Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Mengumpulkan Bukti


__ADS_3

Setelah menutup sambungan telepon, Sebastian kembali mengisap cerutunya dalam-dalam. Asap tipis mengepul, tapi tak membuatnya merasa terganggu. Sebastian justru menikmati hal itu. Pria yang masih terlihat tampan dan menawan di usia empat puluh tahun tersebut, memejamkan mata.


Tiba-tiba, paras cantik Paloma hadir di dalam benaknya. Senyuman indah wanita itu terlihat jelas. Begitu memikat bagaikan magnet yang menarik besi dengan sangat kuat, hingga Sebastian segera menghampiri. Satu ciuman mesra hadir, membuat duda pemilik ribuan hektar perkebunan zaitun tersebut jadi terlena. Namun, tiba-tiba Paloma menghunuskan pisau ke arahnya.


Sebastian segera membuka mata, seiring dengan dering panggilan dari ponselnya. Duda tampan empat puluh tahun itu meletakkan cerutu ke dalam asbak. Dia segera mengambil ponsel, lalu menjawab panggilan masuk yang ternyata berasal dari Martin.


“Bagaimana, Martin?” tanya Sebastian seraya membetulkan posisi duduknya.


“Aku sudah menyuruh Luciano untuk memeriksa rekaman pada tanggal yang anda minta. Kami juga telah memutarnya berulang kali,” lapor Martin.


“Lalu, bagaimana hasilnya?” tanya Sebastian penasaran.


“Kita tahu bahwa Casa del Castaneda tidak terletak di jalur umum. Jadi, kendaraan yang lewat di daerah sini, jika bukan hendak kemari artinya menuju ke villa milik Tuan Gonzalez. Pada tanggal itu, ada tiga kendaraan yang melewati jalan depan Casa del Castaneda. Dua di antaranya adalah kendaraan jenis sedan dan satu lagi mobil SUV hitam,” terang Martin.


“Apa kau bisa melihat plat nomornya?” tanya Sebastian.


“Kurang jelas, tuan,” jawab Martin. “Kami hanya melihat tanpa memeriksa lebih detail.”


“Baiklah.” Sebastian mengembuskan napas dalam-dalam. “Kalau begitu, ambil rekamannya dan serahkan padaku,” titah sang tuan tanah.


“Baik, tuan. Apa harus kuantar sekarang juga ke ruangan anda?” tanya Martin lagi.


“Boleh. Aku tunggu sekarang,” sahut Sebastian. Setelah perbincangan dengan Martin selesai, Sebastian kembali termenung. Namun, dia tak segera meletakkan ponselnya. Sebastian, seperti tengah menimbang-nimbang untuk menghubungi seseorang.

__ADS_1


Sesaat kemudian, pria itu mencari nomor kontak Abelardo. Dia mengirimkan pesan dan mengajak sahabat lamanya tersebut, untuk kembali bertemu di luar jam kerja. Abelardo setuju. Mereka membuat janji bertemu besok sore, di sebuah cafetaria yang menjadi tempat biasa mereka berkumpul dulu.


Keesokan harinya, Sebastian dan Abelardo bertemu di tempat dan pada jam yang telah disepakati. Mereka kembali membahas masalah kecelakaan yang menimpa Paloma, hingga menewaskan Rafael.


“Berdasarkan penyelidikan yang dilakukan tim forensik kami, mereka menemukan bahwa ada dua jenis ban yang diperkirakan ada di tempat kejadian perkara dalam peristiwa kecelakaan maut itu. Satu berjenis AT dan lainnya berjenis HT. Untuk ban berjenis HT, sudah pasti milik kendaraan yang dikemudikan oleh Rafael Hernandez. Untuk ban jenis AT, kami masih memperdalamnya. Entah itu mobil berjenis jeep atau SUV,” terang Abelardo, yang kemudian dilanjutkan dengan mengisap rokok.


“Sebenarnya, aku memiliki rekaman dari kamera pengawas di bagian depan Casa del Castaneda. Mungkin kau bisa menganalisanya. Siapa tahu dapat sedikit membantu pekerjaanmu,” ujar Sebastian.


“Sungguh?” Abelardo membuang abu rokok di dalam asbak.


“Jujur saja bahwa aku juga belum melihat rekaman ini. Namun, pegawaiku telah menjelaskan isinya. Dia mengatakan ada mobil berjenis SUV yang melintas di depan Casa del Castaneda, bertepatan dengan tanggal kecelakaan itu terjadi. Tempat tinggalku bukanlah jalur umum yang biasa dilewati banyak kendaraan.” Sebastian merogoh saku jaketnya. Dia mengeluarkan Micro SD CCTV, yang berisi rekaman pada saat mobil Paloma meninggalkan Casa del Castaneda. Pria itu menyerahkan benda tersebut kepada Abelardo.


“Kuharap ini bisa membantumu dan tentu saja membantuku terlepas dari tuduhan Paloma,” ucap Sebastian lagi pelan.


“Paloma?”


“Kau sangat takut terhadap wanita itu,” sindir Abelardo, seraya mengamati benda yang baru dia terima dari Sebastian.


“Bukan takut,” bantah Sebastian, “aku hanya ….” Pria tampan bermata cokelat madu tersebut memilih tidak melanjutkan kata-katanya.


Sedangkan, Abelardo hanya tertawa menanggapi sikap tak nyaman teman lamanya. Sebagai sesama pria, dia dapat memahami sikap aneh yang ditunjukkan Sebastian. Abelardo kembali mengambil rokok yang tadi dia letakkan di dalam asbak. Sang petugas polisi berkumis tebal tersebut kembali mengisapnya. “Sayang sekali, aku tidak ikut saat ke rumah sakit,” sesalnya.


“Memangnya kenapa?” tanya Sebastian seraya menaikkan sebelah alis.

__ADS_1


“Aku hanya penasaran dengan Nyonya Hernandez,” jawab Abelardo enteng, “tapi, sebentar lagi aku akan segera mengetahuinya. Aku berencana untuk menemui wanita itu.”


Sebastian mengembuskan napas berat. Pria itu juga berdecak pelan. “Tolong jangan mengatakan sesuatu yang macam-macam,” ujar Sebastian bernada mengancam. Membuat Abelardo tergelak. “Apanya yang lucu?” protes Sebastian.


“Sebastian.” Abelardo menggeleng tak percaya. “Aku senang, karena akhirnya kau memiliki ketertarikan lagi terhadap seorang wanita,” ledeknya puas.


“Sialan kau!” Sebastian mendengkus kesal. Sedangkan, Abelardo kembali tertawa puas.


......................


“Luz Maria,” ucap Paloma setelah dirinya membuka mata. Suaranya parau dan terdengar lemah.


“Nak.” Rogelio segera mendekat ke ranjang. “Luz Maria ada di rumah bersama Nyonya Teresa dan Kalida. Hari ini, aku yang akan menemanimu,” ucap pria paruh baya tersebut. Dia memegangi tangan Paloma dan menggenggamnya erat.


“Ayah,” ucap Paloma masih dengan suaranya yang parau. “Aku sangat merindukan Luz Maria. Bisakah kau minta kepada dokter agar mereka mengizinkanku pulang secepatnya?” pinta wanita itu dengan mata berkaca-kaca.


“Kondisimu masih belum sepenuhnya stabil, Nak. Bersabarlah. Dalam beberapa hari lagi, kau pasti akan segera pulih seperti sedia kala. Kau putriku yang sangat tangguh. Sama seperti mendiang ibumu.” Rogelio mengecup punggung tangan Paloma dengan penuh kasih. Dia memberikan semangat untuk putrinya. Namun, apa yang diucapkan pria itu justru membuat Paloma menitikkan air mata.


“Kenapa kau menangis, Nak? Kau tak perlu merasa takut, karena ada aku dan Luz Maria yang akan selalu menemani serta memberikan dukungan untukmu. Kami berdua akan selalu ada.” Rogelio mengecup punggung tangan Paloma.


Kepedihan pria itu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan apa yang Paloma rasakan. Dia kehilangan seorang putra yang teramat disayanginya. Rafael bukan sekadar anak angkat atau menantu. Dia lebih dari itu.


“Aku ingin segera keluar dari rumah sakit. Aku bersumpah akan mengusut tuntas pelaku penabrakan yang menyebabkan kami mengalami kecelakaan. Aku tak akan berhenti, sebelum pembunuh itu mendapat balasan yang setimpal.”

__ADS_1


“Jangan pikirkan hal itu dulu, Nak. Untuk saat ini, usahakanlah agar kau bisa pulih secepatnya,” ujar Rogelio lembut. Dia menoleh ke pintu, ketika terdengar suara ketukan. “Akan kuperiksa." Rogelio berjalan ke dekat pintu, lalu membukanya.


Tampaklah seorang pria berjaket kulit yang tersenyum ramah. "Selamat siang," sapa pria itu hangat.


__ADS_2