Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Tantangan Paloma


__ADS_3

“Selamat siang,” sapa pria berjaket kulit cokelat itu, seraya mengangguk sopan kepada Rogelio. Dia mengulurkan tangan, mengajak pria paruh baya tersebut bersalaman.


“Selamat siang,” balas Rogelio. Ragu, ayahanda Paloma itu membalas jabat tangan yang ditawarkan pria asing tadi. “Anda siapa?” tanya Rogelio waspada.


“Perkenalkan. Namaku Abelardo Lujan. Aku adalah inspektur polisi sektor Porcuna. Kebetulan, aku juga mengepalai penyelidikan dalam kasus kecelakaan yang menewaskan Tuan Rafael Hernandez,” jelas pria yang tak lain adalah Abelardo.


“Oh, begitu. Baiklah. Silakan masuk, Tuan Lujan.” Rogelio membuka pintu cukup lebar, kemudian mengarahkan tangannya ke dalam, sebagai isyarat agar Abelardo masuk ke ruang perawatan Paloma.


“Terima kasih, Tuan ….”


“Gallardo. Rogelio Gallardo,” ucap ayahanda Paloma menyebutkan nama lengkapnya.


Abelardo mengangguk sopan, sembari masuk ke ruang perawatan Paloma. Saat itu, dia melihat wanita yang setengah duduk di ranjang. Wanita cantik bermata hazel tadi menatap tajam ke arahnya. Namun, Abelardo tetap terlihat tenang. Dia berdiri gagah di ujung ranjang, dengan pandangan terarah sepenuhnya kepada wanita yang tak lain adalah Paloma. “Nyonya Paloma Hernandez,” sapa sang inspektur polisi dengan ramah.


“Ya. Itu aku,” balas Paloma tak seramah sikap Abelardo.


“Namaku Abelardo Lujan,” ucap Abelardo, kembali memperkenalkan diri.


“Aku sudah mendengarnya tadi.” Nada bicara Paloma masih belum berubah. “Ada apa tiba-tiba Anda datang kemari?” tanya wanita cantik berambut cokelat itu tanpa senyuman sedikit pun.


“Tentu saja untuk membahas masalah kecelakaan, yang menimpa Anda dan suami beberapa hari yang lalu,” jawab Abelardo tetap terlihat tenang dan seramah mungkin.


Tersungging senyuman sinis di sudut bibir Paloma. Dia menanggapi ucapan Abelardo dengan raut mencibir. “Kupikir, pihak kepolisian tak mau ambil pusing dengan kecelakaan yang menimpa kami berdua. Hingga saat ini, tak ada siapa pun yang datang kemari untuk bertanya padaku tentang hal itu," ucapnya.


Abelardo tak segera menjawab. Dia menggaruk kening perlahan, seakan tengah memikirkan kata-kata. Bersamaan dengan itu, Rogelio menyodorkan kursi untuk sang inspektur polisi tersebut.

__ADS_1


“Terima kasih, Tuan,” ucap Abelardo sopan. Dia langsung duduk di kursi tadi. Sedangkan, Rogelio memilih ke dekat ranjang, lalu duduk di tepiannya.


“Sebenarnya, petugas kami sudah datang kemari sebanyak beberapa kali. Namun, saat itu kondisi Nyonya Paloma sedang dalam keadaan yang tidak memungkinkan, sehingga kami memutuskan untuk menunggu hingga Anda lebih stabil dan dapat berkomunikasi dengan baik,” jelas Abelardo tetap menjaga wibawanya di hadapan Paloma dan Rogelio.


“Aku rasa, Tuan Gallardo mengetahui hal itu.” Abelardo mengarahkan pandangan kepada Rogelio, yang membalas ucapannya dengan anggukan pelan.


“Kenapa ayah tidak pernah mengatakannya padaku?” tanya Paloma bernada protes.


“Aku menunggu hingga kau pulih, Nak,” dalih Rogelio.


“Aku baik-baik saja, Ayah!” tegas Paloma menatap tajam Rogelio. Setelah itu, dia mengalihkan pandangan kepada Abelardo. “Apa yang telah Anda dan anak petugas lainnya lakukan, Tuan? Sudah sejauh mana kinerja kalian dalam mengusut kasus ini?” Pertanyaan Paloma begitu tajam, langsung pada inti permasalahan.


Abelardo tersenyum kalem. Dia tengah menganalisa karakter wanita di hadapannya. Abelardo tak boleh salah bicara. Terlebih, karena dirinya sempat menutup kasus kecelakaan yang menimpa Paloma beberapa waktu lalu.


“Baiklah, Nyonya Hernandez.” Abelardo memulai pembicaraan. “Jika memang Anda sudah merasa siap, maka aku akan mengajukan beberapa pertanyaan.”


“Baiklah, Nyonya.” Abelardo memasang wajah serius. “Jadi, sesuai dengan hasil penyelidikan yang telah dilakukan, kami menemukan ada dua bekas goresan ban dari dua jenis kendaraan yang berbeda. Apakah Anda mengetahui atau mungkin mengingat sesuatu sebelum kecelakaan itu terjadi?” tanya sang inspektur.


Paloma tak langsung menjawab. Ingatannya melayang pada beberapa waktu yang lalu. Benak wanita itu kembali memutar reka adegan, saat dirinya tengah berkendara bersama Rafael.


“Kami baru kembali dari Casa del Castaneda. Tak ada yang aneh saat aku dan Rafael meninggalkan tempat itu. Namun, tiba-tiba ….” Paloma tak kuasa melanjutkan kata-katanya, ketika dia seakan merasakan kembali kengerian saat mobil yang ditumpanginya ditabrak dari samping, hingga terjungkal dan akhirnya tergelincir ke dalam jurang.


“Semuanya terjadi dengan begitu cepat. Aku bahkan tak sempat berteriak meminta tolong, karena mobil yang kami tumpangi sudah lebih dulu menabrak besi pembatas jalan lalu tergelincir dan ….” Paloma tiba-tiba merasa gelisah.


Napas wanita itu terengah-engah tak beraturan. Sepasang mata hazelnya yang indah terbelalak sempurna, saat kilas balik kejadian tragis tersebut kembali tergambar jelas di pelupuknya. Apalagi, ketika dia mendengar suara ledakan yang sangat dahsyat, dengan asam pekat membumbung ke udara.

__ADS_1


“Rafael. Kenapa aku tidak menyadari bahwa suamiku masih berada di dalam mobil? Padahal, dengan sangat jelas kudengar suaranya yang menyuruhku keluar dari kendaraan.” Paloma memegangi kepalanya yang masih dibebat perban.


“Sebastian! Sebastian Cruz Castaneda mengatakan bahwa dia tak ingin melihat kami berdua selamanya! Pria itu mengancam kami! Dia memberikan ancaman bertepatan dengan kecelakaan tragis yang … Anda harus memenjarakan orang itu! Dia yang bersalah dalam hal ini!” tegas Paloma. Dia begitu yakin dengan tudingan yang dilayangkannya kepada Sebastian.


Abelardo menggeleng. “Tidak bisa begitu, Nyonya,” tolaknya. “Kami bekerja dan menentukan seseorang bersalah atau tidak, hanya berdasarkan bukti yang dapat dipertanggung-jawabkan. Kami tak akan sembarangan menangkap serta memenjarakan seseorang, hanya karena satu ancaman yang belum dapat dipastikan keterkaitannya dengan kasus kecelakaan ini.”


“Apakah Anda melihat tipe mobil yang menabrak kendaraan Anda saat itu, Nyonya?” tanya Abelardo lagi. Dia kembali pada pertanyaan yang sudah disiapkannya.


“Hitam,” jawab Paloma. “Sekilas, aku melihat kendaraan berwarna hitam.”


“Jeep atau SUV?” tanya Abelardo lagi semakin mengerucut.


Paloma kembali mengingat-ingat dan menggambarkan kejadian itu dalam benaknya. “SUV. Ya, kurasa memang SUV.”


Abelardo manggut-manggut. Dia akan mencocokkan keterangan yang diberikan Paloma, dengan rekaman CCTV dari Sebastian. Kedua hal tadi dapat menjadi satu rangkaian yang akan membantunya, dalam mengungkap kasus kecelakaan tragis yang telah menewaskan Rafael Hernandez.


“Baiklah, Nyonya. Aku rasa, cukup untuk hari ini.” Abelardo beranjak dari tempat duduknya. Sang inspektur polisi tersebut melangkah gagah ke dekat ranjang, lalu berdiri di sebelah Rogelio. “Terima kasih atas informasinya, Nyonya. Kami berjanji akan segera mengusut kasus ini. Anda tidak perlu khawatir.”


“Kami juga mengucapkan terima kasih atas bantuannya, Tuan Inspektur Lujan.” Rogelio mewakili Paloma dalam menanggapi ucapan Abelardo.


“Sama-sama, Tuan Gallardo. Ini sudah menjadi tanggung jawab kami selaku pihak yang berwajib.” Abelardo menyalami Rogelio dengan hangat. “Semoga Anda segera pulih, Nyonya.” Pria itu mengangguk sopan kepada Paloma. “Aku permisi dulu. Selamat siang.”


Abelardo membalikkan badan. Dia melangkah ke pintu dengan diantar oleh Rogelio.


Namun, saat inspektur polisi tersebut hendak keluar dari ruang perawatan, tiba-tiba Paloma kembali berkata, “Apa Anda berani membidik Sebastian Cruz Castaneda?” tantangnya.

__ADS_1


“Jika Anda berani mengusutnya dan dapat membuktikan apakah dia yang bertanggung jawab atau bukan dalam kasus ini, aku akan sangat berterima kasih. Namun, jika Anda tak memiliki keberanian untuk itu, maka aku akan bergerak sendiri. Aku akan mencari keadilan, dengan tanpa bantuan pihak kepolisian yang seharusnya lebih berwenang.”


__ADS_2