Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Terlalu Cepat Menilai


__ADS_3

“Paloma?” Sebastian mengurungkan niat saat akan membuka pintu.


“Aku tutup dulu teleponnya. Selamat siang, Sebastian.” Paloma mengakhiri perbincangan itu tanpa mengatakan apapun lagi.


“Apa-apaan ini?” Sebastian menyugar rambutnya. Dia tetap masuk ke mobil. Sebastian tak peduli, meskipun nada bicara Paloma seakan menolak kedatangan dirinya. Dia terus memacu kendaraan, hingga SUV putih itu tiba di depan kediaman milik Elazar. Sebastian segera turun, lalu menemui penjaga pintu gerbang. Dia menanyakan keberadaan sang pemilik bangunan megah dua lantai itu.


“Tuan Elazar sudah berangkat ke Granada bersama dua tamunya. Dia mungkin baru akan kembali nanti sore,” ucap sang penjaga.


Sebastian mengangguk pelan. Dengan raut kecewa, dia masuk ke kendaraan. Duda tampan kaya raya itu mengemudikan mobilnya kembali ke Casa del Castaneda. Dia langsung ke ruang makan, di mana masih terdapat sajian menu makan siang di meja. Sebastian langsung duduk. Dia sudah bersiap memulai santap siang, meskipun raut wajahnya masih terlihat muram.


Sementara, Paloma sudah berada di perjalanan. Seperti saat berangkat tadi pagi, siang ini pun dirinya tak banyak bicara. Paloma lebih banyak menatap ke luar jendela, memikirkan apa yang akan terjadi dalam hidupnya beberapa waktu ke depan. Dia akan kembali menjalani hari-hari di Spanyol. Sama seperti beberapa tahun silam, dengan seorang anak tanpa suami.


“Jadi, kapan Anda berencana kembali ke Meksiko?” tanya Elazar setelah beberapa saat mereka berada dalam kebisuan.


“Lusa,” jawab Rogelio. “Aku sudah terlalu lama di sini. Kemarin-kemarin, aku sempat bingung jika pihak kepolisian tidak bisa memecahkan kasus kecelakaan yang menewaskan Rafael dengan cepat. Namun, sekarang diriku sudah bisa bernapas lega.”


“Aku juga ikut senang, karena mereka sudah berhasil menangkap pelakunya. Semoga dia diberi hukuman yang setimpal,” balas Elazar menanggapi. “Apa Nyonya Hernandez membutuhkan bantuan pengacara? Aku memiliki kenalan beberapa pengacara ternama di Spanyol. Jika mau, aku bisa menghubungi salah satunya,” tawar duda tiga puluh tiga tahun tersebut, seraya melihat Paloma dari pantulan spion dalam.


Paloma yang tadinya asyik memandang ke luar jendela, langsung mengarahkan pandangan ke depan. Saat itu, dia menangkap tatapan Elazar yang tengah tertuju padanya. “Kuucapkan terima kasih, Tuan Blanco. Namun, aku sudah menyewa pengacara sendiri,” balas wanita cantik bermata hazel tersebut biasa saja. Paloma tak menanggapi kebaikan yang ditawarkan Elazar secara berlebihan.


“Oh, baiklah. Namun, jangan sungkan jika kau membutuhkan bantuanku dalam apapun. Aku akan memberikannya dengan senang hati,” ucap mantan suami Tatiana tersebut.


Paloma tersenyum simpul. Akan tetapi, dia tak ingin mudah terkesan dengan segala kebaikan yang pria itu tawarkan. Seperti yang telah dia katakan kepada Rogelio, Paloma akan membatasi diri hingga dia merasa yakin bahwa sudah waktunya untuk kembali membuka hati kepada seorang pria. Saat ini, dia akan fokus mengurus Luz Maria serta bisnis yang akan segera dirintis.

__ADS_1


Dua jam perjalanan tak terasa lama. Mobil sedan hitam yang dikendarai oleh Elazar, telah tiba di halaman rumah sewaan Paloma. Wanita cantik berambut pendek itu langsung keluar tanpa menunggu ada seseorang yang membukakan pintu untuknya. Terlebih, karena dia melihat Luz Maria yang sudah menyambut di teras bersama Kalida.


“Mama!” panggil balita satu setengah tahun itu sambil tertawa lebar. Dia juga bertepuk tangan saking senangnya, karena melihat sang ibu yang telah kembali.


“Ah, Sayangku.” Lelah dan suntuk yang Paloma rasakan sejak tadi, seakan menguap tinggi ke udara. Semuanya sirna saat melihat senyum ceria putri semata wayangnya. Sama seperti dulu, saat Nilo menyambutnya ketika dia pulang bekerja.


“Kau sudah mandi, Luz Maria?” tanya Rogelio yang datang menghampiri bersama Elazar.


“Nona kecil tadi bermain di halaman samping, Tuan. Tubuhnya sangat lengket dan kotor,” terang Kalida.


“Terima kasih, Kalida. Kau sangat bertanggung jawab,” sanjung Paloma diiringi senyum tulus untuk wanita itu.


“Ini sudah tugasku, Nyonya,” balas Kalida merendah. “Apakah Anda ingin kubuatkan minuman?” tawarnya melihat kepada Rogelio dan Elazar secara bergantian.


“Anda ingin minum sesuatu, Tuan Elazar?” tawar Rogelio.


“Beristirahatlah sebentar di sini,” saran Rogelio.


“Um ….” Elazar terlihat sedikit berharap. Mungkin, dia ingin agar Paloma yang meminta demikian padanya. Namun, ternyata ibunda Luz Maria tersebut tak peduli sedikit pun. “Aku rasa, sebaiknya aku segera kembali. Anda dan Nyonya Hernandez juga pasti sangat lelah dan ingin beristirahat,” ujar duda tiga puluh tiga tahun tersebut. Dia kembali melirik Paloma yang masih bersikap tak peduli. Paloma terlalu asyik bermain-main dengan putrinya.


“Mengenai tempat tinggal yang kukatakan tadi, akan kuberikan kabar selanjutnya kepadamu, Nyonya Hernandez,” ucap Elazar lagi. Dia begitu ingin agar Paloma menoleh dan menatapnya.


“Ya. Aku tunggu,” balas Paloma seraya menoleh sesaat, sebelum kembali mengalihkan perhatian kepada Luz Maria.

__ADS_1


Elazar mengembuskan napas pendek. Dia menutupi rasa kecewa yang hadir. Harapannya untuk dapat menatap sepasang mata indah Paloma tak terlaksana. Namun, Elazar masih sempat tersenyum. Terlebih, saat dirinya berpamitan kepada Rogelio.


“Terima kasih banyak atas bantuan Anda, Tuan Elazar,” ucap Rogelio setelah berjabat tangan dengan mantan suami Tatiana Vidal tersebut.


“Jangan terlalu formal, Tuan. Panggil saja Elazar, agar terdengar lebih santai. Lihatlah penampilanku. Banyak yang mengatakan bahwa aku tak seperti seorang pengusaha,” ujarnya mencoba menepis rasa tak nyaman.


‘Ya, kau terlihat sangat unik. Namun, apalah artinya penampilan luar jika kita memiliki segudang prestasi dan potensi cemerlang. Kau masih muda, tapi sudah berhasil meraih kesuksesan yang sangat luar biasa,” sanjung Rogelio seraya menepuk lengan Elazar.


“Anda terlalu berlebihan, Tuan Gallardo,” balas Elazar merendah. “Baiklah. Kalau begitu, aku permisi dulu,” pamitnya. “Selamat sore, Nyonya Hernandez. Selamat sore, Anak manis.” Elazar mengangguk sopan kepada Rogelio, sebelum kembali ke kendaraan


“Pria yang sangat baik,” gumam Rogelio yang masih berdiri sambil terus memperhatikan kepergian Elazar.


“Jangan terlalu cepat menilai seseorang, jika belum mengenalnya dengan baik,” tegur Paloma seakan menyindir halus sang ayah.


“Elazar memang pria yang baik,” balas Rogelio tetap pada penilaiannya.


.


“Itu karena kau menyukainya, Ayah,” ujar Paloma. Dia merasa tak nyaman, dengan sikap berlebihan Rogelio terhadap mantan suami Tatiana tersebut. “Aku tak tahu apa yang menjadi alasanmu, sehingga kau sangat membenci Sebastian. Padahal, dia menghormati keputusanku saat lebih memilih Rafael. Dia tak pernah sekali pun mengusik rumah tangga kami.”


“Kau membela pria itu, karena kau menyukainya,” ujar Rogelio membalikkan kata-kata Paloma.


“Kenyataannya, aku jauh lebih mengenal Sebastian dibanding Elazar,” balas Paloma tak mau kalah. Jika yang dihadapi bukanlah Rogelio, Paloma mungkin sudah manantang habis-habisan lawan bicaranya. “Aku pernah tinggal di Casa del Castaneda selama beberapa waktu. Aku bertemu dengan Sebastian setiap hari. Ada beberapa pemikiran serta kata-katanya yang begitu melekat di ingatanku.” Paloma tersenyum kelu. Dia mengalihkan perhatian pada Luz Maria yang terlihat sudah mengantuk.

__ADS_1


“Ayo, Sayang. Sudah waktunya kau tidur,” ajak wanita itu.


Paloma beranjak masuk meninggalkan Rogelio yang masih terpaku di teras. Pria paruh baya itu menatap langit senja Kota Granada. Terlukis wajah Rafael di sana. “Bukan ini yang kuinginkan, Rafael,” ucapnya seraya menggeleng pelan.


__ADS_2