
Abelardo tertegun mendengar ucapan yang terdengar penuh tantangan dari Paloma. Pria berkumis tebal itu menoleh, lalu membalikkan badan. “Apa maksud Anda, Nyonya?” Sang inspektur polisi memicingkan mata.
“Kenapa Anda masih bertanya?” Nada bicara Paloma tetap terdengar sinis. “Apa yang kukatakan tadi sudah sangat jelas. Aku ingin agar Sebastian Cruz Castaneda mendapat hukuman yang setimpal!” jawab Paloma berapi-api.
Abelardo tersenyum seraya menggaruk pelipisnya. Dia yang tadinya hendak pergi, kembali masuk dan berjalan mendekat ke ranjang. Abelardo menatap wanita bermata hazel di ranjang perawatan, dengan sorot tak dapat diartikan. “Bukankah tadi sudah kukatakan, Nyonya? Aku tidak akan sembarangan menyeret seseorang yang belum terbukti bersalah ke dalam jeruji besi. Anda memang korban di sini, tapi itu tak berarti Anda bisa sesuka hati menjatuhkan tuduhan, pada seseorang yang tidak Anda sukai," ucapnya berusaha tak terpancing.
“Ini bukan tentang suka atau tidak, Inspektur! Ini tentang kematian tragis yang menimpa ayah dari putriku!” tegas Paloma.
“Sudahlah, Nak.” Rogelio mendekat kepada Paloma. Dia mencoba menenangkan wanita itu. Rogelio memegangi pundak sang putri.
“Begini saja, Nyonya,” ucap Abelardo lagi. “Jika memang Anda memiliki bukti-bukti yang cukup dan dirasa kuat untuk menjerat Tuan Sebastian Cruz Castaneda, maka berikan semuanya pada kami. Pihak kepolisian akan langsung mengusut tuntas, tanpa melihat siapa orang itu,” tegas inspektur polisi berkumis tebal tersebut.
“Aku pasti akan mendapatkan bukti-buktinya,” balas Paloma tak kalah tegas.
Abelardo mengangguk sopan. “Kita bisa bekerja sama dengan baik, Nyonya,” ucapnya. “Aku permisi dulu.” Pria dengan jaket kulit berwarna cokelat itu membalikkan badan. Dia melangkah ke dekat pintu.
“Biar kuantar, Inspektur.” Rogelio sudah hendak menyusulnya.
Akan tetapi, Abelardo segera mencegah. “Tidak usah, Tuan. Terima kasih.” Inspektur polisi sektor Porcuna tersebut membuka pintu, lalu menghilang di baliknya.
Sepeninggal Abelardo, Rogelio kembali ke dekat ranjang. Dia duduk di tepiannya sambil menghadap kepada Paloma. Pria paruh baya tersebut paham dengan kondisi kejiwaan putrinya yang masih terguncang dan belum sepenuhnya stabil. Karena itulah, dia tak terlalu banyak bicara. Apalagi, sampai membantah ucapan Paloma.
“Nak.” Rogelio meraih tangan Paloma, lalu menggenggamnya. “Jangan bertindak gegabah. Pertimbangkan lagi dengan apa yang akan kau lakukan,” sarannya lembut.
“Apakah Ayah juga meragukanku?”
“Bukan begitu, Nak. Akan tetapi, kita tidak bisa sembarangan menuduh seseorang sebelum ada bukti yang jelas. Aku akan selalu mendukungmu, untuk bisa mengusut tuntas kasus ini,” jelas Rogelio pelan-pelan. Dia berkata dengan pelan dan tertata agar Paloma tak salah paham.
__ADS_1
Rogelio terdiam beberapa saat. Pria paruh baya tersebut tampak sedang memikirkan sesuatu. “Bagaimana jika kita menghubungi Pengacara Cardenas? Siapa tahu dia bisa membantu dalam hal ini,” cetusnya.
Sepasang mata hazel milik Paloma seketika berbinar, memancarkan harapan yang tiba-tiba datang bersama seulas senyuman. Wanita cantik berambut pendek itu mengangguk setuju. Dia tak menolak ide yang diutarakan sang ayah. "Itu bukan ide buruk, Ayah," sambut Paloma antusias.
“Baiklah. Aku akan mencoba menghubungi Pengacara Cardenas. Semoga saja dia masih memakai nomor ponsel yang sama,” ujar Rogelio. Dia beranjak dari duduknya, kemudian berpindah ke kursi dekat jendela. “Kau istirahat saja dulu, Nak,” ucapnya seraya menoleh sesaat kepada Paloma, sebelum lanjut menghubungi Pengacara Cardenas.
Sementara itu, Abelardo telah kembali ke kantor. Sebelumnya, dia sudah menghubungi Sebastian dan meminta agar pria itu datang ke sana. Sebelum Sebastian tiba, Abelardo terlebih dulu memeriksa rekaman CCTV yang diberikan sang tuan tanah. Dia dibantu oleh oleh seseorang dari anggota tim penyidik.
Abelardo mengamati layar komputernya dengan saksama. Dia berusaha untuk tidak melewatkan satu hal pun. Saking fokus pada apa yang tengah disaksikan, Abelardo sampai tak menyadari bahwa Sebastian telah berada di ruangan itu.
“Bagaimana?” tanya Sebastian sambil berjalan mendekat ke meja di mana Abelardo berada.
“Astaga! Aku tak tahu kau sudah datang,” ucap Abelardo menoleh sesaat. “Aku sedang menganalisa rekaman CCTV yang kau berikan," ucap pria itu. "Perkenalkan. Ini Dimitrio. Dia salah satu dari tim penyidik." Abelardo mengarahkan tangannya pada pria muda di depan layar komputer.
"Hallo," sapa pemilik ribuan hektar perkebunan zaitun itu. "Namaku Sebastian."
“Lihatlah, Kawan. Ini adalah mobil SUV hitam yang melintas di depan Casa del Castaneda. Aku sudah menanyai istri mendiang Rafael Hernandez. Dia mengatakan sempat melihat mobil SUV hitam, sebelum kendaraan yang ditumpanginya bersama suami tergelincir ke dalam jurang,” terang Abelardo.
Sebastian sedikit mencondongkan tubuh dengan bertumpu pada tangan kanan di atas meja. Dia mengamati layar komputer di hadapannya. “Apakah itu berarti bahwa ban mobil yang kau maksud merupakan milik kendaraan ini?” tanya pria bermata cokelat madu itu.
“Bisa jadi. Aku akan memeriksa nomor polisi kendaraan itu. Akan tetapi, ini pasti membutuhkan waktu,” ujarnya.
“Tidak apa-apa. Urusan seperti ini membutuhkan ketelitian yang besar. Aku hanya ingin membersihkan nama baikku,” ucap Sebastian kembali menegakkan tubuhnya.
Abelardo mengangguk setuju. Terlebih, setelah dirinya melihat sikap keras Paloma. “Nyonya Hernandez,” gumam Abelardo seraya tersenyum simpul.
“Kau sudah bertemu dan bicara langsung dengannya. Bagaimana menurutmu?” tanya Sebastian.
__ADS_1
Abelardo menggeleng tak percaya seraya berdecak pelan. Dia mengajak Sebastian menuju ruangannya. “Luar biasa. Paloma wanita yang sangat cantik, tapi sepertinya terlalu sulit untuk ditaklukan.” Pria itu mengakhiri kata-katanya dengan tawa renyah. “Ya, Tuhan. Aku tak mengerti dengan seleramu saat ini, Sebastian,” ujarnya.
Sebastian tersenyum kalem seraya duduk di kursi kayu dekat meja kerja Abelardo. “Begitulah Paloma. Dia membuatku penasaran. Setelah tiga tahun berlalu, perasaan itu belum sirna sepenuhnya.”
“Dia sangat jauh berbeda dengan Brishia yang lembut dan penurut. Janda Hernandez sepertinya bukan tipe wanita yang mudah untuk dikendalikan, apalagi dikuasai.”
“Kau benar, Abelardo.” Sebastian terdiam sejenak, lalu mengembuskan napas pelan. “Paloma adalah pembangkang dan sangat keras kepala. Dia satu-satunya wanita yang berani menentang segala ucapanku, bahkan tak jarang menantang dan ….” Sebastian tertawa pelan seraya menggaruk keningnya.
“Sebastian Cruz Castaneda. Seleramu memang luar biasa. Dari dulu hingga sekarang, kau tak pernah gagal dalam membidik lawan jenis. Aku harus mengaku kalah padamu dalam hal itu,” ujar Abelardo. “Omong-omong, aku sudah menyerahkan plat nomor kendaraan tadi untuk diperiksa. Hasilnya akan keluar dalam beberapa hari lagi,” ucap pria itu, kembali pada masalah yang berkaitan dengan kecelakaan Paloma dan Rafael.
“Aku sudah tidak sabar menunggu hasilnya,” ujar Sebastian. Dia beranjak dari kursi. Sebastian tampaknya akan pergi dari sana.
“Aku masih ada urusan. Kau juga pastinya harus menyelesaikan pekerjaanmu. Kabari lagi jika sudah ada perkembangan terbaru,” pesan duda empat puluh tahun tersebut.
“Jangan khawatir. Aku pasti akan selalu memberitahukan setiap kali ada perkembangan dalam kasus ini,” balas Abelardo. Dia membalas jabat tangan khas keakraban para pria, sebelum mengantar Sebastian keluar dari ruangannya.
Sebastian melangkah gagah ke dekat kendaraannya terparkir. Saat masuk ke mobil, wajah cantik Leandra langsung menyambutnya. Wanita muda bertubuh sintal itu tersenyum hangat. Dia selalu terlihat manis di hadapan sang majikan, yang lebih sering menanggapi dengan biasa saja. “Apakah sudah selesai, Tuan?” tanya Leandra, ketika Sebastian telah duduk di jok tengah bersamanya.
“Aku hanya mampir,” jawab Sebastian menoleh sesaat. Dia lalu mengalihkan pandangan ke depan, pada Pedro sang sopir pribadi. “Ke kantor Elazar Ganimedes Blanco,” titahnya.
“Apakah maksud Anda, Tuan Blanco pengusaha konstruksi yang terkenal itu?” tanya Leandra.
“Ya, Leandra. Dia Tuan Blanco yang terkenal itu,” ulang Sebastian.
“Untuk apa Anda menemuinya, Tuan?” tanya Leandra lagi. “Pasalnya, hari ini tidak ada jadwal pertemuan dengan Tuan Blanco di agenda."
“Aku memang tidak merencanakan ini sebelumnya. Tiba-tiba saja, aku ingin menemui dan bertanya beberapa hal,” sahut Sebastian enteng.
__ADS_1