
“Apa kau yakin, Paloma?” Rafael yang ikut terdiam, akhirnya kembali bersuara.
“Ya, aku sepenuhnya yakin,” sahut Paloma memaksakan senyum, lalu berbalik meninggalkan Rafael yang termangu di tepian ranjang.
Paloma tak ingin lagi berpikir berat tentang Sebastian. Dia terlalu kesal, karena pria itu sudah melontarkan kata-kata kasar padanya. Begitu tega sang tuan tanah tersebut, yang telah menuduh dirinya tidur dengan Rafael. Padahal, kalaupun itu sampai terjadi, maka hal tersebut bukanlah sesuatu yang salah. Paloma dan Rafael, masih menjadi pasangan suami istri yang sah.
Paloma mende•sah pelan, bersamaan dengan ponselnya yang kembali berdering. Nama Sebastian tertera di layar sebagai pemanggil. Akan tetapi, Paloma tak ingin menjawab panggilan dari duda tampan tersebut. Dia masih merasa sakit hati atas tudingan Sebastian tadi.
Sementara, Rafael masih berada di kamar Paloma. Pria itu melihat telepon genggamnya yang berdering nyaring. Rafael mengernyitkan kening, saat melihat nama sang pemanggil. “Mau apa lagi dia?” tanya Rafael pelan seperti pada diri sendiri. Dia merasa heran, saat mengetahui bahwa Tatiana lah yang menghubunginya.
Namun, Rafael tak segera menerima panggilan tersebut. Pria tampan bermata abu-abu itu menunggu sejenak, sampai dirinya merasa siap dan memutuskan menjawab telepon dari wanita yang pernah hidup dengannya selama hampir enam tahun.
“Hola. Apa kabar, Tatiana?” sapa Rafael dengan nada bicara yang terdengar malas.
“Sangat baik. Bagus sekali karena kau masih bersedia mengangkat telepon dariku. Kupikir kau akan melarikan diri,” sahut Tatiana dengan nada mengejek.
“Aku memang brengsek. Namun, diriku bukanlah seorang pengecut, Tatiana. Ada apa menghubungiku?” tanya Rafael lagi.
“Aku hanya ingin memberitahumu, bahwa kau sudah kulaporkan ke polisi,” ujar Tatiana pongah.
“Melaporkanku ke polisi?” ulang Rafael tak mengerti.
“Ya. Atas tuduhan penipuan! Kau telah menipuku, Rafael! Kau menikahiku di saat statusmu masih menjadi suami dari wanita kampungan itu! Kau bahkan mencuri hartaku!” sentak Tatiana penuh emosi.
“Tunggu!” cegah Rafael. “Pertama, jangan sebut Paloma sebagai wanita kampungan. Dia istriku! Dia jauh lebih terhormat dan berharga dibanding wanita manapun. Kedua, aku tak pernah mencuri apapun darimu! Kau yang memberikan semuanya secara cuma-cuma padaku!” bantah pria itu.
“Kau memang bajingan! Sekarang kau baru mengakui bahwa wanita kampungan itu adalah istrimu! Dasar pria brengsek! Ke mana saja kau selama bertahun-tahun yang lalu!” umpat Tatiana.
“Anggap saja dulu aku masih tersesat. Namun, sekarang aku sudah menemukan jalan pulang,” sahut Rafael dengan enteng.
“Ah, aku tak ingin mendengar omong kosongmu! Aku hanya ingin memberitahukan bahwa kau harus datang ke Spanyol untuk memenuhi panggilan pengadilan. Kau juga harus hadir dalam sidang tuntutan! Jika kau memang pria sejati, kau tak akan melarikan diri!” ujar Tatiana dengan sangat tegas.
“Kau tenang saja, Tatiana. Aku akan datang secepatnya ke Spanyol,” putus Rafael seraya mengakhiri panggilan, tanpa menunggu jawaban Tatiana.
Rafael menimbang-nimbang untuk beberapa saat, sambil memainkan ponsel dalam genggaman. Sesaat kemudian, Rafael berdiri dan berjalan keluar dari kamar. Dia menuruni tangga menuju lantai bahwa. Rafael mendapati Paloma tengah menata pot-pot kecil tanaman hias di ruang tamu.
“Paloma. Sepertinya aku harus mengantarmu ke rumah ayah, kecuali kau bersedia ikut denganku. Aku tidak bisa membiarkanmu tinggal sendiri di rumah ini,” ucap Rafael tiba-tiba. Membuat Paloma segera menoleh sambil mengernyit keheranan.
“Memangnya kau mau ke mana?” tanya Paloma sambil menepuk-nepuk kedua tangannya sampai bersih dari noda tanah.
__ADS_1
“Aku akan pergi ke Spanyol. Tatiana melaporkanku ke polisi atas tuduhan penipuan. Aku harus datang untuk meluruskan fakta, sekaligus membersihkan namaku,” terang Rafael tenang.
“Astaga. Kenapa Tatiana melakukan hal semacam itu padamu?” tanya Paloma tak percaya.
“Ya, biarlah. Aku akan mengikuti permainannya. Lagi pula, aku memang bersalah padanya, karena telah berbohong tentang status kita,” jelas Rafael.
“Lalu, bagaimana denganku jika kau ke Spanyol?” tanya Paloma ragu.
“Terserah padamu. Kau boleh ikut denganku ke sana atau tinggal bersama ayah,” ujar Rafael.
“Kurasa kita tidak boleh berjauhan selama tiga bulan ke depan. Begitu yang kuingat dari kalimat pastor beberapa hari yang lalu,” ujar Paloma.
“Sudah kukatakan bahwa kau tak perlu mengikuti apa kata pastor, Paloma,” balas Rafael lembut.
“Aku harus melakukan itu! Aku tidak memiliki apapun lagi yang bisa dijadikan pegangan selain keyakinanku. Pastor adalah perwujudan dari keyakinan yang kumiliki,” tegas Paloma. Sifat keras kepalanya kembali terlihat jelas.
“Ya, sudah. Jika memang itu keputusanmu. Mari kita berkemas, lalu berpamitan pada ayah,” ajak Rafael dengan sikapnya yang tetap terlihat tenang.
Keesokan harinya.
Paloma sudah bersiap dengan barang bawaannya yang tidak terlalu banyak.
Setelah memastikan bahwa pintu dan jendela sudah terkunci rapat, Rafael mengangkat koper Paloma dan meletakkan ke dalam bagasi. Dia meletakkan sejajar dengan koper miliknya.
Rafael, memang sengaja membawa mobil pribadinya yang sudah butut ke rumah Paloma, untuk mempermudah mobilitas mereka selama tinggal di sana.
“Aku sudah menduga bahwa Tatiana akan melakukan hal ini padamu,” ujar Paloma, sesaat setelah kendaraan Rafael melaju meninggalkan rumah Carlos Sanchez menuju tempat tinggal Rogelio.
“Aku juga sudah melakukan persiapan, andai suatu saat Tatiana menuntutku secara perdata,” sahut Rafael dengan kedua tangan yang lihai memutar kemudi.
“Apa kau memiliki simpanan uang?” tanya Paloma seraya melirik suaminya.
“Ya. Aku masih memiliki simpanan yang cukup. Sewaktu masih menjadi suami Tatiana, aku menjalankan bisnis dalam bidang jual beli permata. Bisnis yang dibangun murni dari hasil kerja kerasku. Aku bersyukur karena ladang usaha itu cukup berkembang pesat. Saat itulah, ayah berhasil menemukanku," tutur Rafael.
"Aku langsung memberikan kuasa pada salah satu anak buah kepercayaan, untuk melanjutkan dan mengelola bisnis tersebut. Entahlah, aku merasa jika diriku akan pergi jauh dari Spanyol,” jelas Rafael sambil terus mengemudi.
“Lihatlah, Paloma. Jika hanya untuk menghidupimu, kurasa semua yang kumiliki sudah lebih dari cukup,” ujar Rafael percaya diri, diiringi tawa lebar.
“Jangan bermimpi, Rafael!” tolak Paloma ketus.
__ADS_1
Namun, bukannya tersinggung. Rafael malah tertawa terbahak-bahak. Sesaat kemudian, Rafael menghentikan tawanya, ketika mobil yang dia kendarai sudah tiba di depan mansion.
“Kau beristirahatlah sebentar. Aku akan memesan tiket ke Spanyol,” ujar Rafael, ketika mereka turun dari mobil dan berjalan ke ruang kerja Rogelio. Rafael sudah mengetahui bahwa pada jam seperti itu, sang ayah pasti sedang berada di ruang kerjanya.
Dugaan Rafael memang benar. Rogelio tampak sibuk berkutat dengan berkas-berkas. Dia langsung menoleh dan memperlihatkan wajah sumringah, saat melihat Rafael dan Paloma telah berdiri di hadapannya. “Ada acara apa ini? Tumben sekali kalian datang kemari sesore ini,” sambut Rogelio seraya merentangkan kedua tangan.
“Aku akan mengajak Paloma pergi ke Spanyol, Ayah. Aku harus menyelesaikan sedikit masalah pekerjaan di sana,” ujar Rafael. Dia terpaksa berbohong pada Rogelio, karena tidak ingin ayah angkatnya tersebut ikut memikirkan tentang permasalahannya dengan Tatiana.
“Kenapa kau harus mengajak serta Paloma?” Raut ceria Rogelio seketika berubah muram.
“Bukankah kami harus terus berdekatan dalam waktu tiga bulan ke ini?” sahut Rafael.
“Aku akan membuat pengecualian jika kau ke Spanyol,” bantah Rogelio.
“Kenapa?” tanya Paloma dan Rafael secara bersamaan.
“Aku rasa, kalian berdua sudah semakin akrab dibanding sebelumnya. Bagiku, itu adalah hal yang sangat bagus. Aku tak mau kalian merusaknya dengan datang ke Spanyol dan membuat Paloma harus bertemu dengan Sebastian,” jawab Rogelio.
“Ayah. Paloma ke sana untuk mendampingiku. Bukan untuk bertemu dengan Sebastian,” sahut Rafael.
“Kau boleh bicara seperti itu, Rafael. Akan tetapi, pria tua ini tak bisa dibodohi.” Rogelio mengangkat satu tangannya, sebagai isyarat bahwa dia tidak ingin dibantah.
“Lagi pula, apa salahnya jika aku bertemu dengan Sebastian, Ayah? Aku tidak bertemu dengannya sendirian. Tak masalah jika Rafael terus mendampingiku." Paloma yang sedari tadi menahan diri untuk tidak berbicara, akhirnya membuka suara.
“Itulah yang aku tak setuju, Paloma. Kita semua tahu bagaimana hubunganmu dengan pria itu.” Raut wajah Rogelio makin terlihat serius.
“Aku tahu sampai di mana batasanku, Ayah. Jangan khawatir. Menantumu bukan wanita murahan,” ujar Paloma yakin.
“Bisakah kau tak membantah dan menurut ucapanku, Paloma? Sekali ini saja!” Tak disangka, nada bicara Rogelio semakin meninggi. Padahal, dia tak pernah bersikap demikian. Rasa tak sukanya terhadap Sebastian atas kejadian malam tempo hari, membuatnya harus mengambil tindakan tegas.
“Sudahlah, Ayah. Percayalah padaku. Paloma benar. Aku tak akan meninggalkannya sedetikbpun di sana,” ujar Rafael mencoba menjadi penengah.
“Aku tidak peduli, Rafael! Paloma harus tetap tinggal di Meksiko! Dia tak boleh ikut denganmu ke Spanyol. Kalian boleh pergi ke manapun. Asalkan bukan ke Spanyol!” tegas Rogelio.
“Aku menolak! Aku tetap akan mengikuti Rafael kemana pun,” bantah Paloma sambil mengangkat dagu, seolah menantang Rogelio.
“Jangan membuat kemarahanku habis, Paloma! Sampai kapanpun, aku melarangmu bertemu dengan Sebastian!” sentak Rogelio lagi.
“Aku tak harus terus menuruti kemauanmu!” tantang Paloma yang semakin berani.
__ADS_1
“Kau harus menurut apa kataku, karena aku adalah ayah kandungmu, Paloma!” sentak Rogelio dengan suara menggelegar. Menggema ke setiap sudut ruangan.