Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Ditelan Kegelapan


__ADS_3

Rafael turun dari kendaraan terlebih dulu, kemudian membukakan pintu untuk Paloma. Dia menuntun istrinya dengan mesra, hingga mereka tiba di hadapan Sebastian. “Selamat sore, Tuan Castaneda,” sapa pria itu.


Namun, Sebastian tak membalas sapaan tadi. Dia malah memusatkan perhatiannya pada Paloma, wanita yang selalu terlihat cantik baik dulu maupun sekarang. “Di mana putri kalian? Apa dia tidak diajak?” tanyanya tanpa menghiraukan Rafael. Sorot mata Sebastian tajam seolah menguliti Paloma. Membuat wanita cantik tersebut menjadi salah tingkah.


“Luz Maria sedang beristirahat di hotel,” jawab Paloma. Dia lebih banyak menyembunyikan wajah. Paloma melingkarkan tangannya erat pada Rafael, demi menghilangkan rasa gugup.


“Silakan masuk,” ucap Sebastian, setelah beberapa saa terjadi keheningan dan rasa canggung yang tak biasa. Sebastian mengulurkan tangan ke dalam bangunan Casa del Castaneda. Dia mengarahkan pasangan suami istri tadi, ke ruang kerja yang telah terbuka lebar. Sebastian seakan sudah menyiapkan segala sesuatunya, untuk menyambut mereka berdua.


“Silakan duduk." Lagi-lagi, Sebastian mengulurkan tangan. Kali ini, dia mengarahkan tamu-tamunya ke dekat sofa. Dengan tenang, sang penguasa Casa del Castaneda tersebut membuka rak kaca berisi puluhan botol minuman mahal.


Sebastian mengeluarkan salah satu botol yang berbentuk paling unik. Dia mengambil tiga buah gelas whisky. Gelas-gelas tadi dirinya letakkan di atas meja. Sebastian, lalu menuangkan isi dari botol itu sama rata.


“Silakan,” ucapnya seraya mengangkat gelas yang sudah dipegang.


Rafael tampak ragu, sebelum akhirnya mengambil salah satu gelas dari meja. Dia menoleh kepada Paloma, seolah meminta izin. “Kau minum saja. Tidak apa-apa,” ucap Paloma, seolah memahami apa yang dimaksud sang suami.


“Kau sendiri, Nyonya Hernandez?” tanya Sebastian.


“Aku sedang menyusui. Jadi, aku tak boleh mengonsumsi segala sesuatu yang mengandung alkohol. Lagi pula, aku bukan peminum," jawab Paloma membalas tatapan Sebastian.


"Ah, ya. Aku lupa,” ucap Sebastian seraya tersenyum kelu. Kehancuran atas perasaan pria itu, tergambar jelas di wajah tampannya. “Kau terlihat jauh lebih cantik dari terakhir kita bertemu. Sepertinya, kau sangat bahagia,” ucap Sebastian kemudian.


“Rafael memperlakukanku bagaikan seorang ratu,” sahut Paloma dengan penuh percaya diri.


“Luar biasa.” Sebastian tersenyum lebar. “Kau memang wanita yang sangat baik, Paloma. Hatimu seluas samudera. Kau memaafkan pria yang sudah menghancurkan dan hampir membunuhmu. Lucu sekali, karena kau bahkan memiliki anak darinya.”


“Sebenarnya apa maksudmu mengundang kami kemari, Tuan Castaneda?” sela Rafael. Dia merasa bahwa suasana menjadi semakin tidak nyaman.


“Sebenarnya, aku tidak ada niat mengundangmu. Aku hanya memiliki kepentingan dengan Paloma. Akan tetapi, mengingat statusmu sebagai suami sahnya, terpaksa aku harus menerima keberadaan kau di sini,” ujar Sebastian, tanpa melepaskan pandangannya dari wajah cantik Paloma.


Rafael, menanggapi sikap tidak bersahabat yang ditunjukkan Sebastian dengan senyuman kalem. Dia sama sekali tak terpancing, meskipun nada bicara sang tuan rumah terdengar sangat keterlaluan.


“Apa kau mengundangku kemari hanya untuk mempermalukan Rafael?” Paloma yang mulai kehilangan kesabaran, segera berdiri. Wajahnya sedikit mendongak, seakan menantang Sebastian.


“Tentu saja tidak. Waktuku terlalu berharga jika hanya dihabiskan untuk kalian," cibir Sebastian dengan senyum mengejek. Dia berjalan memutari meja kerja, lalu membuka laci teratas. Sebastian mengeluarkan kotak stainless berisi kalung berwarna emas, berhiaskan bandul dengan tulisan nama Sanchez.

__ADS_1


“Kurasa, aku harus mengembalikan benda ini padamu. Apalagi, kita sudah tak memiliki hubungan apapun." Sebastian memperlihatkan raut dingin, saat menyerahkan kalung itu kepada Paloma.


Sedangkan, Paloma justru menerima kalung tadi dengan mata berkaca-kaca. “Ayah,” ucapnya lirih seraya mendekap erat benda tersebut di dada.


“Aku sudah menepati janji. Aku tak mempunyai utang lagi padamu, Paloma,” ujar Sebastian. "Justru kau yang masih memiliki sisa utang padaku," ucapnya.


"Selamat tinggal. Aku berdoa pada Tuhan agar tak pernah melihat wajah kalian lagi. Untuk selamanya.” Sebastian berbalik, lalu duduk di kursi kebesarannya. Pemilik perkebunan zaitun ribuan hektar itu membalik kursi tadi, sehingga membelakangi Paloma dan Rafael. Matanya kosong menatap jendela ruang kerja.


Rafael mengerti betul dengan sikap Sebastian yang demikian, sebagai bentuk pengusiran secara halus. Dia menyentuh bahu sang istri.


“Ayo, kita pulang. Luz Maria pasti sudah menunggu,” ajaknya lembut. Dia melingkarkan tangan di pundak Paloma, sambil terus menuntun keluar dari bangunan mewah itu hingga tiba di dekat mobil sewaan.


“Maaf,” ucap Rafael lirih, sesaat setelah memasangkan sabuk pengaman.


“Maaf untuk apa?” Paloma mengernyit tak mengerti.


“Keputusan untuk hidup bersama denganku, membuat Sebastian jadi membencimu,” jawab Rafael seraya menatap lekat paras cantik Paloma.


“Kenapa kau yang meminta maaf?” Paloma tertawa pelan. “Sudahlah. Jangan dipikirkan. Asalkan bukan kau atau Luz Maria yang membenciku.”


Sedan pabrikan Eropa keluaran terbaru tadi, mulai menyusuri jalan raya antar kota. Paloma dan Rafael sama-sama terdiam. Mereka berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing.


“Paloma,” ucap Rafael beberapa saat kemudian.


Ibunda Luz Maria itu langsung menoleh dan memperhatikan wajah tampan sang suami, yang tampak serius mengemudi. “Ada apa?” tanyanya.


“Aku sangat mencintaimu, Paloma. Kaulah cinta sejatiku,” ucap Rafael seraya tersenyum lebar.


“Astaga. Kupikir ada apa.” Paloma tertawa geli.


“Kau harus selalu bahagia, Sayangku. Berjanjilah akan selalu begitu,” ujar Rafael, membuat Paloma semakin keheranan. Dia hendak menanggapi ucapan suaminya yang terdengar aneh, ketika sebuah mobil SUV tiba-tiba datang dari arah samping. Kendaraan itu langsung menyeruduk mobil yang dikendarai oleh Rafael, dengan kecepatan tinggi.


Paloma seketika menjerit. Rasa takut dan terkejut bercampur jadi satu. Semua terjadi seperti mimpi. Begitu cepat dan tak dirinya sadari. Paloma terbelalak, ketika mobil itu bergerak tak tentu arah serta keluar dari jalur. Namun, tak ada hal lain yang dapat dirinya lakukan. Terlebih, karena mobil sewaan yang mereka tumpangi mulai terguling beberapa kali.


Kendaraan itu bahkan sampai menabrak pagar pembatas, yang berfungsi untuk melindungi pengguna jalan dari tebing curam dengan dasar penuh bebatuan. Saking kerasnya tubrukan yang terjadi, hingga menyebabkan pagar pembatas tadi jebol. Mobil yang ditumpangi Rafael dan Paloma langsung terjun bebas dari ketinggian. Tergelincir beberapa meter, serta menabrak bebatuan besar sampai ringsek parah.

__ADS_1


Antara sadar dan tidak. Dalam kondisi mobil yang terbalik tadi, Paloma merasakan Rafael tengah membuka sabuk pengamannya. Pria itu juga membisikkan sesuatu. “Cepatlah keluar, Sayangku. Kau harus hidup dan bertahan.”


“Rafael!” panggil Paloma. Pandangan matanya memburam, akibat banyaknya darah yang menetes di wajah. Hal itu mengganggu penglihatan Paloma. "Rafael." Suara Paloma terdengar parau, saat menyebut nama suaminya.


Ketika sabuk pengaman itu berhasil terbuka, Paloma langsung terjatuh. Dia meringis kesakitan, saat merasakan seluruh luka yang ada di sekujur tubuhnya. Dengan susah payah, Paloma merangkak keluar dari mobil, sambil terus memanggil nama Rafael.


“Teruslah berjalan, Sayangku. Aku sudah berada di depanmu." Terdengar lagi suara Rafael yang begitu jelas di telinganya. Membuat Paloma semakin bersemangat merangkak keluar. Wanita malang itu harus meraba sekitarnya, mengingat jarak pandang sudah tak dapat diandalkan.


“Rafael! Kau di mana? Aku tak bisa melihat apapun!” teriak Paloma yang mulai histeris.


“Aku di sini, Sayang. Kemarilah.” Lagi-lagi, yang Paloma dengar hanya suara Rafael. Namun, entah di mana pria itu berada.


Paloma merangkak semakin cepat. Samar-samar, dia melihat sebuah batu besar tak jauh di depannya. Paloma memaksakan diri mendekati batu tadi. Setibanya di sana, wanita itu duduk sambil bersandar.


Namun, baru saja Paloma mengatur laju napasnya, tiba-tiba terdengar suara ledakan yang sangat dahsyat. Paloma begitu terkejut dan menoleh ke arah mobil. “Ya, Tuhan. Luz Maria,” rintihnya.


Dengan sedikit kekuatan yang tersisa, Paloma berusaha membuka mata lebar-lebar. Tampaklah mobil sewaan yang ditumpangi bersama Rafael tadi, sudah berubah menjadi bunga api raksasa. Asap hitam pekat membumbung tinggi dan bergerak cepat, seolah-olah hendak menelan Paloma.


Dengan sisa-sisa kekuatan, Paloma bangkit dan berlari. Namun, apa daya. Gerakan asap hitam tadi terlalu cepat, bagi Paloma yang lemah karena sudah dipenuhi luka. Tubuh ramping itu menghilang tertelan pekatnya.


Akhirnya, kesadaran Paloma menghilang. Kegelapan terus menyelimuti, sampai akhirnya dia kembali membuka mata. Hal pertama yang dilihatnya saat itu adalah langit-langit ruangan berwarna putih.


Paloma menoleh ke samping, di mana terdapat tirai yang bergerak-gerak tertiup angin. Telinganya tiba-tiba berdenging, mengakibatkan rasa sakit kepala yang luar biasa. Tak hanya itu, bau obat-obatan menusuk indera penciumannya, hingga semakin menambah penderitaan.


“Rafael,” panggil Paloma lemah. “Kau di mana?”


“Ya, Tuhan. Anakku. Akhirnya kau sadar juga.” Sayang sekali, bukan suara Rafael yang terdengar oleh Paloma, melainkan Rogelio.


“Ayah?” Paloma menahan pusing. Dia mengalihkan pandangan ke sisi lain. Rogelio terlihat menangis, seraya mencengkeram tepian ranjang. “Ayah, di mana Rafael?” ulang Paloma.


“Sudah sebelas hari kau tak sadarkan diri, Nak,” ujar Rogelio terus menangis.


“Di mana Rafael?” desak Paloma dengan nada bicara yang semakin lemah.


“Suamimu … dia … dia sudah terbaring dengan tenang di dekat Nilo,” jawab Rogelio, yang membuat Paloma kembali terisap ke dalam kegelapan jauh lebih pekat dari sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2