
Sebastian ikut berdiri, saat melihat Paloma sudah beranjak dari duduknya. Dia merapikan bagian depan blazer dengan gayanya yang terlihat sangat gagah. Sungguh, itu merupakan sebuah godaan yang sangat hebat bagi seorang Paloma. “Kau ingin pulang sekarang?” tanya Sebastian dengan suara beratnya.
“Ya. Ini sudah terlalu malam,” jawab Paloma. Dia merogoh ke dalam tas. Paloma bermaksud untuk menghubungi Rafael.
“Aku akan mengantamu pulang,” putus Sebastian tanpa meminta persetujuan dari Paloma.
“Tidak usah. Rafael akan menjemputku,” tolak Paloma yang menghentikan sesaat niat untuk menghubungi suaminya tersebut.
“Aku yang akan mengantarmu,” ujar Sebastian lagi. Sorot matanya terlihat tajam, menandakan bahwa dia tak ingin menerima penolakan.
Namun, yang dihadapinya adalah Paloma. Wanita yang kerap membangkang dan keras kepala. Paloma membalas tatapan Sebastian sambil menggeleng yakin. “Aku tak ingin merepotkan Anda,” ucapnya tetap menolak.
“Aku melakukannya dengan sukarela,” balas Sebastian.
“Bagaimana jika aku menolak?”
Sebastian yang sudah berjalan ke arah pintu keluar, langsung tertegun. Pria itu membalikkan badan, lalu tersenyum kalem. Dia tampak akan mengatakan sesuatu. Namun, duda tampan dengan rambut ikal agak gondrong tersebut hanya menggeleng pelan. Dia kembali berbalik dan melanjutkan langkah menuju pintu. “Kau tak akan suka berjalan sendirian di koridor menuju halaman depan,” ujarnya.
Paloma yang masih berdiri mematung, menggerakkan matanya ke kiri dan kanan. Dia pernah tinggal di Casa del Castaneda untuk beberapa waktu. Paloma sangat mengetahui, pada jam seperti itu suasana di dalam bangunan sudah sepi. Sebagian lampu utama bahkan telah dipadamkan.
Tanpa berpikir panjang, Paloma bergegas mengikuti langkah tegap Sebastian. Suara derap hak sepatu mereka berdua, beradu dengan lantai ubin. Menimbulkan bunyi yang awalnya cukup nyaring berirama. Namun, karena suasana sudah sepi, mereka pun memelankan langkah.
Sambil berjalan menyusuri koridor, Sebastian menghubungi Pedro. Dia menyuruh sopir pribadinya tersebut agar menyiapkan mobil. Begitu tiba di halaman depan, mobil SUV putih telah siap untuk digunakan. “Berikan kuncinya. Aku akan menyetir sendiri,” pinta Sebastian.
__ADS_1
Pedro sempat tergagap saat melihat Paloma dalam penampilan barunya. Namun, dengan segera dia memberikan kunci mobil pada sang majikan. Setelah itu, Pedro berpamitan untuk kembali ke mess.
Sepeninggal Pedro, Sebastian segera membukakan pintu mobil untuk Paloma. Mau tak mau, wanita dengan halterneck dress merah itu menurut. Dia masuk, lalu duduk dan berusaha terlihat nyaman. “Jangan lupa, pasang sabuk pengamanmu,” tegur Sebastian sebelum menutup pintu. Dia berkata demikian, karena melihat Paloma yang hanya termenung setelah berada di dalam kendaraan.
Paloma tidak sempat menanggapi. Terlebih, karena Sebastian sudah berlalu ke pintu sebelah. Pria dengan blazer abu-abu itu bahkan sudah duduk di belakang kemudi. Tanpa banyak bicara, Sebastian menyalakan mesin mobil. Deru kendaraan mewah milik sang penguasa Casa del Castaneda, memecah kesunyian malam di sekitar rumah perkebunan megah tersebut.
Mobil SUV putih yang dikendarai Sebastian, telah keluar dari gerbang. Dengan gagah, kendaraan itu melaju meninggalkan area perkebunan zaitun terluas di Porcuna. Tanpa mereka ketahui, ternyata sejak tadi Rafael menunggu di luar area Casa del Castaneda. Namun, pria itu memarkirkan mobilnya cukup jauh dari pintu gerbang.
Rafael yang sudah mengenali kendaraan milik Sebastian, bergegas menyalakan mesin mobilnya. Dia mengikuti laju tenang SUV putih tadi, yang ternyata mengarah ke hotel tempat di mana dirinya dan Paloma menginap. Semakin yakinlah pikiran Rafael, bahwa Paloma ada di dalam kendaraan mewah itu.
Sekitar lima belas menit di perjalanan, SUV putih yang dikendarai Sebastian telah tiba di pelataran hotel terbaik Porcuna. Pria berpostur tinggi tegap tersebut, keluar dari mobil lalu membukakan pintu untuk Paloma. Dia bahkan menemani wanita cantik itu masuk ke hotel tadi.
Rafael juga segera turun. Dia berjalan tergesa mengikuti Paloma dan Sebastian yang sudah lebih dulu masuk. Namun, dia harus menunggu lift yang sedang naik. Tak ingin membuang waktu, Rafael menuju ke lantai tiga kamarnya menggunakan tangga darurat. Pria itu berlari cepat, seakan tak ingin ketinggalan sesuatu.
“Kenapa? Apa kau takut aku akan ikut masuk, atau kau tidur sekamar dengan Rafael Hernandez?”
“Haruskah Anda mengomentari hal itu, Tuan?”
“Bukan apa-apa. Aku hanya merasa heran. Kalian ingin berpisah, tapi masih tidur di kamar yang sama,” ujar Sebastian seraya menggaruk keningnya.
“Kami tidak tidur seranjang. Aku harap, itu sudah cukup mewakili segala jawaban untuk rasa penasaran Anda. Lagi pula, aku tak harus menjelaskan apapun,” balas Paloma tak acuh.
“Tidak harus jika kau tak ingin kalungmu kembali,” ucap Sebastian, membuat Paloma seketika bereaksi.
__ADS_1
“Apa maksud Anda, Tuan Castaneda? Kalungku harus kembali. Itu perjanjiannya,” tegas Paloma, meski dengan suara yang pelan.
Bersamaan dengan itu, pintu lift terbuka. Sebastian, mempersilakan Paloma agar keluar terlebih dulu. Namun, Paloma masih terpaku memandang dengan tatapan protes kepada duda tampan tersebut. “Kau tidak ingin keluar dari lift, Nona Sanchez de Luna?” Sebastian menyunggingkan senyuman kecil di sudut bibirnya. Dia meraih tangan Paloma, kemudian menuntun wanita itu keluar dari lift. “Di mana kamarmu?” tanyanya sambil terus berjalan.
“Kamar 357,” jawab Paloma mengikuti langkah tegap Sebastian, yang setengah menyeretnya agar berjalan dengan lebih cepat. Sebastian tak melepaskan genggaman tangan dari pergelangan Paloma, hingga mereka tiba di depan kamar dengan nomor yang disebutkan tadi.
Sebelum membiarkan Paloma masuk, Sebastian lebih dulu menahan wanita muda bergaun merah itu. Dia menarik pelan, lalu membalik tubuh semampai wanita cantik tersebut hingga menghadap padanya.
Sebastian menyandarkan Paloma pada dinding dekat pintu. Dia meletakkan tangan kanannya di sebelah kepala Paloma, yang kali ini sedikit lebih tinggi berkat high heels 11 cm. Sebastian kembali menghujani wanita cantik berambut sebahu itu dengan tatapan penuh pesona. Membuat Paloma menjadi salah tingkah dibuatnya. Paloma pun mengarahkan pandangan ke arah lain.
“Perjanjian mengatakan bahwa kau baru akan mendapatkan kembali kalungmu, jika sisa utang telah dilunasi. Namun, kenyataannya tidak demikian. Kau mencoba menghindari janji yang dirimu buat. Jadi, wajar jika aku masih menahan atau bahkan tak akan mengembalikannya.” Sebastian menyeringai kecil.
“Anda tak akan melakukan itu, Tuan. Anda pasti akan mengembalikannya, karena ….” Paloma teringat pada sang ayah yang telah tiada. Namun, dia tak ingin banyak bicara di hadapan Sebastian.
“Karena apa?” tanya Sebastian. Akan tetapi, Paloma sepertinya tak berniat untuk menjawab. “Baiklah. Aku akan menjemputmu besok,” ucap Sebastian lagi. Dia kembali memutuskan tanpa meminta persetujuan Paloma.
“Untuk apa?” tanya Paloma dengan sorot protes.
Sebastian tersenyum kalem. Dia semakin mendekatkan dirinya. Sementara, Paloma tak dapat ke manapun. Dia terjebak oleh dinding bangunan yang membuatnya tidak bisa melarikan diri, dari si pemilik tubuh tinggi tegap itu.
Gemuruh dalam dada Paloma kembali hadir. Sama seperti tempo hari, saat dirinya dapat mencium aroma parfume Sebastian dari jarak yang sangat dekat. Napas duda tiga puluh tujuh tahun tersebut bahkan sudah menghangat di wajah Paloma. Membuat wanita itu segera memejamkan mata.
“Aku ingin mengajakmu berkencan. Kuharap, kau tidak melarikan diri,” ucap Sebastian setengah berbisik.
__ADS_1
Sementara itu, Rafael menyaksikan adegan tadi dari jarak yang tidak terlalu jauh dan cukup tersembunyi.