
Beberapa saat telah berlalu. Paloma keluar dari ruang perawatan dengan wajah muram, bahkan ketika Rogelio menghampirinya. “Bagaimana, Nak? Bagaimana kondisi Rafael?” tanya pria paruh baya tersebut.
“Rafael belum bisa berkomunikasi dengan baik. Kondisinya sangat memprihatinkan,” jawab Paloma lesu. Dia terduduk di kursi tunggu, tak jauh dari Sebastian berada. Sedangkan, Rogelio yang merasa penasaran, langsung masuk ke kamar perawatan putra angkat sekaligus menantunya yang baru siuman. Entah apa yang pria itu lakukan di dalam sana.
Di luar kamar, Sebastian berpindah tempat duduk ke dekat Paloma yang tak banyak bicara. Dia merasakan ada sesuatu yang membuatnya merasa resah. Namun, sang tuan tanah dari Porcuna tersebut berusaha menepiskan hal itu. Dia mencoba terlihat biasa di hadapan sang pujaan hati. “Apa kau baik-baik saja?” tanyanya.
“Tidak, Sebastian,” jawab Paloma pelan.
“Sebenarnya, apa yang kau inginkan? Aku merasakan sikapmu yang sangat aneh. Entah ini hanya pikiranku atau ….”
“Aku merasa iba melihat kondisi Rafael,” sela Paloma tanpa mengubah intonasinya.
“Lalu?” tanya Sebastian.
“Entahlah, Sebastian. Dokter menyarankan agar diriku merawat dan menemani Rafael dalam menjalani proses penyembuhannya.”
Sebastian mengembuskan napas berat. Dia mencondongkan tubuh ke depan, lalu meraup kasar wajahnya. Terlihat jelas bahwa pria tiga puluh tujuh tahun tersebut merasa begitu terbebani, atas kisah cinta yang tak semulus angannya.
Duda kaya raya itu bersedia menunggu Paloma menjalani masa persidangan, hingga didapat kata cerai dengan Rafael. Namun, setelah melihat sikap Paloma yang terkesan labil dan tak jarang menyudutkan dirinya, membuat Sebastian menjadi ragu. Dia begitu ingin mengungkapkan segala perasaan, serta unek-unek yang mengganjal di hati. Akan tetapi, dia sadar bahwa ini bukanlah saat yang tepat.
“Pulanglah, Sebastian. Kembali saja ke Porcuna,” ucap Paloma setelah keheningan merajai keduanya. “Aku tak tahu harus berbuat apa. Pikiranku tak karuan saat ini.”
“Kau ingin aku meninggalkanmu?” Sebastian menegakkan tubuh, lalu memandang lekat wanita cantik bermata hazel yang telah berhasil mencuri hatinya. “Kau ingin aku pergi?” tanya pria itu lagi.
Nada bicara Sebastian menyiratkan rasa kecewa yang dalam. Terlebih, karena Paloma tidak menjawab. Wanita berambut pendek itu bahkan tak menoleh sama sekali. Sikapnya yang demikian, membuat rasa kecewa dalam hati Sebastian kian menjadi.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara, sang pemilik perkebunan terluas di Porcuna itu beranjak dari tempat duduknya. Dia membalikkan badan, lalu melangkah meninggalkan Paloma yang masih termenung seorang diri.
“Sebastian,” desah Paloma lirih. Dia menoleh. Paloma memperhatikan langkah tegap pria yang telah memberikan harapan baru untuknya. Akan tetapi, semua itu harus pupus, karena terhalang status yang membuatnya merasa bimbang.
Setitik air mata menetes di sudut bibir Paloma, ketika sosok tegap itu sudah tak terlihat lagi dari pandangannya. Ada rasa sakit yang menyapa sudut hati wanita tersebut. Dia sadar bahwa dirinya telah mengecewakan seorang pria istimewa, yang menawarkan cinta serta kehidupan lebih baik untuknya.
Namun, Paloma juga tak tega jika harus memberikan harapan yang tak menentu kepada Sebastian. Baginya, kecewa di awal akan jauh lebih baik, dibanding menahan rasa sakit setelah penantian penuh harap.
Sebisa mungkin, Paloma menahan diri agar tidak menangis di sana. Terlebih, setelah dia melihat Rogelio yang keluar dari ruang perawatan Rafael. Pria paruh baya itu duduk di sebelah Paloma, sambil mengembuskan napas berat beberapa kali.
“Aku akan meminta izin kepada tim dokter, agar dapat memindahkan Rafael ke Meksiko. Kita akan melanjutkan perawatannya di sana. Aku tak peduli berapapun biaya yang harus dikeluarkan, asalkan kita secepatnya kembali ke Meksiko. Sejujurnya, aku tidak menyukai negara ini.” Rogelio kembali berdiri setelah berkata demikian. Tanpa menunggu tanggapan dari Paloma, dia berlalu meninggalkan putrinya yang kembali termenung.
Rogelio langsung berkoordinasi dengan pihak rumah sakit, agar dapat memindahkan Rafael ke Meksiko dalam waktu dekat. Seperti yang dikatakannya tadi, dia bersedia menanggung biaya sebesar apapun agar dapat secepatnya kembali ke negara itu.
Tim dokter dan pihak rumah sakit menyetujui permohonan yang diajukan Rogelio. Namun, dengan catatan menunggu hingga kondisi Rafael sedikit lebih stabil, berhubung pria itu baru siuman. Rogelio bersedia menunggu, selama beberapa hari lagi. Dalam rentang waktu tersebut, kondisi Rafael memang berangsur stabil. Dia sudah mulai dapat berkomunikasi, meskipun belum seperti biasa.
“Habiskan makananmu,” ucap Rogelio, saat melihat Rafael yang tengah disuapi Paloma.
Rafael tersenyum. Sesekali, dia meringis kecil. “Aku ingin segera sembuh, Ayah,” ujarnya menanggapi ucapan sang ayah angkat sekaligus ayah mertuanya.
“Tentu saja kau harus segera pulih, Nak. Kau pasti tak ingin berlama-lama terlihat menyedihkan seperti ini, kan?” canda Rogelio memberikan sedikit hiburan kepada putranya.
Sementara, Paloma tak banyak bicara. Dia meletakkan mangkuk yang sudah kosong di meja. Setelah memberi minum kepada Rafael, wanita itu beranjak ke kamar mandi. Dia tak sadar telah meninggalkan telepon genggamnya di ranjang perawatan Rafael.
“Baiklah. Aku akan mencari secangkir kopi terlebih dulu. Jangan khawatir. Ada Paloma yang menemanimu.” Rogelio keluar dari kamar perawatan.
__ADS_1
Selagi menunggu Paloma yang berada di dalam kamar mandi, Rafael mencoba untuk tidur. Namun, baru saja dia akan memejamkan mata, suara dering ponsel milik Paloma membuatnya kembali terjaga.
Rafael yang masih terbaring kaku, meraba ke tepian ranjang. Dia bermaksud untuk mengambil ponsel itu dan memeriksa nama penelepon. Namun, dia masih kesulitan mengangkat tangan. Tanpa sengaja, dia justru menyentuh ikon hijau, sehingga panggilan itu dalam posisi terjawab. Alhasil, suara deringnya pun berhenti.
Rafael mengira bahwa si penelepon tak lagi menghubungi. Apalagi, karena Paloma telah kembali. Melihat wajah segar sang istri yang telah selesai mandi, Rafael terlupa pada panggilan telepon tadi. Dia tersenyum, lalu berkata, “Kau terlihat sangat segar. Aku juga ingin segera mandi. Namun, entah bagaimana caranya dalam kondisi seperti ini,” ucap pria itu.
“Aku akan membantumu jika dokter sudah mengizinkan,” balas Paloma menanggapi.
“Sungguh?” tanya Rafael tak percaya.
“Ya, tentu saja. Kau masih berstatus suamiku. Sudah menjadi kewajiban seorang istri untuk merawat suaminya,” jawab Paloma yang telah selesai menyisir rambut.
Rafael tertawa renyah mendengar jawaban Paloma. Membuat wanita dua puluh lima tahun tersebut memandang heran padanya. “Kenapa kau tertawa? Apanya yang lucu?” tanya Paloma seraya menautkan alis. Dia berjalan mendekat, lalu berdiri di sisi sebelah kiri ranjang.
“Bagaimana ini? Aku pasti merasa risi. Sudah berapa lama aku tidak telanjang di hadapanmu?” ujar Rafael kembali memaksakan tertawa.
“Astaga, kau ini! Jika tidak sedang terluka, aku pasti sudah mencubitmu dengan keras,” balas Paloma bernada candaan, meskipun tanpa diiringi senyuman.
“Terima kasih, Paloma. Terima kasih karena sudah bersedia merawatku dengan sangat baik. Aku berjanji akan memberikan yang terbaik juga untukmu,” ucap Rafael terdengar lebih serius dari sebelumnya.
“Kenapa kau bicara seperti itu?” tanya Paloma.
Rafael tak segera menjawab. Dia terdiam untuk merangkai kata terlebih dulu. Sesaat kemudian, pria itu kembali bersuara. “Tuhan memberikan kesempatan kedua padaku. Hal itu kuanggap sebagai alasan untuk membuktikan padamu, bahwa aku bersungguh-sungguh ingin berubah. Biarkan aku menunjukkannya.”
Paloma tak segera menjawab. Dia memandang iba pada pria yang terbaring tak berdaya di ranjang perawatan. Paloma tersenyum lembut seraya mengangguk pelan. “Ya, Rafael. Aku akan memberikanmu kesempatan kedua. Kuharap, kau tak menyia-nyiakan ini dan membuatku menyesal karena telah mengambil keputusan demikian,” ucap Paloma. Dia meyakinkan diri, bahwa itu memang sudah merupakan keputusan yang paling benar.
__ADS_1
“Terima kasih. Aku berjanji padamu. Aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang telah kau berikan,” balas Rafael lega.
Paloma kembali tersenyum. Pandangannya lalu tertuju pada ponsel di dekat tangan Rafael. Paloma memutari ranjang. Dia mengambil ponsel itu, lalu membuka layarnya. Seketika dia begitu terkejut mendapati nama Sebastian di sana.