Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Yang Telah Lama Menghilang


__ADS_3

Chihuahua, Meksiko.


Derap langkah hak sepatu, beradu dengan lantai marmer di koridor sepi berhiaskan ornamen-ornamen antik sepanjangnya. Seorang pria dengan rentang usia sekitar tiga puluh lima tahun, berjalan gagah sambil membawa map di tangan kanan. Penampilan pria itu terbilang rapi, meski tanpa pakaian formal. Tatapannya lurus ke depan, tajam, dan sangat fokus. Dia baru mengalihkan pandangan ke samping, ketika sudah tiba di depan pintu ruangan yang dituju. Pria dengan rambut gelap yang tersisir rapi ke belakang itu mengetuk pintu dengan pelan.


“Masuk.” Terdengar suara seorang pria dari dalam sana.


Si pria tadi membuka pintu dengan hati-hati. Dia berjalan masuk. Langkahnya tampak begitu gagah. Suara hak sepatu pantofel yang dia kenakan, kembali terdengar. Beradu dengan lantai dan menghasilkan irama yang beraturan. Suara itu baru berhenti, ketika si pria berdiri di balik meja kerja sang pemilik ruangan tadi. “Tuan,” sapanya hormat.


Pria yang dipanggil dengan sebutan ‘tuan’ tadi segera menoleh. Adalah seorang pria paruh baya berpenampilan rapi dan bersih. Rambutnya tertata rapi ke samping, berhiaskan beberapa helai uban di antara warna hitam yang masih mendominasi.


“Tuan Lozano. Bagaimana?” tanyanya.


Javier Lozano. Seorang detektif swasta yang biasa menjual jasa untuk siapa saja yang berani membayar lebih padanya. Javier memiliki integritas tinggi dan bisa diandalkan untuk setiap tugas yang diberikan oleh klien. “Aku sudah mendapatkan semua informasi lengkap. Seperti yang Anda inginkan,” jawab pria dengan tinggi sekitar 185 cm itu, sembari menyodorkan map yang dia bawa ke hadapan si pria paruh baya.


“Akan segera kuperiksa,” balas pria dengan kemeja putih yang sudah dalam posisi berdiri. “Apa Anda ingin minum kopi terlebih dulu?” tawarnya.


“Tidak usah, Tuan. Kebetulan, aku sedang terburu-buru. Masih ada urusan lain yang harus kutangani,” tolak Javier dengan sopan.


“Baiklah. Akan kutransfer uangnya langsung ke rekening Anda,” balas si pria paruh baya. “Terima kasih atas bantuannya.”


“Sama-sama, Tuan. Jika Anda masih merasa ada sesuatu yang kurang, hubungi saja aku,” pesan Javier. “Permisi. Selamat sore,” pamit pria berambut gelap tersebut. Dia membalikkan badan, kemudian melangkah ke dekat pintu keluar. Tubuh jangkung itu pun menghilang, dan hanya meninggalkan suara derap langkah yang semakin menjauh.


Pria paruh baya tadi kembali duduk di balik meja kerjanya. Dia memandang beberapa saat pada map di atas meja, sebelum mengembuskan napas lega. Segera diraih kemudian dibukanya map tersebut.


Rogelio Gallardo. Pria berusia lima puluh dua tahun yang masih terlihat tampan dan gagah. Dia merupakan pemilik dari perusahaan farmasi terbesar di Kota Chihuahua. Selain itu, Rogelio juga bekerja sama dengan beberapa perusahaan asal Amerika yang bergerak di bidang manufaktur, yaitu pembuatan suku cadang mobil. Bisa dibayangkan berapa banyak aset kekayaan yang dia miliki.

__ADS_1


Akan tetapi, di balik semua kesuksesan serta gelimang harta tak terhingga, kenyataannya hidup Rogelio sangat menyedihkan. Dia menikmati hari-hari dalam kesendirian, di dalam rumah mewah dua lantai miliknya.


“Rafael, akhirnya aku menemukanmu,” ucap Rogelio pelan, walaupun di sana tak ada siapa pun selain dirinya.


Rogelio kembali membaca lembar demi lembar file yang diberikan oleh Javier dengan saksama. Beberapa saat dia menghabiskan waktu, untuk menelaah isi dalam catatan penting hasil penyelidikan Javier selama berbulan-bulan. Waktu yang terbilang singkat, untuk menemukan seseorang yang telah lama menghilang.


Selesai membaca file-file tadi, Rogelio memasukkan map itu ke laci meja kerjanya. Tak lupa, dia juga mengunci dengan rapat. Pria paruh baya tersebut meraih ponsel yang tergeletak di atas meja. Dia lalu menghubungi seseorang yang tak lain merupakan asisten pribadinya.


“Enrique,” sapa Rogelio ketika panggilan telah tersambung.


“Ya, tuan. Apa ada masalah?” tanya Enrique dari seberang sana.


“Aku ingin kau menyiapkan tiket untuk penerbangan ke Spanyol besok pagi,” titah Rogelio tanpa berbasa-basi terlebih dulu.


“Spanyol? Kenapa sangat mendadak, tuan?” tanya Enrique heran bercampur penasaran.


Enrique tak segera menanggapi. Pria itu terdiam beberapa saat, sebelum kembali berbicara. “Baiklah, tuan. Akan kucarikan tiket sesuai dengan yang anda minta. Semoga perjalanan anda menyenangkan dan … kembali dengan membawa kabar baik.”


Setelah berbicara sebentar dengan asisten pribadinya tentang masalah jadwal serta pekerjaan, Rogelio mengakhiri perbincangan tersebut. Dia lalu melangkah ke dekat meja kecil dengan hiasan lampu duduk dari kristal. Dari sana, Rogelio mengambil foto berbingkai. Dalam foto tersebut, memperlihatkan dia dan seorang remaja pria yang sangat tampan. Berambut cokelat dengan mata abu-abu yang indah.


“Rafael, bagaimana kabarmu saat ini? Sudah terlalu lama kau menghilang, Nak.” Rogelio berbicara penuh perasaan. Dia memandangi foto itu dengan lekat untuk beberapa saat, sebelum meletakkannya kembali ke tempat semula.


Rogelio melihat arloji yang melingkar di pergelangan kiri. Sudah hampir pukul enam petang. Dia memutuskan untuk keluar dari ruang kerja. Rogelio berjalan dengan agak terburu-buru menuju kamarnya.


Di sana, dia mengambil kunci mobil yang tergeletak begitu saja di atas laci. Geraknya saat itu terlihat buru-buru. Setengah berlari, Rogelio menyusuri koridor samping menuju garasi berukuran amat besar. Di dalam bangunan yang tak menyatu dengan rumah utama tersebut, ada belasan mobil antik koleksi Rogelio sejak dia masih muda.

__ADS_1


Namun, kunci beralarm yang berada di genggaman tangannya itu hanya cocok dengan sebuah mobil double cabin mewah kesayangan Rogelio. Tak ingin membuang waktu, dia segera menyalakan kendaraan. Rogelio melajukannya kencang, keluar dari kawasan mansion yang terletak di sebuah bukit pinggiran kota.


Keluarga Gallardo secara turun-temurun menempati kastil mewah yang sudah berusia tiga ratus tahun. Nenek moyang Rogelio memang sengaja membangun hunian yang jauh dari hiruk-pikuk penduduk, serta jauh dari pusat kota. Mereka memilih tempat tinggal di Bukit Guadalupe, pinggiran Kota El Paso negara bagian Chihuahua.


Mobil double cabin yang Rogelio kendarai melaju kencang, hingga tiba di sebuah rumah sederhana yang berada di pusat kota. Pria paruh baya itu lalu mengetuk pintu depan dengan terburu-buru. Berkali-kali, dia menyugar rambutnya yang rapi demi menghilangkan rasa gugup.


Tak berselang lama, pintu akhirnya terbuka. Wajah seorang pria yang berusia sama seperti dirinya, muncul dari sana. “Tuan Gallardo? Tumben Anda kemari secara mendadak? Aku belum menyiapkan apapun untuk Anda,” ujar pria itu seraya membuka pintu lebar-lebar. Dia mempersilakan Rogelio masuk.


“Aku sudah menemukan mereka, Carlos! Aku menemukan anak-anak kita!” ucap Rogelio antusias, seraya mencengkeram pundak pria yang ada di hadapannya.


“Pa-Paloma, Tuan? Anda menemukan Paloma?” Suara pria itu bergetar. Matanya mulai berkaca-kaca.


“Ya, Carlos! Aku menemukan Paloma,” ujar Rogelio.


“Di mana dia, Tuan?” Pria bernama Carlos itu balas mencengkeram lengan Rogelio dengan kuat.


“Rafael membawa Paloma ke sebuah kota di Spanyol. Selama beberapa tahun ini, mereka tinggal di sana,” jelas Rogelio dengan mata berbinar.


“Ya, Tuhan.” Karena terlampau bahagia, tubuh Carlos melemah. Tulang-tulangnya seolah tak mampu menopang bobot tubuh, sehingga pria itu memutuskan untuk duduk di sofa ruang tamu. Gugup, Carlos menggenggam kalung emas yang melingkar di lehernya begitu erat. Sebuah kalung berukiran nama marganya, yaitu Sanchez.


“Izinkan aku ikut dengan Anda, Tuan. Aku tak sabar ingin memeluk putriku.” Iris mata gelap Carlos menatap wajah tampan Rogelio penuh harap.


“Kau belum pernah pergi ke luar negeri, Carlos. Jika kau ikut, maka aku harus membuang waktu lama untuk mengurus paspormu. Sementara, aku harus secepatnya ke Spanyol,” ujar Rogelio, berusaha memberikan pengertian.


“Kalau begitu, aku titip kalung ini saja untuk Paloma, Tuan. Tolong berikan padanya dan katakan bahwa diriku masih hidup, dan selalu menunggu kedatangannya.” Carlos melepas kalung emas tadi, lalu memberikannya pada Rogelio.

__ADS_1


“Percayalah padaku, Carlos. Aku akan membawa mereka berdua kembali ke negara ini. Bagaimanapun caranya,” tegas Rogelio.


__ADS_2