Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Tamu Kedua


__ADS_3

Paloma mengembuskan napas pendek. Dia menyibakkan rambutnya ke belakang. Sesaat, Paloma menoleh kepada Luz Maria yang sudah terlelap dengan posisi menyamping. “Jangan mengambil kesempatan, Sebastian,” ucap Paloma bernada protes, meskipun pelan.


“Apa salahnya?” Sebastian menanggapi ucapan Paloma dengan enteng.


“Kau memang menyebalkan! Aku masih dalam masa berkabung,” tolak ibunda Luz Maria tersebut malas. “Sudahlah. Jangan berpikir macam-macam.”


Sebastian tergelak, meski tidak terlalu nyaring. “Paloma,” ucap duda tampan tersebut begitu dalam, saat menyebutkan nama wanita yang tengah menjadi lawan bicaranya di telepon. “Aku hanya mengajakmu makan malam. Lagi pula, kuminta kau agar membawa Luz Maria. Kenapa dirimu mengatakan bahwa diriku berpikir macam-macam. Jangan-jangan, kaulah yang seperti itu,” ujar Sebastian tetap terdengar tenang.


“Jangan sembarangan!” sergah Paloma pelan sambil melotot, meski dia kembali sadar bahwa Sebastian tak akan bisa melihatnya.


“Aku akan mampir ke Granada lusa. Tak ada salahnya menerima ajakanku, Paloma. Aku hanya ingin bertemu dengan putrimu,” ucap Sebastian lagi setengah membujuk.


“Aku tidak janji,” sahut Paloma.


“Astaga. Kau masih saja keras kepala,” keluh Sebastian.


“Ya, dan kau masih senang memaksakan kehendakmu terhadap orang lain,” balas Paloma tak mau kalah.


“Kau tahu bahwa seperti itulah Sebastian Cruz Castaneda,” ujar sang tuan tanah terluas di Porcuna tersebut. “Apa kau sudah lupa bahwa aku tidak suka menerima penolakan?”


“Apa kau sudah lupa bahwa aku adalah seorang pembangkang?”


Sebastian mengembuskan napas dalam-dalam. Bagaimana mungkin dia akan lupa pada sosok cantik bermata hazel, yang telah berhasil mengalihkan dirinya dari rasa kehilangan atas kepergian sang istri beberapa tahun silam.


Tak ada yang dapat meragukan kesetiaan seorang Sebastian. Jika dulu dia betah menduda di antara gelimangan harta yang membuat dirinya menjadi incaran para wanita, kali ini Sebastian tetap setia pada perasaan cinta terhadap Paloma.


Rasa itu memang hadir dengan cepat, tapi tetap terasa indah serta meninggalkan kesan mendalam. Hal itu masih ada, meskipun Paloma memilih menjalani hidup bersama Rafael. Akan tetapi, harapan indah Sebastian kembali hadir, setelah kepergian Rafael Hernandez. Kedengarannya memang sedikit jahat, apalagi kematian pria asal Meksiko tersebut karena kecelakaan tragis.


Sebastian mengeluh pelan. Dia sadar bahwa dirinya tidak boleh bertindak gegabah atau terburu-buru. Dia harus pintar mengendalikan diri, agar tak terkesan memaksakan kehendak terhadap Paloma. “Aku harus kembali bersabar menunggumu,” ucap Sebastian dengan tatapan menerawang, pada lukisan besar yang memperlihatkan paras cantik nan anggun Brishia.


......................


Rogelio yang sudah mendapatkan nomor kontak Elazar, langsung menghubungi mantan suami Tatiana Vidal tersebut. Mereka bahkan langsung membuat janji untuk bertemu. Rogelio setuju datang ke Porcuna, agar dapat melihat dan bertemu secara langsung dengan Amoroso Barbossa, selaku pemilik sah perusahaan.


Keesokan harinya, pria paruh baya itu sudah bersiap akan pergi. Seperti biasa, sopir dan mobil sewaan telah siap mengantarnya. Rogelio berangkat dengan diiringi lambaian tangan Luz Maria, yang tengah digendong sang ibu.

__ADS_1


Paloma memang sengaja tidak ikut ke Porcuna. Dia sangat lelah, dan ingin menghabiskan waktu bermain bersama putri kecilnya. Kebetulan, hari itu Teressa juga datang berkunjung ke sana.


“Aku membuatkan makanan kesukaanmu, Nak,” ucap Teressa seraya memperlihatkan wadah stainless berisi masakan, yang merupakan kesukaan Paloma.


“Ah, Bibi. Kenapa harus repot-repot?” Paloma merasa tak enak. Namun, dia tersenyum bahagia, karena kenyataannya Paloma sangat merindukan masakan Teressa. Tanpa membuang waktu, wanita dua puluh delapan tahun tersebut langsung mencicipi makanan itu.


Melihat ibunya mengunyah, Luz Maria rupanya ingin mencicipi juga. Namun, Paloma tak memberinya, karena makanan yang sedang dia santap bercita rasa pedas. “Tidak boleh, Sayang. Kau akan kepedasan jika makan ini,” cegah Paloma. “Kalida! Bawakan makanan untuk Luz Maria,” seru Paloma, bersamaan dengan dering panggilan di ponselnya.


“Diamlah, Luz Maria.” Paloma berusaha menenangkan putrinya yang terus berontak, karena ingin meraih makanan tadi. Sementara, suara dering panggilan kembali terdengar.


“Jawablah dulu, Nak. Siapa tahu itu panggilan penting.” Teressa bermaksud mengambil tubuh mungil Luz Maria yang mula merengek, karena keinginannya tak dituruti sang ibu. “Ayo, Sayang. Ikutlah denganku,” ajak wanita paruh baya itu.


Akan tetapi, sayangnya Luz Maria menolak. Anak itu lebih memilih Kalida, yang baru muncul dengan membawa makanan kesukaannya. Luz Maria sudah mulai tenang, setelah diberikan makanan yang tadi dibawa Kalida.


Sementara, Paloma memeriksa ponselnya. Dia mendapati nama Sebastian sebagai pemanggil. Keluhan pelan meluncur dari bibir wanita cantik tersebut. Paloma merasa galau, antara menjawab panggilan tadi atau membiarkannya. Ibunda Luz Maria tersebut memilih mengabaikan panggilan tersebut. Paloma meletakkan ponsel di atas meja begitu saja.


“Kenapa tidak dijawab?” tanya Teressa heran.


“Bukan telepon penting, Bibi,” jawab Paloma malas. Dia kembali menyantap makanan tadi. Akan tetapi, baru sekitar dua suap, Paloma harus menghentikan lagi aktivitas makannya. Wanita itu mengeluh pelan. “Apakah Paman Alonzo datang kemari?” tanyanya seraya menoleh kepada Teressa.


“Aku tak mengenal siapa pun lagi di Granada selain Bibi dan Paman Alonzo. Sudah terlalu lama aku meninggalkan negara ini,” ujar Paloma sambil berdiri. Dia beranjak ke dekat pintu. Akan tetapi, baru saja Paloma akan memeriksa siapa yang datang, Kalida lebih dulu menghampiri.


“Luz Maria minta digendong oleh Anda, Nyonya. Sepertinya dia ingin minum susu,” ucap sang pengasuh. Dia memberikan balita cantik berambut ikal tersebut kepada ibunya. Setelah, itu Kalida menggantikan Paloma yang tadi hendak membuka pintu. Sementara, Paloma kembali ke sofa untuk menyusui putrinya.


“Selamat siang,” sapa Kalida, pada seseorang yang berdiri di depan pintu.


“Selamat siang. Aku ingin bertemu dengan Nyonya Paloma Hernandez,” jawab suara seorang pria yang datang bertamu.


“Apakah Anda sudah membuat janji sebelumnya?” tanya Kalida.


“Sudah,” jawab pria itu singkat.


“Baiklah. Tunggu sebentar.” Kalida menutup kembali pintu itu, selagi dirinya memberi tahu Paloma yang baru selesai menyusui Luz Maria.


“Nyonya, ada tamu yang ingin menemui Anda. Katanya, dia sudah membuat janji sebelumnya,” lapor Kalida sopan.

__ADS_1


“Tamu? Untukku?” Paloma mengernyitkan kening. Raut wajahnya seakan tengah mengingat-ingat sesuatu. “Astaga!” Paloma terbelalak kaget. Dia langsung beranjak ke pintu sambil menggendong Luz Maria. Paloma segera membukanya, lalu tersenyum ramah.


“Maafkan aku, Pengacara Cardenas. Aku benar-benar lupa bahwa hari ini kita sudah membuat janji bertemu.” Paloma merasa tak enak, di hadapan pengacara yang dulu membantu kasus Rafael dengan Tatiana.


“Tidak apa-apa, Nyonya,” balas Pengacara Cardenas. “Lagi pula, kebetulan aku sedang tidak memiliki banyak pekerjaan hari ini. Jadi, aku tak harus terburu-buru,” ucapnya.


“Oh, syukurlah. Silakan masuk.” Paloma membuka pintu lebih lebar. Dia mempersilakan pengacara muda itu masuk. “Silakan duduk, Tuan Pengacara.” Paloma mengarahkan tangannya ke sofa.


“Terima kasih, Nyonya,” balas Pengacara Cardenas. Dia duduk gagah di sofa, tanpa mengalihkan pandangannya dari Paloma yang masih menggendong Luz Maria.


“Terima kasih karena Anda sudah bersedia menemuiku di sini,”ucap Paloma. Dia menepuk-nepuk punggung Luz Maria yang memeluknya dalam keadaan tertidur.


“Kebetulan aku ada kepentingan di kota ini. Jadi, kupikir bisa sekalian menemui Anda, Nyonya,” ucap pengacara tampan berkemeja biru langit tadi. “Bagaimana dengan perkembangan kasus kecelakaan yang menimpa Anda dan Tuan Rafael, Nyonya?” tanyanya mulai pada pembahasan serius.


“Itulah yang ingin kubahas sekarang, Tuan Pengacara,” sahut Paloma. Wanita itu terdiam sejenak, ketika Teressa datang lalu menyuguhkan minuman. “Terima kasih, Bibi,” ucap Paloma disertai senyuman.


“Silakan,” balas Teressa. “Berikan Luz Maria padaku, Nak,” pintanya.


Paloma tersenyum, seraya memberikan Luz Maria kepada Teressa. Setelah itu, wanita paruh baya tadi berlalu dari sana dengan membawa balita yang sudah tertidur pulas.


“Aku ingin agar Anda mendampingku dalam memantau kasus ini. Bagaimanapun juga, aku tetap membutuhkan seseorang yang paham hukum sepenuhnya,” ujar Paloma.


“Tentu saja, Nyonya. Aku bisa memberikan pendampingan kepada Anda dalam mengawal kasus ini. Jangan khawatir. Aku pasti akan melakukan yang terbaik,” ucap Pengacara Cardenas penuh percaya diri dan terdengar sangat meyakinkan.


“Terima kasih, Tuan Pengacara.” Paloma tersenyum ramah. “Aku tak tahu harus meminta bantuan kepada siapa lagi. Beruntung, karena ayahku mengusulkan agar menghubungi Anda.”


“Tidak perlu merasa sungkan, Nyonya. Aku mengenal Tuan Rafael Hernandez. Walaupun tidak lama, tapi kesanku sangat baik terhadap mendiang suami Anda. Karena itulah, aku merasa senang jika diminta untuk mengawasi kasus yang berkaitan dengan dirinya,” jelas Pengacara Cardenas.


Pria berusia sama dengan Rafael tersebut sudah hendak kembali bicara. Namun, suara ketukan di pintu lebih dulu menghentikannya.


“Apakah Anda sedang menunggu tamu lain?” tanya Pengacara Cardenas, seraya mengikuti tatapan Paloma yang tertuju ke pintu.


“Tidak juga,” jawab Paloma. “Apa mungkin ayahku pulang secepat ini dari Porcuna?” pikir wanita itu. Raut wajahnya terlihat ragu. Namun, Paloma tetap beranjak dari kursi. Dia melangkah tenang menuju pintu. Baru saja ibunda Luz Maria tersebut akan memutar pegangan pintu tersebut, Pengacara Cardenas lebih dulu mencegahnya.


“Tunggu, Nyonya. Jika Anda merasa ragu, biar aku yang membukanya,” ucap pria tampan berpenampilan rapi tadi. Dia mendekat kepada Paloma, lalu membuka pintu. Tampaklah seseorang di baliknya.

__ADS_1


__ADS_2