
“Apa kau benar-benar menyiapkan ini semua?” tanya Paloma yang masih berdiri mematung, di sebelah meja makan dengan tatapan tak percaya.
“Ya, terima kasih untuk internet,” jawab Rafael seraya tergelak. “SIlakan, Paloma.” Pria tampan dengan rambut agak gondrong itu menarik satu kursi untuk sang istri.
“Gracias (terima kasih),” ucap Paloma pelan seraya duduk dengan anggun. Tangan kanan Paloma sempat meraih sendok dan garpu, sebelum menghentikan gerakannya. Dia kembali memandang Rafael dengan tatapan penuh kebencian. “Apa yang sedang kau rencanakan sebenarnya?” tanya wanita itu penuh selidik. Ada keraguan yang sangat besar dalam nada pertanyaan yang dilontarkan Paloma.
Rafael membalas tatapan tajam itu dengan sorot penuh tanda tanya. “Semalam, aku berencana untuk menyiapkan sarapan, agar kita bisa memulai hari dengan tenang,” jawab Rafael keheranan.
“Apa kau menaruh racun di makanan ini?” tukas Paloma.
“Astaga.” Rafael berdecak pelan. Rautnya dipenuhi ekspresi kecewa, karena tudingan Paloma yang tak mendasar. “Begini saja, biar kucicipi dulu semua makanan ini supaya kau yakin jika tak ada zat berbahaya di dalamnya,” cetus Rafael.
“Cobalah!” balas Paloma. Mata hazelnya tak lepas dari gerak-gerik Rafael, yang kini sedang sibuk menyendok satu demi satu makanan yang tersaji di atas meja. Paloma bagaikan seorang detektif yang sedang berusaha menemukan sebuah bukti kejahatan.
Pada suapan makanan terakhir, tiba-tiba saja Rafael menjatuhkan sendok, lalu memegangi lehernya sendiri sambil melotot. Dia juga bersikap seperti seseorang yang tersedak.
“Astaga!” Paloma panik melihat wajah Rafael yang memerah. Dia bergegas bangkit dan mendekat ke arah Rafael. Paloma hendak menepuk-nepuk punggung pria itu, ketika pria itu melepaskan tangannya dari leher lalu tertawa terbahak-bahak.
“Apa-apaan kau ini!” sentak Paloma yang masih dipengaruhi rasa terkejut dan was-was. Setelah sadar bahwa Rafael ternyata hanya mengerjai dirinya, wanita itu pun memukul punggung Rafael berkali-kali. Merasa tak puas, Paloma melepaskan sandal tidur dan memukulkannya cukup kencang ke lengan Rafael.
“Aduh! Ampun. Aku hanya bercanda. Maafkan aku,” pinta Rafael seraya melindungi kepalanya dari serangan Paloma. Susah payah pria rupawan itu menahan tawanya.
“Kau benar-benar manusia paling menyebalkan, Rafael! Entah apa aku bisa bertahan selama tiga bulan bersamamu!” omel Paloma. Dia marah besar atas sikap Rafael yang menurutnya sangat kekanak-kanakan. Paloma juga memutuskan untuk kembali ke kamar dan membatalkan acara sarapannya bersama sang suami.
“Tunggu, Mi Mariposita (kupu-kupu kecilku),” cegah Rafael seraya memegang pergelangan tangan Paloma. “Sungguh, maafkan aku. Aku tak memiliki niat lain selain bercanda. Jangan begini,” pintanya memelas.
Mendengar ucapan Rafael, Paloma segera berbalik dengan raut wajah yang masih tidak bersahabat. “Kau memanggilku apa tadi?” desisnya.
__ADS_1
“Mi Mariposita, bukankah dulu kau memang memang kupu-kupu kecil. Namun, kini sudah berubah menjadi bidadari yang sangat cantik, Paloma,” jawab Rafael setengah merayu. Sorot matanya lembut menatap wanita yang berdiri sembari melotot tak suka dengan sikap pria itu
“Apakah kau tahu bahwa ayahku selalu memanggilku dengan sebutan itu?” Paloma menghadapkan badan seluruhnya pada Rafael seraya melipat tangan di dada.
“Ya, tentu saja. Aku masih ingat saat pertama kali ketika ayah mengenalkanku pada Tuan Carlos dan dirimu,” jawab Rafael. Seulas senyuman tersungging dari bibir pria tampan bermata abu-abu tersebut.
“Kau dulu sangat tak acuh dan dingin padaku,” ujar Paloma. Dia duduk kembali di kursi yang tadi ditempatinya.
“Ya. Aku hanya menjaga jarak dari semua gadis. Selena, kekasihku … dia ... dulu dia sangat pencemburu,” ungkap Rafael. "Katanya, aku terlalu tampan. Sehingga pasti banyak wanita yang akan jatuh cinta padaku," ujar Rafael diiringi senyuman lebar. Entah yang diucapkannya benar-benar perkataan Selena atau bukan.
“Menjijikan," cibir Paloma. "Rupanya, dulu kau termasuk pria setia juga."
“Ya, begitulah. Waktu itu, aku tak dapat melihat ke arah lain selain Selena, sampai akhirnya dia ….” Rafael tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
“Aku begitu larut dan tenggelam dalam perasaan sedih, marah, kecewa, serta segala emosi negatif lainnya. Aku begitu pengecut untuk menyalahkan diriku yang tak memiliki keberanian menentang ucapan ayah. Aku justru melimpahkan semuanya padamu. Kupu-kupu kecil yang cantik dan lugu itu harus merasakan dendamku yang entah untuk siapa.” Iris mata abu-abu Rafael mulai berkaca-kaca.
“Tidak, bukan begitu, Paloma. Memang, awalnya aku sangat memaksakan kehendak padamu. Aku begitu ingin mengganti waktu yang sudah kubuang percuma saat bersamamu. Namun, akhirnya aku sadar jika hal tersebut hanya akan membuatmu semakin terluka,” sanggah Rafael.
“Jadi, biarlah selama tiga bulan ini saja aku akan berusaha mati-matian untuk membahagiakanmu, Paloma. Sesuatu yang seharusnya kulakukan sejak dulu. Namun, apalah arti penyesalan jika masa lalu sudah tak dapat diputar kembali menjadi masa depan,” jelas Rafael.
“Aku belajar untuk mencintaimu dalam beberapa hari kebersamaan kita. Aku tahu ini sangat terlambat, tapi tak akan menyesalinya. Aku akan menjadi segala yang kau inginkan di waktu yang tersisa ini. Jika nanti kau kembali pada Sebastian, kau akan mengingatku tidak dalam keadaan membenci pria ini ,” ucap Rafael kian lirih.
“Ah.” Paloma mengembuskan napas pelan. “Aku tidak yakin Sebastian akan menungguku. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat. Dia harus menunggu sampai aku benar-benar mendapatkan status janda dari gereja.”
“Jika Sebastian benar-benar mencintaimu, maka dia akan tetap menunggu selama apapun itu,” tegas Rafael penuh keyakinan.
“Bagaimana jika tidak?”
__ADS_1
“Itu artinya dia tidak sungguh-sungguh padamu,” jawab Rafael.
“Lalu, apa yang kau lakukan setelah kita resmi bercerai nanti? Apa kau akan kembali pada Tatiana?” tanya Paloma.
Rafael menanggapinya dengan tawa renyah. “Untuk apa aku kembali padanya? Sudah kukatakan, aku tidak ingin lagi melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nuraniku,” jawabnya kemudian.
“Lalu, apa yang akan kau lakukan nanti?” ulang Paloma yang seakan ingin menuntaskan rasa ingin tahunya.
“Entahlah. Mungkin keluar dari Meksiko dan berkeliling dunia. Aku juga akan mencoba membuka usaha baru yang murni dari keringat dan uang sendiri,” terang Rafael enteng.
“Apa kau akan menikah lagi?” tanya Paloma, persis seperti seorang pengacara yang mengorek informasi dari kliennya.
“Tidak.” Nada bicara Rafael terdengar begitu yakin. “Aku ingin kaulah yang menjadi istri terakhirku. Jadi, aku tidak akan menikah dengan siapa pun jika nanti sudah resmi berpisah darimu.”
Sebuah perasaan aneh hadir di sudut hati Paloma dan menggelitik sanubarinya. Akan tetapi, wanita cantik itu berusaha menepisnya dengan tawa renyah. “Tunggu sampai kau menemukan seseorang yang jauh lebih cantik, lebih sempurna, dan lebih seksi dariku ataupun Tatiana Vidal,” cibir Paloma. Dia lalu memalingkan muka supaya tak bersitatap dengan Rafael yang terus menatapnya lekat.
“Kau pikir semudah itu mengalihkan perasaan pada orang lain, Paloma? Apalagi yang kau sebutkan tadi hanya dari segi fisiknya saja.” Rafael terkekeh pelan, kemudian menyodorkan sepiring Quesadillas Fritas pada Paloma. “Makanlah, sebelum makanan lezat ini menjadi beku,” kelakarnya.
“Kenapa kau begitu yakin jika makanan ini akan terasa lezat?” Paloma terus saja membantah perkataan Rafael.
“Kau akan mengetahui jawabannya setelah mencicipinya.” Rafael menyuapkan sesendok penuh makanan yang hampir dingin pada Paloma.
Awalnya, Paloma ragu membuka mulut. Namun, Rafael seolah tak putus asa mengetuk bibir Paloma menggunakan ujung sendok. Wanita muda itu akhirnya mengalah dan membuka mulut lebar-lebar.
“Enak,” Paloma ragu memberikan penilaian. Pipinya yang putih bersemu merah, saat Rafael terlihat begitu bahagia mendengar Paloma memuji masakannya.
“Benarkah? Syukurlah. Tak sia-sia aku mencontoh tutorial dari internet tadi,” ujar Rafael sembari tergelak.
__ADS_1
Tanpa dua anak manusia itu sadari, seorang pria paruh baya memperhatikan interaksi mereka berdua dari balik dinding penyekat antara ruang tamu dengan ruang makan. Pria yang tak lain adalah Rogelio, tersenyum samar seraya mengusap butiran bening yang berhasil lolos dari sudut mata. Dia begitu terharu.