
Rafael mendengkus kesal. Terpaksa, dia menyelipkan kembali pistolnya ke balik pinggang. Dengan raut tak bersahabat serta menahan amarah besar, pria itu berlalu dari hadapan Sebastian. Namun, belum sampai dua langkah menjauh dari sana, Rafael tertegun demi mendengarkan apa yang Sebastian katakan.
“Aku tak akan mengatakan apapun pada Nyonya Tatiana. Aku juga tak akan memutus hubungan kerja sama dengannya. Namun, ada satu syarat yang harus kau penuhi, Tuan Hernandez,” ucap Sebastian. Sang pemilik perkebunan zaitun terluas di Porcuna tersebut berkata dengan tegas dan penuh wibawa.
Rafael tak menjawab. Akan tetapi, dia juga belum beranjak dari tempatnya berdiri. Itu sebagai pertanda bahwa suami Tatiana tersebut masih tertarik untuk mendengarkan ucapan Sebastian.
“Jangan pernah menampakkan wajahmu lagi di Casa del Castaneda. Terlebih, jika kau sampai berani berbuat kasar terhadap Paloma. Hal yang paling kubenci adalah ketika melihat seorang pria melakukan kekerasan fisik terhadap wanita, karena itu sudah menjatuhkan harga diri seorang pria,” tegas Sebastian penuh penekanan. “Jika kau mengaku sebagai pria sejati, maka dirimu seharusnya mencari lawan yang seimbang. Sekuat apapun seorang wanita, mereka tetap bukan tandingan pria terlemah sekalipun. Pikirkan itu baik-baik!”
Rafael tidak menjawab. Pria berambut cokelat itu hanya mendelik tajam kepada seseorang yang selama ini telah menjadi rekan bisnisnya. Tanpa diduga, Rafael meludah ke samping sebagai tanggapan atas semua perkataan Sebastian tadi.
Untungnya, karena Sebastian berpikir dewasa. Dia tak memedulikan pria itu. Sebastian bahkan membiarkan Rafael pergi dari sana. Sang penguasa Casa del Castaneda tersebut yakin, bahwa Rafael tak akan berani berbuat macam-macam lagi.
Sepeninggal Rafael, Sebastian menghampiri Paloma yang sudah berusaha bangkit. Pria itu segera membantunya. “Bagaimana keadaanmu?” tanya Sebastian dengan raut khawatir. Namun, dia tetap tak ingin terlihat berlebihan. Sebastian masih menjaga wibawanya di depan Paloma.
Paloma yang sejak tadi menyembunyikan wajahnya, kali ini menoleh kepada Sebastian. Tampaklah luka lebam di dekat mata serta bibir. Sudut bibir wanita itu bahkan robek hingga mengeluarkan darah.
“Astaga,” ucap Sebastian tak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Apa kau masih sanggup untuk bangun?” tanya pria itu seraya menurunkan tubuh di hadapan Paloma. Sebastian bermaksud membantu Paloma bangkit. Akan tetapi, wanita itu segera menolak.
“Aku masih bisa sendiri,” tolak Paloma pelan.
“Kau yakin?” tanya Sebastian lagi memastikan.
__ADS_1
Paloma mengangguk pelan seraya bangkit. Dengan tangan yang tampak gemetaran, dia membersihkan bagian depan pakaian dari sisa-sisa tanah yang menempel. “Terima kasih, Tuan,” ucapnya lirih.
“Sudahlah. Mari kita pulang,” ajak Sebastian. Refleks, dia meraih tangan Paloma. Sebastian menuntun wanita muda itu menyusuri jalanan dengan rerumputan liar yang tadi dirinya lewati, hingga tiba di dekat mobil double cabin pinggir jalan.
Namun, sial sekali. Mobil mahal Sebastian tak dapat dia kendarai untuk pulang. Sepertinya, Rafael menembak ban mobil itu hingga kempes. “Kurang ajar!” gerutu pria itu kesal. Dia menendang ban mobilnya dengan jengkel.
“Bagaimana ini?” tanya Paloma resah.
Sebastian terdiam sejenak. Dia lalu merogoh ponsel dari saku kemeja yang dijadikan sebagai luaran. Pria itu menghubungi seseorang, yang tak lain merupakan sopir di Casa del Castaneda. Dia juga mengirimkan koordinat lokasi tempat dirinya berada.
“Sopirku akan segera datang menjemput. Jangan khawatir,” ucap Sebastian setelah selesai menelepon. Dia mengarahkan pandangan kepada Paloma yang saat itu terlihat murung. Sebastian, lalu berjalan mendekat ke hadapan si pemilik mata hazel tersebut. Dia mengangkat dagu Paloma tanpa permisi. Diamatinya luka yang menghiasi paras cantik wanita di hadapannya. “Sesampainya di Casa del
“Iya,” balas Paloma singkat. Dia menyentuh sudut bibirnya yang terasa perih. Wanita berambut cokelat itu bahkan sempat meringis, diiringi sebuah desisan pelan.
Sementara, Sebastian masih memperhatikannya dengan lekat. Dia semakin dibuat penasaran dengan motif Rafael yang terlihat begitu ingin menyingkirkan Paloma, seolah-olah wanita muda tersebut merupakan sebuah pengganggu yang sangat berbahaya baginya. Untuk hal seperti ini, tentu saja Sebastian tak bisa hanya menerka-nerka. Naluri pria itu mengatakan bahwa ada sesuatu yang jauh lebih serius, dari sekadar urusan rumah tangga.
“Kapan terakhir kau berkomunikasi dengan Rafael?” tanya Sebastian. “Maksudku, sebelum dia pergi dari Granada.” Pria itu memperjelas pertanyaannya.
‘Saat usia kehamilanku sekitar delapan bulan. Sejak saat itu, aku tak lagi menerima kabar apapun darinya,” jawab Paloma.
“Lalu, kenapa kau baru mencari suamimu sekarang?” tanya Sebastian lagi, seakan tengah menginterogasi Paloma.
__ADS_1
Paloma menyibakkan beberapa lembar rambut yang keluar dari sanggulnya. Penampilan wanita itu memang terlihat acak-acakan. “Aku terlalu sibuk mencari uang. Ada seorang anak yang harus kuhidupi. Waktuku tersita untuk melakukan sesuatu yang, seharusnya bukan menjadi tanggung jawab seorang istri,” jelas Paloma lirih.
“Setelah putraku tiada, barulah aku tersadar dengan status pernikahan kami yang tak jelas. Niatku mencari Rafael hanya untuk mengajaknya melakukan pembatalan pernikahan, di gereja tempat kami menikah dulu. Tak ada alasan lain. Apalagi, saat ini dia sudah bahagia dengan pasangannya yang kaya raya itu.”
“Aku hanya tak habis pikir, kenapa Rafael begitu ingin menyingkirkanmu?” Sebastian menaikkan sebelah alisnya. “Apa yang melatarbelakangi sikap kasar Rafael padamu? Alasan pernikahan kalian atau ….” Sebastian tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena sebuah mobil SUV putih telah berhenti di depan mobil double cabin dengan ban yang kempes tadi.
Dua orang pria keluar dari mobil mewah itu. Keduanya merupakan sopir di Casa del Castaneda. “Tuan,” sapa salah seorang dari mereka.
“Raul, tunggulah di sini. Jangan lupa untuk menghubungi mobil derek,” titah Sebastian, “dan kau Pedro, bawa kami pulang sekarang juga.” Tegas dan penuh wibawa nada bicara Sebastian pada kedua pegawainya tadi. Tanpa menunggu jawaban dari mereka, dia langsung mengajak Paloma ke dekat SUV putih yang sudah siap membawa mereka pulang ke Casa del Castaneda.
Paloma duduk di jok tengah bersama Sebastian. Tak ada perbincangan apapun di antara mereka berdua, selama perjalanan berlangsung. Sebastian bahkan sibuk dengan ponselnya. Dia sempat menerima telepon dari Martin, yang mengabarkan bahwa ada tamu di Casa del Castaneda.
“Aku masih di jalan. Persilakan tamu kita untuk menunggu, jika dia mau. Jangan lupa menemaninya berbincang,” pesan Sebastian sebelum mengakhiri perbincangan tadi.
Sekitar lima belas menit kemudian, mobil SUV putih itu sudah memasuki halaman luas Casa del Castaneda. Setelah memarkirkan kendaraan mewah tersebut, Pedro bergegas keluar. Dia membukakan pintu untuk Sebastian dan Paloma. Walaupun ada rasa penasaran dalam diri sopir dengan usia beberapa tahun di atas Sebastian tersebut atas diri Paloma yang penuh luka di wajahnya, tetapi dia tak berani bertanya apapun. Pedro memilih kembali ke belakang kemudi, lalu menjalankan kendaraan itu menuju garasi.
Sementara, Sebastian dan Paloma berjalan beriringan menyusuri koridor menuju ruangan utama Casa del Castaneda. Setelah tiba di ruang tamu, Sebastian mendapati Martin tengah berbincang dengan seorang pria paruh baya. Seseorang yang membuat Paloma terkejut setengah mati.
“Ayah,” panggil Paloma pelan.
Pria paruh baya yang tak lain adalah Rogelio Gallardo, segera menoleh. “Paloma,” balasnya. Dia beranjak dari tempat duduk, lalu menghampiri wanita muda itu. “Astaga. Apa yang terjadi padamu, Nak?” tanya Rogelio khawatir.
__ADS_1