikap dan tatap mata waspada.


Sementara, Rafael seperti kehilangan nyali saat melihat sisi lain dari pria yang selama ini menjadi koleganya. “Kau akan menyesali semua ini, Tuan Castaneda,” geram Rafael pelan.

__ADS_1


__ADS_2