Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Kesialan Pertama


__ADS_3

Paloma dan Rafael sama-sama terkejut bukan main, setelah mendengar ucapan Rogelio. Terlebih bagi Paloma. Pengakuan yang pria paruh baya itu lakukan, sudah berhasil membuatnya merasa terusik. “Apa maksudmu, Ayah?” Paloma menatap tajam seseorang yang dianggapnya sebagai mertua terbaik di dunia ini.


“Jangan asal bicara, Ayah,” tegur Rafael yang menunjukkan raut tak suka, atas ucapan Rogelio.


Rogelio menggeleng yakin, yang menandakan bahwa dirinya tidak bermain-main dengan apa yang dia ucapkan tadi. Pria paruh baya pemilik Estrella Pharmacies itu memandang Rafael dan Paloma secara bergantian. “Itulah kenyataannya, Anak-anak. Aku adalah ayah kandung Paloma. Carlos Sanchez merupakan salah satu prgawaiku,” terang Rogelio seraya duduk kembali di kursi kebesarannya.


Rogelio mengembuskan napas panjang dan dalam. Sesekali, dia memijat keningnya. Namun, pria paruh baya itu tak langsung memberikan penjelasan dengan lebih terperinci. Ada beban berat yang tersirat dari bahasa tubuh yang dia tunjukkan. Sementara, Paloma dan Rafael masih menunggu penjelasan Rogelio. Paloma terus memperhatikan pria yang sedang terpekur di balik meja kerjanya.


“Jujurlah, Paloma. Kenapa kau begitu ingin pergi ke Spanyol? Apakah benar-benar untuk menemani Rafael dan mengunjungi makam Nilo, atau karena dirimu hendak menemui Sebastian?” Rogelio kembali bersuara, setelah beberapa saat terdiam.


“Jangan mengalihkan topik pembicaraan.” Nada bicara Paloma tak selembut biasanya terhadap Rogelio.


Rogelio menggelengkan kepala seraya berdecak pelan. Sudah saatnya bagi dia untuk mengungkapkan kebenaran, dari rahasia besar yang selama ini tersimpan dengan begitu rapat. Pada akhirnya, Paloma memang harus mengetahui kenyataan tentang jati diri yang belum terungkap.


“Eleanor adalah istriku. Kami tak pernah bercerai bahkan hingga dirinya tiada. Aku dan dia masih berstatus suami istri yang sah,” terang Rogelio memulai penuturannya.


“Apa? Lalu, bagaimana dengan ayahku ….”


“Carlos bukanlah ayahmu,” sela Rogelio seraya mengembuskan napas berat. Dia beranjak dari tempat duduknya, lalu melangkah ke hadapan Paloma.


Rogelio memandang wanita muda bermata hazel tersebut dengan lembut dan penuh kasih. “Kau memiliki warna mata yang sama dengan ibumu, Nak,” ucap Rogelio dengan suara bergetar. Sedangkan, Paloma hanya terpaku menatapnya.

__ADS_1


“Dua puluh lima tahun yang lalu, saat kau terlahir ke dunia ini ….” Bayangan Rogelio terbang ke masa lampau, di mana dirinya merasakan kegundahan yang luar biasa.


Malam itu.


Hujan turun dengan sangat deras, ketika Rogelio berhadapan dengan sang ayah yang terkenal sangat menakutkan bagaikan seorang diktator. Emanuel Gallardo, pria paruh baya pemilik Estrella Pharmacies. Dia berdiri dengan raut tak bersahabat. Sorot matanya begitu tajam, bagaikan pisau yang menguliti tubuh Rogelio.


“Dari awal, aku memang tidak terlalu merestui pernikahanmu dengan Eleanor. Lihatlah apa yang wanita itu berikan padamu sekarang.” Emanuel berkata dengan sinis kepada putranya, Rogelio.


“Ini bukanlah salah Eleanor, Ayah. Kami tidak bisa melawan kehendak Tuhan,” sanggah Rogelio pelan. Dari cara bicaranya, sudah dapat ditebak bahwa dia begitu tunduk kepada sang ayah.


“Aku tidak peduli, Rogelio!” bentak Emanuel dengan tiba-tiba. Membuat Rogelio tersentak dan mundur beberapa langkah. “Kau sudah tahu bahwa aku menginginkan cucu laki-laki. Akan tetapi, istrimu yang tidak berguna itu justru melahirkan bayi perempuan!” Nada bicara Emanuel kian meninggi, bersahutan dengan suara petir di luar sana.


“Aku tidak menyukainya, Rogelio! Apa yang bisa dilakukan anak perempuan selain berdandan serta menangis? Tidak ada!” sentak Emanuel lagi. Wajahnya merah padam, karena menahan amarah.


“Kebahagiaan bisa kau dapatkan saat dirimu berhasil menggenggam dunia, Nak. Anak perempuan, tak akan bisa kau andalkan untuk membantumu dalam hal itu. Dia akan menikah, mengandung selama sembilan bulan, mengurus anak. Lalu, kapan dia bisa fokus ke dunia bisnis?” Ucapan Emanuel masih terdengar sangat ketus.


“Kumohon jangan berkata seperti itu, Ayah,” pinta Rogelio mengiba. Dia begitu lemah dan tunduk di hadapan sang ayah. Satu-satunya keberanian yang pernah Rogelio lakukan adalah ketika dia memaksa untuk tetap menikahi Eleanor, meski Emanuel tidak terlalu menyukai wanita itu.


Namun, pada akhirnya Emanuel tetap keluar sebagai pemenang. Dia menolak untuk menerima kehadiran bayi yang baru dilahirkan Eleanor.


“Waktu itu, aku benar-benar telah membuktikan bahwa diriku memang seorang pengecut yang lemah. Aku membiarkan Eleanor membawamu pergi. Namun, tentu diriku tak lepas tangan begitu saja. Aku menyuruh Carlos untuk mengikuti Eleanor yang pergi membawamu.” Rogelio tertunduk lesu penuh penyesalan.

__ADS_1


“Ibumu tahu bahwa Carlos adalah salah satu orang kepercayaanku di perusahaan. Aku yang memberinya segala fasilitas. Rumah dan segala macam yang kalian butuhkan. Satu hal yang membuat perasaanku begitu lega. Hingga akhir hayatnya, Eleanor tak pernah dekat dengan pria manapun. Dia menghormati Carlos yang kau anggap sebagai ayah kandung. Eleanor juga masih berhubungan baik denganku. Kami hanya tak tinggal seatap,” tutur Rogelio.


“Akan tetapi, semua berubah saat kau mulai beranjak besar. Kau meyakini bahwa Carlos lah ayah kandungmu. Aku juga kembali menjadi seorang pengecut. Aku tidak berani mengakui kebenaran, karena terlalu takut jika kau akan menolak atau bahkan sampai menjauh dariku. Aku tidak bisa, Nak. Meskipun kakekmu tidak menerima, tapi kau adalah putriku. Buah cintaku bersama Eleanor.” Rogelio menatap nanar Paloma. Setitik air mata jatuh membasahi pipinya.


Paloma tak mengatakan apapun. Dia hanya menatap pria paruh baya, yang juga tengah memandang ke arahnya dengan penuh harap. Paloma tak tahu harus berkata apa. Semuanya terlalu tiba-tiba, sehingga dia merasa begitu terkejut. Wanita muda itu lalu menunduk. Menyembunyikan kepedihan atas segala hal yang menimpanya.


“Itulah kenapa aku menikahkanmu dengan Rafael. Dia adalah putra angkat kesayanganku. Aku ingin memiliki kalian berdua. Hanya kalian berdua, tak ada orang lain,” jelas Rogelio. Dia mengemukakan alasan, yang mendasari perjodohan antara Paloma dengan Rafael.


“Apakah Ayah sadar, bahwa sikap Ayah telah sama egoisnya seperti Kakek Emanuel?” tegur Rafael. Dia tak percaya dengan kisah yang dituturkan oleh Rogelio.


“Kau bahkan jauh lebih mengenal Tuan Emanuel Gallardo dibanding diriku,” ucap Paloma disertai tawa penuh kegetiran.


“Maaf, Paloma. Aku mungkin hanya menjadi anak yang beruntung.” Rafael tersenyum kelu. Ada rasa tak enak dalam hatinya terhadap Paloma.


“Ya. Sekarang aku tahu dan seharusnya tak perlu mengeluh lagi. Ternyata, aku memang terlahir dalam situasi yang membuat keberuntungan itu seakan begitu jauh dari jangkauan. Kau dengar sendiri, aku sudah mendapat kesialan bahkan ketika baru dilahirkan ke dunia.” Paloma tertawa getir. Dia menyeka tetesan air mata yang mulai membasahi pipi.


Paloma sebenarnya tak ingin menangis. Akan tetapi, dia tak dapat mengungkapkan segenap perasaan yang berkecamuk dalam dada. Alhasil, hanya butiran bening dari pelupuk mata yang dirasa mampu mewakili segala kegundahan itu. Paloma bergerak semakin mundur dan menjauh dari Rogelio. Dia membalikkan badan, lalu berjalan menuju pintu.


“Kau mau ke mana?” tanya Rafael.


“Mencari udara segar,” sahut Paloma tanpa menoleh.

__ADS_1


“Biar kutemani.” Rafael setengah berlari menyusul Paloma, yang sudah membuka pintu dan keluar dari ruang kerja Rogelio.


__ADS_2