Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Diculik Elazar


__ADS_3

Sebastian terkesiap saat mendengar penjelasan Abelardo. “Tewas?” ulangnya tak percaya.


“Ya. Pria itu meninggal dalam kecelakaan mobil,” jawab Abelardo yakin.


“Apakah ada kemungkinan jika dia dibunuh?” tanya Sebastian sambil mengusap dagunya.


“Entahlah. Namun, di sini dijelaskan bahwa itu merupakan kasus kecelakaan tunggal. Mobil yang dikendarainya mengalami pecah ban, pada ruas jalan raya antar kota. Mobilnya terguling dan … seperti yang kau tahu." Abelardo tampak malas menjelaskan lebih detail, karena tatap matanya serius memperhatikan layar laptop.


“Apa ada lagi yang kau temukan?” Sebastian yang haus akan rasa ingin tahu, segera memutari meja dan ikut mengarahkan pandangannya ke laptop. Dia mengernyitkan kening, saat membaca deretan tulisan di sana. Artikel itu memuat tentang kronologis kecelakaan yang menewaskan Pablo.


“Tidak adanya unsur kesengajaan. Kematian Pablo Gimenez murni kecelakaan,” jelas Abelardo yang kemudian mengalihkan pandangannya kepada Sebastian. “Itu artinya, Nyonya Vidal gagal mendapatkan seorang saksi.”


“Lalu, bagaimana dengan kendaraan yang dipakai untuk menabrak Rafael? Apa timmu sudah berhasil menemukannya?” tanya Sebastian lagi.


“Tidak. Belum. Akan tetapi, aku tetap akan berusaha mencarinya hingga menemukan titik terang,” jawab Abelardo dengan nada bicara yang terdengar tenang. Sesaat kemudian, dia berniat untuk menutup dokumen tentang Pablo di layar laptopnya. Akan tetapi, tubuh Abelardo mendadak menegang. Dia lalu mendekatkan wajahnya pada layar sembari memicingkan mata.


“Hei! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau aneh sekali?” tegur Sebastian.


“Astaga! Lihat ini!” Abelardo menarik pundak Sebastian, agar sahabatnya itu mendekat dan dapat melihat dengan jelas. Di sana tertera foto hitam putih yang dilampirkan dalam dokumen.


“Apa itu?” Sebastian menggeleng tak mengerti.


“Ini adalah foto beberapa saat setelah kejadian kecelakaan yang menimpa Pablo Gimenez. Lihatlah. Ada kendaraan lain di belakang mobil Pablo yang terbalik,” tunjuk Abelardo.


“SUV hitam?” gumam Sebastian.


“Apakah kau bisa melihat nomor polisinya?” tanya Abelardo.


“Tidak. Tidak terlihat sama sekali. Dua huruf di belakangnya tertutup bodi mobil yang terbalik,” jawab Sebastian.


“Tidak apa-apa. Timku masih bisa mengidentifikasi, meskipun tak terlihat dua huruf belakang nomor polisinya,” ucap Abelardo mendadak antusias. Dia menyimpan foto tadi ke dalam filenya, lalu mengirimkan pada anak buahnya di departemen forensik.

__ADS_1


“Kau mungkin membutuhkan kopi, karena akan lama bagi kita menunggu hasilnya. Kurang lebih, sekitar satu atau dua jam,” ujar Abelardo.


“Tidak apa-apa. Aku akan berada di sini sampai mendapatkan jawaban,” putus Sebastian.


“Baiklah. Terserah dirimu saja,” balas Abelardo.


Dua pria itu kemudian terlibat perbincangan ringan untuk mengisi waktu, sampai mendapatkan kabar dari tim forensik. Tak sampai dua jam, Abelardo sudah mendapatkan laporan lengkap sesuai dengan yang diharapkan. Pria itu tersenyum lebar saat mengakhiri panggilan.


“Seperti dugaanku. Mobil SUV hitam yang berada di sekitar TKP, adalah mobil yang sama dengan yang menabrak Tuan Rafael Hernandez,” papar Abelardo.


“Jadi, bagaimana? Apakah hal itu dapat membuktikan sesuatu?” tanya Sebastian tak sabar.


“Tidak, belum. Bersabarlah,” ujar Abelardo. “Kita harus mendapatkan lebih banyak bukti untuk menemukan tersangka lain, sekaligus membuktikan bahwa Nyonya Vidal tak bersalah seperti apa yang dikatakannya.”


“Sebenarnya, Tatiana sendiri memiliki alibi yang cukup kuat. Dia berada di luar kota, saat terjadinya kecelakaan yang menewaskan Rafael. Banyak saksi mata yang mendukung pernyataan Tatiana,” ucap Sebastian lagi seraya mengembuskan napas pelan.


“Akan tetapi, bisa saja Nyonya Vidal menyuruh orang lain untuk menabrak Tuan Hernandez,” sanggah Abelardo. "Kita hanya perlu menemukan mobil itu, lalu mencari tahu siapa yang mengendarainya saat kecekalaan maut itu terjadi,” terangnya.


“Ah, pelik sekali,” keluh Sebastian seraya meringis sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“Entahlah, aku ….” Sebastian tampak berpikir.


Dalam beberapa hari terakhir, dia jarang sekali berada di rumah. Waktunya habis di jalan antar kota untuk mengantar jemput Paloma. Namun, mulai hari ini, dia tak akan kesulitan mengunjungi wanita yang berhasil mencuri hatinya tersebut, karena Paloma sudah pindah di Porcuna.


“Baiklah, kalau begitu. Aku permisi dulu." Bertepatan dengan Sebastian yang berpamitan, saat itu pula telepon kantor Abelardo berdering. Kepala polisi wilayah Porcuna tadi terlihat serius mendengarkan laporan dari anak buahnya. Dia mengangguk, lalu kembali meletakkan gagang telepon.


“Berita besar, Sebastian." Abelardo membelalakkan matanya lebar-lebar.


“Ada apa? Jangan terlalu lama membuatku penasaran." Sebastian yang awalnya sudah hendak meninggalkan ruangan, langsung berbalik dan duduk kembali di tempatnya.


“Polisi lalu lintas sektor Cordoba melakukan pengejaran terhadap mobil SUV hitam, yang melaju melebihi batas kecepatan maksimum. Mobil itu melarikan diri ke arah Madrid. Namun, coba tebak!” Abelardo melontarkan teka-teki yang mudah ditebak oleh Sebastian.

__ADS_1


“Apakah itu mobil yang menabrak Rafael?” terka Sebastian.


“Betul sekali! Mereka sudah berhasil merekam nomor polisinya, dan ternyata identik dengan kendaraan tersangka yang sedang kita buru." Abelardo memperlihatkan senyuman lebar.


“Jadi, apakah itu berarti bahwa apa yang dikatakan oleh Tatiana benar adanya?” tanya Sebastian hati-hati.


“Masih terlalu dini untuk menyimpulkan. Akan tetapi, aku sudah dapat memastikan bahwa ada tersangka lain di luar sana. Untuk sementara, Nyonya Vidal harus tetap ditahan sampai bukti-bukti cukup,” tegas Abelardo.


“Itu berarti, penjahatnya masih berkeliaran,” pikir Sebastian pelan. Seketika, pikirannya melayang pada ibunda Luz Maria. “Aku harus menghubungi Paloma,” putus pria itu. Sebastian bergegas meninggalkan ruangan Abelardo tanpa pamit.


Sementara, Abelardo hanya berdecak pelan sambil menggelengkan kepala. “Dasar. Begitulah pria yang sedang dimabuk cinta. Dia seakan lupa segalanya,” gumam Abelardo, sebelum kembali berkutat dengan pekerjaan.


Sebastian tak menghiraukan apapun. Dia berusaha menghubungi Paloma. Namun, sayang sekali karena wanita cantik bermata hazel itu tiba-tiba menjadi sulit dihubungi.


Akhirnya, Sebastian memutuskan untuk langsung meluncur ke rumah baru Paloma. Ternyata di sana hanya ada Kalida yang sedang sibuk menidurkan Luz Maria. Balita itu terlihat sedang menangis dan gelisah.


“Apa yang terjadi dengannya, Kalida? Kenapa Luz Maria menangis?” Dengan mudah, perhatian Sebastian teralihkan pada balita yang kini meronta-ronta dalam gendongan Kalida. Tangan mungilnya terulur ke arah Sebastian, seolah meminta pria itu agar menggendongnya.


“Maaf, Tuan. Tak biasanya Luz Maria rewel seperti ini,” keluh Kalida.


“Papa,” celoteh Luz Maria sembari terus mengarahkan tangan kepada Sebastian.


“Tidak apa-apa. Biar kugendong,” ucap Sebastian. Tanpa ragu, dia langsung merengkuh dan memeluk tubuh mungil itu. Dia juga menggendong sambil menepuk-nepuk punggung Luz Maria.


“Kenapa Paloma belum pulang?” tanya Sebastian.


“Entahlah, Tuan. Padahal, tadi Nyonya Paloma sempat menghubungiku. Dia mengatakan tak akan lama,” terang Kalida dengan raut khawatir.


“Apa kau masih bisa menghubunginya? Aku berkali-kali mencoba untuk menelepon sejak tadi. Namun, selalu saja gagal tersambung,” ujar Sebastian cemas.


"Aku juga kesulitan menghubungi nyonya sejak dua jam yang lalu, Tuan," sahut Kalida, yang membuat rasa khawatir dalam diri Sebastian kian menjadi.

__ADS_1


Sementara, wanita yang tengah dikhawatirkan tadi sedang berada dalam mobil mewah milik Elazar. “Anda membawaku ke mana, Tuan? Ini bukan jalan pulang ke rumah,” Paloma was-was memandang ke arah Elazar yang fokus menyetir.


“Ya, aku tahu,” Elazar tertawa renyah. “Kurasa aku terpaksa harus menculikmu sebentar. Jika tidak demikian, aku tidak bisa mengajakmu makan malam berdua,” ujarnya kalem.


__ADS_2