Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Hukuman Sang Penguasa


__ADS_3

Martin dan Paloma saling pandang. Ada kecemasan yang tersirat dalam sorot mata pria tampan itu saat dirinya menatap Paloma. Martin seakan tak merelakan jika wanita yang telah dia bantu tersebut, menghadap Sebastian hanya seorang diri. "Apa salahnya jika kutemani?" pikir Martin. "Dia masih baru dan belum mengetahui apa-apa," belanya.


"Ini bukanlah urusanmu, Tuan Aguire. Lagi pula, seharusnya Paloma tahu diri. Ini bukan rumahnya, di mana dia bisa melakukan apapun yang dirinya inginkan," sahut Raquela cukup tegas. "Kupikir, sebaiknya kau menjauhkan diri dari masalah jika tak ingin terseret ke dalamnya," saran wanita itu menoleh sejenak kepada Martin, sebelum beralih pada Paloma. Raquela memasang wajah masam kepada wanita muda tersebut. "Cepatlah. Jangan sampai Tuan Sebastian semakin murka, karena harus menunggumu terlalu lama," ucap Raquela agak ketus.


Paloma kembali menatap Martin yang masih memandang ke arahnya. Wanita berambut cokelat itu menghalau rasa was-was yang mulai menyeruak dalam diri. Dia harus berani menghadapi konsekuensi dari apa yang telah dilakukannya.


Paloma mengangguk pelan. Mencoba meyakinkan Martin bahwa semua akan baik-baik saja. "Terima kasih atas segala bantuanmu, Tuan Aguire. Mungkin saja aku akan diusir dari sini dan tak sempat menemuimu lagi," ucapnya memaksakan tersenyum. Akan tetapi, Martin tak membalas senyuman itu. Dia justru terlihat sangat khawatir.


Paloma pun memutuskan untuk berlalu meninggalkan pria itu tanpa menunggu jawaban darinya. Dia mengikuti langkah Raquela menuju ruang kerja Sebastian. Tak ada perbincangan sama sekali antara mereka berdua. Paloma dapat memahami kekecewaan yang dirasakan oleh sang kepala pelayan terhadap sikap brutal yang dipertontonkannya di aula pesta.


Kedua wanita lintas usia itu menyusuri koridor yang cukup luas. Paloma yang belum terlalu mengenal seluk-beluk bangunan megah Casa del Castaneda, begitu takjub dengan segala ornamen yang ada di sana. Tempat tersebut layaknya sebuah istana masa lalu di zaman modern. Suasana serta auranya benar-benar berbeda. Sungguh mengagumkan.


Setelah berjalan beberapa saat, tibalah mereka di depan pintu berwana cokelat doff. Raquela langsung mempersiapkan diri. Merapikan pakaian, rambut, dan segala hal yang menurutnya perlu. Sikap tubuhnya dibuat setegap mungkin. Barulah dia mengetuk pintu sebanyak tiga kali.


Tanpa menunggu jawaban dari dalam, Raquela membukanya perlahan dan tidak terlalu lebar. Dia maju satu langkah, lalu berhenti. "Selamat malam, Tuan. Aku datang bersama pelayan baru yang Anda suruh untuk menghadap kemari," lapor wanita berpostur tinggi besar tadi dengan sikap serta tutur kata yang sopan.


"Suruh dia masuk," balas Sebastian tanpa menoleh. Dia tengah berdiri sambil menghadap sebuah lukisan berukuran besar yang terpajang di dinding. Dalam lukisan berbingkai emas itu, terdapat wajah cantik sang istri, yaitu Brishia. "Kau boleh pergi, Raquela," ucap Sebastian lagi tanpa menoleh.


"Baik, Tuan." Raquela menggangguk hormat, meskipun Sebastian tak melihat ke arahnya. Wanita paruh baya tersebut mengisyaratkan agar Paloma segera masuk. Setelah itu, dia pergi dari sana sambil menutup pintu rapat-rapat.


Paloma yang sudah mempersiapkan diri, melangkah masuk ke ruang kerja dengan nuansa merah hati dan cokelat tua. Penerangan di sana pun dibuat redup, karena lampu utama sepertinya sengaja tidak dinyalakan. Wanita muda bermata hazel tersebut berdiri memandang ke depan. Di sana ada sesosok tubuh tegap dan tinggi dalam balutan kemeja putih. Dari belakang saja, Sebastian sudah terlihat begitu mengagumkan.

__ADS_1


"Selamat malam, Tuan." Walaupun ragu, Paloma akhirnya memberanikan diri untuk bersuara. Menyapa sang majikan yang entah akan mengambil tindakan apa atas kesalahannya.


Sebastian tidak membalas sapaan Paloma. Pria itu juga belum membalikkan badan. Dia masih dalam posisi membelakangi. Suasana pun hening untuk beberapa saat.


Sikap yang ditunjukkan Sebastian, membuat rasa gugup tiba-tiba mencuat dalam diri Paloma. Wanita muda itu menjadi salah tingkah. Dia tak tahu harus berbuat apa, untuk menutupi debaran dalam dada yang kian menggila. Terlebih, saat sang penguasa Casa del Castaneda mulai berbalik.


Pria itu berjalan mendekat, meski masih memberi jarak. Sebastian, memandang tajam kepada Paloma. Dia seakan hendak menguliti wanita cantik di hadapannya. "Siapa namamu, Pelayan?" Suara Sebastian terdengar begitu berat dan dalam. Dia bertanya dengan volume tidak terlalu keras, tapi berhasil membuat relung hati Paloma seketika bergetar hebat. Begitu juga dengan sorot mata serta bahasa tubuh duda tiga puluh tujuh tahun tadi, yang terasa begitu mengintimidasi.


"Pa-Paloma," jawab wanita pemilik mata hazel itu terbata. Namun, anehnya Paloma masih memiiki keberanian untuk melawan tatapan tajam sang penguasa ribuan hektar perkebunan zaitun tersebut.


"Paloma?" ulang Sebastian. "Dari mana asalmu?" tanyanya lagi.


"Granada," jawab Paloma dengan segera.


"Ya, Tuan. Aku baru datang bersama rombongan beberapa hari yang lalu," jawab Paloma lagi menjelaskan.


Sebastian tidak segera menanggapi. Dia masih menatap tajam kepada wanita cantik bersetelan pelayan di hadapannya. Terbayang kembali dalam ingatan Sebastian, akan sikap liar Paloma saat di acara perjamuan yang harus berakhir lebih cepat dari semestinya. Hal itu tak bisa dia tolerir. "Kau tahu apa kesalahanmu?" Sebastian kembali bersuara.


"Ya, Tuan. Maafkan aku ...."


"Kau pikir kata maaf bisa mengembalikan rasa malu serta harga diriku selaku tuan rumah pesta?" Sebastian menyela dengan nada tinggi. Membuat Paloma tersentak dan langsung menundukkan wajah. "Berani sekali kau mengacau di acaraku!" ucap pria itu lagi penuh penekanan. "Kau juga telah melukai suami Nyonya Tatiana Vidal, yang merupakan kolega bisnisku selama bertahun-tahun!"

__ADS_1


Paloma tak berani menyahut. Mendengar nada bicara Sebastian yang tengah diliputi amarah saja, sudah membuatnya tubuh dan jantungnya berdebar kencang.


"Apakah kau memang penderita ganguan kejiwaan?" Pertanyaan itu, sontak membuat Paloma kembali mengangkat wajahnya.


"Aku tidak gila, Tuan. Rafael hanya mengada-ada. Dia mencari alasan untuk menyembunyikan statusnya," bantah Paloma tegas.


"Siapa yang akan percaya padamu? Kau bahkan bersikap liar dan anarkis di hadapan semua orang! Tak ada rasa malu sama sekali!" bentak Sebastian. Kemarahan yang sedari tadi dia tahan, kini dapat dirinya lampiaskan.


"Dia memang suamiku, Tuan. Rafael Hernandez adalah suamiku yang pergi lima tahun lalu. Aku kemari untuk mencarinya, karena dulu Rafael merupakan salah satu pekerja di perkebunan ini," jelas Paloma. Ada setitik asa dalam diri wanita muda itu. Paloma berharap agar Sebastian bersedia menerima apa yang menjadi alasannya berbuat demikian.


"Begitukah? Dia pernah bekerja di sini? Di perkebunanku?" Sebastian mengernyitkan kening.


"Ya, Tuan. Karena itulah aku datang kemari." Paloma membenarkan.


Sementara Sebastian tak segera menanggapi. Namun, tatapan tajamnya masih merantai seluruh tubuh Paloma, membuat wanita dua puluh tiga tahun tersebut tak dapat bergerak ke manapun. Kedua kakinya seperti melekat erat pada lantai yang dia pijak.


"Aku sama sekali tak memiliki niat jahat. Tuan Martin Aguire mengetahui hal itu. Dari awal, aku sudah mengatakan bahwa kedatanganku kemari hanya untuk mencari Rafael Hernandez ...."


"Martin membantumu? Dalam hal apa? Ah, apakah kau merupakan wanita yang dia maksud. Kau seseorang yang tidak ada dalam daftar pekerja." Sebastian terus mencecar Paloma dengan pertanyaan yang seakan menyudutkan.


"Tuan Aguire hanya membantuku mencari informasi tentang Rafael. Dia tak ada urusan dengan hal lain. Anda tidak perlu menyangkutpautkannya. Aku justru sangat berterima kasih karena Tuan Aguire sudah meluangkan waktu untuk ...."

__ADS_1


"Apapun alasanmu, kau tetap bersalah karena telah mengacaukan jalannya perjamuan yang kuselenggarakan! Aku tak peduli dengan urusan pribadimu! Sebagai orang yang berkuasa di tempat ini, aku tetap harus menjatuhkan hukuman yang setimpal bagi siapa saja yang berani melanggar aturan. Terlebih, berbuat keonaran seperti yang kau lakukan tadi!" tegas Sebastian.


"Pertama, aku akan mendatangkan dokter untuk memeriksa kondisi mentalmu. Memastikan apakah kau layak berada di sini dan menjalani hukuman yang akan kuberikan, atau harus kumasukkan ke rumah sakit jiwa." Ucapan Sebastian terdengar begitu menakutkan, membuat Paloma mundur beberapa langkah.


__ADS_2