
Bergetar tubuh Paloma mendengar ucapan Sebastian. Perasaan bersalah terhadap pria itu kian besar meyeruak dalam dada. Namun, bukannya berkata jujur, Paloma justru semakin merasa tak yakin untuk mengatakan yang sebenarnya.
“Sekian lama aku menutup diri dari wanita. Kali ini, aku mencoba untuk kembali membuka hati. Aku tahu mungkin terlalu cepat bagimu. Namun, ada desakan yang sangat kuat dalam hatiku untuk mengatakan ini. Kau adalah wanita yang sangat berbeda, Paloma. Kau pembangkang, keras kepala, tapi aku menyukainya.”
“Sebastian, kau membuatku sangat tersanjung,” balas Paloma.
“Aku akan membuktikan semua yang kuucapkan padamu. Ini bukan hanya sekadar rayuan. Aku akan segera melamarmu, sesaat setelah kau benar-benar terlepas dari Rafael,” ucap Sebastian sungguh-sungguh.
Perasaan dalam dada Paloma kian berkecamuk. Dia tak dapat berkata-kata lagi. Semuanya tercekat di tenggorokan, tak mampu untuk diungkapkan dengan leluasa. Paloma mengembuskan napas dalam-dalam. Perasaan gelisah menyergap dengan sangat kuat. “Sebastian, ini sudah terlalu malam. Aku sangat lelah,” ucap Paloma kemudian.
“Tentu saja. Selamat beristirahat, sayang. Mimpikan aku.” Sebastian menggumam pelan setelah berkata demikian. Dia mengakhiri perbincangannya bersama Paloma.
Sementara, Paloma melemparkan telepon genggamnya ke kasur. Jangankan mengantuk, dia bahkan tak ingin malam itu segera berakhir. Paloma belum sepenuhnya dapat melampiaskan segala rasa kesal. Ya, kekesalan Paloma memang tak juga sirna. Terlebih, karena keesokan harinya Rafael mengajak dia menemui Pengacara Ramos.
“Aku tidak mau! Aku tidak berniat untuk kembali menjalani biduk rumah tangga denganmu!” tolak Paloma mentah-mentah.
“Kau tahu bahwa perceraian bukan sesuatu yang direstui oleh pihak manapun. Apa kau tidak mendengarkan semua ucapan pastor saat di gereja?”
“Kau yang menolak semua nasihat pastor saat itu, Rafael!” tegas Paloma. “Kumohon, jangan mempermainkan hidupku lagi,” pinta Paloma dengan nada bicara yang sedikit melunak.
“Aku tidak sedang mempermainkan hidupmu, Paloma. Aku justru ingin memperbaiki semuanya. Kenapa kau tak memberikan kesempatan padaku untuk menjadi lebih baik? Aku ingin belajar menjadi suami yang bertanggung jawab. Suami dan ayah yang sesungguhnya. Aku ingin menjadikan sisa hidupku menjadi jauh lebih berarti. Kau akan sama jahatnya denganku, jika sampai menghalangi atau bahkan tak mendukungku dalam memperbaiki diri.” Rafael kembali memperlihatkan sikapnya yang sungguh-sungguh.
__ADS_1
“Tuhan saja selalu memberikan kesempatan kedua pada manusia yang ingin bertaubat. Lalu, kenapa kau tak memberiku kesempatan itu? Apa kau sudah jatuh cinta dengan begitu cepat kepada Sebastian? Apa yang sudah kalian lakukan, hingga kau seakan begitu berat untuk melepaskannya? Apa kau sudah sudah tidur dengannya?” tukas Rafael.
“Tutup mulutmu! Aku bukan wanita murahan yang dengan mudah menyerahkan tubuhku pada sembarang pria!” bantah Paloma tegas.
“Lalu, apa yang membuatmu begitu berat untuk melepaskan Sebastian? Apa karena dia kaya raya?”
“Hentikan, Rafael! Apapun alasannya, yang pasti hanya satu hal. Aku tak ingin lagi menjalani hidup denganmu.” Paloma menggeleng kencang.
Rafael diam terpaku. Dia menatap lekat Paloma. Sorot kecewa terlihat jelas dalam sorot matanya. “Apa kau tidak melihat, betapa ayah sangat bahagia dengan keputusanku yang akan mencabut gugatan cerai? Apa kau tega merenggut kembali senyumannya?”
Paloma terdiam. Harus diakui bahwa apa yang Rafael katakan memang benar. Paloma melipat tangan di dada, lalu bersandar pada dinding. “Kenapa kau selalu menempatkanku pada situasi sulit?”
“Tidak, Paloma. Untuk kali ini, aku sama sekali tak bermaksud demikian,” sanggah Rafael. Dia mendekat, lalu berdiri di hadapan wanita yang masih menjadi istrinya yang sah.
“Aku benar-benar ingin hidup denganmu, Paloma. Kau wanita yang sangat baik. Dua kali kau mengobati lukaku. Akan kuganti semua itu dengan kebahagiaan yang selama ini tak kau dapatkan dariku. Apakah aku harus kembali berlutut di hadapanmu?”
Paloma tidak menjawab. Dia hanya menatap tajam Rafael. Ini tak seperti apa yang ada dalam pikirannya. Semua menjadi kacau.
“Jika kau mengatakan bahwa dirimu pernah sangat tertarik dan jatuh cinta padaku, maka izinkan aku untuk kembali menghadirkan rasa itu dalam hatimu. Aku berjanji dan akan membuktikan ucapanku kali ini. Aku akan membuatmu kembali jatuh cinta padaku. Namun, tentu saja kau harus memberikan kesempatan agar aku dapat melakukannya.”
Tatap mata Rafael menyiratkan kesungguhan. Paloma melihat ada yang yang berbeda di sana. Apakah pria itu benar-benar telah berubah? Haruskah Paloma memberinya kesempatan kedua? Belum sempat wanita cantik berambut pendek tersebut memberikan jawaban, Rogelio lebih dulu datang menghampiri mereka.
__ADS_1
“Bukankah hari ini kalian akan menemui Pengacara Ramos?” tanyanya.
“Iya, Ayah,” jawab Rafael. Dia belum melepaskan genggaman tangannya dari Paloma, yang masih terpaku tak bicara sepatah kata pun.
“Kalau begitu cepatlah berangkat. Aku sudah tak sabar menanti kabar baik. Setelah ini selesai, aku akan mengadakan jamuan besar sebagai penyambutan karena kalian telah kembali ke Meksiko,’’ ujar Rogelio. Dia tersenyum bahagia sambil menepuk pundak Rafael. “Aku sangat bangga padamu, Nak.”
“Aku akan menyiapkan mobil,” ucap Rafael seraya berlalu keluar.
Sementara, Paloma masih terpaku di tempatnya. Dia berdiri mematung. Paloma hanya dapat mengepalkan tangan, merutuki kebodohannya yang telah menjadi pengecut.
Rogelio merasa heran melihat sikap Paloma. Dia tahu bahwa ada sesuatu yang salah dengan menantunya tersebut. Rogelio yang tadinya akan beranjak ke ruang kerja, mengurungkan niat tersebut. Dia berdiri di hadapan Paloma yang masih mematung bagai tak bernyawa. “Ada apa lagi, Nak?” tanya pria paruh baya itu.
Paloma tak segera menjawab. Dia memandang sayu pada ayah mertuanya. “Ayah, aku ….” Paloma menjeda kata-katanya sejenak. “Aku tidak bisa,” lanjut wanita itu kemudian.
“Apanya yang tidak bisa, Nak?” tanya Rogelio.
“Aku tidak ingin melanjutkan pernikahan ini, Ayah. Aku ingin berpisah dengan Rafael. Kumohon. Berikan kebebasan padaku,” pinta Paloma. Matanya mulai berkaca-kaca.
Rogelio terdiam mendengar ucapan Paloma. Dia menatap menantu kesayangannya tersebut. Pria paruh baya itu membelai pipi Paloma dengan lembut dan penuh kasih. Dia lalu menggeleng pelan. “Jangan, Nak. Jangan bersikap keras kepala seperti ini,” pintanya.
“Jika kemarin-kemarin aku menyetujui perceraianmu dengan Rafael, itu karena putraku tidak memperlihatkan itikad baik. Namun, ini adalah hal yang kutunggu dari Rafael. Aku tahu bahwa dia akan berubah pikiran. Rafael pria yang baik, meskipun dia pernah melakukan kejahatan yang sangat besar padamu. Kau akan mengetahuinya nanti, seberapa baiknya putraku.”
__ADS_1
“Tidak, Ayah. Kumohon. Jangan menempatkanku dalam situasi seperti ini. Aku sangat menghormati dan menyayangimu. Kau sudah seperti ayah kandung bagiku. Bagaimana bisa aku menentang kata-katamu. Akan tetapi, dalam hal ini … aku tidak bisa.” Paloma menggeleng kencang. Menolak segala keputusan yang harus dirinya terima.
“Nak.” Rogelio memegangi lengan Paloma. “Kau belum memahaminya dengan baik. Suatu saat nanti, akan tiba waktunya di mana kau mengetahui alasan kenapa aku ingn agar kalian bersatu. Namun, tidak untuk saat ini. Aku hanya meminta, kembalilah pada Rafael. Rajut lagi jalinan kasih yang sempat terputus. Berikan dia kesempatan kedua.”