
“Tidak apa-apa, Leandra. Ini hanya masalah kecil,” jawab Sebastian. “Temui Matilde dan minta obat untukku. Aku bisa mengatasi sendiri luka seperti ini,” titah sang tuan tanah.
Leandra yang tadinya berharap akan mendapat penjelasan panjang lebar dari Sebastian, hanya bisa menelan ludah demi menepiskan rasa kecewa. Perhatian lebih yang diberikannya kepada Sebastian, ternyata tak pernah ditanggapi atau dianggap istimewa oleh sang majikan. Sebastian, justru sibuk mengejar Paloma.
Dengan berat, Leandra menganggukkan kepala. Wanita cantik bertubuh sintal tersebut berlalu dari hadapan Sebastian dan Abelardo. Dia melangkahkan kaki menyusuri koridor menuju ruang obat-obatan.
Sementara, Abelardo sudah berpamitan dari Casa del Castaneda, karena Sebastian harus mengurus masalah perkebunan. Sebastian diminta mengambil keputusan, untuk suatu masalah yang sudah dipaparkan oleh Martin. Selagi mereka berunding, Leandra datang dengan membawa obat-obatan yang diperlukan untuk luka di wajah Sebastian.
“Biarkan kubantu mengobati luka Anda, Tuan,” bujuk Leandra lagi. “Anda bisa melanjutkan perundingan ini bersama Martin tanpa terganggu,” ujar sang asisten cantik tersebut.
Sebastian mengembuskan napas pelan. Dia menoleh sekilas kepada Martin, yang terlihat tak nyaman dengan sikap Leandra. “Baiklah, Leandra.” Sebastian akhirnya setuju dengan tawaran dari wanita itu. Dia melanjutkan perbincangan dengan Martin, seputar masalah yang tadi sedang dibahas.
Sementara, Paloma menghubungi Rogelio. Dia menceritakan semua hal yang berkaitan dengan Elazar dalam kasus kecelakaan yang menewaskan Rafael. Paloma menjabarkan secara detail perihal keterlibatan mantan suami Tatiana Vidal tersebut, meskipun hingga saat ini semuanya masih didalami oleh pihak yang berwajib.
“Jangan lupa untuk terus mengabariku, nak,” pesan Rogelio, setelah Paloma menuturkan panjang lebar.
“Tentu, ayah. Aku akan selalu memberitahukan setiap perkembangan dalam kasus ini. Selain itu, kita juga harus berterima kasih kepada Sebastian,” ucap Paloma terdengar agak ragu.
Rogelio menggumam pelan. Pria paruh baya tersebut tak langsung menanggapi. Beberapa saat kemudian, barulah dia kembali bicara, “Apakah pria itu masih mendekatimu, nak?” tanyanya.
Paloma tertawa pelan. Andai dia bicara secara langsung dengan Rogelio, sudah dipastikan bahwa sang ayah akan dapat melihat wajahnya yang merona karena malu. Namun, Paloma bukan lagi anak remaja yang akan menunjukkan rasa berbunga-bunga dalam hatinya secara berlebihan. “Sebastian masih tetap bersikap seperti Sebastian sebelumnya, ayah.”
Rogelio mengembuskan napas panjang. “Rupanya, dia pantang menyerah juga,” decak pria paruh baya tersebut. “Dari awal, aku sudah bisa menebak seperti apa perasaan pria itu terhadapmu. Aku melihat dia selalu menatapmu dengan cara yang berbeda. Namun, kuakui bahwa dulu niatku hanya ingin mempersatukanmu dengan Rafael.”
__ADS_1
“Kuharap, kau tidak memaksaku lagi untuk mengenal Elazar. Tuhan lebih dulu menunjukkan siapa dia yang sebenarnya. Aku bersyukur akan hal itu,” ucap Paloma.
“Tidak, nak. Aku melakukan semua itu bukan karena ingin menyatukanmu dengan Elazar. Lagi pula, kau baru menjanda. Rasanya tak etis jika langsung berdekatan dengan pria lain. Namun, aku juga ingin melihat seberapa besar Sebastian memperjuangkanmu. Setelah semua sikap burukku, apakah dia akan mundur atau sebaliknya. Ternyata, pria itu tetap gigih mengejarmu.” Rogelio tertawa pelan.
“Itulah Sebastian, ayah.”
Paloma dan Rogelio terus berbincang. Dia juga membahas tentang bisnis yang akan segera dimulai, setelah dirinya menemui beberapa orang yang dianggap dapat membantu mewujudkan impian besar Paloma tersebut. Perbincangan itu baru berakhir, ketika Luz Maria terbangun karena lapar. Paloma menutup sambungan teleponnya setelah berpamitan terlebih dulu.
Beberapa saat, janda satu anak tersebut menyusui Luz Maria hingga putrinya kembali tidur. Setelah itu, dia keluar kamar dan menemui Kalida. Dia memastikan bahwa para petugas polisi yang berjaga di rumahnya, sudah dijamu dengan baik.
Sekitar pukul dua puluh satu tepat, Paloma kembali ke kamar. Saat itu, dia mendapati layar ponselnya menyala. Paloma mendapati panggilan yang berasal dari Sebastian.
“Astaga, aku menghubungi sudah hampir lima kali,” keluh Sebastian tanpa berbasa-basi terlebih dulu.
“Apa kau merasa tidak leluasa, sayang?” tanya Sebastian.
“Ya, Aku merasa diawasi. Pergerakanku seperti sangat terbatas,” sahut Paloma kembali diirngi keluhan.
“Itu tindakan yang paling tepat. Aku rasa, kita harus meningkatkan kewaspadaan, mengingat kejadian yang kualami sepulang dari tempatmu siang tadi,” ujar Sebastian.
“Memangnya, apa yang terjadi padamu?” tanya Paloma. Raut cemas langsung menghinggapi paras cantik janda dua puluh delapan tahun tersebut.
Sebastian menceritakan semua yang dialaminya, selama dalam perjalanan menuju Casa del Castaneda. Dia juga memberitahukan hasil perbincangan bersama Abelardo secara detail.
__ADS_1
“Astaga! Bagaimana dengan lukamu sekarang?” tanya Paloma yang kian resah.
“Jangan khawatir. Ini hanya luka kecil,” jawab Sebastian tenang.
“Kau ini! Bagaimana aku bisa tenang? Aku masih trauma hingga sekarang, jika mendengar tentang insiden di jalan raya,” sergah Paloma kesal, karena Sebastian seakan menganggap enteng apa yang menimpanya tadi siang.
Namun, hal itu justru membuat Sebastian merasa semakin berada di atas angin. Dia tahu bahwa Paloma teramat mencemaskannya. Duda tampan empat puluh tahun tersebut malah tertawa bahagia.
Perbincangan ringan terus berlanjut. Tanpa terasa, waktu telah menunjukkan pukul dua puluh tiga lewat beberapa menit. Paloma sudah dilanda kantuk luar biasa. Dia berpamitan kepada Sebastian untuk pergi tidur.
Keesokan harinya, tanpa diduga Paloma membawa Luz Maria datang ke Casa del Castaneda. Bukannya tersanjung karena mendapat pengawalan dari seorang anggota polisi berseragam bebas, Paloma justru merasa bahwa dirinya tak jauh berbeda dengan seorang tahanan rumah.
“Ini kejutan yang sangat luar biasa,” sambut Sebastian hangat. Dia langsung mengambil Luz Maria dari gendongan Paloma.
Namun, perhatian Paloma justru tertuju pada beberapa luka di wajah Sebastian. “Ya, Tuhan. Bagaimana lukamu sekarang?” tanyanya khawatir.
“Sudah kukatakan bahwa ini hanya luka kecil. Dalam beberapa hari pasti akan sembuh sendiri. Kau tidak perlu khawatir, Sayang,” ujar Sebastian diiringi senyuman kalem.
“Para pria selalu bersikap seperti ini. Menyebalkan!” Paloma menepuk pelan pipi Sebastian. Membuat duda tampan tersebut langsung tertawa. “Dengarkan aku.” Paloma berdiri lebih mendekat pada Sebastian. “Um … semalam, aku berbicara dengan ayahku. Kurasa, sebaiknya kau mulai menjalin kembali komunikasi yang baik seperti dulu. Sepertinya, ayahku tidak akan menolakmu kali ini,” saran Paloma. Dia memberikan kode, yang membuat Sebastian seperti mendapatkan kembali harapannya.
“Tidak masalah. Apapun akan kulakukan untuk bisa mendapatkanmu,” balas Sebastian setengah berbisik. Dia sudah akan mencium Paloma, ketika terdengar suara Leandra yang membuatnya mengurungkan niat tersebut.
“Maaf, Tuan. Sudah waktunya kuobati luka Anda,” ucap Leandra diiringi senyuman.
__ADS_1