Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Salah Tingkah


__ADS_3

Sebastian tersenyum kalem, ketika Rogelio melangkah ke hadapannya. Sang pemilik ribuan hektar perkebunan zaitun di Porcuna tersebut masih tetap menunjukkan sikap tenang, meski dia tahu bahwa Rogelio bisa saja menendangnya keluar dengan tidak hormat. “Apa yang kau lakukan di sini, Sebastian Cruz Castaneda?” Pertanyaan ayahanda Paloma terdengar sangat tidak bersahabat di telinga Sebastian.


“Aku kemari untuk mengantarkan putri Anda, Tuan Gallardo,” jawab Sebastian disertai senyuman simpul. Usianya yang telah terbilang matang, membuat Sebastian memiliki tingkat pengendalian diri yang baik. Dia berusaha tak terpancing dengan sikap tak ramah Rogelio sebagai tuan rumah di sana.


“Apa urusanmu dengan putriku? Kau membawanya saat aku tak ada di rumah?” tukas Rogelio dingin.


“Ayah.” Paloma mencoba melerai ketegangan antara Rogelio dengan Sebastian. Dia tak bisa membiarkan ayahnya terus bersikap buruk, terhadap pria yang sudah mengantarkannya pulang ke Granada. “Kami baru kembali dari Porcuna,” ucap Paloma. Gerak matanya terlihat tak nyaman, berhubung di sana ada orang asing yang tak berkaitan dengan kasus kecelakaan itu.


Rogelio mengembuskan napas pendek. Dia paham dengan isyarat yang ditunjukkan putrinya. Namun, tidak dengan Sebastian. Dia malah memiliki kesempatan untuk mengatakan yang sebenarnya.


“Kami baru kembali dari kantor polisi, Tuan Gallardo. Tim penyidik sudah menemukan bukti. Pihak kepolisan bahkan telah bergerak untuk menangkap Tatiana Vidal,” terang Sebastian. Ekor matanya mengarah pada Elazar yang seketika memasang raut berbeda.


“Tatiana Vidal?” Rogelio menautkan alisnya.


“Ya, Ayah,” timpal Paloma. “Mobil SUV itu tercatat atas nama Tatiana Vidal.”


Sekali lagi, Sebastian melihat ekspresi lain dari Elazar. Sorot mata pria tampan berambut agak gondrong itu menyiratkan kegundahan yang tak terlukiskan. Elazar, mungkin tak nyaman saat mendengar nama Tatiana Vidal.


Paloma sepertinya ingin bicara lebih banyak lagi. Namun, dia merasa tak enak dengan kehadiran Elazar di sana. Ekor mata janda cantik tersebut sesekali mengarah pada mantan suami Tatiana tersebut.


“Tidak apa-apa, Nak. Tuan Elazar sudah mengetahui semuanya. Tadi kami sudah berbincang panjang lebar. Obrolan kami tak hanya membahas masalah jual-beli perusahaan,” ucap Rogelio. Dia memahami bahasa tubuh yang ditunjukkan Paloma.


“Oh, jadi Anda berminat membeli perusahaan itu?” tanya Sebastian basa-basi.


“Aku tak harus mengatakan apapun padamu, Tuan Castaneda. Kau tidak memiliki urusan dengan kami,” jawab Rogelio dingin dan ketus.


“Ayah, kumohon,” pinta Paloma pelan.


“Tidak apa-apa, Paloma.” Sebastian tersenyum simpul. “Sebaiknya aku pulang saja,” pamitnya. Namun, baru saja duda tampan itu akan berbalik ke pintu, suara Luz Maria telah berhasil membuat Sebastian mengurungkan niatnya.


“Mama.” Luz Maria sudah mandi dan berganti pakaian. Seperti biasa, balita berusia satu setengah tahun itu selalu berpenampilan modis, meskipun usianya masih sangat kecil. Paloma memang memanjakan putri semata wayangnya, dengan pakaian dan aksesoris yang membuat Luz Maria terlihat sangat cantik dan enak dipandang.


Luz Maria berjalan tertatih ke arah Paloma. Dia tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang hanya berjumlah dua. Putri kandung Paloma dengan Rafael tersebut, melangkah sambil merentangkan tangan. “Mama,” panggilnya sekali lagi dengan pelafalan khas anak yang baru bisa belajar bicara.


“Ah, Sayangku.” Paloma menurunkan tubuh. Dia merentangkan tangan saat menyambut Luz Maria yang kian mendekat. Setelah anak itu menghambur ke pelukannya, Paloma langsung menciumi wajah cantik sang putri. “Kau wangi sekali, Sayang.”

__ADS_1


“Nona kecil sudah mandi, Nyonya,” ucap Kalida yang berdiri di belakang Luz Maria.


Belum sempat Paloma menanggapi ucapan Kalida, Sebastian lebih dulu mendekat, lalu menurunkan tubuhnya. “Apa kabar, Luz Maria?” sapa pria tampan empat puluh tahun itu hangat.


Luz Maria menoleh. Di luar dugaan, balita berambut cokelat tersebut tersenyum lebar, lalu menepuk-nepuk pipi Sebastian sambil tertawa riang. Tak hanya Paloma, Rogelio bahkan dibuat heran karenanya. Namun, Rogelio tak mau ambil pusing. Dia kembali duduk di sofa, menghadapi Elazar yang sejak tadi tak mengatakan apapun.


“Maaf, Tuan Blanco,” ucap Rogelio. Pria paruh baya itu melanjutkan pembicaraan seriusnya bersama Elazar.


Sementara, Paloma seperti lebih tertarik dengan sikap Luz Maria terhadap Sebastian.


“Kita berbincang di halaman samping saja,” ajak Paloma seraya menggendong Luz Maria. Balita itu antusias menggerakkan kedua tangannya, berusaha menggapai Sebastian.


“Apa kau ingin kugendong, Nak?” Sebastian mengulurkan tangannya kepada Luz Maria. Membuat putri semata wayang Paloma tersebut semakin aktif bergerak, seolah hendak melompat dari gendongan Paloma.


“Astaga, Sayang." Paloma menoleh kepada Sebastian dengan sorot tak percaya. “Baiklah, jika itu yang kau inginkan." Janda Rafael Hernandez itu mengangkat Luz Maria. Dia memberikan putrinya yang cantik agar digendong Sebastian.


“Ternyata begini rasanya menggendong seorang anak,” ucap Sebastian dengan sorot tak percaya, saat kepala Luz Maria bersandar padanya. Buah hati Paloma tersebut melingkarkan tangan mungilnya di leher pria itu.


“Mama,” ucap Luz Maria dengan suara yang menggemaskan. Membuat sang ibu tertawa.


“Dia baru bisa mengucapkan satu kata itu,” jelas Paloma seraya tergelak. “Duduklah." Paloma mengarahkan Sebastian pada sebuah bangku taman tanpa meja.


Sementara, Luz Maria semakin aktif bergerak. Mulai dari memainkan rambut Sebastian yang sedikit ikal, sampai mengusap-usap bulu-bulu halus yang tumbuh di dagu pria rupawan itu. “Mama,” ucapnya lagi sambil tertawa lebar.


“Rasanya, jiwaku begitu damai,” ujar Sebastian seraya mengecup kening, serta memeluk Luz Maria. “Dulu, aku selalu menginginkan untuk memiliki keturunan dari Brishia. Akan tetapi, takdir Tuhan berkata lain," ucapnya penuh sesal.


“Bertahun-tahun aku hidup dalam kesepian dan kekosongan. Harta tak membantu banyak untuk membuatku bahagia. Gemerlap dunia dan segala godaannya, ternyata tak mampu menghilangkan gundah dalam jiwaku." Sebastian menatap kosong pada bunga-bunga hias beraneka warna, yang terhampar di hadapannya.


"Kau belum bercerita tentang mendiang istrimu. Kulihat, dia sangat cantik dan berkelas. Sepertinya, mendiang istrimu bukan berasal dari kalangan biasa," ujar Paloma.


Sebastian menggumam pelan. Dia tersenyum simpul. "Brishia berasal dari keluarga sederhana. Kami berpacaran cukup lama. Namun, aku tak pernah tahu bahwa dia menderita suatu penyakit. Dia begitu pandai menyembunyikan semuanya," terang Sebastian.


"Apa kau menyesal?" tanya Paloma.


Sebastian yang tadinya tengah bermain dengan Luz Maria, seketika menoleh. "Menyesal?" Sebastian tertawa getir. "Kenapa aku harus menyesal?" Pria itu balik bertanya.

__ADS_1


Dia kembali mengalihkan perhatian kepada Luz Maria yang asyik memainkan kalung milik pria itu. Luz Maria menarik-narik kalung bertali kecil tadi. "Kau ingin ini, Sayang?" tanya Sebastian lembut. "Aku punya kalung yang lebih bagus untukmu. Kau bisa memiliki benda itu, andai ibumu bersedia mengambilnya," ucap Sebastian yang membuat Paloma langsung salah tingkah. Terlebih, ketika Sebastian menoleh sambil tersenyum padanya.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan ke depannya?” tanya Paloma mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


“Mengakhiri kesendirianku, Paloma,” jawab Sebastian yakin. Membuat darah Paloma berdesir kencang setelah mendengarnya.


“Apa kau akan berencana untuk menikah dalam waktu dekat, Sebastian?” tanya Paloma lagi.


“Ya, tapi hanya jika kau bersedia menerima pinanganku. Aku akan berjuang untuk itu, Paloma. Mungkin tidak sekarang. Aku menghargai kondisimu yang masih dalam suasana berkabung,” jawab Sebastian enteng.


“Astaga.” Paloma menggeleng sambil tertawa pelan, demi menghalau rasa kikuk yang tak juga sirna.


Paloma merasa heran. Entah terbuat dari apa hati seorang Sebastian. Pria itu masih saja berharap lebih, setelah semua perilaku buruk yang dirinya lakukan. Sebastian, seakan tak menganggap serius segala sikap tak bersahabat, dari Paloma maupun Rogelio terhadapnya.


“Kenapa kau begitu terobsesi padaku?” tanya Paloma.


“Justru aku yang harusnya bertanya padamu, mantra apa yang telah kau berikan untukku?” balas Sebastian, diiringi tawa renyah keduanya.


Namun, tawa itu seketika sirna, seiring dengan hadirnya Rogelio yang langsung berdiri di hadapan mereka. “Kenapa Tuan Castaneda masih berada di sini, Paloma?” tanya Rogelio, dingin dan ketus.


“Karena aku yang memintanya, Ayah,” jawab Paloma seraya beranjak dari duduknya.


“Kau tahu bukan bahwa aku tak menyukai kehadirannya di sini?” Rogelio melayangkan tatapan tajam pada Sebastian, yang tetap bersikap tenang. Pria itu malah bercengkrama dengan Luz Maria.


“Untuk apa kau membawa serta Luz Maria?" Nada bicara Rogelio semakin meninggi.


“Apa salahnya, Ayah? Sebastian sudah banyak membantuku dalam mengungkapkan kasus kematian Rafael,” ujar Paloma dengan segera.


“Ah! Sekarang kau baru menyebut nama Rafael. Jangan jadikan putraku sebagai tameng. Kau sama sekali tak terlihat sedih. Padahal, makam suamimu baru saja selesai dibangun,” cibir Rogelio.


“Ayah!” sergah Paloma. Sakit hati yang dirasakan terlalu besar untuk ditahan. Paloma sama sekali tak mengira bahwa Rogelio akan mengucapkan kata-kata menyakitkan seperti itu terhadap putri kandungnya sendiri.


“Aku tak perlu membela diri, Ayah! Tuhan tahu bagaimana hancurnya hatiku. Jika kau merasa keberatan karena aku sudah kembali tersenyum, maka kau bisa membuangku lagi. Sama seperti saat kau mengasingkanku saat masih bayi!” ujar Paloma tanpa sadar.


“Kau!" Rogelio hampir melayangkan tamparan kepada Paloma. Namun, dia tersadar bahwa Sebastian tengah menatapnya dengan tajam.

__ADS_1


Pria paruh baya itu akhirnya hanya bisa mengepalkan tangan, menahan amarah yang tak terlampiaskan.


Rogelio sudah hendak melontarkan kata-kata krpada Paloma. Namun, dia urungkan karena Luz Maria melonjak kegirangan dalam gendongan Sebastian, sambil mengatakan “Papa!”


__ADS_2