Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Di Balik Selembar Foto


__ADS_3

Sebastian tak segera menjawab. Dia menatap Rafael dengan sorot aneh. Masih terngiang di telinga sang penguasa Casa del Castaneda tersebut, ucapan sang kolega yang mengatakan bahwa Paloma menderita gangguan kejiwaan. Namun, Sebastian juga tetap berpegang pada hasil pemeriksaan dokter ahli, yang justru menegaskan sebaliknya.


Ada rasa curiga dalam diri Sebastian terhadap pria di hadapannya itu. Dia harus sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan. Salah mengambil langkah sedikit saja, bisa jadi dirinya akan melakukan sesuatu yang keliru. “Anda berniat mengantarkan Paloma ke Granada?” tanya Sebastian meyakinkan apa yang dia dengar.


“Ya, Tuan,” jawab Rafael diiringi senyuman hangat. “Aku akan mengembalikan Paloma ke tempat di mana seharusnya dia berada. Dengan begitu, Paloma tak akan membahayakan orang lain lagi. Ini sesuatu yang sangat meresahkan,” jelas suami Tatiana Vidal tersebut dengan sangat meyakinkan.


Akan tetapi, Sebastian tak segera menjawab. Dia hanya tersenyum simpul, kemudian menggaruk alisnya. Pria tiga puluh tujuh tahun tersebut mendehem pelan. Sebastian yang sudah berada di ujung koridor, menghentikan langkah kemudian menghadap kepada Rafael. “Sebelumnya, aku ingin meminta maaf kepada Anda, Tuan. Untuk saat ini, aku belum mengizinkan Paloma meninggalkan Casa del Castaneda. Ada satu alasan yang tak bisa kujabarkan secara detail kepada Anda, berhubung ini merupakan masalah interen,” tolak pria itu halus dengan hati-hati.


Raut kecewa seketika muncul dari paras tampan Rafael. Pria itu manggut-manggut, meskipun dalam hati menggerutu hebat. Dia mengumpat kasar atas penolakan Sebastian. Namun, Rafael tetap memperlihatkan sikap yang sebaliknya di hadapan Sebastian. “Aku hanya bersikap waspada. Dikhawatirkan jika Paloma akan hilang kendali seperti kemarin malam. Kita tak tahu, bisa saja tiba-tiba dia menyerang Anda saat lengah. Anda pasti paham, bagaimana sikap seseorang yang mengalami gangguan kejiwaan.” Rafael seakan tengah membujuk Sebastian agar menyerahkan Paloma kepadanya.


Namun, sayang sekali karena Sebastian tak terpengaruh dengan ucapan pria dengan kemeja rapi di sebelahnya. Duda tampan tanpa anak tersebut, lagi-lagi hanya menyunggingkan senyuman simpul. “Anda tidak perlu khawatir. Aku bisa menangani Paloma di sini. setelah insiden kemarin malam, dia sudah jauh lebih terkendali,” ucap Sebastian lagi dengan tenang.


Sebastian mengarahkan tangan kanan ke depan, sebagai isyarat agar Rafael melanjutkan langkah. Mereka pun kembali menyusuri koridor sambil berbincang, hingga tiba di teras depan. “Selamat malam, Tuan Hernandez. Sampaikan salamku untuk Nyonya Tatiana,” ucap Sebastian lagi, ketika Rafael sudah berdiri di dekat mobilnya.


“Selamat malam, Tuan Castaneda. Terima kasih telah bersedia mengantarku hingga kemari. Akan kusampaikan salam Anda,” balas Rafael. Dia menoleh sejenak kepada sopir pribadinya yang sudah siap membukakan pintu mobil. “Jika ada apa-apa dengan Paloma, jangan sungkan untuk menghubungiku,” pesannya. Sikap yang sungguh dibuat-buat. Rafael yang ada di hadapan Sebastian, berbeda dengan pria yang tadi berbincang dan mengucapkan kata-kata menyakitkan kepada Paloma.


Sebastian mengangguk dengan diiringi senyuman kalem. Dia masih berdiri di tempatnya, hingga mobil sedan mewah yang ditumpangi Rafael melaju, meninggalkan halaman luas Casa del Castaneda.


Setelah kendaraan itu keluar dari pintu gerbang dan hilang ditelan kegelapan malam, barulah Sebastian membalikkan badan. Niatnya adalah kembali ke ruang kerja, untuk memeriksa beberapa proposal yang masuk. Namun, saat menyusuri koridor, dia berpapasan dengan beberapa pelayan. “Ini sudah malam. Kenapa kalian masih berkumpul di sini?” tegur Sebastian penuh wibawa.


Ketiga pelayan tadi terkejut. Mereka tampak gugup sebelum menjawab pertanyaan sang majikan. “Maaf, Tuan. Kami baru menyelesaikan pekerjaan,” sahut salah seorang dari mereka sambil berjejer ke samping dengan wajah tertunduk.


Sebastian tak menanggapi lagi. Dia berlalu begitu saja. Namun, Sebastian segera melambatkan langkah, ketika mendengar perbincangan ketiga pelayan tadi. Mereka membicarakan Paloma yang berteriak histeris tanpa sebab. Sebastian kembali memikirkan kondisi wanita muda itu.


Niat Sebastian yang tadinya hendak menuju ke ruang kerja, dia urungkan. Pria itu berbelok ke arah lain. Dia berjalan menyusuri koridor, hingga tiba di dekat taman air mancur. Saat itu, langkah tegap Sebastian benar-benar terhenti, saat dirinya melihat siluet tubuh indah dalam keremangan cahaya lampu taman.


Sebastian berjalan semakin mendekat, meskipun masih menjaga jarak. Setelah beberapa saat mengamati, barulah Sebastian dapat menyimpulkan bahwa sosok yang tengah duduk di tepian kolam air mancur itu adalah Paloma. Dia bahkan dapat mendengar dengan jelas suara isakan yang berasal dari wanita muda tersebut.

__ADS_1


Bagi Sebastian, tangisan pilu seperti itu, mengingatkan dirinya akan berjuta kenangan di masa lalu. Saat-saat di mana sang istri yang begitu dia cintai, menorehkan begitu banyak memori indah yang terpatri kuat di setiap sudut hati.


Di sisi lain, bayangan buruk ketika Brishia harus menyerah pada kekuatan takdir, dan membiarkan malaikat maut menjemput tubuh ringkih setelah perjuangan berat menyembuhkan sakit yang dideritanya pun ikut hadir. Semuanya memenuhi benak Sebastian.


“Sedang apa kau di sini? Kuharap jangan sampai hilang kendali lagi.” Sebastian berkata dengan nada yang sama sekali tidak bersahabat, dan membuat Paloma tersentak serta langsung berdiri. Wanita itu terkejut bukan kepalang ketika mendapati Sebastian sudah berada di hadapan dan memandang tajam pada dirinya. Tanpa berniat untuk menjawab, Paloma segera berlari menuju kamar.


“Tidak tahu sopan santun,” gerutu Sebastian pelan. Dia berniat untuk melanjutkan langkah, ketika ekor matanya menangkap sesuatu yang tergeletak di lantai. Sebastian berjalan mendekat. Dipungutnya benda yang ternyata adalah selembar foto berukuran postcard. Di sana, terlihat Paloma tengah memangku balita yang sangat tampan. Dua-duanya memperlihatkan senyuman ceria.


Sebastian lalu membalik foto. Dia membaca tulisan tangan yang merangkai sebuah nama. "Nilo," gumamnya. Terbersit rasa penasaran dalam hati Sebastian, atas sosok anak kecil itu.


Keesokan harinya. Paloma sudah bersiap dengan aktivitas yang telah menunggunya. Dia hendak keluar dari kamar, ketika Matilde tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu dengan raut wajah yang terlihat sangat serius. “Paloma, Tuan Sebastian memanggilmu ke ruangannya,” ujar wanita itu. “Ya, ampun. Kesalahan apa lagi yang kau lakukan kali ini?” tanya wanita itu dengan sorot iba.


“Entahlah, Nyonya,” sahut Paloma seraya mengembuskan napas pelan. Tanpa menunggu lama, dia berlalu dari hadapan Matilde. Wanita paruh baya itu tak sedetik pun melepaskan pandangannya, dari Paloma yang mulai menjauh.


Paloma kembali mengetuk pintu ruang kerja Sebastian. Dia sudah mempersiapkan diri dengan segala ucapan ataupun perintah tak masuk akal dari penguasa perkebunan zaitun tersebut. Paloma sudah terlalu lelah untuk membela diri. Wanita cantik bermata hazel itu akan menerima apapun perlakuan Sebastian atas nama hukuman.


Pelan dan hati-hati, Paloma memutar gagang pintu, lalu membukanya perlahan.


“Selamat pagi, Tuan. Nyonya Matilde mengatakan bahwa Anda memanggilku kemari,” ucap Paloma sopan sembari berjalan mendekat ke dekat meja kerja Sebastian.


Duda berusia tiga puluh tujuh tahun itu tidak menjawab. Dia masih duduk membelakangi Paloma. Tubuh tegapnya tertutup sandaran kursi. “Kau meninggalkan sesuatu di dekat air mancur tadi malam,” ujar Sebastian sambil memutar kursi, sehingga menghadap tepat ke arah Paloma yang berdiri dalam posisi tegang.


Paloma terkesiap. Jantungnya seolah berhenti berdetak untuk sesaat, saat melihat bahwa Sebastian tengah memegang selembar foto.


“Apakah ini milikmu?” Sebastian menyodorkan foto tersebut.


Paloma segera maju dan langsung merebut foto itu dengan kasar. “Ya, Tuhan. Kupikir hilang,” ucap Paloma lirih seraya mendekap erat, serpihan kenangan yang tersisa antara dirinya dengan sang anak tercinta.

__ADS_1


“Jadi, itu benar milikmu?” tanya Sebastian lagi.


“Ya, Tuan. Ini potret mendiang putraku,” jawab Paloma. Telunjuk lentiknya menyeka air mata yang keluar tanpa diminta.


“Nilo?” Bibir Sebastian bergerak pelan, saat menyebut nama yang tertera.


“Ya. Namanya Diego Nilo," sahut Paloma seraya mengangguk.


“Kapan dia … um, maksudku ….”


"Tanggal 1 Juli. Tepat seminggu sebelum aku datang ke tempat ini,” jawab Paloma lugas.


“Apakah dia sakit?” Sebastian terus bertanya bagaikan sedang menginterogasi.


“Sebenarnya, aku tak ingin mengingat kenangan buruk itu. Hari di mana aku kehilangan Nilo-ku. Rasanya terlalu menyakitkan, sehingga aku berusaha sekuat tenaga untuk melupakannya. Namun, makin keras aku mencoba menghapus bayangan kematian Nilo, justru semakin jelas kepedihan itu terasa dalam hatiku,” tutur Paloma. Sorot matanya terlihat begitu sendu dan pilu.


Sebastian dapat menangkap aura kesedihan dan penderitaan yang teramat kuat, dari wajah cantik Paloma. Kondisi yang sama, seperti ketika dirinya kehilangan Brishia. “Jadi … Nilo adalah putramu bersama Rafael?” tanya Sebastian ragu untuk menghalau perasaan tak nyaman yang mulai muncul.


“Ya, Tuan. Dia adalah putra Rafael. Aku harus mengakui hal itu, meskipun aku membenci kenyataan bahwa Rafael adalah ayah dari putra yang sangat kusayangi lebih dari apapun di dunia ini,” ungkap Paloma.


“Jika kalian saling membenci, lalu bagaimana kalian bisa sampai menikah?” Sebastian mengernyitkan kening. Tak pernah dia duga, bahwa dirinya akan tertarik dengan jalan hidup Paloma yang menurutnya penuh keanehan.


“Ayahku menerima lamaran yang diajukan oleh ayah Rafael. Beberapa hari setelah itu, kami mengikat janji di hadapan pendeta. Saat melihat wajah Rafael yang tampak bersungguh-sungguh, membuatku berpikir jika dia adalah pria yang baik. Aku sempat jatuh cinta padanya di awal pernikahan kami. Dia bersikap baik dan manis meskipun akhirnya ....” Paloma tersenyum samar.


“Beberapa bulan kemudian, tepat saat aku mengandung Nilo. Rafael tiba-tiba berpamitan untuk mencari pekerjaan ke Porcuna. Sejak saat itu, dia tak lagi kembali, bahkan saat Nilo ….” Paloma tersenyum getir. Entah sudah berapa banyak air mata yang tertumpah pagi itu. Dia juga sangat heran. Bagaimana bisa dirinya bercerita dengan begitu lancar dan mendetail tentang masalah pribadinya kepada Sebastian.


“Apa kau masih mencintainya?” Sang tuan tanah kembali bertanya dengan penuh wibawa.

__ADS_1


“Ah, cinta.” Paloma tertawa pelan. “Aku tak lagi percaya dengan kata itu, semenjak Nilo pergi meninggalkanku,” jawabnya seraya menggeleng pelan.


__ADS_2