
Rafael merasakan tubuhnya melayang begitu ringan. Embusan angin masuk melalui pori-pori karung, menerpa permukaan kulitnya yang terluka. Hal itu semakin menambah perih di sekujur tubuh.
Sedikit dari kesadaran yang masih tersisa, membuat Rafael refleks bergerak melindungi kepala dan leher dari hantaman batu-batuan tebing, saat tubuhnya yang masih berada dalam karung jatuh menggelinding.
Beberapa saat kemudian, tubuh Rafael akhirnya menabrak sebuah batu berukuran besar, lalu berhenti dan tertahan oleh benda alam yang teramat kokoh itu. Rafael dapat mendengar bunyi gemeretak tulang yang hancur, membuatnya merasa ngilu luar biasa.
Perlahan kesadaran Rafael mulai melemah. Saat itu, hadirlah bayangan Paloma yang tengah menggendong Nilo. Ibu dan anak tersebut, menoleh lalu tersenyum lebar sembari melambai ke arahnya. Rafael balas tersenyum, meskipun hanya berupa lengkungan samar di bibir yang sudah dipenuhi darah segar. Namun, bayangan tadi membuatnya merasa tenang seketika.
Sesaat kemudian, kedua sosok yang muncul dalam bayangan Rafael perlahan menghilang. Bagaikan kabut pagi yang sirna karena tersapu cahaya matahari. Bayangan indah itu tergantikan oleh kabut pekat yang mulai menyelimuti penglihatan, dan mengaburkan pandangan serta kesadaran putra angkat Rogelio tersebut.
Sementara itu, ribuan kilometer jauhnya di benua yang berbeda. Paloma terbangun dengan peluh bercucuran. Wanita cantik itu mere•mas dada tanpa sadar, lalu mendongak untuk melihat jam dinding yang menunjukkan pukul empat sore. “Astaga, sudah berapa lama aku tertidur,” gumamnya.
Paloma bermaksud turun dari ranjang, ketika telepon genggam yang dia letakkan di atas bantal berdering nyaring. Wanita muda berambut pendek itu mengembuskan napas pelan, saat membaca nama Sebastian di layar ponselnya.
Paloma berpikir bahwa tak ada gunanya terus menghindari pria itu. Akan jauh lebih baik, jika dia membicarakan semua yang dirasakan pada pria yang baru mengikrarkan diri sebagai kekasihnya tersebut.
“Hola,” sapa Paloma malas.
“Kenapa sulit sekali menghubungimu, Paloma? Apa kau takut Rafael akan mendengarkan pembicaraan kita?” tanya Sebastian.
“Rafael tidak ada di sini. Dia sedang mengurusi permasalahannya dengan Tatiana Vidal di Sevilla,” jawab Paloma agak ketus.
“Jadi … kau tidak ikut ke Spanyol?” tanya Sebastian lagi dengan nada keheranan. “Kukira kau ikut dengan Rafael kemari.”
“Apa kau sudah tahu bahwa Rafael pergi ke Sevilla?” Paloma malah balik bertanya.
“Ya. Tatiana yang memberitahukannya padaku,” jawab Sebastian. Nada bicaranya terdengar gamang. “Dengar … Paloma ….”
__ADS_1
Sebastian ragu melanjutkan kalimatnya. Terlebih, saat dia merasa bahwa Paloma seakan malas menanggapi apa yang dia katakan. “Apa kau masih marah padaku?”
“Tidak. Untuk apa aku marah padamu,” sahut Paloma.
“Maafkan aku,” ucap Sebastian pelan. “Aku hanya ….”
“Aku mengerti,” sela Paloma memotong ucapan Sebastian. “Wajar jika kau cemburu pada Rafael. Aku tak akan menyalahkanmu. Namun, kau juga harus mengerti satu hal. Hormatilah proses perceraian kami. Aku tak memintamu untuk menunggu. Jika kau sanggup, tunggulah aku hingga resmi menyandang status janda. Paling cepat, dua tahun ke depan. Jika tidak, aku tak akan memaksamu. Kau bebas menentukan pilihanmu.”
“Tidak semudah itu, sayangku,” bantah Sebastian. Dia tertawa pelan meskipun tak ada yang lucu. “Kau pasti akan terkejut mengetahui betapa setianya diriku. Sejak awal, aku sudah memberikan hati dan harapan padamu. Kematian bahkan tak dapat mengalihkan hati serta pikiranku dari sosokmu. Kau dengar itu, Paloma? Aku akan tetap menunggumu,” tegas Sebastian.
Pipi Paloma merona, saat mendengar kalimat menggetarkan dari Sebastian. Dia sama sekali tak menyangka, bahwa duda kaya raya itu bersungguh-sungguh ingin mempersunting dirinya. “Kita lihat saja nanti,” balas Paloma seraya tersipu.
“Apa kau bersedia memaafkan kata-kataku yang menyakitkan kemarin, sayang?” Suara Sebastian kembali memanjakan pendengaran wanita cantik itu. Begitu menggoda dan membuat wanita yang sedang menunggu status janda tersebut, kembali bergetar hebat.
“Kata-kata yang mana? Aku sudah lupa.” Paloma tertawa pelan, demi menyembunyikan perasaan tak menentu dalam hatinya. Sikap Paloma membuat Sebastian ikut tertawa. Rasa canggung antara mereka perlahan mencair. Obrolan ringan disertai candaan, turut mengisi percakapan dua anak manusia tersebut.
Tanpa terasa, satu jam telah berlalu. Paloma harus mengakhiri percakapannya dengan Sebastian, ketika terdengar seseorang yang mengetuk pintu kamar.
Paloma bergegas turun dari ranjang. Dia berjalan setengah berlari ke arah pintu. Namun, senyum yang mengembang dari bibir indah Paloma terpaksa memudar, ketika melihat seseorang yang berada di balik pintu kamarnya. “Ayah?” desis Paloma lirih.
“Apa kau baik-baik saja, Nak? Kau sama sekali tak keluar dari kamar, dari selesai makan siang tadi.” Raut wajah pria paruh baya yang tak lain adalah Rogelio itu tampak begitu khawatir.
“Aku baik-baik saja, Ayah. Setelah makan siang tadi, aku tertidur dan baru saja bangun,” jawab Paloma tanpa membalas tatapan sendu Rogelio.
“Aku … maksudku ….” Rogelio terdengar ragu. Dia lalu menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. “Aku … ingin mengajakmu jalan-jalan sore jika kau bersedia,” ajak Rogelio beberapa saat kemudian.
“Maaf. Kurasa, aku akan berada di kamar saja,” tolak Paloma. Nada bicaranya lembut, tetapi terdengar begitu menyakitkan bagi Rogelio.
__ADS_1
“Kau … tidak ingin menghirup udara segar, Nak?” tanya Rogelio hati-hati.
Paloma tak menjawab. Dia malah menatap lekat wajah pria paruh baya yang mulai dipenuhi oleh kerutan itu. “Tidak, Ayah. Aku ingin menyendiri dulu,” jawab Paloma pelan.
“Baiklah. Aku mengerti.” Rogelio terlihat tak dapat menyembunyikan kekecewaannya. Akan tetapi, dia tetap memaksakan senyum di hadapan Paloma. Rogelio sudah hendak membalikkan badan, ketika dirinya teringat akan sesuatu. “Oh, ya. Apakah Rafael sudah menghubungimu?” tanyanya.
“Tidak. Belum,” sahut Paloma dingin. “Sekarang pasti sudah tengah malam di sana.”
“Ya, aku tahu itu.” Rogelio mengangguk kaku. "Dua jam yang lalu, Rafael sempat menelepon dan mengatakan bahwa dia baru saja selesai melakukan pertemuan dengan pengacara yang disewanya. Rafael berjanji akan menghubungiku lagi setelah tiba di hotel. Namun, sampai sekarang dia masih belum menelepon,” terang Rogelio resah.
“Tunggulah beberapa saat lagi, Ayah. Dia pasti akan segera menghubungimu,” ucap Paloma.
“Ya, kau benar. Baiklah. Aku akan menunggunya. Terima kasih, Paloma.” Bahasa tubuh Rogelio terlihat kikuk. Terlebih, saat merasakan sikap dingin Paloma terhadapnya. Rogelio tak akan memaksa. Dia mengerti sepenuhnya, atas sikap putri yang baru mengetahui kenyataan tentang dirinya tersebut.
Rogelio mengalah dengan membiarkan Paloma sendiri. Pria paruh baya tersebut memilih kembali ke kamar, sambil menunggu kabar selanjutnya dari Rafael. Akan tetapi, kabar yang dia tunggu nyatanya tak kunjung datang. Hingga sore berubah menjadi malam, dan malam berubah menjadi pagi, Rafael tak juga menghubunginya.
Kekhawatiran Rogelio semakin bertambah, ketika nomor tak dikenal menghubunginya. Dia hanya berharap bahwa nomor itu adalah milik Rafael. Akan tetapi, perkiraan Rogelio salah. Suara yang menyapanya dari seberang sana bukanlah milik putra angkat kesayangannya.
“Apakah ini dengan Tuan Rogelio Gallardo?” tanya suara asing tersebut.
“Ya. Itu aku,” jawab Rogelio cepat.
“Syukurlah. Perkenalkan, namaku Jose Alvaro Cardenas. Aku adalah pengacara yang mendapat kepercayaan dari Tuan Rafael Hernandez, untuk membantunya menyelesaikan permasalahan dengan Nyonya Tatiana Vidal,” terang pria di seberang sana.
“Di mana Rafael?” Rogelio langsung bertanya demikian. Instingnya sebagai seorang ayah mulai bekerja, ketika menangkap keanehan yang dia rasakan.
“Itulah yang ingin kutanyakan kepada Anda, tuan. Tuan Rafael Hernandez, menghilang sejak semalam. Dari kamera pengawas yang berada di sekitar lingkungan hotel, kami menemukan bahwa Tuan Rafael Hernandez dianiaya oleh beberapa orang tak dikenal. Mereka juga membawa dan memasukkannya ke dalam mobil."
__ADS_1
"Berdasarkan bukti-bukti yang kudapatkan, besar kemungkinan bahwa Tuan Hernandez telah diculik. Aku juga sudah melaporkan kasus ini ke polisi ….” Pengacara Cardenas memberikan penjelasan panjang lebar.
Namun, sayangnya tak satu pun dari penjelasannya tadi masuk ke telinga Rogelio. Pikiran pria paruh baya tersebut mendadak kosong, tepat di saat Pengacara Cardenas memberikan penjelasan bahwa Rafael telah dibawa oleh orang tak dikenal dan menghilang tanpa kabar.