Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Sarapan Bersama


__ADS_3

Rafael terbangun pada dini hari dan tak bisa lagi memejamkan mata. Dalam benaknya, dia masih terus memikirkan pengirim pesan misterius kemarin. Rafael bahkan sempat menghubungi kolega-koleganya di Spanyol untuk melacak nomor tak dikenal yang sudah mengirimkan pesan bernada ancaman tersebut. Akan tetapi, tak satu pun dari orang-orang itu yang dapat memberikan jawaban dengan jelas.


Rafael mengembuskan napas pelan. Suhu udara di Kota Chihuahua terasa begitu panas. Padahal, saat itu waktu masih menunjukkan pukul empat pagi. Tak seperti Spanyol yang merupakan sebuah negara dengan empat musim. Cuaca di Meksiko hanya dikuasai oleh musim panas atau penghujan, karena memang letak wilayahnya yang berada pada iklim tropis.


Suhu panas itu, diperparah dengan kamar yang ukurannya tak seberapa besar. Selain itu, kamar tersebut pun tidak dilengkapi dengan pendingin ruangan. Kondisi seperti itu, membuat Rafael harus tidur bertelanjang dada, jika tidak ingin merasa seperti tengah berada di dalam sauna dengan temperatur maksimum.


“Ah!” keluh pria tampan yang kini rambutnya semakin gondrong tersebut. Dia mengembuskan napas pelan. Rafael memutuskan turun dari ranjang dan berniat membuat kopi. Putra angkat Rogelio tersebut berjalan keluar kamar.


Rafael yang belum hafal letak perabot dan segala macam yang dia butuhkan, sempat kebingungan mencari cangkir. Pada akhirnya, pria itu menemukan cangkir berukiran unik di salah satu kabinet yang menempel di dinding dapur.


Rafael juga berhasil menemukan kaleng berbentuk persegi. Awalnya, pria itu mengira bahwa kaleng itu berisi bubuk kopi. Namun, ternyata di dalam kaleng tersebut berisi pernak-pernik aksesoris anak perempuan, beserta foto-foto Paloma saat masih kecil.


Pria tampan berambut cokelat itu tersenyum lebar, ketika melihat pose Paloma yang tengah tertawa. Paloma memamerkan gigi depannya yang ompong. “Astaga.” Rafael terkekeh geli.


“Sedang apa kau?” Tiba-tiba, terdengar sebuah suara cukup nyaring yang mengejutkan Rafael. Hampir saja dia menjatuhkan cangkir yang dipegangnya tadi. “Apapun niatmu, kau tidak akan menemukan yang kau cari di sana!” lanjut suara yang terdengar sangat ketus. Suara yang tak lain adalah milik Paloma.


“Astaga, kau mengagetkanku,” balas Rafael seraya meletakkan cangkir dengan hati-hati. “Aku hanya mencari kopi. Namun, aku tak bisa menemukannya,” terang Rafael seraya memperhatikan lekat-lekat wajah sedih dan mata sembab Paloma. Jelas sudah bahwa wanita itu telah menghabiskan waktu yang lama untuk menangis. “Apa kau tidak tidur sama sekali, Paloma?” tanya Rafael hati-hati.


“Bukan urusanmu!” sentak Paloma seraya membuka pintu kabinet yang terletak di sisi lain dapur. Di sana, dia mengambil toples kaca yang berisi serbuk kopi.

__ADS_1


“Sayangnya, itu akan menjadi urusanku,” sahut Rafael lembut. “Dengarkan aku, Paloma. Tiga bulan saja.” Rafael mengangkat tiga jari yang dia letakkan di depan dada. “Aku meminta tiga bulan untuk mengganti waktu yang telah kusia-siakan, ketika meninggalkanmu tanpa kabar. Aku akan menjadi sosok suami yang terbaik untukmu, Paloma. Akan kubahagiakan dirimu selama tiga bulan ini. Kau boleh meminta apapun, selama aku menemanimu di rumah ini,” tuturnya.


“Aku tak sabar menunggu waktu tiga bulan itu habis,” sahut Paloma sinis, seraya menyodorkan toples kopi tadi pada Rafael.


“Terima kasih, Paloma,” ucap pria bermata abu-abu itu tanpa memedulikan sikap ketus istrinya.


“Gunakan dapur sesukamu! Namun, ingat! Jangan lupa untuk merapikannya kembali sampai benar-benar bersih seperti semula. Orang yang biasa membersihkan rumah ini sudah berhenti bekerja. Jadi, kaulah yang harus bertanggung jawab dengan kebersihannya!” pesan Paloma memperingatkan, sebelum membalikkan badan dan kembali ke kamarnya.


“Apa kau juga ingin kubuatkan minum? Kopi? Teh? Sarapan?” tawar Rafael dengan suara yang sedikit nyaring, mengingat jarak dirinya dengan Paloma sudah semakin jauh.


“Aku tak mau apapun darimu!” Sayup-sayup, terdengar jawaban dari Paloma yang sudah berada di depan kamarnya.


Penyesalan itu datang lagi. Sejak menjalin ikatan pernikahan dengan Paloma, Rafael selalu berbuat seenaknya. Dia kerap pulang dalam keadaan mabuk. Hal itu Rafael lakukan agar dia tak perlu mengingat wajah Selena saat hendak menyentuh Paloma.


“Aku tak menyangka jika cinta akan semenyakitkan ini,” gumam Rafael dalam hati. “Maafkan aku, Paloma.” Entah sudah berapa ratus kali kata maaf itu terucap dari bibir tipis Rafael. Di saat segala perasaan tak nyaman semakin memenuhi dada, dia segera mengalihkannya dengan membuka kulkas untuk mencari bahan-bahan makanan yang tersedia.


Rafael diam mematung di depan pintu lemari pendingin yang terbuka. Begitu banyak buah-buahan, sayur-sayuran serta minuman kaleng dan bahan makanan lain yang sempat dibawakan oleh para pelayan untuk stok selama seminggu ke depan, agar Paloma tak perlu repot berbelanja. Sedemikian besar perhatian yang diberikan Rogelio pada istrinya.


“Hm. Apa yang bisa kulakukan dengan bahan sebanyak ini?” pikir Rafael seraya menggaruk kepala. Tak lama kemudian, tercetus ide untuk mencari menu sarapan yang cocok melalui internet.

__ADS_1


Rafael berhasil menemukan sebuah video tutorial memasak dari internet. Dia meletakkan telepon genggamnya di atas meja dapur, sambil mengikuti langkah-langkah yang dia saksikan dari video tersebut. Mata abu-abunya memperhatikan dengan saksama. Sedangkan, tangannya luwes memotong dan mencampur semua bahan serta bumbu.


Waktu menunjukkan pukul enam pagi, ketika Quesadillas Fritas menu buatan Rafael telah siap tersaji di meja makan. Keadaan dapur juga tampak bersih mengilap, setelah Rafael membersihkannya dengan teliti dan menyeluruh. Tepian meja dapur dan meja makan juga, bahkan tak luput dari lap kain Rafael.


Pria rupawan itu tampak puas dengan hasil kerja kerasnya. Dia berkali-kali tersenyum, melihat meja makan yang sudah penuh oleh masakan buatannya. Dia menata sedemikian rupa, sehingga terlihat indah serta estetik.


Merasa bahwa semuanya sudah siap, Rafael bergegas mengambil T-shirtnya di dalam kamar. Dia menuju kamar Paloma, lalu mengetuknya pelan. “Paloma, sarapan sudah siap. Ayo makan dulu,” ajak Rafael sedikit nyaring.


Namun, beberapa menit berlalu, istrinya tak kunjung menjawab.


“Paloma, masakan akan jauh lebih enak jika dimakan dalam keadaan hangat.” Rafael tak putus asa. Dia tak berhenti mengetuk pintu kamar Paloma. Rafael tak peduli, walaupun Paloma mungkin akan terganggu.


Usaha gigih Rafael tersebut akhirnya membuahkan hasil. Pintu kamar Paloma terbuka pelan. Wajah cantik yang masih tampak sembab itu menyembul dari baliknya. “Bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku tak ingin apapun darimu?” hardik Paloma.


“Ya, aku tahu. Akan tetapi, kau sudah terbiasa sarapan dan aku terlanjur memasak dalam jumlah yang cukup banyak. Sayang sekali kalau harus dibuang,” ujar Rafael.


Meskipun Paloma keras kepala, tapi dia adalah wanita yang berhati lembut. Ajaran sang ibu yang selalu melarang untuk membuang-buang makanan, begitu membekas dan terpatri di dalam ingatan Paloma. “Ah! Kenapa kau selalu merepotkan!” gerutu Paloma seraya menghentakkan kaki.


Paloma masih memakai piyama kusut dan rambut sedikit acak-acakan. Dia mengikuti langkah Rafael menuju ruang makan. Matanua terbelalak, saat melihat hidangan sederhana yang terlihat mewah dan tertata rapi di atas meja.

__ADS_1


__ADS_2