Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Gato


__ADS_3

Sentuhan hangat nan lembut itu kembali Paloma rasakan. Membuatnya seketika melayang dan terbuai. Paloma menjadi sangat lemah, ketika mendapat perlakuan demikian dari Sebastian. Dia seperti wanita kesepian, yang haus akan kasih sayang seorang pria. Pertahanannya kembali runtuh, sehingga dia membiarkan Sebastian menciumnya sampai puas.


“Aku akan kembali ke Meksiko besok,” ucap Paloma pelan, ketika Sebastian melepaskan bibirnya untuk sesaat.


“Itu bukan masalah besar,” balas Sebastian. Dia kembali mencium Paloma, meski tak terlalu lama. “Aku akan menunggu sampai urusan perceraianmu selesai.”


“Apa Anda yakin?” Nada bicara Paloma terdengar ragu.


“Kenapa kau terdengar ragu?” Sebastian malah balik bertanya.


“Apa yang membuat Anda yakin untuk menjadikanku sebagai kekasih? Lagi pula, kita akan terpisah jarak ribuan mil jauhnya.” Paloma kembali melontarkan pertanyaan.


“Anggap saja bahwa aku sudah melesatkan panah asmaraku padamu, dan kau tak bisa melarikan diri lagi. Kau juga tak perlu merisaukan jarak. Bagiku, itu hanyalah masalah kecil. Kau akan terkejut saat menyadari betapa aku adalah pria yang teramat setia. Jika ada penghargaan untuk itu, maka aku akan menjadi pemenangnya,” kelakar Sebastian, yang seketika membuat Paloma tergelak. Tak disangka, ternyata pria itu memiliki sisi humoris juga.


Bagi Sebastian, itu merupakan pemandangan yang sangat luar biasa. Selama ini, dia tak pernah melihat Paloma tertawa lebar seperti itu, dengan wajah yang teramat ceria.


“Kau cantik sekali, Paloma." Sebastian kembali mendekatkan wajahnya pada wanita muda itu. “Tetaplah tersenyum dan bahagia,” ucapnya, seraya kembali melu•mat bibir Paloma, dengan jauh lebih hangat dan penuh gairah dari sebelumnya.


Di sela ciumannya, kedua tangan kekar Sebastian merengkuh pinggang ramping Paloma, sehingga menempel erat pada tubuhnya. Tak ada lagi jarak di antara kedua insan itu. Namun, sayang sekali karena adegan manis tadi harus terhenti, ketika seseorang mengetuk pintu ruang kerja Sebastian.


“Ah! Mengganggu saja,” keluh Sebastian. “Tunggu sebentar.” Dengan terpaksa, Sebastian mengurai pelukannya. Dia mengalihkan perhatian ke arah pintu. “Masuklah!” seru pria itu pada siapa pun yang telah mengusik adegan mesranya bersama Paloma.


Tak berselang lama, pintu ruangan terbuka perlahan. Sosok yang tak lain adalah Martin, melangkah masuk dengan ragu, terlebih saat dia menyadari bahwa Sebastian sedang tak sendirian. Ada seorang wanita yang berdiri di samping sang majikan.


Martin begitu terkejut saat menyadari bahwa wanita yang sedang bersama sang majikan adalah Paloma. “Paloma? Apakah ini kau?” Martin sekan lupa dengan tujuan awalnya, yang hendak membicarakan hal penting dengan Sebastian. Seluruh fokus dan perhatiannya, tersedot oleh sosok cantik yang terlihat semakin memesona itu.


“Aku yakin kau kemari bukan untuk menanyakan pertanyaan bodoh semacam itu,” ujar Sebastian, sebelum Paloma sempat menjawab.


“Ah, iya. Maafkan aku, Tuan,” balas Martin tergagap. Dia tampak salah tingkah. Martin tertawa pelan demi menepiskan rasa canggungnya. “Aku ingin memberitahukan bahwa ada sedikit masalah di bagian pengangkutan. Kuharap, Anda bersedia turun tangan secara langsung, Tuan.”


Sebastian mengembuskan napas panjang seraya memijit tengkuknya. Keinginan untuk berduaaan lebih lama bersama Paloma, dia urungkan. Ada tanggung jawab yang harus Sebastian selesaikan. Dia lalu menoleh kepada wanita yang sejak tadi berdiri sambil memandangnya. “Aku pergi dulu sebentar. Kau tunggulah di sini sambil beristirahat. Aku janji tak akan lama,” ucapnya lembut. Tak lupa, Sebastian mendaratkan kecupan kecil di bibir merah Paloma sebelum beranjak dari sana.


Martin masih berdiri di tempatnya. Dia menjadi saksi atas perlakuan manis yang Paloma terima dari sang majikan. Martin sama sekali tak menyangka, bahwa Sebastian akan bersikap demikian. Terlebih, jika mengingat si pemilik tanah ribuan hektar tersebut telah hidup dalam kesendirian. Sebastian menutup diri dari lawan jenis selama bertahun-tahun.


Martin menggeleng pelan sambil menyunggingkan senyuman. Sebisa mungkin dia menyembunyikan perasaan tak nyaman, sekaligus gejolak yang mulai memenuhi dada. “Senang bertemu lagi denganmu, Paloma. Aku bersyukur melihatmu dalam kondisi yang jauh lebih baik dari terakhir kali kita bertemu,” ujarnya dengan tatapan sendu.


“Aku juga senang bertemu denganmu lagi, Martin. Terima kasih untuk semua bantuanmu dulu. Aku benar-benar sangat menghargainya,” balas Paloma lembut. Membuat Martin hanya terpaku sambil memandangnya.


“Sampai kapan kau akan berdiri di situ, Martin?” tegur Sebastian dengan nada tak suka, saat melihat sorot mata sang mandor yang dilayangkan kepada Paloma.

__ADS_1


“Ah, iya. Maafkan aku, Tuan,” sahut Martin seraya mengangguk. Dia sempat tersenyum kepada Paloma, sebelum berbalik meninggalkan ruang kerja bersama Sebastian.


Cukup lama Paloma menunggu kedatangan Sebastian. Untuk mengisi waktu, Paloma memainkan telepon genggam mahal pemberian Rogelio. Jemarinya asyik menggeser video-video yang muncul di beranda media sosialnya, ketika ada panggilan masuk yang berasal dari Rafael.


“Kau di mana, Paloma?” tanya Rafael sebelum Paloma sempat mengucapkan ‘halo’.


“Aku sedang berada di perkebunan Tuan Castaneda,” jawab Paloma singkat.


“Oh, jadi kau sedang bersamanya?” Nada pertanyaan Rafael terdengar aneh.


“Iya. Ada apa, Rafael? Apakah ada masalah?” Paloma mengernyitkan kening, merasa aneh dengan sikap pria yang akan segera bercerai dengannya tersebut.


“Oh, tidak apa-apa. Aku baru saja tiba di kamar hotel. Namun, ternyata kau tak ada di sini. Aku hanya khawatir padamu,” jelas Rafael.


“Aku baik-baik saja. Beristirahatlah di ranjang sampai aku datang,” ucap Paloma.


“Baiklah. Terima kasih, Paloma,” pungkas Rafael. Sesaat kemudian, pria itu mengakhiri panggilannya.


Paloma tersenyum kecil. Tanpa sadar, ibu jarinya mengusap foto profil bergambar wajah tampan Rafael. Paloma melihat sosok Nilo di sana. Seandainya sang putra berhasil bertahan dan tumbuh semakin dewasa, pasti wajahnya akan sangat mirip dengan Rafael.


“Sedang apa?” Sebuah suara berat disertai embusan napas hangat menyapu tengkuk Paloma. Membuyarkan angan wanita itu dengan segera.


“Kulihat, kau sedang asyik memainkan ponsel,” balas sosok yang tak lain adalah Sebastian. Dia tersenyum manis kepada Paloma. Tak bosan-bosannya Sebastian menikmati wajah cantik wanita yang berhasil mencuri hatinya tersebut.


“Tadi Rafael menghubungiku. Dia mengabarkan bahwa dirinya baru tiba dari Sevilla,” jelas Paloma.


“Hm. Begitu?” Sebastian mengangguk pelan.


“Kuharap dia tidak mencoba untuk menyakitimu lagi?”


“Tidak, Tuan. Jangan khawatir. Sepertinya … Rafael mulai sedikit berubah,” jawab Paloma ragu. Teringat olehnya sikap Rafael yang kerap mengucapkan kata maaf dan terima kasih. Sesuatu yang dulu jarang, bahkan hampir tak pernah keluar dari bibirnya saat mereka masih tinggal bersama. Rafael bahkan membelikan gaun malam yang cantik.


“Kau bisa menghubungi andai terjadi sesuatu yang membahayakan,” ucao Sebastian diiringi tatapan lembut, yang terus menghujani paras cantik Paloma.


“Aku akan baik-baik saja, Tuan Castaneda. Jangan khawatir.” Paloma tertawa pelan. Harus diakui bahwa dirinya merasa begitu tersanjung, atas sikap Sebastian yang terlihat begitu mengkhawatirkannya.


“Bisakah kau berhenti memanggilku, Tuan? Saat ini kita sudah menjadi sepasang kekasih. Aku ingin panggilan yang jauh lebih mesra dan romantis.” Sebastian memasang wajah merajuk, lalu tertawa sesaat kemudian.


“Anda ingin aku memanggil dengan sebutan apa?” Paloma juga tampak kesulitan menahan tawa.

__ADS_1


“Bagaimana kalau gato (kucing) saja,” kelakar Sebastian.


“Astaga.” Sudah kesekian kali dalam satu hari itu, Paloma dapat tertawa lepas. Bersama Sebastian, Paloma seakan dapat melupakan beban hidupnya meski hanya sejenak. Kehangatan dan kasih sayang yang ditawarkan oleh pria itu benar-benar membuat Paloma lupa waktu.


Tanpa disadari oleh dua sejoli tersebut, waktu mulai beranjak petang. “Astaga. Aku harus segera kembali ke hotel. Aku belum berkemas untuk besok,” ujar Paloma panik saat melihat jam besar di sudut ruang kerja Sebastian, telah menunjukkan pukul tujuh malam.


“Jangan khawatir. Aku akan mengantarmu sekarang juga.” Sebelum membiarkan Paloma pergi, Sebastian kembali mencium wanita itu dengan penuh gairah. Sebastian berharap, ciuman itu dapat dijadikan sebagai kenang-kenangan yang akan Paloma simpan, meskipun mereka terpisah di benua yang berbeda.


Namun, dia tak mampu mengendalikan naluri kelelakiannya. Sebastian hampir berbuat lebih dari sekadar berciuman. Tangan kekar pria itu berusaha menelusup ke dalam dress Paloma. Dia bahkan berusaha melepas pakaian yang Paloma kenakan.


Beruntung wanita yang masih berstatus sebagai istri Rafael itu masih dapat mengendalikan diri. Tangannya sigap menghalau gerak Sebastian yang nakal. “Jangan. Aku tidak bisa melakukan yang lebih dari ini. Aku masih menjadi istri sah Rafael,” tolak Paloma lirih.


“Ah, ya. Kau benar. Astaga, maafkan aku.” Sebastian tersenyum kikuk. “Sebaiknya kuantar kau pulang sekarang daripada aku lepas kendali lagi,” lanjutnya.


“Ya. Aku setuju,” balas Paloma yang disambut oleh tawa renyah Sebastian.


Kebersamaan singkat yang penuh kehangatan itu berakhir, ketika duda tampan tersebut mengantarkan Paloma hingga ke depan kamar hotel. “Terima kasih untuk hari ini. Aku sangat menikmati waktu yang kuhabiskan bersamamu,” ucap Sebastian.


“Aku juga.” Paloma masih saja tersipu. Dia tak terbiasa dengan tatapan penuh godaan sekaligus memabukkan dari pria tampan di hadapannya itu.


“Jam berapa jadwal penerbangan kalian? Apakah boleh aku yang mengantar ke bandara?” tawar Sebastian.


“Kami mengambil penerbangan pagi. Aku akan membahasnya dulu dengan Rafael. Nanti kuhubungi kembali jika dia setuju,” putus Paloma.


“Haruskah kau meminta persetujuannya?” protes Sebastian.


“Jangan lupa. Dia masih menjadi suamiku yang sah.” Paloma mengangkat jari telunjuk dan menggerak-gerakkannya di depan wajah Sebastian. Hal sederhana yang mampu membuat Sebastian kembali terbahak.


“Baiklah, Nona Sanchez de Luna. Aku akan mematuhimu.” Sebastian membuat gerakan setengah membungkuk, kemudian meraih tangan Paloma dan mengecupnya. “Sampai jumpa lagi,” imbuhnya.


Ciuman singkat dan pelukan erat menjadi penutup pertemuan manis Sebastian dan Paloma hari itu. Paloma sendiri tak segera beranjak, sampai sosok Sebastian menghilang di balik pintu lift. Barulah wanita cantik itu berbalik dan membuka pintu kamar hotel yang ternyata tidak terkunci.


Paloma mengernyitkan kening. Rasa herannya bertambah, saat mendapati ruangan kamar yang gelap gulita. Khawatir dan was-was mulai hadir menyelimuti hatinya. “Rafael?” panggil Paloma seraya meraba dinding untuk menyalakan saklar.


Ketika lampu menyala, saat itulah Paloma dapat bernapas lega. Dia menggeleng pelan mendapat Rafael yang ternyata tengah tertidur pulas di ranjang empuk. Pria itu bahkan tak melepas sepatu dan blazernya.


“Rafael? Setidaknya gantilah pakaianmu dulu.” Paloma menepuk pundak Rafael yang tertidur dalam posisi membelakangi dirinya.


“Rafael!” Paloma berseru dengan sedikit nyaring, karena Rafael tak juga terbangun. Dia berusaha membalikkan badan pria yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya tersebut.

__ADS_1


Namun, betapa terkejut Paloma, ketika melihat wajah Rafael dipenuhi luka lebam. Beberapa noda darah yang telah mengering pun mengotori pelipis pria itu.


__ADS_2