
Merasa tak ada lagi yang harus dibicarakan, Paloma dan Rogelio segera berpamitan dari kediaman Tatiana. Sepanjang perjalanan menuju bandara, Rogelio tak banyak bicara. Ada sebuah teguran yang menyentil sudut hatinya. Niat untuk menyatukan Paloma dengan Rafael, ternyata menjadi ide terburuk yang pernah dia ambil.
Sementara, perbincangan antara Tatiana dan Rafael berlanjut setelah kepergian Rogelio dan Paloma. Mereka membahas serius tentang langkah yang harus diambil selanjutnya. Bagaimanapun juga, Tatiana sudah dibuat jatuh cinta setengah mati, kepada sosok Rafael yang masih muda dan tentu saja tampan. Tatiana, seakan tak rela jika harus kehilangan pria yang telah menemaninya selama kurang lebih lima tahun tersebut.
“Aku akan menemanimu pergi ke Meksiko untuk mengurus semuanya. Setelah itu, kita bisa kembali lagi ke Spanyol, sambil menunggu keputusan perceraianmu,” ujar Tatiana. Dia mengelus punggung Rafael dengan penuh kasih.
Rafael yang duduk dengan posisi setengah membungkukkan badan, segera menoleh. Dia menatap aneh kepada Tatiana. “Kau tidak marah padaku?” tanyanya.
Tatiana menangkup paras rupawan Rafael. Dia tersenyum lembut padanya. Wanita empat puluh tahun yang masih terlihat cantik itu, mencium mesra bibir suami Paloma untuk beberapa saat. “Aku memang sempat kesal dan ingin memarahimu habis-habisan. Namun, aku juga sangat menghargai kejujuranmu, meskipun terlambat. Kau pasti akan tetap merahasiakan statusmu, andai wanita itu tak muncul. Akan tetapi, mau bagaimana lagi? Kenyataannya, aku sangat mencintaimu.” Sekali lagi, Tatiana mengecup mesra bibir Rafael.
“Terima kasih atas pengertianmu. Aku sangat menghargainya,” balas Rafael.
“Ya, sudah. Sekarang, kita berkemas. Aku akan menyuruh Ernesto agar mencarikan tiket untuk kita. Makin cepat kau menyelesaikan masalah ini, maka akan semakin cepat pula kau mendapatkakan kepastian tentang statusmu.” Tatiana tersenyum penuh arti. “Tolong, jangan tinggalkan aku,” pintanya lirih.
Rafael tersenyum lembut. Tak ada yang dia lakukan selain memeluk wanita yang selama ini telah memberinya tempat bernaung, dengan penghidupan yang jauh di atas kata layak.
......................
Suasana sepi menghiasi ruang kerja dengan dominasi warna merah dan cokelat. Sang pemilik ruangan, duduk sambil menyandarkan kepala dengan mata terpejam. Sementara, tangan kanannya menggenggam gelas kristal berisi anggur merah. Sebastian, menyendiri di dalam ruangan itu. Pencahayaan temaram sengaja dia ciptakan, demi menyamarkan rasa sepi yang tiba-tiba menyergapnya setelah kepergian Paloma.
__ADS_1
Pria tampan tersebut menggoyangkan gelas yang dia genggam, sebelum meneguk isinya. Perlahan, Sebastian membuka mata. Setelah menghabiskan sisa minuman tadi, dia beranjak dari tempat duduknya.
Sebastian, melangkah gagah ke dekat lukisan besar yang terpajang di dinding. Dia memandang lekat wajah cantik sang istri. “Brishia,” ucapnya pelan, “apa yang terjadi padaku?” Suara Sebastian terdengar begitu dalam. Dia mengusap bibirnya menggunakan ibu jari.
Setelah sekian lama dirinya bertahan, untuk tidak menjatuhkan diri dalam pusaran asmara. Ternyata, kali ini Sebastian harus mengaku kalah. Dia tak dapat mengendalikan nalurinya sebagai seorang pria normal, saat berhadapan dengan Paloma. Walaupun, itu hanya sebuah ciuman.
Hal sama juga dilakukan Paloma. Dia menyentuh permukaan bibirnya secara perlahan. Tiba-tiba, wanita muda tersebut ingat kembali dengan adegan ciuman bersama Sebastian. Hingga detik itu, Paloma tak tahu maksud Sedastian melakukan hal demikian terhadap dirinya. Terlebih, setelah dia mendengar cerita dari Flor, tentang seberapa setia pria itu kepada mendiang istrinya yang telah tiada.
Paloma tak ingin terbang terlalu tinggi. Dia harus menyingkirkan jauh segala rasa percaya diri yang sempat hadir, dan membuatnya merasa bangga. Dengan segera, wanita bermata hazel itu menggeleng pelan. “Tidak. Ini tidak benar. Aku tak boleh memikirkan hal seperti itu,” gumam Paloma teramat pelan, hingga Rogelio pun tak dapat mendengarnya.
Tinggal sebentar lagi, Paloma dan sang ayah mertua akan segera tiba di Meksiko. Perasaan haru tak dapat dibendung, ketika dirinya dapat kembali menginjakkan kaki di tanah kelahiran yang telah sekian lama dirinya tinggalkan. Sekitar sepuluh jam lebih yang harus ditempuh oleh Paloma dan Rogelio, hingga mereka akhirnya tiba di negara berjuluk El Tri tersebut.
Paloma tersenyum lebar. “Aku ingin segera bertemu dengan ayahku,” ucapnya antusias. Rasa rindu yang tak terbendung, membuat dia tak sabar untuk segera tiba di kediaman Carlos.
“Tenang saja. Kita akan langsung ke sana,” balas Rogelio. “Bolehkan aku melihat wajah cucuku?” tanya pria paruh baya itu. Tiba-tiba, Rogelio menanyakan tentang Nilo.
“Ayah,” desah Paloma pelan. Rasa haru kembali menghampirinya.
“Maaf, Nak. Aku sama sekali tak bermaksud mengorek kembali lukamu. Aku hanya ingin melihat wajah cucu yang tak sempat diriku peluk dan gendong,” ujar Rogelio lirih. Dia membelai pucuk kepala Paloma penuh kasih.
__ADS_1
Paloma mengangguk pelan. Dia memahami maksud ucapan sang ayah mertua. Sudah menjadi hak pria itu, untuk mengetahui seperti apa rupa cucu yang memang tak pernah diketahui.
Dengan tangan gemetaran, Paloma membuka pengait tas selempang yang ada di atas pangkuan. Dia menggeser resleting tas tersebut, kemudian merogoh ke dalamnya. Dari sana, Paloma mengambil selembar foto yang selalu dirinya bawa ke manapun.
“Astaga. Cucuku,” ucap Rogelio penuh haru, ketika Paloma memberikan foto itu. Rogelio memperhatikannya dengan saksama. “Cucuku,” ucapnya sekali lagi, sambil mengusap permukaan wajah Nilo yang sedang tersenyum lebar.
Sementara, Paloma segera mengalihkan pandangan ke luar jendela. Air mata mulai menetes di sudut bibir, meskipun sudah sekuat tenaga dirinya tahan. Dia selalu menjadi begitu emosional, setiap kali teringat pada malaikat kecil yang telah berpulang dan tak akan pernah kembali. Paloma, sudah hampir menangis. Akan tetapi, mobil yang mereka tumpangi tiba-tiba berhenti di depan sebuah rumah yang sangat Paloma kenal. Bangunan yang belum berubah, dari sejak kepergiannya beberapa tahun silam.
Paloma segera menyeka air mata yang membasahi pipi. Dia menoleh kepada Rogelio. Pria paruh baya tersebut mengangguk pelan. Ayah angkat Rafael itu mengajaknya turun.
Dengan membawa segudang kerinduan yang teramat besar di dalam hati, Paloma keluar dari mobil. Dia melangkah penuh keyakinan menuju pintu depan rumah itu. Namun, Paloma dan Rogelio merasakan sesuatu yang dirasa janggal.
Halaman rumah itu terlihat tak terawat lagi. Padahal, setahu Paloma ayahnya merupakan seseorang yang selalu menjaga kebersihan rumah dan lingkungan. “Kotor sekali,” ucap Paloma heran. Dia meraih gagang pintu, lalu mencoba memutarnya. Namun, ternyata pintu itu dalam kondisi terkunci.
“Apakah Carlos sedang pergi?” pikir Rogelio. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Di lingkungan tempat tinggl Carlos terbilang sepi. Namun, ada beberapa rumah yang cukup berdekatan dengan kediaman ayah Paloma tersebut. “Aku akan menghubunginya,” ujar Rogelio seraya merogoh ponsel dari saku blazer.
Namun, belum sempat Rogelio menyentuh ikon telepon berwarna hijau, seorang wanita bertubuh gemuk datang menghampiri mereka. Wanita itu menyerahkan kunci kepada Rogelio. Membuat ayah mertua Paloma menjadi heran. Pria yang rambut hitamnya sudah bercampur dengan uban tersebut, tampak menautkan alis.
“Apakah Carlos sedang tidak di rumah?” tanya Rogelio, seraya menerima kunci yang wanita itu sodorkan.
__ADS_1
Wanita tadi mengangguk pelan. “Sekitar dua hari yang lalu, Carlos diperkirakan mengalami serangan jantung mendadak. Kami menemukannya tergeletak di halaman, dalam kondisi tak bernyawa," jelas si wanita.