Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Partner Ideal


__ADS_3

“Jangan pedulikan ucapannya, Nak,” ucap Rogelio. Dia merengkuh pundak Paloma. “Sebaiknya, kau segera ke kamarmu,” ujar pria paruh baya itu lagi. Rogelio tak memedulikan tatapan aneh yang Rafael layangkan padanya. Dia terlihat tenang, bahkan ketika terdengar dering ponsel dari dalam saku blazernya.


Rogelio merogoh ke dalam saku, untuk mengambil telepon genggam yang terus berbunyi. Pria paruh baya tersebut memeriksa panggilan masuk itu. Nama Sebastian tertera jelas di layar. “Tuan Castaneda?” sapa Rogelio sopan.


Sebastian duduk penuh wibawa di kursi kebesarannya. Di hadapan duda tampan penguasa kebun zaitun terluas di Porcuna tersebut, ada beberapa map yang baru selesai diperiksa. “Apa kabar, Tuan Gallardo?” balas Sebastian dengan suara beratnya.


“Sangat baik, Tuan Castaneda. Apa ada kabar terbaru?” tanya Rogelio.


“Ya, tuan. Proposal kerja sama sudah siap. Kita hanya perlu berunding untuk lebih lanjut. Ada beberapa berkas yang harus ditandatangani,” ujar Sebastian. Padahal, dia sedang berbicara dengan Rogelio. Akan tetapi, ingatannya justru tertuju kepada Paloma. Wanita muda dengan mata hazel yang indah. Sebastian tersenyum sendiri. Dia merasa bodoh saat itu. Dengan segera, dirinya menepiskan segala pikiran tentang istri Rafael Hernandez tersebut.


“Baiklah, Tuan Castaneda. Namun, dalam kerja sama ini aku sudah melimpahkan segala tanggung jawab pada perwakilanku. Jadi, mereka yang akan mengurus semuanya,” jelas Rogelio. “Perwakilanku akan secepatnya datang ke Spanyol, ke tempat anda.”


“Baiklah, Tuan Gallardo. Hal itu bisa kita bahas lagi nanti dengan lebih detail. Aku hanya memberitahukan tentang berkas-berkas yang sudah siap.” Sebastian terdiam sesaat. Rasa hati ingin menanyakan kabar Paloma. Akan tetapi, lidahnya terasa kelu. Akhirnya, Sebastian mengurungkan niat tersebut. Dia kembali membicarakan masalah kerja sama yang akan mereka jalin.


Selang beberapa saat, Rogelio mengakhiri perbincangannya dengan sang penguasa Casa del Castaneda tadi. Dia mengalihkan perhatian kepada Paloma dan Rafael secara bergantian. Kebetulan, mereka berdua masih terpaku di tempatnya masing-masing. “Kalian berdua, ikutlah denganku.” Rogelio memberi isyarat, agar Paloma serta Rafael mengikutinya ke ruang kerja.


Paloma yang masih menenteng tas belanjaan, meminta izin untuk meletakkan sementara barang-barang itu. Barulah dirinya mengikuti sang ayah mertua. Begitu juga dengan Rafael yang tak jadi pergi ke kamarnya.


Setibanya di ruang kerja, mereka duduk bersama di sofa yang tersedia. Sebelum memulai pembicaraan, Rogelio kembali membuka layar ponselnya. Dia sedang membalas pesan dari seseorang. Setelah selesai, pria paruh baya tersebut menyimpan kembali telepon genggamnya. Rogelio terlihat memasang wajah yang sangat serius.


“Seperti yang sudah kuceritakan padamu, Paloma. Aku dan Tuan Castaneda sudah sepakat untuk menjalin kerja sama bisnis. Tadi, dia menghubungiku. Tuan Castaneda mengatakan bahwa proposal kerja sama sudah siap. Ada beberapa berkas yang harus diperiksa dan ditandatangani," jelas Rogelio.

__ADS_1


"Berhubung aku sudah memutuskan untuk melimpahkan segala tanggung jawab dalam jalinan kerja sama ini kepada Paloma, maka aku ingin kau bersiap-siap untuk berangkat ke Spanyol secepatnya. Aku akan menyuruh Enrique agar menyiapkan tiket pesawat dan segala hal yang dibutuhkan. Termasuk penginapan selama kalian berada di Spanyol.” Rogelio mengarahkan pandangan kepada Paloma dan Rafael secara bergantian.


“Kalian?” Sepasang suami istri yang akan segera bercerai itu bicara secara bersamaan.


“Ya. Kalian.” Rogelio kembali menegaskan.


“Kenapa harus kami berdua? Maksudku, apa Ayah tak memiliki orang lain untuk mendampingiku? Kenapa harus Rafael?” protes Paloma.


“Asal Ayah tahu, Tuan Sebastian tak menyukaiku. Terakhir kami bertemu dalam situasi yang tidak menyenangkan. Ini bukan ide yang bagus.” Rafael juga menolak keputusan Rogelio.


“Aku sudah memutuskan. Kalian tahu sendiri, sesuatu yang sudah kuputuskan tak akan kuralat lagi,” ujar Rogelio tenang, tapi penuh wibawa. “Dengarkan aku, Paloma. Aku tahu kau memiliki potensi. Carlos mengatakan bahwa kau adalah anak gadisnya yang sangat cerdas. Karena itulah, aku ingin mengembangkan kelebihan yang ada dalam dirimu. Akan tetapi, kau masih minim pengalaman,” jelas pemilik Estrella Pharmacies tersebut.


“Sementara, Rafael sudah teruji kemampuannya dalam menjalankan bisnis. Kenapa aku harus menugaskan seseorang yang tak kau kenal, Paloma. Akan terlalu sulit bagi kalian untuk menjalin komunikasi dan menyatukan pendapat ….”


“Inikah yang namanya berbeda?” Rogelio menaikkan sebelah alisnya. “Setidaknya, kalian pernah hidup bersama,” ujar pria paruh baya tersebut enteng. Dia bahkan seperti lupa, bahwa dirinya telah menghajar Rafael hingga babak belur.


“Hari ini juga akan kusuruh Enrique untuk mempersiapkan segala akomodasi untuk kalian,” putus Rogelio. Dia tak bersedia menerima bantahan lagi. Pria paruh baya itu, mempersilakan Paloma keluar dari ruang kerja. Namun, dia masih menahan Rafael agar tetap di sana.


Rafael yang masih menderita luka lebam, tak ingin mencari masalah dengan sang ayah angkat. Dia tetap duduk di tempatnya, meskipun sorot mata serta bahasa tubuh pria berusia tiga puluh tahun tersebut terlihat tak nyaman. “Ada apa lagi, Ayah?” tanyanya.


“Dengarkan aku, Nak.” Rogelio mengembuskan napas berat. Dia juga membetulkan posisi duduknya. “Apa kau tahu bahwa Carlos sudah tiada?”

__ADS_1


“Ya. Paloma mengatakannya padaku tadi. Apa karena itu pula kau membawanya kemari, Ayah? Kuharap, kau tak berpikir untuk menjadikan mantan istriku menjadi calon ibu tiri ….”


“Jaga bicaramu, Rafael!” sergah Rogelio tegas. “Bagaimana kau bisa sampai berpikir ke arah sana?” protes pria paruh baya tersebut.


“Sikapmu terhadap Paloma sangat berlebihan, Ayah,” ujar Rafael tak suka.


“Aku hanya berusaha menutupi celah yang buat! Seharusnya, kaulah yang memperlakukan Paloma seperti itu! Bukan aku! Suami macam apa kau ini?” Nada bicara Rogelio terdengar begitu tegas. Amarahnya hampir kembali tersulut, andai dia tak segera mengatur napas dan menenangkan diri.


“Ayah sudah tahu bahwa aku tak menyukai pernikahan ini,” bantah Rafael.


“Tutup mulutmu!” sergah Rogelio lagi. Dia menggeleng pelan. Pria dengan blazer abu-abu itu berkali-kali mengembuskan napas penuh keluhan. Setelah beberapa saat terdiam, barulah Rogelio kembali bicara, “Aku hanya berharap kau bisa memperbaiki diri. Kau adalah putraku, meskipun darahku tak mengalir dalam tubuhmu. Kau tak tahu bahwa ada alasan yang sangat besar, di balik pernikahanmu dengan Paloma. Alasan yang belum bisa kuungkapkan saat ini.” Rogelio mengusap-usap dagunya perlahan.


“Aku ingin kau mendampingi Paloma ke Spanyol, untuk mengurus segala hal yang berkaitan dengan jalinan kerja sama dengan Tuan Castaneda. Kau memiliki pengalaman bekerja sama dengannya. Itu berarti, kau sudah mengenal seperti apa karakter pria itu.”


“Aku sudah menjalin kerja sama lebih dari tiga tahun dengannya,” ujar Rafael.


“Itu salah satu poin penting, selain karena alasan Paloma yang belum memiliki pengalaman,” balas Rogelio.


Rafael tertawa sinis. Pria tampan berambut cokelat itu berdecak pelan. Dia tak mengerti dengan keputusan yang diambil oleh Rogelio. “Aku heran, kenapa Ayah menunjuk Paloma yang belum memiliki pengalaman dalam hal seperti ini?” pikirnya.


“Karena aku sudah menyiapkan kau sebagai pendampingnya,” jawab Rogelio enteng.

__ADS_1


“Oh, astaga. Apa-apaan itu?” cibir Rafael. “Tatiana marah besar hingga dia mengembalikan koperku kemari,” keluhnya.


“Itu jauh lebih baik. Intinya, aku ingin kau terus mendampingi Paloma. Kerja sama ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab kalian. Begitu juga dengan keuntungan yang didapat. Ingat! Jangan sampai kau bertindak macam-macam, karena aku tetap mengawasimu!” ancam Rogelio dengan tegas.


__ADS_2