
Sekitar dua minggu telah berlalu. Paloma sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit oleh tim dokter yang merawatnya. Paloma, kini dapat meluapkan segala rasa rindu kepada Luz Maria. Selain itu, dia juga bisa mendatangi makam Rafael kapan saja dirinya inginkan.
Di depan pusara sang suami, Paloma kembali bertekad untuk menuntaskan kasus kecelakaan maut yang telah merenggut nyawa ayahanda Luz Maria. Kejadian mengerikan itu kembali terlintas di benak Paloma. Termasuk ketika Rafael mengungkapkan perasaan cinta padanya untuk terakhir kali.
“Kenapa takdir seakan tak mengizinkanku bahagia, Rafael? Kenapa?” isak Paloma di depan pusara sang suami, yang sempat akan bercerai dengannya. Siapa sangka, kini Paloma tetap menjadi janda meski tanpa perpisahan di mata hukum dan agama.
“Aku menemukan kebahagiaan bersamamu. Apakah itu salah? Apakah Tuhan menakdirkanku untuk terus berada dalam kemalangan, Rafael? Katakan sesuatu. Jangan hanya diam." Paloma terus meracau, hingga tercetus sebuah pemikiran di benaknya. “Tempat kecelakaan itu …” gumam Paloma pelan.
Paloma berdiri. Dengan tergesa-gesa, dia kembali ke rumah mewah dua lantai yang sengaja disewa oleh Rogelio selama tinggal di Granada, Spanyol.
Sesampainya di sana, Paloma bergegas menghampiri Rogelio yang tengah asyik bermain bersama sang cucu. “Aku harus pergi ke Porcuna. Aku titip Luz Maria lagi, Ayah,” pamitnya tanpa basa-basi.
“Untuk apa kau pergi ke sana, Nak? Bersama siapa?” tanya Rogelio was-was dengan keputusan tiba-tiba sang anak.
“Aku akan berangkat sendiri," jawab Paloma. "Jangan khawatir, Ayah. Aku sudah berhasil menaklukkan kejadian tragis yang hampir merenggut nyawaku. Kematian tak akan datang, sebelum diriku dapat menyeret pelaku kejahatan itu." Paloma begitu percaya diri dengan apa yang diucapkannya.
“Tunggu, Nak!” cegah Rogelio. Dia berjalan mendekat pada putri semata wayangnya tadi, lalu mencekal lengan ibunda Luz Maria tersebut. “Jangan gegabah, Nak. Kau tak tahu bahaya apa yang akan menghadangmu di sana," tegurnya.
Paloma terdiam sejenak. Seulas senyuman terkembang, saat Luz Maria mengulurkan tangan mungilnya. Anak itu berusaha meraih tubuh sang ibu. “Sayangku,” ucap Paloma pada sang buah hati. Seketika, segala emosi negatif dalam dirinya menguap, ketika Luz Maria tertawa. Anak itu memamerkan giginya yang hanya ada dua.
“Jangan nakal ya, Sayang. Ibu akan pergi sebentar,” pesan Paloma seraya mencium pipi gembul Luz Maria berkali-kali. Balita cantik berambut ikal tersebut, kembali berpindah ke dalam gendongan sang kakek. “Aku pergi dulu." Paloma mengangguk pelan, kemudian berbalik hendak meninggalkan sang ayah.
“Biar kutelponkan pengacara Cardenas. Barangkali dia bersedia menemanimu ke sana." Rogelio kembali mencoba mencegah Paloma.
Akan tetapi, Paloma menolak saran sang ayah. Dia berlalu begitu saja tanpa memedulikan Rogelio yang tampak keberatan dengan keputusannya.
Paloma menyuruh sopir untuk mengantarnya ke Porcuna saat itu juga. Dua jam berlalu tanpa terasa, hingga mobil yang disewa beserta sopir itu tiba di depan gerbang raksasa wilayah perkebunan milik Sebastian. Setelah menimbang-nimbang, Paloma memutuskan untuk mendekat ke pos penjaga. “Sampaikan pada Tuan Castaneda, bahwa Paloma ingin bertemu dengannya,” pesan wanita cantik tersebut.
__ADS_1
“Apakah Anda sudah membuat janji sebelumnya?” tanya sang penjaga.
“Belum, tapi aku yakin dia akan langsung bersedia menemuiku,” jawab Paloma percaya diri.
“Baiklah. Tunggu sebentar, Nyonya.” Penjaga tadi mengangguk sopan. Dia masuk ke pos untuk memberitahu sang majikan. Selang beberapa saat, penjaga itu kembali sambil menekan remote otomatis. Gerbang pun terbuka.
“Terima kasih,” ucap Paloma sebelum kembali ke mobil. Kendaraan itu melaju hingga di depan teras bangunan utama.
Tampaklah Sebastian menunggunya di undakan anak tangga, bersama seorang wanita cantik yang pernah Paloma temui di restoran dulu.
“Apa kabar, Paloma?” sapa Sebastian dengan nada bicara yang terdengar begitu lembut dan berbeda.
Leandra dapat merasakan perubahan sikap Sebastian di depan Paloma. Dia langsung menoleh, lalu memperhatikan ekspresi majikannya.
“Aku ingin bicara denganmu berdua saja!” ucap Paloma penuh penekanan.
“Di mana saja boleh. Itu sama sekali tak penting bagiku,” sahut Paloma ketus.
“Sebaiknya jaga sopan santun Anda, Nyonya. Tuan Castaneda adalah ….”
“Aku sangat mengetahui siapa dirinya. Kau tak perlu memberitahuku, Nona." Paloma memotong kalimat Leandra begitu saja. Ibunda Luz Maria tersebut memandang tajam kepada asisten pribadi Sebastian tersebut.
“Anda ….” Paras cantik Leandra merah padam. Dia hendak maju ke hadapan Paloma.
Namun, Sebastian lebih dulu mencegahnya.
“Kau dengar apa kata Paloma, bukan? Dia hanya ingin berbicara berdua denganku. Pergilah dulu, Leandra,” titah Sebastian kalem.
__ADS_1
“Ta-tapi, Tuan ….” Leandra terlihat keberatan dengan ucapan Sebastian. Namun, dirinya tak bisa berbuat banyak, setelah melihat ekspresi sang majikan. “Baik, Tuan." Leandra hanya mengangguk setuju, sebelum berlalu meninggalkan Sebastian dan Paloma.
“Kita bicara di taman belakang saja," ajak Sebastian. Dia mengarahkan Paloma, pada koridor yang berbatasan langsung dengan halaman berumput. Keduanya berhenti tepat di dekat bangku taman, yang terbuat dari besi dan penuh dengan ukiran.
“Silakan,” ucap Sebastian seraya mengulurkan tangan kanan, sebagai isyarat agar Paloma segera duduk.
Tanpa banyak bicara, Paloma segera duduk dengan anggun, diikuti Sebastian yang langsung mengambil posisi tepat di samping wanita itu.
Pria rupawan tersebut memejamkan mata untuk sesaat. Indera penciumannya menghirup aroma wangi parfum Paloma, yang berubah sejak terakhir kali mereka bertemu. “Ada keperluan apa, sehingga kau menemuiku tanpa membuat janji terlebih dulu, Paloma?” tanya Sebastian, setelah berhasil mengendalikan diri. Dia menoleh pada Paloma dan menatapnya lembut.
Sementara itu, Paloma tengah asyik memperhatikan taman bunga yang begitu rapi dan indah. Niat wanita itu sedikit teralihkan, pada serangkaian bunga-bunga berwarna indah serta tanaman hias yang tertata sedemikian apik. Paloma bahkan tak terlalu menanggapi, ketika Sebastian memanggil namanya.
“Apa kau baik-baik saja, Paloma?" tanya Sebastian pelan.
“Apa? Ah, iya." Paloma tergagap. Dia segera menoleh pada Sebastian. Tanpa sadar, setetes air mata mengalir dari pelupuknya. Paloma segera mengusap pipi yang basah menggunakan punggung tangan.
“Apa kau ingat akan sesuatu?” tanya Sebastian lagi dengan lebih hati-hati.
“Taman bunga ini … tempat ini … semuanya … mengingatkan aku pada ….” Paloma terbata. Dia sengaja tak melanjutkan kata-katanya, dan memilih menunduk dalam-dalam.
“Ah, sudahlah. Aku kemari bukan untuk membahas hal itu,” ujar Paloma. “Aku ingin menanyakan tentang Kepala Polisi Abelardo,” lanjutnya.
“Kau ingin bertemu dengannya? Aku bisa membantumu. Dia adalah salah satu sahabat baikku,” sahut Sebastian enteng.
“Dia?” Paloma menoleh pada Sebastian. Mata hazelnya membulat sempurna. “Apakah itu alasannya, mengapa sampai detik ini Kepala Polisi Abelardo tidak memberikan kabar tentang perkembangan kasus kecelakaan itu? Aku bahkan sudah menghubunginya berkali-kali. Namun, jawabannya tetap sama. Tim forensik sedang bekerja mencari pemilik nomor plat mobil yang masih belum terlihat jelas orangnya” keluh Paloma.
Akan tetapi, nyatanya Sebastian tak berkonsentrasi, pada setiap kata yang terlontar dari bibir ranum Paloma. Dia asyik menikmati wajah cantik yang terlihat begitu indah di matanya.
__ADS_1
“Kepala polisi Abelardo adalah sahabatmu, bukan? Tiba-tiba aku berpikir bahwa dia sengaja menyembunyikan bukti-bukti, agar kau tetap aman,” tuding Paloma sembari mengarahkan telunjuknya ke arah Sebastian.