
“Jadi perwakilan? Maksudnya?” Paloma menautkan alis karena tak mengerti.
“Ya, seperti yang kau dengar tadi. Aku tidak mungkin jika harus sering-sering pergi ke luar negeri. Lagi pula, usiaku sudah tidak muda lagi. Kau tahu sendiri seberapa jauh jarak tempuh antara Meksiko dengan Spanyol,” jelas Rogelio. “Kurasa, kau bisa diandalkan dalam hal ini. Aku akan menuntunmu dengan pelan-pelan. Lagi pula, kau bisa sekalian mengunjungi makam Nilo saat berada di Spanyol.”
Paloma tidak menanggapi. Dia tertunduk, lalu mengangguk pelan. Entah akan seperti apa jalan hidupnya kelak. Dia hanya ingin membangun diri, menjadi seseorang yang jauh lebih baik. Bagaimanapun caranya, Paloma tak ingin menyerah atau terpuruk lagi. Tawaran dari Rogelio, mungkin akan menjadi langkah awal untuk memulai niat besarnya. “Baiklah, Ayah. Aku menerima tawaran tadi,” ucap Paloma yakin.
“Bagus,” balas Rogelio senang. “Hal pertama yang harus kau lakukan adalah meninggalkan rumah ini. Menetaplah di rumahku. Akan jauh lebih mudah jika kau berada di sana. Dengan begitu, aku bisa menghemat waktu dan tenaga.”
“Lalu, bagaimana dengan rumah ini?” Paloma masih tampak keberatan.
“Jangan khawatir. Aku akan menyuruh orang untuk membersihkannya dua kali dalam seminggu. Dengan begitu, tempat ini tak akan terbengkalai atau kotor. Aku sudah mempersiapkan segala rencana, sesaat setelah memutuskan untuk bekerja sama dengan Tuan Castaneda,” jelas Rogelio.
Paloma kembali mengangguk. Dia diizinkan tinggal satu hari lagi di sana, untuk mengemasi barang-barangnya. Ingatan Paloma kembali pada kalung yang dia titipkan kepada Sebastian.
Andai dia bertemu lagi dengan duda tampan tersebut, entah kekonyolan apa yang akan pria itu perintahkan padanya. Paloma juga merasa heran, karena Sebastian seakan enggan untuk menyudahi hukumannya. Namun, Paloma kembali berpikir. Untuk apa juga dirinya harus selalu mengikuti apa yang Sebastian perintahkan.
Paloma, membawa beberapa barang dari rumah itu. Dia memasukkan foto mendiang ayah dan ibunya, serta barang lain yang dianggap memiliki nilai historis tinggi. Sekitar pukul sembilan malam, wanita cantik bermata hazel tersebut baru naik ke tempat tidur. Sebelum memejamkan mata, Paloma sempat termenung beberapa saat, sambil menatap langit-langit kamar. Dia hanya berharap, semoga malam ini tak lagi bermimpi buruk tentang Rafael.
Keesokan harinya, Rogelio kembali ke rumah Carlos untuk menjemput Paloma, yang kebetulan sudah siap berangkat. Ketika dalam perjalanan, Rogelio menerima panggilan telepon dari kepala pelayan. Dia mengatakan bahwa ada tamu tak terduga di kediaman Rogelio.
Pria paruh baya itu sudah dapat menebak siapa yang datang kali ini. Apa yang Rogelio pikirkan memang benar adanya. Rafael dan Tatiana sudah berada di Meksiko. Suami Paloma tersebut langsung diperbolehkan masuk oleh penjaga pintu gerbang.
__ADS_1
“Ayah,” sapa Rafael. Dia mulai menurunkan ego. Pria itu menyalami Rogelio dengan sopan, meskipun terlihat sedikit canggung.
“Apa kabar?” sapa Rogelio biasa saja.
“Seperti yang kau lihat,” jawab Rafael. Ekor mata pria itu lalu mengarah pada Paloma, yang tak sudi memandang ke arahnya. Rafael tak berniat untuk menyapa, apalagi sampai berjabat tangan dengan wanita yang masih menjadi istrinya tersebut.
“Apa kabar, Nyonya Vidal?” Rafael menyapa serta menyalami Tatiana.
“Sangat baik, Tuan Gallardo. Terima kasih,” sahut Tatiana. Dia lalu duduk, setelah Rogelio mempersilakannya.
“Kapan kalian tiba dari Spanyol?” tanya Rogelio berbasa-basi.
“Kemarin. Ada beberapa urusan pekerjaan yang harus kuselesaikan terlebih dulu,” terang Rafael.
“Tuan Gallardo benar, Sayang. Sebaiknya, kau menyelesaikan ini dengan cepat.” Tatiana menimpali.
“Baiklah. Aku setuju,” sahut Rafael. Ekor mata pria itu kembali tertuju kepada Paloma yang masih membuang muka. Rafael tak ingin ambil pusing, dengan sikap wanita cantik tersebut.
Sementara, Rogelio langsung menghubungi pengacara yang dimaksud. Dia membuat janji bertemu hari itu juga. Mereka sepakat untuk melakukan pertemuan nanti siang di kantor sang pengacara. “Kita selesaikan urusan ini satu per satu. Setelah membereskan perceraian secara hukum negara, barulah dilanjutkan dengan pembatalan pernikahan ke gereja. Proses ini yang akan memakan waktu cukup lama. Aku ingin, selama proses pembatalan pernikahan dari gereja belum selesai, Rafael menetap di sini.”
Rafael dan Tatiana terbelalak mendengar keputusan sepihak Rogelio. Mereka saling pandang untuk sesaat dengan sorot tak mengerti. Rafael lalu kembali mengarahkan perhatiannya kepada sang ayah angkat. “Kenapa, Ayah? Untuk apa?” tanyanya bernada protes.
__ADS_1
“Untuk apa juga kau kembali ke Spanyol? Pernikahanmu dengan Nyonya Vidal tidak diakui. Aku ingin kau menetap di sini dulu dan merenung. Itu juga jika kau masih menganggapku sebagai ayahmu,” tegas Rafael.
“Ayah, kumohon,” pinta Rafael. “Aku sangat menghormati dan tentu tak akan pernah melupakan budi baikmu. Akan tetapi ….”
Rogelio tak menanggapi penolakan Rafael dengan kata-kata. Pemilik Estrella Pharmacies tersebut hanya memperlihatkan sorot tajam penuh intimidasi, yang menandakan bahwa dirinya tak menerima bantahan sekecil apapun.
Rafael kembali menatap Tatiana. Pria itu seakan meminta pendapat dari wanita, yang telah menjadi teman hidupnya selama ini.
“Rafael memiliki pekerjaan di Spanyol. Dia tidak bisa meninggalkanmya dalam waktu terlalu lama, Tuan Gallardo,” protes Tatiana.
“Zaman sudah modern, Nyonya Vidal. Ada banyak cara untuk menyiasatinya,” balas Rogelio tenang, tapi terdengar tegas.
“Ya, itu benar. Akan tetapi, tetap saja berbeda.” Tatiana terus membantah keputusan Rogelio.
“Maaf, Nyonya Vidal. Rafael adalah putraku. Dia juga masih berstatus suami Paloma. Anda sebenarnya tidak memiliki hak untuk ikut campur dalam masalah ini,” ujar Rogelio menegaskan. “Jika urusan antara Rafael dan Paloma telah benar-benar selesai, maka silakan. Aku tak akan pernah mengekangnya. Namun, selama masalah perceraian antara mereka berdua belum tuntas, maka aku menginginkan agar Rafael tetap berada di Meksiko. Dia harus ikut bertanggung jawab dalam proses penyelesaian masalah ini. Bukan hanya menerima beres, lalu bersikap seolah-olah tak pernah terjadi apapun.”
“Asal Anda tahu, Nyonya Vidal. Aku sudah merawat Rafael dari semenjak dia masih kecil. Aku selalu menanamkan nilai-nilai tanggung jawab dalam diri putraku. Itu semua agar dia tumbuh menjadi pria sejati, yang bisa bersikap selayaknya seorang pria. Bukan menjadi pengecut yang bersembunyi di bawah ketiak wanita.” Tegas dan begitu menohok, kata-kata yang ditujukan Rogelio kepada Tatiana.
"Aku tahu itu dan tak akan menyangsikannya, Tuan Gallardo. Namun, aku tak ingin jika Rafael terlalu lama meninggalkan Spanyol. Bagaimana bisa Anda berpikir sepicik itu?" Tatiana menggeleng tak mengerti.
"Rafael masih berstatus suami Paloma. Suka atau tidak, Anda harus menyadari hal itu. Jika Anda merindukan Rafael, ada banyak cara untuk mengatasinya, Nyonya Vidal. Namun, apa yang sudah menjadi keputusanku, tak akan kutarik lagi." Rogelio tak mengendorkan nada bicaranya.
__ADS_1
"Keputusan yang sangat konyol!" Tatiana mendengkus kesal.
"Aku tidak peduli meskipun Anda tak menyukai keputusanku. Karena itu bukanlah hal yang penting. Jadi, jika Anda merasa keberatan, maka silakan kembali ke Spanyol," ujar Rogelio.