
“Ini gawat,” gumam Sebastian. Bahasa tubuh pria itu terlihat gusar.
“Ada apa?” tanya Paloma yang ikut was-was.
“Abelardo memberitahuku bahwa Elazar menghilang. Sepertinya, pria itu melarikan diri,” jawab Sebastian seraya menatap gamang pada wanita cantik di hadapannya.
“Apa maksudmu?” Paloma mulai memasang raut tegang.
“Mungkin dia telah menyadari, bahwa semua perbuatan jahat yang dilakukannya sudah diketahui. Jadi, sebelum ditangkap, Elazar lebih dulu melarikan diri,” jelas Sebastian.
“Apakah dia orang yang berbahaya?” tanya Paloma. Wanita itu terlihat semakin resah.
“Aku sudah mengenalnya sejak lama. Jujur saja bahwa aku sama sekali tak mengira jika dia akan berbuat senekat ini,” ujar Sebastian seraya menggeleng pelan. “Selama ini, dia selalu bersikap baik dan tak pernah berbuat macam-macam,” lanjutnya. "Elazar adalah pria yang cerdas juga pekerja keras. Karena itulah Tatiana tertarik padanya. Sama seperti terhadap Rafael," terang Sebastian. Sorot matanya terlihat kurang nyaman, setelah berkata demikian. Namun, untungnya Paloma seperti tidak terpengaruh sama sekali.
“Lalu, apa kenapa dia berbuat demikian? Kenapa Elazar ingin mencelakai kami?” Pikiran Paloma semakin tak menentu. Tujuannya yang datang untuk menjenguk Sebastian, berubah jadi membahas tentang Elazar.
“Hanya dia dan Tuhan yang tahu. Namun, menurutku ini ada hubungannya dengan Rafael yang sempat menjalin cinta dan menikahi Tatiana,” ujar Sebastian.
“Aku jadi takut ….” Paloma menatap was-was pada Sebastian. “Bolehkah aku menelepon Kalida dan menyuruhnya untuk ikut kemari?” pintanya.
“Tentu, Sayang. Tinggal saja di sini sampai Elazar ditangkap dan keadaan benar-benar aman. Akan tetapi, kurasa Kalida juga aman berada di sana. Polisi sudah menurunkan personilnya," ujar Sebastian yakin.
“Terima kasih, Sebastian. Aku tak tahu lagi bagaimana seandainya jika tak ada dirimu,” ucap Paloma dengan sorot penuh kecemasan.
“Jangan kau pikirkan. Aku sudah sangat bahagia bisa berada di dekatmu dan Luz Maria,” balas Sebastian sambil mendekat dan mencium bibir Paloma.
Sayangnya, pertautan manis itu harus terjeda ketika Martin datang dengan tergopoh-gopoh. “Tuan, ada seseorang yang merusak sisi utara pagar perkebunan,” lapor Martin terengah.
__ADS_1
“Merusak bagaimana?” tanya Sebastian.
“Entah apa maksudnya, Tuan. Orang itu melemparkan bom molotov hingga pagar anyaman besinya berlubang. Bom itu juga merusak beberapa buah pohon zaitun,” terang Martin.
“Suruh beberapa orang penjaga memeriksa. Aku akan menghubungi Abelardo,” titah Sebastian.
“Baik, Tuan.” Martin mengangguk. Dia langsung melaksanakan perintah sang majikan.
“Ayo, Paloma. Ikut aku.” Tanpa menunggu tanggapan janda cantik itu, Sebastian langsung menuntun tangan Paloma. Dia membawanya masuk ke kamar pribadi.
Sambil menggendong Luz Maria, Sebastian membuka kunci pintu kamar. “Beristirahatlah di sini. Aku akan menyuruh anak buahku untuk mengambil perlengkapan Luz Maria ke rumahmu." Setelah berkata demikian, Sebastian menyerahkan Luz Maria kepada Paloma. Dia berlalu menuju ruang kerja dengan terburu-buru.
Di sana, Sebastian menghubungi Abelardo serta menjelaskan semua kronologis kejadian di perkebunan. Dia mengakhiri panggilan, setelah Abelardo berjanji akan mengirimkan anak buahnya ke Casa del Castaneda.
Baru saja Sebastian hendak keluar dari ruang kerja dan membuka pintu, tiba-tiba dari arah belakang ada seseorang menerjang tubuh tegapnya.
Duda tampan yang dalam kondisi tidak siap itu hampir tersungkur. Namun, dia segera berpegangan pada gagang pintu, sehingga dirinya tidak jadi terjatuh. Sebagai gantinya, luka di pelipis yang masih menganga, kembali berdarah akibat menabrak daun pintu.
“Area perkebunan dan rumah selalu dalam penjagaan ketat. Dari mana kau masuk?” desis Sebastian. Sorot matanya tajam menatap Elazar.
“Itu adalah bukti bahwa aku jauh lebih hebat dan cerdas dibandingkan dirimu, Sebastian." Elazar tertawa mengejek sambil berjalan mendekat. Satu tangannya diam-diam meraih sesuatu dari balik pinggang. Dalam gerakan secepat kilat, Elazar mengeluarkan sepucuk senjata api dan mengarahkan moncongnya tepat ke arah kepala Sebastian.
“Seharusnya kau tidak mengganggu rencanaku, Teman. Sayang sekali, karena aku harus menghabisi sahabat lama sebaik dirimu.” Elazar memperlihatkan raut menyesal. Namun, sesaat kemudian pria itu tertawa terbahak-bahak. “Kenapa kau harus mencampuri urusanku?” geram Elazar seraya menarik pelatuk pistol.
“Tatiana adalah temanku juga. Dia meminta bantuan atas kesalahan yang tidak diperbuatnya,” jawab Sebastian kalem.
“Satu pelajaran penting, jangan pernah membela perempuan ****** yang hanya mengejar pria-pria muda. Dia membuangku begitu saja, setelah menemukan Rafael Hernandez,” ujar Elazar.
__ADS_1
“Karena alasan itukah kau mendendam pada Rafael?” pancing Sebastian.
“Tentu saja! Dia sudah menghancurkan hidup dan mencuri wanitaku! Tak ada balasan yang lebih pantas selain kematian." Elazar tertawa meremehkan.
“Lalu, kenapa Paloma kau ikut sertakan juga?” tanya Sebastian. Diam-diam tangannya bergerak pelan, masuk ke saku celana. Dia menekan alat khusus yang berfungsi untuk menyalakan alarm tanda bahaya. Alat itu akan berbunyi nyaring ke seluruh sudut bangunan mewah beserta perkebunan.
“Awalnya, Paloma tidak ada dalam rencanaku. Dia masuk tanpa sengaja. Wanita itu seperti oase di saat aku dahaga. Namun, lagi-lagi kau mengacaukan semuanya! Dia jatuh cinta padamu dan kau mencintainya!” Elazar mulai kehilangan kendali. Dia menggerakkan moncong pistolnya ke dada kiri Sebastian.
“Aku ingin ketampananmu tetap terlihat, meskipun kau sebentar lagi akan menjadi mayat,” seringai Elazar puas. “Menembak jantungmu adalah keputusan yang tepat, supaya Paloma tetap bisa meratap sambil menatap wajahmu,” ucap Elazar lagi sambil tertawa nyaring.
“Kau gila rupanya. Apakah kau tidak berpikir bahwa sewaktu-waktu polisi akan datang?” Sebastian memandang heran pada Elazar.
“Aku sudah tidak memedulikan apapun lagi, Sebastian. Tatiana sudah mengalami penderitaan. Suami brengseknya pun telah mati. Sebentar lagi, kau akan segera menyusul. Aku tak peduli walaupun harus membusuk di penjara!” Suara Elazar terdengar nyaring, bersamaan dengan pistol yang menyalak.
Elazar tak tahu bahwa saat itu alarm bahaya sudah berbunyi sejak tadi. Senjata apinya meletus, tepat pada saat anak buah Sebastian menyerbu masuk ke dalam ruang kerja.
Mereka memberondong Elazar menggunakan peluru karet. Elazar pun dapat dilumpuhkan dengan mudah. Sayang peluru tajam sudah terlanjur dimuntahkan dan mengenai lengan Sebastian.
Pria itu meringis kesakitan. Namun, dia berusaha tetap berdiri. Dia masih bisa menyaksikan Elazar yang disergap oleh anak buahnya beserta beberapa orang polisi.
Tangan pengusaha muda itu diikat ke belakang menggunakan borgol khusus dalam keadaan tidak sadar. Mereka lalu menggotong tubuh yang tak berdaya itu keluar.
Sebastian memperhatikan sampai Elazar dibaringkan di atas brankar, lalu dimasukkan ke dalam ambulans polisi. Beberapa orang anak buahnya menanyakan keadaan dirinya.
Petugas dari kepolisian juga menawarkan agar Sebastian dibawa ke rumah sakit. Akan tetapi, pria itu menolak tawaran tadi dengan yakin.
Sesaat kemudian, tampak Leandra yang berlari menghampiri Sebastian sambil berteriak histeris. “Kita harus segera membawamu ke rumah sakit, Tuan,” serunya panik.
__ADS_1
“Minggirlah, Leandra!” ujar Sebastian sambil terus berjalan menyusuri lorong. Akan tetapi, Leandra tak menghiraukan. Dia terus mengikuti langkah tuannya hingga berhenti tepat di depan pintu kamar pria itu.
Sebastian tak ambil pusing dengan keberadaan Leandra di sana. Dia hanya fokus membuka pintu kamar, kemudian tersenyum lembut saat melihat Paloma berlari ke arahnya. “Sayangku,” ucap Sebastian, sebelum ambruk di dekat kaki wanita cantik itu.