
Malam itu berjalan dengan tidak semestinya. Pesta yang diadakan khusus untuk pasangan Paloma dan Rafael, nyatanya tak dihadiri hingga selesai oleh Paloma. Rafael harus membuat alasan yang benar-benar masuk akal. Dia juga menyembunyikan luka di dekat bibir, yang untungnya tidak terlalu parah meski sempat mengeluarkan darah.
Sementara, Sebastian langsung ke hotel. Dia akan berangkat dengan penerbangan pagi. Namun, ternyata hingga waktu menunjukkan pukul dua pagi, Sebastian tak dapat memejamkan mata. Bayangan paras cantik Paloma terus menari-nari di pelupuk matanya. Sebastian yang sudah merebahkan tubuh, kembali bangkit. Dia duduk sambil bersandar pada kepala tempat tidur.
Embusan napas berat, berkali-kali meluncur dari bibir berkumis tipis Sebastian. Pengaruh Paloma ternyata begitu besar. Padahal, dia belum terlalu lama mengenal wanita muda tersebut. Namun, Paloma dengan begitu cepat mencuri perhatiannya, hingga tak dapat teralihkan lagi pada yang lain.
Sebastian melirik telepon genggam yang diletakkan di atas meja kecil, di mana terdapat lampu duduk pemanis ruangan. Pria itu meraihnya. Sebastian lalu membuka aplikasi percakapan. Dia mengetikkan pesan yang ditujukan untuk Paloma.
Apa kau sudah tidur?
Beberapa saat lamanya Sebastian menunggu jawaban, meskipun dia tak yakin bahwa Paloma akan segera membalas pesan tadi. Namun, apa yang dipikirkannya ternyata keliru. Sesaat kemudian, terdengar nada pesan berbunyi.
Aku tidak bisa tidur.
Sebuah balasan singkat dari Paloma. Tanpa berpikir panjang, Sebastian menghubungi wanita itu secara langsung.
“Paloma,” sapa Sebastian dengan suara berat khas dirinya.
“Ya,” balas Paloma pelan.
“Apa kau belum tidur sejak tadi?” tanya Sebastian.
“Belum. Aku tidak bisa tidur,” jawab Paloma masih dengan intonasi yang sama.
Sebastian terdiam beberapa saat. Dia merasa bingung, karena tak terbiasa menghadapi Paloma yang murung. Sebastian jauh lebih senang, saat melihat wanita itu menjadi seorang pembangkang.
“Besok pagi, aku akan kembali ke Spanyol. Aku akan menjemputmu terlebih dulu,”ucap Sebastian kemudian. Dia kembali menegaskan niatnya, untuk membawa Paloma pergi dari Meksiko.
__ADS_1
“Tidak,” tolak Paloma dengan segera. “Aku tak akan ikut denganmu.”
“Ayolah, Paloma,” bujuk Sebastian. “Jangan memaksakan diri. Berhentilah bersikap bodoh. Kau tak harus merasa berutang budi. Jika perlu, akan kuganti semua hal yang telah Tuan Gallardo berikan padamu.”
“Tidak, Sebastian,” tolak Paloma. “Ini tak seperti yang kau pikirkan.” Paloma terisak pelan. “Ada beberapa hal yang tidak dapat ditukar dengan uang. Aku yakin kau pasti dapat memahaminya dengan baik.”
“Aku tahu itu, tapi kau tak harus rujuk dengan Rafael.” Sebastian kembali menyatakan keberatannya atas keputusan Rafael yang memaksa kembali pada Paloma. Akan tetapi, Paloma tak segera menanggapi. Wanita muda itu terdiam, membuat suasana menjadi hening beberapa saat. Situasi yang demikian, membuat Sebastian merasa tak nyaman. “Paloma, apa kau tidur?” tanyanya, setelah kebisuan melanda mereka berdua.
“Tidak. Belum,” jawab Paloma.
“Kenapa kau diam?” Sebastian menjadi kian gelisah.
Paloma lagi-lagi tak segera menjawab. Entah apa yang ada dalam benak wanita itu saat ini. Satu yang pasti, sikapnya telah membuat Sebastian menjadi semakin gusar.
“Bicaralah. Aku menjadi sangat khawatir jika kau seperti ini terus.” Sebastian membujuk Paloma dengan lembut.
Sebastian mengembuskan napas panjang setelah mendengar pertanyaan tadi. Sebenarnya, itu sesuatu yang tak harus ditanyakan dan dijawab. Semua sudah jelas. Namun, Paloma mungkin membutuhkan pernyataan lagi. “Apa kau tak bisa melihat kesungguhan di mataku?” tanya Sebastian. “Cintaku mungkin datang terlalu cepat. Akan tetapi, kupastikan itu semua tulus.”
“Kalaupun aku melanjutkan proses perceraian dengan Rafael, setidaknya kau harus menunggu paling cepat sekitar dua tahun sampai pihak gereja mengabulkan pengajuan pembatalan pernikahan kami. Selama keputusan itu belum keluar, maka statusku masih tetap sebagai istri sah Rafael.”
Paloma terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan kata-katanya. “Aku memang salah, karena terlalu cepat menerima dan memberikan harapan padamu. Seharusnya, aku lebih pandai menahan diri. Namun, aku juga tak bisa mengendalikan perasaan ini.”
“Lalu, apanya yang salah? Kita masih bisa menjalin kasih, selagi menunggu keputusan dari pihak gereja,” ujar Sebastian.
“Itu artinya kita sama saja dengan Rafael dan Tatiana,” balas Paloma menanggapi.
“Jangan samakan aku dengan bajingan itu!” protes Sebastian tak terima. “Aku jelas berbeda dengannya.”
__ADS_1
“Karena itulah,” balas Paloma lagi. “Jika pihak gereja mengabulkan, maka aku akan terbebas dari ikatan pernikahan ini. Namun, aku tak yakin kau akan sanggup menungguku hingga selama itu.”
“Kau meragukanku? Aku lama menduda dan tak bersentuhan dengan wanita manapun, setelah kepergian Brishia. Lalu, sekarang kau mengatakan bahwa aku tak akan sanggup menunggumu? Aku tak menyukainya, Paloma! Aku tidak menyukai apa yang kau katakan!” tegas Sebastian.
Kesal, Sebastian menjadi sangat sensitif malam itu. Ucapan yang terdengar sederhana dari Paloma, diterima dengan kekesalan luar biasa olehnya. Sebastian mendengkus pelan. Rasanya, dia ingin mengobrak-abrik seisi kamar hotel yang dia tempati.
Tak ada perbincangan lagi antara mereka. Paloma memutuskan sambungan telepon dengan tanpa permisi. Dia tahu bahwa Sebastian kembali tersulut emosi.
Hingga pagi datang, tak ada komunikasi lagi antara Sebastian dan Paloma. Mereka berdua sibuk mengemasi barang masing-masing. Sebastian akan segera berangkat ke Spanyol. Sedangkan Paloma sudah mendapat izin dari Rogelio, untuk kembali ke Kediaman Carlos Sanchez. Namun, Rafael akan menyertainya.
Lagi-lagi, Paloma tak dapat menentang ucapan Rogelio. Entah mengapa, wanita muda itu selalu tunduk kepada pria paruh baya tersebut. Paloma tak menolak, tapi juga tak mengiyakan. Dia hanya membisu. Namun, aksi diamnya dianggap sebagai persetujuan oleh Rogelio.
Bersamaan dengan membumbung tingginya pesawat yang membawa Sebastian kembali ke Spanyol, sedan mewah pun keluar dari halaman kediaman megah Rogelio. Dalam perjalanan itu, Paloma sempat melihat ke langit yang terlihat sangat cerah. Sementara, Sebastian juga menatap keluar jendela.
Tak membutuhkan waktu lama bagi Paloma dan Rafael, hingga tiba di kediaman milik mendiang Carlos. Tempat itu sangat bersih. Meskipun dibiarkan kosong, tetapi Rogelio sudah membayar orang untuk mengurusnya agar tetap terjaga. Setelah berada di dalam, Paloma segera masuk ke kamarnya. Akan tetapi, dia tak membiarkan Rafael ikut. Wanita itu menutup pintu rapat-rapat.
“Aku tidur di mana?” tanya Rafael nyaring.
“Di sini ada tiga kamar kosong. Kau pilih saja salah satunya!” sahut Paloma dari dalam. Nada bicara wanita itu terdengar tak bersahabat.
Rafael mengembuskan napas panjang. Dia melihat sekeliling. Di dekat koridor yang entah menuju ke mana, dirinya melihat ada tiga pintu. Rafael yakin itu pasti merupakan kamar yang Paloma maksud.
Dengan langkah tenang, pria tampan bermata abu-abu itu menggeret koper menuju ke dekat koridor tadi. Rafael membuka satu per satu pintu ruangan itu. Ketiganya merupakan kamar tidur dengan ranjang yang tentu tak semewah di Kediaman Rogelio. Rafael memilih salah satu dari tiga kamar tadi. Dia memutuskan mengambil ruangan di pinggir, dengan alasan yang paling dekat ke kamar Paloma.
Embusan napas berat meluncur dari bibir pria tiga puluh tahun tersebut. Rafael menyugar rambut cokelatnya yang mulai gondrong. Bersamaan dengan itu, terdengar dering pesan dari ponsel yang disimpan di saku jaket. Rafael membuka dan membaca pesan dari nomor baru.
Hanya kematian, bagi orang yang berani menantangku.
__ADS_1