Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Selalu Terdepan


__ADS_3

Paloma berpikir sejenak, lalu mengarahkan pandangan kepada Sebastian dan Abelardo secara bergantian. “Jam berapa kau akan menemuinya, Sebastian?” tanya wanita itu.


“Aku sudah membuat janji dengan pengacara Tatiana pagi-pagi sekali," jawab Sebastian.


“Aku akan mengerahkan anak buahku, untuk membuka kembali kasus ini,” putus Abelardo kemudian.


“Baiklah, kalau begitu. Apapun yang kudapatkan besok, akan kulaporkan padamu,” Sebastian menepuk pundak Abelardo pelan sebelum berpamitan. Dia mengantarkan Paloma kembali ke Granada.


Dua jam dilalui dengan obrolan ringan, mengingat di kursi belakang ada Kalida dan Luz Maria. Sebastian tak berani membuka percakapan berat, hingga tiba di depan rumah dua lantai yang menjadi tempat tinggal Paloma selama di Spanyol.


Dengan telaten, Sebastian menurunkan Luz Maria dari kursi khusus. Dia sempat menggendongnya sesaat, sebelum menyerahkan balita cantik itu pada Paloma. “Beristirahatlah. Ada banyak hal yang harus kau tangani besok,” ucap Sebastian lembut.


“Oh, ya. Um ....” Paloma terlihat ragu.


“Ada apa? Bicaralah.” Sebastian berjalan mendekat, hingga tangan mungil Luz Maria dapat meraih kalung perak dirinya kenakan. Luz Maria menarik-nariknya, hingga Sebastian kerepotan.


Melihat hal itu, Paloma hanya tertawa. Dia mengangkat Luz Maria sebagai isyarat bagi Sebastian, agar gantian menggendongnya. Sebastian jelas menerima dengan senang hati. Dia jadi memiliki alasan untuk berlama-lama di sana.


“Aku berencana untuk melakukan pindahan besok. Bersamaan dengan mengurus surat-surat ke notaris,” ujar Paloma. “Dengan begitu, kami tidak perlu dua kali kerja. Akan tetapi ….”


“Aku akan menyewakan jasa ekspedisi untukmu,” potong Sebastian, yang seolah sudah tahu ke mana arah pembicaraan Paloma.


“Sebastian … a-aku ….” Paloma terbata. Mata hazelnya menatap lekat sosok pria yang tengah memandangnya dengan penuh cinta. “Aku tinggal seorang diri di sini. Kukira, aku bisa mengatasi semuanya. Namun ternyata ….” Paloma tersenyum getir, lalu menunduk.


“Tidak apa-apa. Aku mengerti. Tidak ada manusia yang bisa melakukan segala sesuatunya sendirian. Suatu saat, kita pasti akan membutuhkan bantuan orang lain,” balas Sebastian.


“Dengarkan aku, Paloma.” Sebastian mengangkat dagu wanita yang telah membuatnya tergila-gila itu. “Jangan sungkan meminta bantuan apapun padaku. Aku tak akan pernah menolaknya, meskipun kau menyuruhku menyeberangi lautan sekalipun.”

__ADS_1


“Berhentilah merayuku, Sebastian.” Ekspresi wajah Paloma, bertolak belakang dengan kata-katanya. Paloma tak menolak, ketika Sebastian menyentuh wajah cantik dan hendak mencium bibirnya.


Sayang sekali, adegan romantis itu harus terjegal, ketika telapak tangan Luz Maria bergerak menutupi bibir Sebastian. Hal itu membuat Paloma kembali tertawa. Melihat sang ibu yang tertawa, Luz Maria juga ikut tertawa.


Keesokan harinya, Sebastian datang kembali. Mobil yang dia kendarai, beriringan dengan truk container besar dari perusahaan jasa ekspedisi yang telah disewa untuk membantu memindahkan barang-barang Paloma dari Granada ke Porcuna. Tak hanya itu, Sebastian juga membawa beberapa pelayan pria dari kediamannya, untuk membantu meringankan pekerjaan Paloma. Tak sampai satu jam, mereka berhasil memasukkan seluruh barang-barang ke dalam truk container tadi.


Setelah itu, mereka langsung bergerak menuju rumah yang telah dibeli oleh Paloma di Porcuna. Di sana, Elazar telah menunggunya. Pria yang awalnya menyandarkan punggung pada bodi mobil, langsung berdiri tegak saat Paloma datang.


Elazar sempat tertegun, saat melihat Sebastian membawa banyak pelayan yang membantu menurunkan barang-barang. “Aku tidak mengira, bahwa kau akan bersikap habis-habisan seperti ini dalam menarik perhatian Nyonya Hernandez,” kelakar Elazar, yang hanya dibalas senyuman kecil oleh Sebastian.


Paloma sendiri tak ambil pusing menanggapi ucapan Elazar. Bersama Kalida, dia sibuk memberi perintah pada petugas ekspedisi untuk meletakkan perabot sesuai keinginannya. Sesaat kemudian, dia menyerahkan kendali pada Kalida.


“Jangan lengah mengawasi Luz Maria, sesibuk apapun dirimu, Kalida,” pesannya mengingatkan. “Aku harus pergi ke kantor notaris sekarang.”


"Apa perlu kuawasi dulu pekerjaan di sini?" tawar Sebastian enteng, "tapi, aku juga harus berangkat sebentar lagi," ujarnya sambil melihat arloji.


“Aku sudah menghubungi Tuan Alfonso untuk memundurkan jadwal. Semua bisa menjadi fleksibel jika berhubungan denganmu, Sayang. Apapun bisa menunggu,” ujar Sebastian kalem.


"Astaga.” Elazar berdecak pelan. Dia tak mengira bahwa Sebastian akan segigih itu. Elazar merasa kalah beberapa langkah dari sang pemilik perkebunan terbesar di Porcuna tersebut. “Mari, Nyonya Hernandez. Petugas notaris sudah menunggu kita,” ajaknya beberapa saat kemudian.


“Aku pergi dulu, Sayang.” Paloma mencium pipi gembul Luz Maria yang asyik bermain di kursi khususnya. Dia melambaikan tangan pada Kalida dan Sebastian, sebelum memasuki mobil Elazar.


Sebastian menepati janjinya untuk tetap berada di rumah baru Paloma, hingga semua selesai satu jam kemudian. Dia bergegas menuju ke penjara sektor kota Porcuna. Alfonso memberikan kabar mendadak, bahwa Tatiana dipindahkan ke sana, sampai menunggu masa persidangan. Karena itulah, Sebastian tidak terlalu terburu-buru.


Sebastian menemui Tatiana di ruangan khusus yang telah disediakan. Mereka berbincang bertiga bersama pengacara. “Aku menyuruh salah seorang anak buahku yang bernama Pablo untuk membuang mobil itu ke Cordoba. Anehnya, saat terdengar berita kecelakaan Rafael, Pablo menghilang entah ke mana. Aku tak berpikiran buruk waktu itu, sampai polisi datang dan menggeledah rumahku,” tutur Tatiana.


“Aku sudah mengerahkan orang-orang untuk mencari keberadaan Pablo. Namun, dia seperti menghilang ditelan bumi. Nomor teleponnya juga tidak bisa dihubungi,” lanjut Tatiana lagi.

__ADS_1


“Apa dia memiliki keluarga dekat, saudara, atau teman?” tanya Sebastian.


“Aku tidak tahu. Dia orang yang sangat tertutup,” jawab Tatiana lesu.


Sebastian manggut-manggut mendengarkan penuturan Tatiana, sambil mengusap dagunya. “Pablo adalah saksi kunci. Jika dia ditemukan, maka titik terang masalah ini akan semakin jelas.”


“Betul sekali, Tuan. Kuharap, pihak kepolisian bersedia menyelidiki hal ini,” timpal pengacara Tatiana.


“Tenang saja. Abelardo adalah teman baikku. Katakan siapa nama belakang Pablo?" Sebastian sudah bersiap untuk pergi.


"Gimenez. Namanya adalah Pablo Gimenez. Alamat rumahnya akan kukirimkan lewat pengacaraku sebentar lagi,” ujar Tatiana.


“Bagus. Kalau begitu, aku pergi dulu. Akan kuusahakan untuk mendapatkan jawaban secepat mungkin." Sebastian mengangguk pada Tatiana lalu menyalami sang pengacara.


Dia bergegas kembali ke kantor polisi tempat Abelardo bertugas, dengan membawa bukti-bukti baru, yaitu nama Pablo Gimenez beserta alamat rumah lengkapnya.


“Biar kucari nama itu di pusat data. Duduklah sebentar.” Abelardo mengulurkan tangan ke arah kursi di depan meja kerjanya. Sebastian mengangguk. Dengan sabar, dia menunggu sang kepala polisi yang sedang bekerja.


“Ah, ini dia! Pablo Gimenez merupakan pria asli Cordoba. Akan tetapi, dia sudah lama bekerja di Sevilla. Lihatlah. Kartu identitasnya memiliki cap wilayah Cordoba, sedangkan kartu pegawai dan nomor pajaknya tercantum di pusat tenaga kerja Sevilla,” jelas Abelardo.


“Jadi, bagaimana? Kapan kau akan menginterogasinya?” tanya Sebastian antusias.


Abelardo tak segera menjawab. Dia malah menyandarkan punggungnya di kursi sambil melipat kedua tangan di dada. “Jujur saja, aku tidak bisa menginterogasi mayat,” ujarnya.


“Apa maksudmu?” Sebastian mengernyitkan kening tanda tak mengerti.


“Pablo Gimenez telah tewas dalam kecelakaan dua bulan silam. Surat kematiannya baru dirilis bulan lalu,” jawab Abelardo yang seketika membuat Sebastian terkesiap.

__ADS_1


__ADS_2