Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Perlawanan Paloma


__ADS_3

Paloma dan Rogelio, berdiri di depan pusara yang terlihat masih baru. Hancur dan seakan tak berbentuk lagi. Kekuatan hati seorang Paloma kembali diuji kali ini. Kesedihan atas kepergian putra tercinta, belum sepenuhnya sirna. Kini, dia harus kembali berusaha tetap berdiri saat menerima kenyataan pahit tersebut.


Harapan dan angan indah Paloma untuk kembali memeluk serta bercerita banyak hal kepada sang ayah, sirna seketika. Semuanya menguap bagai asap yang membumbung tinggi ke udara. Terbang bersama angin dan terpecah ke berbagai arah. Sulit rasanya untuk kembali mengumpulkan mereka, andai tak ada tangan Rogelio yang membantunya.


Rogelio, terus memegangi lengan Paloma agar tak ambruk. Terpuruk dalam kepedihan serta rasa sakit bertubi-tubi. Terlalu banyak drama dalam hidup wanita muda itu. Entah kapan dan bagaimana, semuanya akan berakhir.


“Bagaimana jika kau ikut saja denganku? Aku khawatir jika kau tinggal sendiri di sini. Terlebih, ini adalah kawasan sepi,” tawar Rogelio, saat mereka telah kembali dari makam Carlos.


“Aku merindukan tempat ini, Ayah. Sudah terlalu lama tidak merasakan angin serta aroma keheningannya. Lagi pula, sayang jika ditinggalkan. Ada terlalu banyak cerita indah, yang ingin kukenang lagi selama berada di rumah ini.” Paloma menolak halus tawaran dari Rogelio.


“Kalau begitu, akan kukirimkan seseorang untuk menemanimu di sini. Jadi, kau tidak benar-benar sendiri. Setidaknya, ada seseorang yang dapat dirimu ajak bicara,” ujar Rogelio lagi. Dia kembali menawarkan kebaikan serta perhatiannya yang istimewa kepada sang menantu.


“Tidak usah, Ayah. Aku akan baik-baik saja. Jangan khawatir.” Paloma memaksakan diri tersenyum, meskipun rasanya terlalu berat untuk melakukan itu. Semangat dalam diri wanita dua puluh lima tahun tersebut, sebagian besar telah hilang. Butuh waktu untuk mengembalikannya seperti sedia kala. Paloma harus bekerja keras, agar kembali ke titik di mana dirinya dapat menemukan kekuatan yang telah terlepas itu.


Rogelio mengembuskan napas dalam-dalam. Sedikit banyak, dia mengetahui karakter Paloma yang memang agak keras kepala dan suka membangkang. Pria paruh baya tersebut tak ingin berdebat. Dia harus selalu menjaga komunikasi yang baik dengan menantunya tersebut. “Baiklah jika itu yang kau inginkan. Namun, andai dalam beberapa hari ke depan kau berubah pikiran, maka jangan sungkan untuk berbicara langsung padaku,” pesan Rogelio. Dia memilih mengalah pada keputusan Paloma.

__ADS_1


“Terima kasih, Ayah. Anda memang sangat baik dan pengertian.” Paloma tersenyum lembut. Tak lupa, dia memberikan satu pelukan hangat kepada Rogelio, sebelum pria itu berpamitan.


Sesaat kemudian, Rogelio meninggalkan area tempat tinggal Carlos. Mobil sedan hitam yang menjemputnya tadi ke bandara, melaju tenang hingga menghilang dari pandangan Paloma. Wanita muda itu segera menutup pintu rapat-rapat. Sungguh, ini merupakan sesuatu yang tak terduga. Tak ada firasat atau hal ganjil lainnya yang menjadi pertanda, bahwa Paloma akan kembali merasakan kehilangan orang terkasih dalam hidupnya.


Sejak saat itu, Paloma menjalani hari-harinya seorang diri di sana. Walaupun merasa kesepian, tetapi Paloma mencoba menepiskan perasaan tersebut. Dia merawat rumah peninggalan Carlos dengan baik. Tempat di mana dirinya menghabiskan masa kecil hingga remaja, sebelum menerima pinangan untuk menikah dengan Rafael.


Malam itu, Paloma sudah bersiap hendak tidur. Seperti biasa, dia selalu memastikan pintu dan jendela terkunci dengan baik. Namun, lain halnya dengan kali ini. Paloma, mendengar suara-suara aneh yang yang mencurigakan dari arah dapur. Dengan hati-hati, wanita muda itu berjalan ke sana.


Paloma sempat merasa ragu. Namun, rasa penasaran jauh lebih besar menggelayutinya. Membuat dia memaksakan diri untuk tetap memeriksa keadaan dapur. Sementara, suasana rumah sudah temaram, karena sebagian besar lampu utama telah dimatikan.


Setibanya di dapur, Paloma tak langsung masuk dan memeriksa. Dia berdiri beberapa saat di ambang pintu. Cahaya temaram dari pantulan lampu yang dipasang di bagian belakang rumah, menerobos masuk melalui jendela kaca yang hanya ditutup dengan krey plastik roller blind.


“Siapa kau?” Paloma yang sudah dalam posisi terjengkang ke belakang, mencoba bangkit. Namun, dengan segera pria itu mencegah, dengan cara menduduki tubuh wanita tersebut. Paloma meronta. Dia berusaha menahan pisau yang diarahkan padanya. Sedikit lagi, ujung runcing dari pisau tadi akan menghujam dan menggorok leher Paloma.


“Pergi kau, Brengsek!” maki Paloma sambil terus melawan. Bobot pria tadi begitu berat, sehingga dia kesulitan untuk menyingkirkannya. Satu hal yang harus dilakukan saat ini, adalah merebut pisau yang terus diarahkan padanya.

__ADS_1


Paloma menggerakkan kaki. Mencari sesuatu yang bisa dijadikan sebagai pengalih. Paloma mengarahkan kakinya ke sana kemari, hingga tanpa sengaja dia menendang bangku bulat kecil. Di atas bangku itu, terdapat pot bunga kaca yang diletakkan sebagai tanaman penghias dapur. Paloma menendang keras bagian bawah bangku kecil tadi, hingga bergerak.


Sementara, pot bunga yang ada di atasnya ikut bergerak dan jatuh menimpa punggung si pria. Air di dalam pot kaca itu tumpah. Membasahi pakaian pria tadi. Itu membuat konsentrasinya sedikit terpecah. Belum lagi, rasa sakit karena terkena pot yang jatuh. Walau tak seberapa, tapi tetap terasa. Si pria mulai lengah. Pertahanannya pun kendor.


Kesempatan itu dimanfaatkan dengan baik oleh Paloma. Dia mengambil sekuat tenaga, pisau yang sejak tadi menjadi rebutan mereka. Paloma berhasil melakukannya. Dia bahkan menggores paha serta lengan pria yang entah siapa sebenarnya.


Pria tadi memekik kesakitan. Dengan gerakan cepat, Paloma memukulkan ujung gagang pisau tadi ke dagu. Pria dengan buff masker tersebut mendongak menahan sakit. Saat itulah, Paloma berhasil menyingkirkannya dari atas tubuh. Dia bergegas bangkit.


Selagi si pria mencoba untuk berdiri, tendangan Paloma lebih dulu melayang dan tepat mengenai lengan yang sudah tergores pisau. Tak puas sampai di situ, Paloma mengambil bangku kecil berbentuk bulat tadi. Dia memukulkannya dengan keras ke tengkuk si pria, hingga kembali ambruk ke lantai.


Setelah melihat pria tadi terkapar tak tak bergerak, Paloma berlari keluar dari dapur. Tujuan wanita itu adalah pintu utama. Namun, sebelum dia sempat menyentuh pegangannya, terdengar letusan senjata. Paloma tertegun dengan mata terbelalak. Dia menyentuh punggung yang basah oleh darah. Timah panas yang dilesatkan seseorang kepadanya, tak hanya satu kali.


Paloma meringis. Lemah, dia tak sanggup membuka kunci pintu untuk meminta bantuan. Tubuhnya lebih dulu ambruk ke lantai dengan bersimbah darah. Sebelum Paloma memejamkan mata, dia sempat menoleh ke arah suara langkah yang mendekat.


Pria tadi berjalan dengan tenang, lalu menurunkan tubuh di sebelah Paloma yang sudah tak berdaya. Si pria melepas buff masker yang menutupi sebagian wajahnya. Sambil menyeringai puas, pria itu mendekatkan bibir ke telinga Paloma yang hampir tak sadarkan diri. “Akhirnya, aku bisa menghabisimu. Membalas kematian kekasihku yang mati bunuh diri, karena patah hati dengan pernikahan kita.”

__ADS_1


“Breng … sek … kau … Raf-Rafa … el.”


“Pergilah! Temui anakmu, Paloma.”


__ADS_2