Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Mencari Pembuktian


__ADS_3

“Tuduhanmu sangat tidak beralasan, Paloma,” bantah Sebastian. Pria itu masih dengan nada bicaranya yang tenang.


“Apanya yang tidak beralasan? Walaupun kepalaku terbentur sangat keras, tetapi aku masih bisa berpikir dengan baik, Tuan Castaneda. Kau mengundangku ke Porcuna. Dirimu bahkan menghina Rafael, serta melontarkan kata-kata menyakitkan terhadap kami berdua. Aku bisa merasakan kebencian itu. Kebencian yang teramat besar dari setiap tutur kata serta sorot matamu!” geram Paloma.


Kekuatan Ibunda Luz Maria itu masih belum pulih sepenuhnya. Wanita cantik yang kini telah benar-benar menjadi janda tersebut, hanya bisa berbaring di ranjang perawatan dengan sekujur tubuh penuh luka. Akan tetapi, api amarah yang membara, telah berhasil membakar seluruh rasa sakit dan menghadirkan kekuatan tak terlihat dalam diri Paloma. Dia menguatkan diri untuk duduk tegak, tanpa bersandar pada bantal yang menjadi penyangga punggungnya.


“Hentikan, Paloma. Kau masih belum sembuh benar.” Sebastian berusaha mencegah, agar wanita bermata hazel itu tak terlalu banyak bergerak. Dia memegang lembut kedua lengan Paloma. Sebastian berusaha membaringkannya kembali.


Dengan kekuatan yang masih tersisa, Paloma menepis tangan Sebastian dan mendorongnya mundur. Pria itu sedikit menjauh darinya. Paloma mengarahkan telunjuknya lurus pada wajah tampan duda kaya tersebut.


“Kau! Kau tak mengizinkanku hidup bahagia! Aku sudah melalui tahun-tahun menyakitkan, sebelum kembali dapat tersenyum bersama Rafael. Lalu, kini saat aku sudah mendapatkan kebahagiaanku, kau malah menghancurkannya! Kau membuat Luz Maria menjadi yatim!”


Paloma semakin histeris. Dia malah berusaha melepas selang infus yang tertancap di punggung tangan. Paloma bahkan hendak turun dari ranjang. Beruntung saat itu beberapa perawat dan seorang dokter masuk ke sana.


Susah payah, mereka menenangkan Paloma yang semakin tak terkendali. Mereka sampai kewalahan, memegangi tubuh yang terus memberontak itu. Dengan terpaksa, sang dokter menyuntikkan obat penenang dalam dosis kecil.


Perlahan, tubuh Paloma melemah hingga kesadarannya menghilang. Para perawat kemudian membaringkan wanita itu kembali ke posisi semula. Sementara, Sebastian hanya terpaku melihat apa yang terjadi di hadapannya. Dia tak percaya bahwa Paloma dapat bersikap seperti itu.


“Nyonya Hernandez berada dalam kondisi shock berat. Baik secara fisik maupun mental. Wajar jika dia tak dapat mengendalikan diri seperti tadi,” terang sang dokter. Dia seakan dapat menebak apa yang dipikirkan Sebastian.


“Apakah dia akan pulih seperti sediakala, Dokter?” tanya Sebastian ragu.


“Setiap kesembuhan berasal dari kemauan pasien sendiri sebagai faktor internal. Untuk faktor eksternal, akan sangat tergantung pada dukungan orang-orang terdekatnya. Jika tidak masih kurang, maka kami bisa menyediakan bantuan psikiater,” jawab sang dokter.


“Ya, Tuhan.” Sebastian menggeleng tak percaya. “Aku sama sekali tak mengira jika akan menjadi seperti ini akhirnya,” sesal pria itu.

__ADS_1


“Anda harus bersabar menghadapi Nyonya Hernandez. Apakah Anda termasuk dari salah satu keluarganya?” tanya sang dokter yang membuat Sebastian terkesiap.


“Kenapa Anda bertanya demikian?” Sang pemilik ribuan hektar tanah di Porcuna itu balik bertanya.


“Aku sering mendapati Anda menjenguk Nyonya Hernandez secara diam-diam. Sudah beberapa kali aku melihat Anda berdiri di depan pintu ruang perawatan, dan hanya melihat dari kaca jendela pintu,” jawab dokter itu lagi.


“Oh, begitu rupanya." Sebastian tertawa pelan. “Ya, aku adalah salah satu kerabatnya.”


“Apa Anda akan menungguinya untuk hari ini?” tanya dokter itu lagi.


Sebastian menggeleng. “Aku tidak akan lama di sini. Izinkan aku untuk berpamitan padanya,” pinta Sebastian.


“Nyonya Hernandez dalam keadaan tidur nyenyak. Aku tidak yakin dia dapat mendengar kata-kata Anda,” balas sang dokter.


“Tidak apa-apa,” sahut Sebastian dengan segera.


Kini, hanya ada Sebastian dan Paloma di sana. Pria itu berjalan menuju ranjang. Dia membungkuk, lalu mendekatkan bibirnya ke daun telinga Paloma. Sebastian kemudian berbisik, “Akan kubuktikan bahwa diriku tak bersalah, Sayang. Aku memang membenci keputusanmu yang telah mengabaikan diriku demi Rafael, tapi aku tak akan pernah merenggut apa yang menjadi kebahagiaanmu."


"Kau boleh membenciku, Paloma. Namun, kau akan tetap menjadi yang istimewa. Akan kuungkap yang sebenarnya. Kupastikan kebahagiaanmu pasti kembali." Selesai berkata demikian, Sebastian mencium lembut kening Paloma beberapa saat.


"Apa yang kau lakukan di sini, Tuan Castaneda?" Suara berat Rogelio, membuat Sebastian segera menegakkan tubuh. Dia menoleh pada Rogelio yang sudah berdiri dengan tatapan penuh kebencian.


“Sedang apa kau di sini?” tanya Rogelio lagi dengan nada tak suka.


“Aku kemari untuk menjenguk putri Anda. Namun, aku akan segera pergi," jawab Sebastian kalem.

__ADS_1


“Tidak perlu repot-repot menjenguk putriku, karena aku tak akan mengizinkanmu mendekatinya,” tegas Rogelio. Dia membuka pintu lebar-lebar, mempersilakan Sebastian agar keluar.


Tak ada yang dapat Sebastian lakukan selain menurut. Dia tak ingin memikirkan sikap Rogelio yang tak bersahabat. Sebastian melangkah keluar dari area rumah sakit, menuju tempat parkir.


Sebelum ke tempat parkir, Sebastian harus melintasi taman khusus yang disediakan bagi pengunjung. Tanpa sengaja, dia bertemu dengan Teresa dan Kalida yang tengah bermain bersama Luz Maria. Kedua wanita tadi mendudukkan balita berusia satu setengah tahun itu di rerumputan.


Sebastian, memberanikan diri berjalan mendekat. Dia menurunkan tubuh dan setengah berjongkok di hadapan Luz Maria, yang tiba-tiba berdiri lalu berjalan tertatih ke arahnya. Sebastian tertawa, saat balita itu tertawa. Dia menunjukkan giginya yang hanya berjumlah dua buah. “Luz Maria. Benarkah itu namamu?” tanyanya lembut.


“Ya, Tuan. Luz Maria Hernandez,” jawab Teresa.


“Nama yang cantik.” Tiba-tiba sorot mata Sebastian berubah sendu, saat melihat balita yang kini berpegangan pada tangan kekarnya.


“Apakah Anda sudah akan pulang? Sudahkah Anda bertemu dengan Tuan Rogelio?” tanya Teresa tanpa jeda.


“Ya. Aku sudah bertemu dengannya.” Sebastian mengangguk, kemudian mengarahkan Luz Maria agar berjalan kembali kepada pengasuhnya. Setelah balita itu nyaman berada di pelukan sang pengasuh, Sebastian segera berdiri lalu berpamitan.


Sepanjang perjalanan pulang menuju perkebunan, Sebastian berpikir keras tentang kejanggalan kasus kecelakaan yang menimpa Paloma. Tercetuslah ide untuk berhenti di lokasi kecelakaan yang menimpa Rafael dan wanita itu, yang berada dekat perbatasan wilayah Porcuna.


Sebastian menepikan mobilnya di tepi jalan. Dia bergegas menyeberang ke dekat pagar pembatas yang sudah diperbaiki, beberapa saat setelah kecelakaan terjadi. Sebastian melongok ke bawah. Tampaklah jurang sedalam belasan meter.


Sebastian mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ekor matanya menangkap bekas ban yang masih membekas di aspal. Dia mengamati sisa-sisa jejak kecelakaan yang menggores panjang di permukaan jalan itu. Ada dua bekas jejak ban yang bertumbukan pada satu titik.


Pria itu mengalihkan pengamatannya pada jalan raya antar kota yang sepi. Hanya ada dua atau tiga kendaraan yang lewat dalam beberapa menit. Sebastian mengerti kenapa Paloma berpikir bahwa ada yang sengaja membuat mereka celaka.


Kontur jalan itu lurus. Tak ada halangan apapun yang memungkinkan sebuah mobil hilang kendali, sehingga bisa menabrak mobil lainnya. Sebastian memutar tubuh ke segala arah. Sisa-sisa garis polisi masih menempel di semak-semak di sisi jalan.

__ADS_1


Merasa tak mendapatkan apapun, Sebastian memutuskan pergi ke kantor polisi sektor Porcuna. Dia berharap teman lama yang sekarang menjabat sebagai detektif polisi, dapat membantu serta memberi informasi padanya.


__ADS_2