
Malam perjamuan pun akhirnya tiba. Satu per satu, tamu undangan datang ke Casa del Castaneda. Mereka berpakaian rapi dan bagus. Para pria terlihat tampan dengan setelan tuksedo. Sementara, tamu wanita mengenakan gaun malam yang sangat indah. Mereka tertawa. Terlihat bahagia dan bebas, seakan tak ada masalah hidup yang menghimpit dan menjadikan beban pikiran.
Paloma beserta rekan-rekannya yang lain, sudah bersiap dengan seragam khusus yang biasa digunakan untuk acara-acara besar. Mereka juga menata rambut dengan rapi. Polesan make up tipis pun semakin mempercantik tampilan para pelayan yang berjumlah puluhan tersebut.
Ini adalah kali pertama bagi Paloma kembali memoleskan riasan di wajahnya. Sejak kepergian Rafael, wanita muda itu sudah tak lagi berdandan atau melakukan perawatan kecantikan. Dia biasa tampil apa adanya. Paloma tersenyum kecil, saat memperhatikan dirinya lewat pantulan cermin. Wajah cantik itu tak lagi terlihat pucat.
“Apa kau sudah siap?” tanya Flor. Dia yang pada dasarnya sudah cantik, terlihat jauh lebih memesona lagi setelah dirias. "Kau terlihat sangat berbeda, Paloma." Sepasang bola mata Flor tampak berbinar saat berkata demikian.
Paloma membalas dengan sebuah senyuman. "Kau terlihat sangat cantik, Flor. Sebentar lagi akan ada bos besar yang melirikmu," balas Paloma diiringi tawa renyah keduanya.
"Semoga. Aku akan menantikan hal itu." Flor kembali tertawa. "Sudahlah. Kita teruskan mengkhayalnya nanti saja. Malam ini, kita harus siap menghadapi kenyataan hidup," ujar wanita muda tersebut seraya beranjak dari ruangan itu.
Paloma segera mengikuti Flor berjalan menyusuri koridor. Mereka bergabung bersama yang lain. Atas arahan dari Matilde, semua mengambil posisi dengan tugas masing-masing. Tak ada yang berpangku tangan. Paloma dan rekan-rekannya melakukan pekerjaan itu dengan penuh tanggung jawab, untuk hasil yang terbaik.
Sekali lagi, Paloma terus menumbuhkan semangat demi tujuan utamanya. Setelah malam ini, dia akan mengundurkan diri dan meminta upah. Jika sudah mengantongi sejumlah uang, Paloma akan berangkat ke Sevilla. Aksi nekat yang dia lakukan, meskipun dirinya tak tahu apakah dapat menemukan Rafael atau tidak. Paloma juga belum terpikirkan bagaimana caranya agar dapat menemukan sang suami dalam waktu yang singkat.
“Bagaimana pekerjaanmu?” bisik Martin yang tiba-tiba sudah berada di belakang Paloma.
Sontak, wanita cantik tadi melonjak kaget. Dia memasang raut terkejut. Paloma bahkan hampir menjatuhkan gelas yang ada di nampan, andai Martin tak segera menahannya. Pria yang menjabat sebagai mandor di perkebunan itu malah tertawa geli, saat melihat ekspresi wanita di hadapannya.
“Astaga. Hati-hati,” tegur Martin pelan.
“Kau membuatku terkejut, Tuan Aguire,” protes Paloma dengan wajah tak terima. Apalagi, setelah melihat Martin yang seakan menertawakannya. “Kenapa tertawa? Kau hampir membuatku berada dalam masalah.” Paloma tampak kesal dengan sikap iseng Martin.
__ADS_1
“Ekspresi terkejutmu sangat menggemaskan. Mirip kucing yang biasa tidur di mess,” jawab Martin seenaknya. Tawa pria tampan itu makin menjadi, setelah melihat Paloma yang mendelik padanya.
“Bisakah kau minggir dan jangan mengganggu pekerjaanku?” Paloma memasang wajah cemberut, apalagi setelah Martin menyamakan dirinya dengan seekor kucing.
“Ya, tentu. Aku tak ingin bermasalah dengan Nyonya Raquela. Selamat bekerja, Paloma. Jangan lupa, namaku adalah Martin,” bisiknya. Pria yang saat itu berpenampilan jauh lebih rapi dari biasanya, segera kembali ke arena pesta. Martin harus mendampingi sang majikan dalam menyambut para tamu.
Paloma tersenyum kecil mengiringi kepergian pria tampan, sang mandor perkebunan. Martin memang terlihat sangat baik. Dia juga merupakan seorang pekerja keras. Itu semua terlihat dari bahasa tubuhnya yang tampak selalu bersemangat.
Namun, saat ini Paloma tak ingin tergoda untuk memikirkan hal yang macam-macam. Lagi pula, Paloma baru bertemu dengannya. Wanita dua puluh lima tahun tersebut tak mau bersikap gegabah. Dia juga tak tahu, apakah Martin memang kerap bersikap demikian pada setiap wanita atau tidak.
“Hey, Paloma! Kenapa hanya melamun?” tegur salah seorang rekan Paloma, yang seketika menyadarkan wanita berambut cokelat tersebut dari lamunannya.
Paloma menoleh sembari tersenyum hangat. “Aku akan mengantar ini dulu,” ucapnya, sambil mengangkat nampan dengan beberapa gelas yang sudah diisi minuman. Paloma kembali ke aula tempat pesta berlangsung. Dia sempat menoleh kepada Martin yang ternyata sedang memandang ke arahnya. Pria itu tersenyum kalem. Paloma segera membalas dengan hal yang sama.
Paloma hanya dapat tersenyum kecil. Betapa beruntung wanita yang bisa dimiliki oleh pria setia seperti Sebastian. Dia mengembuskan napas pelan. Inilah kenyataan hidupnya. Saat ini, Paloma hanya sebagai pengangkat nampan yang melayani para bangsawan Andalusia. Kalangan berduit tebal dengan harta tak terhingga. Dia tak ingin membayangkan sesuatu yang muluk-muluk. Harapannya hanya satu, yaitu bertemu dengan Rafael untuk menyelesaikan urusan pernikahan demi status yang lebih jelas.
Seorang wanita mengangkat tangannya tidak terlalu tinggi. Mengisyaratkan bahwa dia ingin mengambil minuman dari nampan yang dibawa oleh Paloma.
Dengan segera, Paloma menghampiri wanita berpenampilan glamor tadi. Dia menurunkan nampan yang dibawanya agar, wanita itu dapat mengambil gelas dengan mudah dan tanpa harus mengangkat lengan tinggi-tinggi.
“Selamat menikmati, Nyonya,” ucap Paloma ramah, meskipun si wanita tak menggubris sama sekali.
Paloma kembali tersenyum. Begitu rendah orang-orang tanpa harta seperti dirinya. Dia pun bermaksud untuk membalikkan badan. Paloma tak tahu bahwa ada seorang wanita lain di belakangnya.
__ADS_1
Kedua wanita itu saling bersenggolan, membuat Paloma hilang keseimbangan. Dia tak dapat menahan nampan yang berada di telapak tangan kanan. Beberapa gelas pun terjatuh. Salah satunya, mengenai seorang wanita lain yang berdiri tak jauh dari Paloma.
Wanita itu memekik kencang saat mendapati gaun indahnya basah oleh minuman.
Sungguh luar biasa. Semua mata tertuju kepada Paloma. Kini, dia menjadi satu-satunya tersangka dalam insiden memalukan tersebut.
Ya, tentu saja. Tak akan ada siapa pun yang menyalahkan orang kaya. Paloma harus siap menanggung konsekuensinya.
‘Apa-apaan ini?” geram Sebastian pelan.
Akan tetapi, Martin masih dapat mendengar ucapan bernada amarah dari sang majikan dengan cukup jelas. Tanpa perlu diperintah, pria itu segera menghampiri Paloma yang masih berdiri terpaku dengan raut tak percaya. “Paloma,” bisik Martin, "pergilah ke belakang," ucapnya.
Akan tetapi, Paloma tidak menanggapi pria tampan di dekatnya. Wanita itu masih terpaku dengan tatapan intens dan begitu tajam. Dia seperti tengah melihat penampakan hantu.
Martin yang merasa heran, mencoba mengikuti arah tatapan wanita cantik tersebut. Namun, dia masih belum dapat menemukan dengan pasti apa yang menjadi objek utama yang begitu menarik bagi Paloma. Martin kemudian mengalihkan perhatian kepada wanita yang terlihat tak suka karena gaun mahalnya terkena minuman. Dia menghampiri wanita itu. Entah apa yang Martin katakan kepadanya. Satu yang pasti, ajudan kepercayaan Sebastian tersebut sedang membujuk si wanita melalui sebuah permintaan maaf.
Saat sedang berbicara dengan wanita tadi, ekor mata sang mandor muda tanpa sengaja melihat Paloma berjalan. Wanita itu melepas sebelah kitten heels yang dia kenakan. Paloma memukulkan sepatu berwarna hitam tadi, kepada seorang pria yang berdiri mematung sambil memandang dirinya.
Lagi-lagi, semua tamu undangan dibuat tak percaya dengan tontonan tak pantas. Hancur sudah acara jamuan besar itu. Entah akan dikemanakan muka seorang Sebastian Cruz Castaneda, karena ulah seorang pelayan bernama Paloma Sanchez de Luna.
"Hey! Wanita tak tahu tata krama!" sentak seorang wanita paruh baya yang terlihat begitu berkuasa. Sorot matanya tajam mengarah kepada Paloma. "Berani sekali kau melakukan itu pada suamiku!" Wanita dengan penampilan khas bangsawan tersebut, tak segan melampiaskan amarahnya.
"Suamimu?" Paloma membalas tatapan si wanita. "Pria itu adalah suamiku!"
__ADS_1