Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Tamu dan Tuan Rumah


__ADS_3

Sebastian beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan mendekat kepada Paloma yang masih berdiri mematung sambil mendekap foto Nilo. Pria dengan rambut ikal agak gondrong tersebut, memperhatikan Paloma dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Paloma memiliki postur yang hampir sama dengan Brishia, mendiang istrinya. Untuk beberapa saat, Sebastian terus mengamati wanita berseragam pelayan tersebut, dengan lekukannya yang tak terlihat jelas tapi dapat dia bayangkan. Paloma juga sebenarnya memiliki paras yang cantik, jika dirawat dengan baik.


Namun, sang penguasa Casa del Castaneda itu rupanya merupakan pria yang sangat tangguh. Akal sehatnya kembali bekerja dan mengembalikan dia pada kenyataan. Tak mungkin bagi dirinya mengagumi apalagi sampai harus menyentuh seorang pelayan. Harga diri seorang Sebastian Cruz Castaneda, terlalu tinggi jika harus dipertaruhkan demi nafsu sesaat bersama seseorang yang bukan berasal dari kastanya.


“Rafael meminta izin untuk mengantarkanmu ke Granada. Aku tak tahu apa tujuannya,” ucap Sebastian setelah beberapa saat terdiam.


Paloma seketika menoleh kepada pria itu. Sepasang matanya yang berwarna hazel bergerak dengan tak beraturan, menandakan bahwa dia merasa tak nyaman. “Anda akan membiarkanku pergi dari sini, Tuan?” tanya Paloma seakan hendak melayangkan protes.


Bukannya langsung menjawab, Sebastian malah tersenyum sinis. “Apa kau lupa jika dirimu sedang menjalani masa hukuman dariku? Kau pikir, aku akan membiarkanmu pergi begitu saja?” Sebastian yang tadi sempat berbicara dengan normal kepada Paloma, kali ini kembali pada sikap arogannya. Dia berjalan semakin mendekat kepada pelayan dengan postur 168 cm itu. Sebastian berdiri gagah di hadapan si pemilik rambut cokelat tersebut.


Sementara Paloma bergerak mundur secara perlahan. Suasana hati wanita cantik tersebut, sedang tidak mendukung untuk melakukan perlawanan seperti yang biasa dilakukan. Paloma bahkan tak membalas tatapan sang duda tampan. Sorot mata pria itu bagaikan peluru kendali yang sudah terkunci, dan siap meluluhlantakan sesuatu yang menjadi targetnya. Paloma lebih memilih mengarahkan pandangan ke lantai. Dia hanya dapat mencium aroma parfume Sebastian. Wangi yang sama seperti kemarin-kemarin.


“Jika kau bertanya mengapa aku harus mengurusi pelayan sepertimu, maka jawabannya teramat sederhana. Selama ini, tak pernah ada pelayan yang ….”


“Aku memang bukan pelayan di sini,” sela Paloma dengan segera. Dia mulai mengangkat wajah. Paloma seakan hendak kembali menantang pria yang jelas-jelas jauh lebih berkuasa jika dibandingkan dengan dirinya.


“Oh, aku suka ini. Kenapa sekarang aku mulai tertarik untuk bermain-main denganmu? Melihat sikap pembangkang yang kau tunjukkan di hadapanku …. baiklah.” Sebastian berjalan menuju kursi tempat biasa dirinya menerima tamu. Dia duduk dengan penuh wibawa di salah satu kursi tersebut. Tatapan pria bermata cokelat madu tadi, tertuju sepenuhnya kepada Paloma yang tak mengerti dengan maksud dari ucapan sang tuan.


“Kenapa kau masih berdiri di situ, Paloma?” Suara berat Sebastian kembali terdengar di ruangan dengan nuansa merah hati dan cokelat itu.


“Pekerjaan konyol apa lagi yang harus kulakukan hari ini?” tanya Paloma dengan raut malas.


“Kau sudah menantikannya?” Sebastian balik bertanya. Pria itu terlihat sangat puas.

__ADS_1


“Bukankah itu yang Anda inginkan? Melihatku mati kelelahan secara perlahan, demi mengobati harga diri Anda yang tercoreng karena ulahku.” Paloma membuang muka setelah berkata demikian. “Para tamu undangan tak ada yang menyalahkan atau mengolok-olok Anda. Akan tetapi, aku tetap harus menerima hukuman dengan batas waktu yang tidak ditentukan. Apakah itu tidak terdengar konyol?”


Sebastian tak menanggapi ucapan Paloma. Pria tampan tersebut hanya menaikkan lengan t-shirt yang dia kenakan. Duda tiga puluh tujuh tahun itu juga belum mengubah posisi duduknya.


Seulas senyuman muncul di sudut bibir Sebastian. Sang penguasa Casa del Castaneda tersebut, seperti tak ingin mempermasalahkan kata-kata yang Paloma lontarkan terhadapnya. Sebastian masih bersikap sangat tenang. Mungkin benar, jika kali ini dia ingin bermain-main dengan wanita muda berambut cokelat itu.


“Apakah sudah cukup?” tanyanya. “Jika kau sudah puas dengan unek-unekmu hari ini, maka sekarang waktunya untuk melakukan tugas.” Sebastian menghela napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan.


“Kau lihat deretan buku dalam lemari kaca itu, Paloma?” tunjuk Sebastian pada lemari besar yang ada di belakang meja kerja. “Carikan aku buku dengan penulis bernama Antonio Machado,” titah pria dengan cincin yang menghiasi jari telunjuk serta jari manisnya.


“Siapa?” tanya Paloma.


“Antonio Machado,’ jawab Sebastian tenang, “jangan katakan jika kau tak mengenal siapa dia,” ujarnya setengah mencibir.


Sebastian menyunggingkan senyuman kecil di sudut bibirnya. “Buku tentang politik ada di pintu kaca nomor dua dari kiri,” jawabnya tenang.


“Ah, baiklah. Akan kucari,” balas Paloma penuh percaya diri. Dia berjalan ke dekat lemari besar dan tinggi berisi ratusan buku dengan berbagai tema. Sesuai arahan dari Sebastian, Paloma langsung menuju pintu nomor dua dari kiri. Matanya awas melihat satu per satu tulisan yang tertera pada sampul bagian samping buku-buku di sana. Entah ada berapa puluh buku yang Paloma lihat dari atas hingga ke bawah. Butuh waktu lebih dari lima belas menit baginya untuk memeriksa buku-buku itu. Akan tetapi, Paloma tak menemukan nama pengarang Antonio Machado.


Paloma meletakkan tangan kanannya di pinggang. Sekali lagi, dia memastikan dengan memeriksa kembali satu per satu buku yang tertata rapi di dalam lemari kaca pintu nomor dua tadi. Namun, hingga tiga kali memeriksa, Paloma tak juga menemukan nama yang dirinya cari.


Sebuah keluhan pendek meluncur dari bibir wanita dengan seragam pelayan itu. Paloma kemudian membalikkan tubuh. Dia menatap Sebastian beberapa saat, seakan meminta sebuah penjelasan dari pria tersebut. Akan tetapi, Sebastian tak menanggapinya sama sekali. Duda tampan dan mapan itu hanya membalas tatapan Paloma tanpa mengatakan apapun.


“Tak ada nama Antonio Machado di antara buku politik,” ucap Paloma. Dia mulai merasa bodoh. Terlebih, ketika melihat Sebastian menyunggingkan senyuman yang terkesan mengejeknya.


“Lalu?” Sebastian masih terlihat sangat tenang menanggapi ucapan Paloma.

__ADS_1


“Dia … bukan … ahli politik,” sahut Paloma ragu, sambil menggerakkan bola matanya dengan tak beraturan.


“Kalau begitu, cari di tempat buku dengan tema yang lain,” balas Sebastian seraya mengarahkan tangannya.


“Kenapa tidak langsung mengatakan di mana ….”


“Untuk apa aku menyuruhmu? Sepertinya aku lupa menyimpan buku itu di mana?" Sebastian menyela dengan tenangnya. Tak terlihat ada rasa bersalah, dalam raut wajah duda tampan tiga puluh tujuh tahun tersebut.


Paloma terlihat hendak melayangkan protes. Namun, hal itu dia urungkan. Paloma mengembuskan napas pelan. Dia mencoba untuk terlihat biasa. Paloma seakan ingin menunjukkan kepada Sebastian, bahwa dirinya tak merasa terganggu sama sekali dengan tugas konyol yang diberikan pria tersebut.


Tanpa banyak bicara, Paloma kembali memusatkan perhatian pada lemari kaca berisi ratusan buku tadi. Dia memeriksa mulai dari pintu nomor satu, hingga beberapa pintu yang lain. Namun, nama Antonio Machado masih belum juga dia temukan.


"Baiklah, Tuan." Paloma kembali membalikkan badan, setelah menghabiskan hampir satu setengah jam berlalu. Dia menatap Sebastian yang saat itu tengah asyik dengan telepon genggamnya. "Antonio Machado bukan merupakan ahli politik, bisnis dan ekonomi, pertanian, ataupun sejarawan. Namanya juga tidak ada dalam deretan buku filsafat. Jadi, dia merupakan ... astaga." Paloma mengeluh pelan.


"Kenapa kau langsung menyimpulkan bahwa Antonio Machado merupakan seorang ahli politik?" tanya Sebastian dengan penuh wibawa.


"Karena, orang seperti Anda pasti menyukai dunia politik dan sangat memahami hal itu," jawab Paloma mencoba terlihat yakin, meskipun dia sendiri meragukan jawabannya.


"Itulah kesalahnmu, Paloma." Sebastian beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan ke dekat lemari kaca di mana Paloma berada. "Baiklah. Kau tak ingin disebut sebagai pelayan di sini. Maka, aku akan menghargai hal itu. Kuanggap kau sebagai tamu."


"Tidak ada tuan rumah yang memberikan hukuman konyol kepada tamunya," protes Paloma.


"Seorang tamu seharusnya pandai menjaga sopan santun," balas Sebastian tenang, membuat Paloma tak dapat membalas ucapan sang penguasa tempat itu.


Sebastian tersenyum simpul. "Seperti itukah caramu menilai seseorang? Begitu spontan dan tanpa berpikir panjang." Dia mengalihkan perhatiannya pada beberapa buku di atas meja kerja. Dari sana, dirinya mengambil salah satu. Dengan senyum penuh kepuasan, Sebastian memperlihatkan nama yang tertera dalam buku tersebut. Antonio Machado.

__ADS_1


__ADS_2