
“Kenapa, Paloma?” tanya Sebastian, saat melihat raut wajah ibunda Luz Maria tersebut yang tampak aneh. Akan tetapi, Paloma tak langsung menjawab. Dia merasa tak enak, karena masih ada Juan di sana. Wanita cantik bermata hazel itu memberi isyarat. Paloma mengajak Sebastian pergi dari bengkel tempat modifikasi tadi.
Sebastian mengerti. Dia meminta Juan agar membawa mereka kembali ke showroom, dengan alasan bahwa dirinya dan Paloma masih memiliki tempat tujuan lain. Juan setuju. Mereka kembali ke showroom. “Jika bisa, jangan keluarkan dulu mobil itu untuk siapa pun sampai kukabari lagi,” pesan Sebastian sebelum mereka pergi.
“Tenang saja, Tuan. Tim-ku akan memolesnya terlebih dulu,” balas Juan senang. Dia tak tahu-menahu dengan segala peristiwa buruk yang berkaitan dengan mobil SUV hitam itu.
Beberapa saat kemudian, Paloma dan Sebastian sudah berada di perjalanan. Rencana untuk mengajak Luz Maria bersenang-senang, harus tertunda gara-gara kedatangan Elazar di rumah baru Paloma.
“Apakah menurutmu Elazar melakukan ini karena hubungan Rafael dengan Tatiana?” tanya Paloma memecah kebisuan antara dirinya dan Sebastian yang tengah fokus mengemudi.
“Aku juga berpikir ke arah sana,” jawab Sebastian menoleh sekilas kepada Paloma. “Aku sudah mengenal Tatiana sejak lama. Dulu, dia memiliki suami yang berusia jauh lebih tua. Namun, pernikahan itu gagal. Mantan suami Tatiana berselingkuh dengan beberapa gadis muda. Parahnya, yang terakhir hingga si gadis hamil. Aku rasa, sejak saat itulah Tatiana jadi memilih pria yang berusia lebih muda darinya,” tutur Sebastian.
Paloma terdiam mendengarkan cerita Sebastian tentang Tatiana. Pria itu menuturkan hal lain tentang mantan istri Elazar tersebut. Namun, Paloma tak tahu harus menanggapi bagaimana.
Selang beberapa saat, kendaraan milik Sebastian telah tiba di depan rumah milik Paloma. Dia melihat pintu gerbang yang terbuka lebar. Di halaman juga ada beberapa pria yang tengah berbincang dengan Elazar. Sepertinya, mereka adalah petugas dari dealer yang mengirimkan mobil baru untuk Paloma.
“Pria itu benar-benar membelikanmu mobil mewah seri terbaru, Paloma,” ujar Sebastian diakhiri decakan pelan.
“Aku sudah menolaknya sejak kemarin. Kupikir, dia akan mengurungkan niatnya tersebut,” sahut Paloma jengkel. Dia melepas sabuk pengaman dengan tergesa-gesa. Paloma bahkan keluar dari mobil sebelum Sebastian membukakan pintu untuknya. Dia langsung membuka pintu belakang, kemudian mengambil Luz Maria dari kursi khusus.
“Tunggu, Paloma!” cegah Sebastian. Dia langsung menyusul Paloma yang berjalan mendahului, saat \memasuki halaman rumahnya.
__ADS_1
Paloma menoleh. Dia tertegun menunggu Sebastian mendekat padanya.
“Jangan terbawa emosi. Kita harus bergerak dengan sangat hati-hati. Aku akan berkoordinasi dengan Abelardo untuk membahas hal ini. Jadi, kuminta agar kau menahan diri terlebih dulu,” saran Sebastian pelan. “Bersikaplah yang wajar. Jangan membuat Elazar merasa curiga bahwa kita telah mengetahui fakta tentang pemilik SUV hitam tadi.
Paloma terdiam sejenak. Dia memikirkan apa yang Sebastian katakan. Sesaat kemudian, Paloma mengangguk setuju. “Kau benar. Jangan khawatir. Aku pasti akan menahan diri dan berpura-pura,” ucapnya. Paloma menurunkan Luz Maria, karena anak itu ingin berjalan sendiri. Namun, dia tetap menuntun putrinya tersebut, karena Luz Maria belum terlalu lancar dalam melangkah.
“Akhirnya kau datang juga, Nyonya,” sambut Elazar dengan senyum lebar, saat melihat kehadiran Paloma di sana. Elazar bahkan tersenyum juga kepada Sebastian yang mendampingi janda satu anak tadi.
“Kupikir, kau akan mengurungkan niat untuk membelikanku mobil. Bukankah aku sudah menolaknya sejak kemarin?” Paloma tak memedulikan sikap dan senyum hangat Elazar. Terlebih, saat dia kembali membayangkan tragedi kecelakaan maut yang menimpa dirinya dan Rafael.
“Tidak apa-apa, Nyonya. Lagi pula, aku yang akan menanggung segala sesuatunya. Jadi, kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun, Nyonya,” ucap Elazar enteng.
“Rasanya sangat tidak adil jika kau hanya menerima kebaikan dari Sebastian, lalu menolak kebaikan serta rasa perhatian dariku,” ucap Elazar. Dia melayangkan protes terhadap Paloma.
“Itu merupakan dua hal yang berbeda, Tuan Blanco. Kau dan Sebastian jelas … aku baru mengenalmu kemarin-kemarin. Sedangkan, Sebastian dan aku sudah mengenal sejak lama. Selain itu, aku juga mencintainya ….” Paloma langsung terdiam. Tanpa sadar, dia telah mengakui perasaan yang selama ini dirinya kesampingkan kepada duda tampan empat puluh tahun itu. Namun, ibunda Luz Maria tersebut tak dapat menarik kembali kata-kata yang sudah terucap dari bibirnya.
Selagi Paloma mengatasi rasa kikuk akibat ucapannya tadi, Sebastian justru merasa begitu bahagia. Akhirnya, dia tahu seperti apa perasaan Paloma terhadap dirinya. Sebastian tersenyum kalem. Dia lalu menurunkan tubuhnya di dekat Luz Maria. “Kau dengar, Sayang? Ibumu ternyata mencintaiku,” ucap pria dengan topi baseball dan kacamata hitam tersebut.
Luz Maria yang masih digenggam tangan kanannya oleh Paloma, menepuk-nepuk pipi Sebastian menggunakan tangan kiri. Balita berambut cokelat tadi tertawa riang. Dia merentangkan tangan, meminta agar Sebastian menggendongnya.
“Begitu rupanya,” gumam Elazar. Senyuman kecil tersungging di sudut bibir pria itu. “Aku hanya melakukan amanat dari Tuan Rogelio Gallardo. Dia menitipkan putrinya padaku,” ujar pria itu lagi. Ada rasa kecewa yang tersirat, dalam kata-kata serta sorot mata Elazar.
__ADS_1
“Aku sangat berterima kasih atas apa yang sudah kau lakukan, Tuan Blanco. Akan tetapi, seperti yang kau lihat bahwa diriku sudah dewasa. Aku bisa menjaga diriku dengan baik,” tegas Paloma. Sorot tajam wanita itu arahkan kepada mantan suami Tatiana Vidal tersebut.
Elazar terdiam sejenak. Pria tampan berambut ikal sebahu itu memperhatikan ekspresi Paloma. Sesaat kemudian, Elazar tersenyum samar, lalu mengangguk. “Baiklah, kalau begitu. Aku tak ingin merusak suasana hatimu dengan perbincangan seperti ini, Nyonya. Sebaiknya, aku kembali saja. Selamat memakai mobil barumu, Nyonya." Elazar sedikit membungkukkan badan. Dia lalu berbalik menuju mobilnya. Elazar meninggalkan halaman rumah Paloma, bersamaan dengan truk pengangkut mobil yang bergerak menjauh.
“Terima kasih, Sayang." Sebastian tiba-tiba berdiri di belakang Paloma. Dia memeluk pinggang ramping wanita cantik tersebut.
“Hentikan, Sebastian. Luz Maria melihat kita,” bisik Paloma risi.
Akan tetapi, Sebastian tak peduli. Dia malah menciumi tengkuk dan leher Paloma. Tuan tanah itu baru berhenti, setelah Luz Maria merengek minta digendong olehnya.
“Kau juga ingin dicium, Nak?” Sebastian membungkuk, lalu merengkuh tubuh mungil yang menarik-narik celananya. “Rasanya, aku ingin menginap di sini saja. Aku tidak mau pulang,” celetuk Sebastian diiringi tawa renyah.
“Ingat, Sebastian. Kau masih harus mendatangi Kepala Polisi Abelardo untuk memberitahu penemuan kita,” ujar Paloma mengingatkan.
“Ada ini, Sayang." Sebelah tangan Sebastian merogoh saku celana, lalu mengeluarkan telepon genggam, seraya mendekatkannya pada wajah cantik Paloma. Sebastian kemudian menghubungi Abelardo dan menceritakan seluruh temuannya bersama Paloma tadi. Dia juga menyebutkan alamat showroom milik Juan.
“Kita cukup menunggu perkembangannya,” ujar Sebastian kalem seraya tersenyum lebar.
“Ya, ampun.” Paloma berdecak pelan. Rasanya, dia ingin menarik kembali kata-kata cinta yang tak sengaja dirinya ucapkan tadi. "Aku akan menghubungi ayahku. Semoga dia menjawab panggilan ini."
Paloma sudah bersiap menghubungi Rogelio, ketika ponsel Sebastian berdering. Nama Martin tertera di layar.
__ADS_1