Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Tak Seperti Kemarin


__ADS_3

“Siapa yang sedang menunggumu, Paloma? Kau memiliki pengagum baru rupanya,” sindir Sebastian, dengan tatapan lurus ke teras rumah di mana Elazar berada.


“Apa maksudmu?” Paloma mendelik sesaat kepada pria tampan di sebelahnya, seraya melepas sabuk pengaman. Dia bermaksud membuka pintu. Namun, gerak Paloma langsung terhenti karena Sebastian mencekal pergelangannya. “Apa masalahmu?” tanya Paloma menatap heran atas sikap pria itu.


“Kumohon jangan,” pinta Sebastian penuh penekanan. Dia membuat Paloma semakin tak mengerti.


“Apanya yang jangan?” tanya Paloma seraya menautkan alisnya.


“Jangan membuatku patah hati lagi,” jawab Sebastian, dengan suara yang terdengar begitu berat. Perlahan, dia melepaskan genggaman tangannya. “Duduklah dulu,” suruh pria berambut cokelat itu, lalu keluar dari mobil.


Sebastian berdiri di depan kendaraannya. Dia menatap lurus kepada Elazar yang sudah berdiri, dari semenjak mobil SUV milik Sebastian masuk ke halaman. “Elazar? Sedang apa kau di sini?” tanyanya. Sikap yang ditunjukkan Sebastian terlihat biasa saja. Dia pandai menyembunyikan rasa cemburu yang tadi diperlihatkan kepada Paloma.


“Kau juga ada di sini,” sahut Elazar. Mantan suami Tatiana tersebut tak menjawab pertanyaan Sebastian.


“Aku baru kembali dari ….” Sebastian sengaja menjeda kata-katanya. Dia menoleh ke kendaraan, lalu berjalan menuju pintu penumpang. Duda tampan empat puluh tahun tersebut membukanya. Sebastian membantu Paloma turun.


Untuk kali ini, Sebastian merasa menang. Terlebih, saat dia melihat raut wajah Elazar yang tiba-tiba berubah. Dengan tenang, pria pemilik ribuan hektar tanah perkebunan zaitun di Porcuna tadi membuka pintu belakang. Dia mengambil Luz Maria dari kursi khususnya.


Luz Maria begitu senang digendong oleh Sebastian. Balita itu tak henti-henti, memainkan janggut pria yang menaruh perhatian lebih kepada Paloma. Dia tertawa, lalu bertepuk tangan. Membuatnya terlihat semakin menggemaskan.


“Kalian dari mana? Apakah Tuan Gallardo sudah berangkat?” tanya Elazar.


“Ya. Kami baru kembali dari bandara,” jawab Paloma. “Apa kau sudah lama di sini, Tuan Blanco?” tanyanya.

__ADS_1


“Tidak juga,” jawab Elazar. Bahasa tubuh duda tiga puluh tiga tahun itu, tampak tidak nyaman dengan kehadiran Sebastian di sana. “Kenapa kau tidak memberitahuku waktu keberangkatan Tuan Gallardo, Nyonya Hernandez? Tadinya, aku juga ingin mengantar ayahmu pergi ke bandara.” Sebisa mungkin, Elazar menyembunyikan rasa kecewa yang terpancar dari sorot matanya.


“Maafkan aku, Tuan Blanco. Aku hanya tak ingin merepotkanmu. Lagi pula, ayahku berangkat dengan penerbangan pagi,” jelas Paloma seraya tersenyum simpul. “Kemarilah, Sayang.” Dia mencoba meraih tubuh mungil Luz Maria dari pangkuan Sebastian. Namun, di luar dugaan. Luz Maria kembali menyebutkan kata ‘papa’ sambil bertepuk tangan. Hal itu membuat Paloma hanya menggaruk keningnya.


“Lucu sekali,” ucap Elazar kikuk. Dia memaksakan diri tersenyum. “Lihatlah, Luz Maria. Aku membawakanmu mainan baru.” Elazar menyodorkan paper bag kepada Paloma. Dia ingin agar wanita itu yang membukanya.


“Anda tidak harus repot-repot seperti ini, Tuan Blanco,” ucap Paloma setelah melihat isi dalam paper bag tadi. Dia sempat melirik kepada Sebastian yang tak berkomentar apapun. Namun, sorot matanya menyiratkan rasa tak suka.


“Tidak apa-apa, Nyonya Hernandez. Aku tadi kebetulan lewat di depan toko mainan. Jadi, kupikir tak ada salahnya membelikan satu untuk Luz Maria,” jelas Elazar. Dia mengarahkan perhatian sepenuhnya kepada Paloma. “Aku kemari untuk membahas rumah yang akan kau beli, Nyonya,” ucap pria dengan wajah dan perawakan mirip mendiang Rafael tersebut.


“Di mana rumah yang kau maksud itu?” tanya Sebastian tanpa menoleh kepada Elazar. Luz Maria jauh lebih menyenangkan baginya, dibanding mantan suami Tatiana tersebut.


“Di sebelah utara perusahaan yang baru dijual Amoroso Barbossa. Jaraknya hanya sekitar lima belas menit dari sana. Aku rasa, itu akan memudahkan Nyonya Hernandez. Terlebih, karena dia meninggalkan Luz Maria di rumah,” terang Elazar.


Sebastian manggut-manggut. Dia lalu mengalihkan perhatian kepada Paloma. “Apa kau sudah melihat lokasi dan bangunannya?”


“Kami akan meninjaunya besok. Benar ‘kan, Nyonya Hernandez?” Elazar tersenyum kepada Paloma. Senyuman yang terlihat sangat menyebalkan bagi Sebastian.


“Iya,” jawab Paloma diiringi anggukan pelan dan terlihat ragu. Paloma mungkin merasa tidak enak kepada Sebastian. “Baiklah, Tuan Blanco. Apa ada lagi yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya Paloma. Bahasa tubuh serta gaya bicaranya, menyiratkan usiran halus kepada pria bermata abu-abu itu. “Sebenarnya, aku sangat lelah. Sudah waktunya Luz Maria tidur siang.” Paloma menyentuh poninya.


Elazar dapat memahami sikap Paloma yang demikian. Walaupun sebenarnya dia masih ingin di sana, tapi Paloma justru terlihat tidak nyaman. Kehadiran Sebastian semakin membuat suasana menjadi semakin di luar dugaan mantan suami Tatiana tersebut. “Kita bisa membahasnya lagi besok, Nyonya. Akan kujemput pukul sepuluh pagi, karena sang pemilik rumah menunggu kita sekitar pukul tiga belas.”


“Baiklah, Tuan Blanco. Terima kasih,” balas Paloma seraya mengangguk. Dia beranjak dari duduknya. Paloma berdiri lalu mengulurkan tangan.

__ADS_1


Tak ada alasan bagi Elazar untuk berlama-lama di sana. Dengan terpaksa, duda tampan itu berdiri. Dia membalas jabat tangan Paloma. “Baiklah, Nyonya Hernandez. Kalau begitu, aku permisi dulu,” pamitnya, yang segera berbalas anggukan dari Paloma.


Sebelum pergi, Elazar mengalihkan perhatian kepada Sebastian yang masih duduk sambil memangku Luz Maria. “Apa kau tidak akan pulang ke Porcuna, Sebastian?” tanyanya, dengan nada bicara yang terdengar sedikit aneh.


“Tentu saja aku akan pulang. Memangnya kenapa?” Sebastian balik bertanya.


“Tidak apa-apa. Aku hanya bertanya,” jawab Elazar diiringi senyum simpul. Dia mengangguk sebagai tanda bahwa dirinya akan berpamitan. Pria itu sudah membalikkan badan. Elazar bermaksud melangkah ke halaman. Namun, suara Sebastian telah berhasil menghentikan gerakannya. Elazar langsung menoleh.


Sebastian berdiri sambil menggendong Luz Maria. “Apa kau sudah menjenguk Tatiana di penjara?” tanyanya.


Elazar tak segera menjawab. Dia tertawa renyah tanpa membalikkan badan. “Kenapa aku harus menjenguknya? Dia sudah bukan siapa-siapaku lagi,” jawab pria itu enteng.


“Kurasa, dia pasti membutuhkan dukungan moril. Setidaknya, kau ucapkan ‘hai’ kepada mantan istrimu.” Entah apa maksud Sebastian membahas Tatiana di hadapan Paloma. “Ya sudah,” ucap pria itu kemudian. Dia sempat menoleh kepada Paloma yang terlihat semakin tak nyaman.


Begitu juga dengan Elazar. Dia mengalihkan pandangan kepada janda cantik dua puluh delapan tahun tersebut. “Permisi, Nyonya Hernandez,” ucap pria itu. Dia berbalik. Kali ini, mantan suami Tatiana tersebut benar-benar pergi dari hadapan Paloma dan Sebastian.


Sepeninggal Elazar, Sebastian langsung mendekat kepada Paloma yang masih berdiri terpaku. “Aku yang akan mengantarmu besok,” ucapnya.


Paloma menaikkan sebelah alis tanda tak memahami maksud pria di hadapannya. Dia melipat tangan di dada, lalu tersenyum kecil. “Kau tidak punya pekerjaan lain, Sebastian? Untuk apa terus mengawalku?” cibir Paloma.


Sebastian tertawa renyah saat menanggapi ucapan Paloma. Dia menggendong Luz Maria dengan sebelah tangan. “Kau tahu kenapa? Jawabannya, karena aku tidak mau jika dirimu dicuri pria lain.”


“Astaga.” Paloma tertawa renyah seraya menggeleng pelan. Dia merasa lucu setelah mendengar jawaban duda tampan itu.

__ADS_1


“Kenapa kau tertawa? Apa kau tidak melihat bahwa diriku sedang benar-benar serius saat ini?” Sebastian semakin mendekat kepada Paloma. Dia bermaksud untuk mencium wanita pujaannya tersebut.


Namun, tak seperti kemarin. Paloma menghindar dari ciuman itu. “Jangan, Sebastian,” tolaknya seraya memalingkan wajah.


__ADS_2