
Rafael dan Paloma sudah kembali ke Kediaman Rogelio. Paloma keluar dari mobil terlebih dulu. Dia tak menunggu hingga Rafael membukakan pintu untuknya. Paloma bahkan melangkah masuk tanpa memedulikan pria yang berusaha untuk mengiringi langkahnya.
“Paloma, tunggu.” Rafael berusaha meraih tangan sang istri.
Namun, wanita itu segera menepiskan dengan kasar. “Jangan pernah menyentuhku!” sergahnya dengan tatapan tajam. Paloma kembali membalikkan badan. Dia melanjutkan langkah menuju kamarnya. Saat itu, wanita bermata hazel tersebut hanya ingin mengurung dan menyendiri di dalam sana.
Akan tetapi, niat Paloma sepertinya tak bisa segera dia laksanakan. Pasalnya, Rogelio muncul di ruangan itu. Dia menghampiri Paloma yang mau tak mau harus menyembunyikan segala kekesalan dalam hati. “Kalian sudah pulang rupanya. Bagaimana?” tanya pria paruh baya tersebut. Rogelio terlihat sangat penasaran, dengan berita yang dibawa oleh pasangan suami istri tadi.
“Aku sudah ke tempat Pengacara Ramos dan gereja. Kami telah berbicara dengan pastor. Dia memberikan waktu selama tiga bulan bagi kami untuk kembali merenungkan keputusan rujuk ini, berhubung ….” Rafael menjeda kata-katanya. Dia melirik Paloma yang tak ikut berbicara.
Rogelio ikut mengarahkan perhatian kepada Paloma. Dia sudah memahami maksud Rafael, meskipun pria itu tak mengatakan apapun. Rogelio tersenyum simpul. Dia mengangguk pelan. “Baiklah. Aku hanya ingin memberitahu kalian bahwa akhir pekan ini kita akan mengadakan jamuan besar. Aku akan mengundang kolega serta teman-teman lama. Kuharap, kalian bisa bekerja sama dengan baik. Jamuan ini kupersembahkan sebagai rasa syukur atas keputusan rujuk yang ….”
“Aku permisi dulu, Ayah. Perutku rasanya sangat mual dan aku ingin muntah.” Tanpa menunggu jawaban dari Rogelio, Paloma bergegas menuju kamarnya.
“Astaga.” Rogelio menggeleng pelan.
Sementara, Rafael hanya tersenyum kecil. “Dia sudah marah-marah sejak tadi. Paloma bahkan sempat berkata dengan nada tinggi di hadapan pastor,” terang pria tampan bermata abu-abu itu.
“Beri dia waktu. Lambat-laun juga Paloma pasti bisa menerimamu lagi. Kau harus berjuang untuk membuktikan seberapa serius dirimu. Jangan sampai mengecewakan apalagi mempermalukanku. Aku sudah membelamu di depan dia. Ingat, Rafael. Jika sampai kau mengulangi kebodohan seperti dulu lagi, maka aku tak akan segan untuk membunuhmu,” ancam Rogelio dengan tegas. Pria itu membalikkan badan. Rogelio bermaksud untuk berlalu dari hadapan putra asuhnya tersebut.
“Tenang saja, Ayah,” sahut Rafael. “Kali ini, aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan berikan untuk memperbaiki semuanya. Aku tidak akan pernah membiarkan Paloma diambil pria lain, karena dia terlalu berharga.”
Rogelio tertegun mendengar ucapan Rafael. Dia menoleh. Tatapannya dipenuhi dengan keraguan. Rogelio masih belum dapat menangkap maksud anak asuhnya tersebut berkata demikian. “Aku sudah mengundang Tuan Sebastian Cruz Castaneda untuk datang dalam jamuan kali ini. Dia bersedia hadir. Terlebih, karena kami juga akan merayakan kerja sama yang baru dijalin atas bantuan kalian berdua. Kau dan Paloma. Aku ingin kalian menjadi rekan kerja yang solid dalam membangun bisnis ini.”
Rafael terdiam sesaat, sebelum akhirnya tersenyum simpul. Ada secercah kebahagiaan dalam dukungan yang diberikan sang ayah. Rasa syukur Rafael tak akan pernah habis. Di balik segala kesalahan yang telah dilakukannya, Rafael ternyata masih dikelilingi orang-orang berhati mulia seperti Rogelio.
Pria paruh baya itu boleh saja menghajarnya hingga babak belur. Namun, ternyata rasa kasih dalam hati Rogelio tak pernah berubah. Di balik kemarahan yang ditunjukkannya, Rogelio masih menyimpan perasaan cinta teramat besar, kepada putra yang selama ini telah menemani hari-harinya yang sunyi.
Sementara, Paloma duduk termenung di kursi dekat jendela kamar. Dia memandang langit yang tak lama lagi akan berubah gelap. Senja sebentar lagi turun menaungi Kota Chihuahua. Rasa sepi dan kemarahan yang belum tersalurkan sepenuhnya, membuat wanita muda berambut pendek itu hanya dapat menangis. Paloma menyembunyikan wajahnya, pada lipatan tangan yang diletakkan di atas lutut.
__ADS_1
“Ayah, ibu …,” rintihnya pelan. “Nilo ….” Paloma juga menyebut nama sang putra tercinta yang telah tiada. “Sebastian.”
Ingatan Paloma kembali tertuju pada sang pemilik Casa del Castaneda. Dia mengangkat wajah, lalu mengusap air mata yang membasahi pipi. Paloma beranjak dari tempat duduknya. Dia melangkah ke dekat meja, lalu mengambil buku yang Sebastian berikan padanya. Paloma kembali membuka lembaran yang belum sempat dia baca.
Wanita muda bermata hazel itu menghabiskan banyak waktu dengan membaca buku tadi. Dia bahkan tak keluar kamar untuk makan malam. Paloma tak membuka pintu, saat terdengar beberapa kali ketukan di pintu. Dia terlalu larut dalam setiap untaian kata yang sedang dibacanya. Paloma bahkan tertidur dengan tanpa dia sadari.
Cahaya mentari pagi menyelinap masuk lewat jendela kaca dengan tirai yang terbuka. Paloma yang tidur dengan posisi duduk di kursi, perlahan membuka matanya. Wanita muda itu berusaha keras untuk melepaskan rasa kantuk yang masih melekat. Membuat sepasang indera penglihatannya terasa begitu berat.
Paloma mengeluh pelan saat merasakan tubuhnya yang pegal. Dia bahkan merasakan sakit di beberapa bagian. Namun, suara berisik para penghuni rumah, membuat rasa penasaran Paloma seketika muncul. Tak biasanya, Kediaman Rogelio seramai seperti pagi itu.
Paloma bangkit, lalu beranjak ke dalam kamar mandi. Dia membasuh wajah serta menggosok gigi. Setelah merasa jauh lebih segar, barulah wanita itu keluar kamar. Benar saja, Paloma melihat ada kesibukan tak biasa di dalam bangunan megah milik sang ayah mertua.
“Ada apa ini?” tanya Paloma penasaran.
“Kami sedang mempersiapkan untuk acara jamuan akhir pekan ini, Nyonya,” jawab salah seorang pelayan di sela pekerjaannya.
“Ya, Nyonya. Tuan Rogelio akan mengadakan pesta besar. Karena itu, kami mempersiapkannya dari sekarang,” jelas si pelayan tadi. Dia kembali pada pekerjaannya, setelah menjawab pertanyaan Paloma.
Merasa kurang puas dengan penjelasan si pelayan. Paloma bermaksud untuk menemui Rogelio. Namun, perutnya terasa lapar. Dia belum mengisi perut dari sejak kemarin sore. Paloma memutuskan untuk ke ruang makan terlebih dulu. Di sana, dia mengambil beberapa makanan yang masih tersedia, berhubung pelayan belum sempat membereskannya. Bisa jadi, memang sengaja tidak dibereskan karena dia tidak ikut sarapan bersama Rogelio dan Rafael.
Selagi Paloma menikmati santap paginya, tiba-tiba Rafael melintas di sana. Pria itu tersenyum, kemudian duduk di kursi dekat Paloma. “Selamat pagi,” sapanya.
Paloma yang tengah makan dengan tenang, seketika terdiam mematung. Dia menoleh sesaat kepada Rafael, lalu segera memalingkan muka. Paloma melihat pria itu mengambil menu sarapan yang sama dengan dirinya. “Akhirnya kau keluar dari kamar. Jika tidak, maka aku harus ikut berpuasa lagi,” ucap Rafael seraya menyantap makanannya dengan lahap. Dia terlihat sangat kelaparan.
“Apa maksudmu?” tanya Paloma tanpa menoleh. Dia melanjutkan santap paginya, tanpa merasa terganggu oleh kehadiran pria tampan berambut cokelat tadi.
“Aku sangat kelaparan, karena tidak makan sejak semalam,” sahut Rafael dengan mulut penuh makanan.
“Jangan konyol! Tidak ada seorang pun yang melarangmu makan di sini,” sanggah Paloma ketus.
__ADS_1
“Memang tidak ada,” balas Rafael tanpa berhenti mengunyah. Dia seperti seseorang yang sudah satu tahun tidak menemukan makanan enak. Rafael bahkan menambah porsi makannya. “Aku tidak bisa makan jika kau juga tidak,” ucap pria itu kemudian
Bukannya tersanjung, Paloma justru terlihat jengkel dengan ucapan Rafael. Setelah menghabiskan makanannya, dia lalu meneguk minuman. “Jangan berlebihan. Kau pikir aku akan terkesan dengan apa yang kau lakukan ini? Tidak sama sekali, Tuan sok baik!” Paloma mendelik tajam, lalu beranjak dari duduknya. Dia bermaksud untuk pergi meninggalkan Rafael sendirian di meja makan.
Akan tetapi, baru sekitar dua langkah wanita itu menjauh, Paloma kembali tertegun saat mendengar Rafael berbicara padanya. “Kuharap kau tidak lupa, bahwa ayah akan mengadakan jamuan akhir pekan ini. Jika kau mau, kita bisa membeli gaun baru untukmu,” tawar Rafael sambil terus makan.
Paloma yang masih tertegun di tempatnya, segera membalikkan badan. “Tidak usah,” jawabnya ketus.
“Apa kau yakin tak ingin membeli gaun pesta yang indah? Jangan sampai kau mempermalukan dirimu dan ayah. Pada acara jamuan nanti, akan ada banyak tamu undangan dari kalangan kolega, pengusaha besar Meksiko, dan beberapa teman ayah. Mereka semua orang penting.” Rafael menoleh dan memandang Paloma dengan tatapan kalem.
“Aku tidak peduli. Aku tak akan mengikuti jamuan itu, karena hari ini juga aku akan kembali ke rumah ayahku,” tegas Paloma. Dia segera membalikkan badan.
Mendengar ancaman dari Paloma, Rafael langsung beranjak dari kursi. Dia menyusul wanita itu yang melanjutkan niatnya menuju kamar. Rafael mengikuti langkah terburu-buru Paloma, sampai dia dapat meraih pergelangan tangan istrinya.
“Sudah kukatakan agar jangan menyentuhku!” sentak Paloma sembari menepiskan tangan Rafael.
“Kau tidak boleh ke manapun!” cegah Rafael dengan tegas. “Aku tak akan membiarkanmu pergi!”
“Kau tidak berhak melarang atau mengaturku! Sejak kau mengabaikan serta membiarkanku dan Nilo hidup berdua, sejak saat itu pula aku sudah tak berharap apapun darimu!” tolak Paloma. Dia ingin melampiaskan segala unek-unek yang sejak kemarin ditahan dalam hati.
“Aku sudah meminta maaf. Karena itu pula, aku ingin agar kita membatalkan perceraian ini. Biarkan diriku memperbaiki semuanya. Harus berapa kali kukatakan itu padamu agar kau bersedia memahaminya?”
“Tak ada satu hal pun yang harus kupahami darimu! Kau! Entah apa yang ada dalam pikiranmu kali ini! Kenapa kau tak membiarkanku hidup dengan tenang? Biarkan aku meraih kebahagiaan yang selama ini tidak pernah kudapatkan!”
Rafael terdiam dengan tatapan lekat kepada wanita di hadapannya. “Aku yang akan membawa kebahagiaan itu untukmu. Ingat baik-baik janjiku.” Rafael kembali meyakinkan Paloma.
“Persetan dengan semua janjimu!” cibir Paloma. Dia membalikkan badan. Paloma bermaksud hendak melanjutkan langkah. Namun, lagi-lagi Rafael mencegahnya.
Rafael kembali meraih tangan Paloma. Dia menariknya cukup kuat, hingga wanita itu mundur. Rafael merengkuh pinggang Paloma, kemudian mendekapnya erat. Dia memeluk istri yang selama ini telah dirinya abaikan.
__ADS_1