Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Pria yang Jatuh Cinta


__ADS_3

Tak membutuhkan waktu lama untuk tiba di bandara. Kendaraan SUV milik Sebastian, sudah terparkir di halaman bandar udara internasional yang dituju. Duda berusia empat puluh tahun tersebut sigap turun dari mobil, lalu membantu mengeluarkan koper milik Rogelio.


“Kau tidak perlu bersikap berlebihan seperti ini, Sebastian,” tegur Rogelio seraya menggeleng tak mengerti. Pria paruh baya itu berlalu begitu saja, tanpa mengucapkan terima kasih atau basa-basi lainnya.


“Aku merasa senang bisa membantumu, Tuan Gallardo,” sahut Sebastian. Dia berjalan di belakang Rogelio bersama Paloma.


“Berjalanlah di dekatku, Paloma,” suruh Rogelio tanpa memedulikan jawaban Sebastian.


Paloma hanya tersenyum. Dia menoleh sesaat kepada Sebastian, lalu berpindah ke sebelah sang ayah. Akan tetapi, Luz Maria meronta-ronta, meminta agar duda tampan itu menggendongnya. “Kau kenapa, Sayang?” tanya Paloma, meskipun dia sudah mengetahui apa yang putrinya inginkan. Namun, Paloma hanya ingin melihat respon kedua pria yang belum akur itu.


Benar saja, Rogelio hanya mengembuskan napas pelan seraya membuang muka. Dia terus berjalan sambil menggeret koper.


Sementara, Sebastian tersenyum penuh kemenangan. Dia merentangkan tangan kepada Luz Maria, yang segera bersambut lonjakan kegirangan dari balita cantik berambut cokelat tersebut. “Berikan dia padaku, Paloma,” pinta Sebastian.


“Memangnya kau tak keberatan?” tanya Paloma seraya menoleh.


“Aku tak akan merasa keberatan, bahkan jika kau yang meminta untuk digendong,” jawab Sebastian. Dia kembali melontarkan rayuannya terhadap Paloma.


“Astaga, kau ini.” Paloma tertawa renyah. Dia sempat melihat raut sang ayah, yang jelas-jelas tak suka dengan adegan itu. “Sebastian memang senang sekali merayuku, Ayah,” ucap janda dua puluh delapan tahun tersebut.


“Begitulah pria jika sedang ada maunya,” balas Rogelio ketus.


“Apakah Anda juga seperti itu, Tuan Gallardo?” Sebastian menyela obrolan ayah dan putrinya.

__ADS_1


“Tentu saja ….” Rogelio tak melanjutkan kata-katanya. Dia segera duduk sambil menunggu jadwal keberangkatan. Rogelio tak dapat menampik kenyataan bahwa dulu dirinya senang sekali merayu Eleanor, ibunda Paloma. Rogelio bahkan selalu bersikap manis dan romantis, dengan memberikan bunga mawar hampir setiap pagi saat Eleanor baru membuka mata.


Tanpa sadar, Rogelio tersenyum sendiri dengan tatapan menerawang. Kenangan yang sangat indah dan sulit dilupakan, meski telah berpuluh tahun berlalu. Namun, dia selalu merasa bahwa hal itu baru terjadi kemarin-kemarin, andai Rogelio tak disadarkan oleh keberadaan Paloma dan Luz Maria.


“Apakah memang seperti itu, Tuan Gallardo?” tanya Sebastian lagi. Dia duduk di sebelah kiri Rogelio. Sedangkan, Paloma berada di sebelah kanan.


Rogelio menoleh sejenak kepada Sebastian yang tengah memangku sambil mengajak Luz Maria bermain. “Terserah kau saja,” jawabnya, masih dengan nada bicara yang terdengar ketus.


Sebastian menggumam pelan. Sambil terus mengajak Luz Maria bermain, dia kembali berkata, “Seorang pria akan melakukan apapun, demi mendapat perhatian dari wanita yang disukainya. Aku rasa, itu sudah menjadi sifat bawaan kaum adam. Merayu, bersikap manis, mencari perhatian. Benar begitu ‘kan, Tuan Gallardo?” Sang tuan tanah dari Porcuna tadi melirik ayahanda Paloma sambil tersenyum kalem. Dia tak peduli, meskipun Rogelio tidak menggubris bahkan tak menoleh lagi kepada dirinya.


Namun, Paloma lah yang tersenyum sambil mencuri pandang pada duda tanpa anak tersebut. Akan tetapi, Paloma segera mengalihkan perhatian ke objek lain, demi menyembunyikan senyum tersipunya setelah melihat Sebastian mengedipkan sebelah mata. “Ah, dasar penggoda,” gumam Paloma pelan, dengan sedikit sekali gerakkan di bibir.


Sekitar setengah jam kemudian, pesawat yang akan membawa Rogelio kembali ke Meksiko sudah siap untuk lepas landas. Pria paruh baya itu berpamitan kepada Paloma juga Luz Maria. Begitu berat dirinya berpisah dengan putri dan sang cucu tercinta. Tanpa diduga, Rogelio menyalami Sebastian. Dia menyodorkan tangan, meski raut wajahnya masih terlihat masam.


“Putriku bisa menjaga dirinya,” balas Rogelio dingin. Dia berbalik, lalu berjalan sambil menggeret kopernya diiringi tatapan Paloma dan Sebastian. Sedangkan, Luz Maria asyik memainkan kalung bertali kecil yang menghiasi leher sang duda.


“Petualangan baru akan dimulai, Paloma,” ucap Sebastian, saat Rogelio sudah tak terlihat lagi.


“Aku harus menghadapi segala risiko, Sebastian,” balas Paloma pelan. Dia membalikkan badan, diikuti Sebastian yang terus menggendong Luz Maria. “Ayah memberikan kepercayaan penuh padaku. Aku tak ingin mengecewakannya, meski dia memberikan syarat yang harus kupenuhi,” ucap Paloma lagi sambil terus melangkah keluar bandara. Mereka lalu berjalan menuju mobil Sebastian terparkir.


Sebastian mengembalikan Luz Maria kepada Paloma. Wanita cantik tersebut langsung menempatkan putri semata wayangnya tadi di kursi khusus yang sudah terpasang. Setelah itu, dia bermaksud naik dan duduk di jok tengah. Namun, gerakan Paloma segera terhenti, ketika merasakan tangan Sebastian menyentuh lengannya. Paloma lalu menoleh.


“Duduklah di depan. Di sebelahku,” pinta Sebastian dengan tatapan penuh arti, kepada janda cantik bermata hazel tadi.

__ADS_1


“Sebastian, aku …,” ucap Paloma tertahan. Dia yang tadinya hendak menolak, merasa tak enak saat melihat Sebastian menggeleng pelan. Pria itu mengisyaratkan agar Paloma tak membantah keinginannya.


“Tolong, jangan membantah,” pinta Sebastian. Suaranya terdengar berat dan dalam.


Paloma mengembuskan napas pelan. Dia melihat keadaan Luz Maria sekali lagi. Diciumnya kening balita bermata abu-abu tersebut. “Aku duduk di depan, Sayang,” ucapnya pelan.


Luz Maria membalas dengan senyum lebar sambil menepuk pelan pipi sang ibu. “Mama,” ucap anak itu dengan pelafalan yang belum terlalu fasih.


Dengan membawa perasaan lega diiringi senyum bahagia, Sebastian membukakan pintu untuk Paloma. Dia bergegas ke pintu sopir, lalu duduk di belakang kemudi. Baru saja dirinya akan menyalakan mesin mobil, terdengar dering ponsel milik Paloma. Sebastian sempat menoleh sesaat, sebelum melajukan kendaraan meninggalkan area parkir bandara.


Sementara, Paloma tampak enggan menjawab panggilan yang masuk. Dia bahkan membiarkan panggilan tadi hingga berakhir dengan sendirinya. Hal itu membuat Sebastian merasa heran bercampur penasaran. “Kenapa tidak diangkat?” tanyanya.


“Nanti saja,” jawab Paloma malas.


“Apakah itu panggilan dari Elazar?” tanya Sebastian lagi penuh selidik. Rasa cemburu tiba-tiba memenuhi rongga dadanya. Namun, Sebastian hanya dapat menyalurkan perasaan tak suka itu, dengan cara menggenggam kuat kemudi.


“Ya.” Jawaban Paloma, semakin menambah gemuruh dalam dada duda empat puluh tahun tersebut. “Elazar membantu mencarikan tempat tinggal untukku,” terangnya pelan. Dia melihat ke belakang, pada Luz Maria yang ternyata sudah tertidur lelap.


“Kau meminta bantuan padanya? Kenapa tidak bicara saja padaku?” tanya Sebastian bernada protes. Raut wajahnya tiba-tiba menjadi sangat gusar.


“Dia yang menawarkan diri,” bantah Paloma. “Aku hanya menerima kebaikannya. Lagi pula, itu sesuatu yang wajar. Dia seorang kontraktor, pengembang perumahan. Aku rasa, dia tahu tempat tinggal yang cocok untukku,” jelas Paloma mengemukakan alasannya menerima tawaran Elazar.


“Oh, ya. Tentu saja,” balas Sebastian menanggapi. Dari nada bicaranya, pria itu terdengar benar-benar tak suka.

__ADS_1


Sedangkan, Paloma tak ingin menanggapi lagi. Dia tak harus memberikan penjelasan apapun kepada Sebastian. Janda cantik tersebut memilih diam, hingga mobil yang dia tumpangj kembali ke rumah sewaan. Namun, keadaan sepertinya tak akan membaik, ketika Paloma dan Sebastian melihat mobil sedan hitam milik Elazar, telah terparkir di halaman depan rumah itu.


__ADS_2