
Leandra melangkah masuk penuh percaya diri ke ruang kerja. Sambil membawa kotak P3K, dia mendekat ke arah Sebastian. Sementara, Paloma langsung memalingkan muka saat Leandra meminta Sebastian untuk duduk.
“Nanti saja. Aku sedang ada tamu,” tolak Sebastian tak nyaman. Pria itu merasa ragu saat harus menuruti Leandra. Dia terlihat tak enak, karena ada Paloma di sana.
“Aku hanya takut jika nanti Anda sibuk, Tuan. Jadwal Anda cukup padat hari ini,” ujar Leandra. Tanpa sungkan, asisten pribadi sang tuan tanah itu mengoleskan kapas untuk membersihkan luka. Dia juga mengoleskan salep pada luka-luka lebam Sebastian.
Sementara Paloma semakin merasa tak nyaman, sehingga dirinya memutuskan untuk keluar dari ruang kerja itu sambil tetap menggendong Luz Maria.
“Paloma!” panggil Sebastian nyaring.
Leandra sama sekali tak menduga bahwa Sebastian akan bergerak sedemikian cepat. Dia berdiri untuk mengejar Paloma, hingga kotak P3K yang Leandra letakkan di dekat kursi Sebastian jatuh karena tersenggol oleh gerak tubuh pria itu. Isinya pun berhamburan ke lantai berlapis ubin dengan motif seni mozaik.
“Tuan!” Leandra sudah hendak menyusul.
Akan tetapi, Sebastian langsung berbalik sambil mengarahkan telunjuknya tepat ke wajah asisten cantik tersebut.
“Tetap di tempatmu, Leandra. Aku tidak akan segan untuk memecatmu jika kau bersikap berlebihan!” tegur Sebastian. Dia menyesali keputusannya tadi, yang menurut saja saat Leandra mengobati luka-lukanya di depan Paloma.
Sebastian tak memikirkan hal lain lagi selain menyusul Paloma. Beruntung jarak mereka tak begitu jauh, karena Paloma tak bisa bergerak cepat. Padahal, wanita itu berjalan dengan setengah berlari sambil menggendong Luz Maria.
“Paloma! Tunggu!” seru Sebastian, saat ibu satu anak itu hampir berhasil melewati pintu depan. Pria rupawan itu berhasil mengulurkan tangan dan menahan lengan wanita cantik bermata hazel tersebut.
“Tolonglah. Jangan bersikap seperti ini, Sayang,” pinta Sebastian lembut.
Mau tak mau, Paloma berbalik dan memandang Sebastian. Dia memasang raut tak suka, atas apa yang disaksikannya tadi.
“Aku tak ingin mengganggu kemesraanmu bersama wanita itu,” ujar Paloma, seraya berusaha menepiskan tangan Sebastian.
“Ya, Tuhan." Sebastian berdecak pelan seraya menggelengkan kepala. "Aku sama sekali tak menyangka bahwa kau bisa cemburu juga,” ujarnya. Tanpa Paloma duga, Sebastian malah tertawa geli.
“Kau memang menyebalkan, Sebastian!” Paloma memukul lengan pria itu sambil mendengkus kesal. Dia berbalik dan hendak berlalu. Namun, lagi-lagi geraknya harus terhenti, saat Luz Maria malah mencengkeram erat bagian depan kemeja Sebastian.
“Lihatlah, Sayang. Putrimu tak ingin pergi,” ujar Sebastian lagi. Dia tertawa sambil mengulurkan tangan kepada Luz Maria. Balita itu tak menolak sama sekali, ketika Sebastian mengulurkan tangan padanya. Dia malah melompat ke gendongan duda tampan tersebut
“Luz Maria ...," keluh Paloma, ketika putrinya malah bercanda dengan Sebastian. “Ayo, kita pulang,” ajaknya setengah memaksa.
__ADS_1
Akan tetapi, balita cantik itu malah melingkarkan tangan mungilnya di leher Sebastian. “Papa,” panggilnya dengan pelafalan yang belum jelas.
“Dia bukan papamu, Luz Maria. Papamu sudah tenang di ....”
“Aku bisa menjadi pengganti papamu, Nak,” sela Sebastian sebelum Paloma selesai berbicara.
“Yaitu dengan menikahi ibumu,” Sebastian langsung mengalihkan tatapannya kepada Paloma.
“Sebastian, aku ....”
“Aku akan berbicara dengan Tuan Rogelio Gallardo secepatnya." Sebastian kembali memotong kalimat Paloma.
“Aku tak ingin menunggu lebih lama lagi, Paloma. Aku tak suka saat kau cemburu atau salah paham seperti tadi,” lanjutnya lagi.
“Aku masih ....”
“Rafael pasti mengerti. Dia juga pasti berharap agar kau bahagia,” tegas Sebastian.
“Lalu, bagaimana dengan asistenmu?” tanya Paloma ragu.
Leandra berdiri beberapa meter di belakang Sebastian. Namun, dia masih dapat mendengar dengan jelas, apa yang sang majikan katakan. Mata indah Leandra berkaca-kaca. Dia hendak mengungkapkan segala rasa yang berkecamuk di dalam hatinya. Akan tetapi, wanita itu tak dapat mengeluarkan sepatah kata pun.
“Kebetulan kau ada di sini, Leandra. Tolong beritahu Martin jika semua masalah perkebunan sudah kuatasi. Dia bisa mencairkan gaji pekerja besok pagi. Awasi pembagiannya,” titah Sebastian, yang tetap bersikap biasa saja seakan tak terjadi apapun sebelumnya.
“A-apa Anda hendak pergi lagi, Tuan?” tanya Leandra terbata.
“Ya. Aku akan menemani bidadari kecil ini bermain,” jawab Sebastian, seraya menyunggingkan senyuman yang begitu menawan.
“Oh." Hanya kata itu yang Leandra keluar dari bibir Leandra, sebelum mengangguk dan berbalik meninggalkan sang majikan.
“Kau lihat, Paloma? Aku sudah menegaskan kepadanya.” Sebastian yang awalnya memperhatikan Leandra hingga sosoknya menghilang, kini berpindah pada janda Rafael Hernandez tersebut.
“Kau tak perlu melakukan itu, Sebastian." Paloma menggeleng lemah. “Aku belum siap untuk ....”
“Aku akan memaksa!” tegas Sebastian seraya berjalan mendekat sampai hembusan napasnya menyapu wajah cantik Paloma.
__ADS_1
“Aku tak akan melepaskanmu lagi, apapun alasan dan keadaannya. Namun, jika kau tetap menolak, maka aku akan pergi. Aku akan pergi jauh, sehingga kau tidak akan dapat bertemu atau berbicara lagi denganku selamanya,” ancam Sebastian dengan sorot yang tampak begitu serius.
“Sebastian, aku ....” Paloma terkesiap. Ada rasa takut yang demikian besar memenuhi ruang hatinya. “Tidak. Jangan,” ucapnya dengan segera. Dia tidak bisa kehilangan Sebastian. Disadari atau tidak, pria di hadapannya itu sudah menjadi sosok yang sangat berpengaruh, dan berarti dalam hidupnya.
“Kalau begitu, menikahlah denganku,” bujuk Sebastian.
“Bagaimana dengan ayahku?” Paloma menggigit bibirnya.
“Kita akan berbicara dengannya. Kita hadapi semua ini bersama,” sahut Sebastian. Dia tak pernah merasa seyakin itu seumur hidupnya.
Pria tampan tersebut kembali tersenyum, lalu berniat mencium bibir Paloma. Sayang, keinginannya itu harus terganggu, oleh dering telepon genggam yang tersimpan di saku celana.
“Ah, mengganggu saja!” gerutu Sebastian. Dengan malas, dia meraih ponsel dan terbelalak membaca nama di layar. “Abelardo!” serunya, sesaat setelah menerima panggilan tersebut.
“Ada berita bagus sekaligus buruk untukmu!” ujar kepala polisi wilayah Porcuna itu tanpa basa-basi.
“Katakan, Abelardo,” sahut Sebastian tak sabar.
“Berita bagusnya adalah timku berhasil mengidentifikasi mobil SUV yang berada di bengkel. Dapat dipastikan bahwa itu adalah mobil yang sama dengan yang menabrak Tuan Rafael Hernandez,” jelas Abelardo.
“Syukurlah.” Sebastian meraup wajahnya riang.
“Oh, ya. Satu lagi. Para pria yang menyerangmu beberapa hari lalu juga merupakan suruhan Tuan Elazar Blanco,” lanjut Abelardo.
“Benarkah?” Sebastian tampak terkejut sekaligus tak percaya.
“Ya, Sebastian. Namun, tunggu. Kejutan tak berhenti sampai di situ,” ujar Abelardo.
“Apakah ini bagian dari berita buruknya?” tebak Sebastian.
“Bukan, Teman. Dengarkan dulu." Keadaan hening sejenak, sebelum Abelardo melanjutkan penjelasannya. “Aku sudah mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Tuan Elazar Blanco. Kami juga sudah bergerak menuju rumahnya. Ternyata Elazar lebih dulu menghilang,” tutur Abelardo.
“Apa maksudnya menghilang?” Sebastian mengernyitkan kening.
“Dia melarikan diri, Sebastian. Timku sudah menyisir area sekeliling rumahnya. Namun, kami tidak menemukan siapa pun, sehingga aku harus menerbitkan surat buronan atas nama Elazar Ganimedes Blanco,” jawab Abelardo.
__ADS_1