
“Apa kau ingin menyelidikinya?” tawar Sebastian seraya mengangkat sebelah alis.
“Um ...." Paloma menunduk, memperhatikan Luz Maria yang sudah tertidur di pangkuannya. “Entahlah, Sebastian. Aku ....”
“Aku akan menemanimu. Bawa saja Luz Maria. Aku ingin mengajak putrimu jalan-jalan,” potong Sebastian.
“Aku ....” Paloma terdengar ragu. Sebenarnya, banyak hal yang harus dia urus esok hari. Mulai dari mengajukan izin usaha, sampai bertemu dengan konsultan pribadi untuk perencanaan dan uji kelayakan pabrik. Semua itu harus Paloma lakukan seorang diri, demi membuktikan pada sang ayah bahwa dirinya mampu.
“Jangan khawatir, Paloma. Kau tidak sendirian di sini. Ada aku yang siap membantu dan mendukungmu,” ujar Sebastian, yang seakan memahami apa yang tengah Paloma pikirkan.
“Aku dikejar waktu, Sebastian. Aku harus secepatnya menghasilkan uang di sini atau akan dideportasi,” keluh Paloma.
“Jangan khawatirkan masalah itu. Aku memiliki banyak anak buah yang bersedia menjalankan apapun perintahku. Tunjuk dan suruh saja mereka melakukan apa yang dirimu inginkan. Kau tak perlu terjun dan menjalani semuanya sendiri,” saran Sebastian lembut.
“Sejujurnya, aku begitu penasaran dengan dalang di balik kasus kecelakaan mengerikan yang menimpaku dan Rafael." Sebastian mengusap-usap dagu dengan janggut yang mulai menebal.
“Apakah mungkin Tuan Blanco terlibat?” pikir Paloma ragu.
“Segala kemungkinan itu pasti ada. Karena itulah, untuk menuntaskan rasa ingin tahu yang besar itu, maka kita harus menyelidikinya besok,” bujuk Sebastian.
“Lalu, bagaimana tentang pendirian pabrik?"
“Biar anak buahku yang bekerja. Mereka akan mencarikanmu konsultan usaha yang terbaik di bidangnya, sehingga kau bisa lebih leluasa dalam mengikuti perkembangan kasus ini bersamaku,” ujar Sebastian meyakinkan Paloma.
Paloma menoleh dan memperhatikan pria yang duduk di sampingnya. Dia tak menangkap hal lain, selain kesungguhan dan harapan yang begitu besar dari pria tersebut. “Sebastian ... aku. Baiklah,” putus Paloma akhirnya setuju.
“Kujemput kau bersama Luz Maria, besok pagi,” tukas Sebastian, lalu menggenggam jemari Paloma erat sebelum pergi.
“Apa kau akan pulang ke perkebunan?” Paloma melontarkan pertanyaan bodoh kepada Sebastian, ketika pria itu berdiri lalu melangkah ke dekat pintu. Paloma mengikutinya sambil menggendong Luz Maria yang sudah terlelap.
__ADS_1
“Apa kau akan mengizinkanku menginap di sini?” Sebastian balik bertanya. Dia berhasil membuat pipi mulus Paloma langsung merona. Namun, sesaat kemudian pria itu tertawa renyah melihat sikap kikuk Paloma. “Besok kujemput pagi-pagi,” ucapnya sebelum berpamitan.
Keesokan harinya.
Pagi-pagi sekali, Sebastian sudah tiba di rumah Paloma. Pria itu seakan tak memiliki rasa lelah sama sekali. Dia bahkan meminta Kalida agar tidak perlu ikut bersama mereka. “Aku yang akan menjaga Luz Maria,” ucap Sebastian terdengar meyakinkan.
“Baiklah." Paloma menoleh pada Kalida. “Jaga rumah baik-baik selama aku pergi,” pesannya.
Betapa bahagianya hati Sebastian saat itu. Dia mendudukkan Luz Maria di kursi khusus penuh semangat. “Setelah mengisi perut, kita akan mendatangi showroom itu,” ujarnya.
Paloma tak membantah. Dia akan menuruti apapun yang pria itu katakan, termasuk saat Sebastian mengajaknya makan di restoran 24 jam. Sebastian bahkan membantu menyuapi Luz Maria.
Selesai sarapan, mereka segera menuju ke showroom. Kebetulan, tempat itu baru saja buka. Pemiliknya sendiri yang menyambut kedatangan Paloma. “Ah! Anda yang datang bersama Tuan Blanco kemarin,” seru si pria seraya mengarahkan telunjuknya pada Paloma. Dia masih mengingat wajah cantik ibunda Luz Maria tersebut.
“Kami kemari karena ingin menanyakan mobil SUV hitam yang sempat Anda ceritakan pada Paloma dan Elazar,” sahut Sebastian tanpa basa-basi sambil menggendong Luz Maria.
“Mobil SUV?” ulang si pemilik showroom seraya berpikir. “Oh, mobil yang dijual oleh Tuan Blanco?” ujarnya.
“Betul sekali. Namun, sayangnya karena kondisi kendaraan itu tak semulus seperti saat Tuan Blanco membawanya kemari. Terdapat banyak goresan pada cat serta bodinya. Bagian depan mobil pun sedikit penyok,” terang Juan, si pemilik showroom.
Paloma terkesiap mendengar penuturan Juan. “Bisakah kulihat mobil itu?” tanyanya tak sabar.
“Anda tertarik ingin membelinya? Namun, setahuku Tuan Blanco memilih mobil Mercedes Benz seri terbaru untuk Anda. Aku bahkan sudah menyuruh anak buahku untuk mengirimnya pagi ini,” jawab Juan.
“Sudah kukatakan bahwa aku menolaknya. Kenapa Anda tetap mengirimkan mobil itu?” protes Paloma sedikit kesal.
“Anda sama sekali tidak memahami karakter Tuan Blanco, Nyonya. Dia tidak suka dibantah dan akan terus melakukan cara apapun agar kemauannya terpenuhi,” jelas Juan. “Bisa jadi saat ini dia pasti sedang menunggu di depan rumah Anda, sambil menunggu kedatangan mobil baru itu.”
“Sudah berapa lama Anda mengenal Tuan Elazar?” tanya Sebastian. Harapannya untuk dapat mengungkap hubungan antara mantan suami Tatiana Vidal dengan mobil SUV itu sangatlah besar.
__ADS_1
“Cukup lama. Sejak dia pertama kali membeli mobil di sini sebagai hadiah ulang tahun istrinya dulu. Sebelum mereka bercerai,” jawab Juan tanpa beban.
“Apakah dia pernah menceritakan sesuatu yang bersifat pribadi pada Anda?” cecar Sebastian.
“Tidak pernah. Namun, Elazar suka memaksakan kehendaknya." Juan tergelak setelah berkata demikian.
“Di mana mobil SUV itu?” tanya Paloma yang mulai tak sabar. Terlebih, dia merasa bahwa Luz Maria mulai terlihat tak nyaman.
“Oh, mobil itu sedang kumodifikasi. Kondisinya harus tampak bagus tanpa cela, supaya bisa kujual lagi,” terang Juan.
“Di mana Anda memodifikasinya?” Bagaikan seorang detektif andal, Sebastian terus menginterogasi si pemilik dealer mobil tersebut.
“Aku memiliki bengkel tak jauh dari sini. Apakah Anda tertarik untuk membelinya?” Mata Juan berbinar saat mengira bahwa Sebastian berminat.
“Harus kulihat dulu seperti apa kondisi awalnya,” tegas Sebastian.
“Baiklah." Juan mengangkat tangan, lalu menjentikkan jari pada salah seorang anak buahnya. “Jaga tempat ini selama aku pergi,” seru Juan. Dia lalu mengarahkan Sebastian dan Paloma ke mobil pribadi yang terparkir di depan showroom.
Juan kemudian membawa Paloma dan Sebastian ke bengkel yang hanya berjarak sekitar lima menit perjalanan. Di sana, Juan segera menunjukkan mobil yang sedang dalam perbaikan tersebut. “Lihatlah, aku sudah memperbaiki bemper depan dan mengecat ulang seluruh bodinya,” tunjuk pemilik showroom itu.
Paloma seketika terpaku melihat penampakan mobil di depannya. Dia memasang raut tak percaya, sampai-sampai dirinya tidak bisa berkata-kata. Kilasan bayangan saat kejadian kecelakaan mengerikan beberapa waktu yang lalu, kembali hadir di benaknya. Satu hal yang paling Paloma ingat adalah bentuk bodi kendaraan, serta lampu depan yang sama persis dengan mobil yang ada di hadapannya saat ini.
“Paloma? Apakah kau baik-baik saja?” tanya Sebastian. Dia khawatir saat melihat raut wajah Paloma yang memucat. “Apakah ini mobil yang menabrak kalian dulu?”
Namun, belum sempat Paloma menjawab, ponselnya lebih dulu berdering. Sehingga Paloma kembali menguasai diri, terlebih saat membaca nama Kalida yang tertera di layar. “Holla. Ada apa, Kalida?" tanya Paloma yang sudah mulai tenang.
“Maaf jika aku mengganggu, nyonya. Akan tetapi, Tuan Blanco memaksa untuk bertemu dengan anda. Padahal, sudah kukatakan bahwa anda sedang keluar berjalan-jalan bersama Tuan Castaneda, tapi ….” Kalida menggantungkan kalimatnya.
“Tapi apa, Kalida?” tanya Paloma tak sabar.
__ADS_1
“Tuan Blanco tak mau pergi. Dia ingin tetap di sini sampai anda datang. Dia juga mengatakan bahwa ada sesuatu yang penting, yang hendak dirinya bicarakan dengan anda,” jelas Kalida.