Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Tamparan Keras


__ADS_3

“Lepaskan aku!” sentak Paloma, ketika Rafael merengkuh tubuh rampingnya. Paloma memberontak, saat Rafael memaksa memeluknya dengan erat.


“Untuk kali ini maafkan aku, karena aku tidak bisa menuruti permintaanmu,” tolak Rafael dengan tenang. Dia memejamkan mata saat menghirup dalam-dalam aroma rambut Paloma, yang tercium begitu menyegarkan sekaligus menenangkan.


Lagi-lagi, penyesalan itu hadir. Kenapa begitu terlambat bagi Rafael untuk menyadari bahwa dirinya telah memiliki permata terindah yang sangat berharga. Sebuah harta tak ternilai, yang hampir terlepas dari genggamannya andai dia tak segera mengambil sikap tegas.


“Brengsek kau, Rafael!" Paloma mengucapkan sumpah serapahnya sambil berusaha melepaskan pelukan Rafael. Akan tetapi, apalah daya tenaganya yang lemah, jika dibandingkan dengan tubuh tinggi tegap milik Rafael.


Pelukan itu makin lama semakin erat, hingga akhirnya Paloma memilih untuk menyerah. Dia pasrah dan menerima apapun perlakuan Rafael padanya. Paloma terdiam. Ada sesuatu di dalam hatinya yang sudah bertahun-tahun terkubur dengan dalam. Sesuatu yang kembali menyeruak muncul ke permukaan.


Debaran lembut yang semakin lama berubah menjadi semakin dahsyat. Menyadarkan Paloma agar dirinya tak boleh terbuai, apalagi sampai terhanyut. Ketika pelukan Rafael mulai melemah, saat itulah Paloma segera menyingkirkan kedua tangan Rafael sekuat tenaga. Tak hanya itu, Paloma juga mendorong pria tersebut lalu menamparnya dengan keras.


Tak hanya Rafael, Paloma pun ikut tertegun atas apa yang telah dilakukannya tersebut. Terbesit rasa bersalah dalam hati. Dipeganginya tangan yang baru saja dia gunakan untuk menampar Rafael. Terlebih saat Paloma melihat Rafael yang hanya terdiam, sambil memegangi pipi dengan warna merah akibat kerasnya tamparan tadi.


“Aku ….” Sedikit lagi, Paloma akan mengucapkan kata maaf. Namun, hal itu segera dia urungkan. Ucapan sederhana tapi sangat sulit untuk diucapkan oleh sebagian besar orang tersebut, nyatanya hanya tersangkut di tenggorokan.


“Maafkan aku, Paloma. Tak seharusnya aku memaksamu.” Rafael tersenyum getir. Dia mundur perlahan sebelum berbalik meninggalkan Paloma yang tetap berdiri mematung.


Sementara itu, jauh di Porcuna. Sudah dua jam lebih Sebastian hanya duduk termangu di tepian ranjang, sambil memegang bingkai foto kecil berlukiskan sosok cantik mendiang sang istri, Brishia. Berkali-kali, dia mengembuskan napas dalam-dalam sambil terus memperhatikan wajah ceria dalam foto.


“Katakan, apa yang seharusnya kulakukan, Mi amor (sayangku)?” ucap Sebastian pelan. “Aku sama sekali tak mengira bahwa diriku akan jatuh cinta pada wanita lain, selain dirimu. Namun ….” Pria rupawan itu tak melanjutkan kalimatnya.


Sebastian mende•sah pelan untuk ke sekian kalinya. Pikiran duda tampan tiga puluh tujuh tahun itu kembali tertuju pada kalimat Tatiana, saat janda cantik tersebut berkunjung ke Casa del Castaneda.


“Sialan!” Sebastian mencengkeram erat bingkai foto tersebut sebelum meletakkannya kembali di atas nakas. Dia lalu berdiri dan memasuki walk in closet. Di sana, dirinya menyiapkan pakaian terbaik. Sebastian memasukkannya ke dalam koper.


Pria itu terlihat begitu gusar, sehingga tak bisa berpikir dengan jernih. Setelah selesai berkemas, Sebastian keluar dari kamar dan langsung berjalan melintasi halaman samping. Tujuannya adalah kawasan mess yang disediakan khusus untuk para pekerja.


Sebastian mengetuk pintu satu paviliun yang berukuran paling besar. Tak berselang lama, pintu itu terbuka. Sosok Martin muncul dari baliknya. “Buenas noches (selamat malam), Señor. Apakah ada masalah di perkebunan?” tanya Martin dengan muka bantal yang terlihat bertanya-tanya. Hal itu sangat wajar, karena Sebastian mengetuk pintu kamarnya saat jarum jam menunjukkan pukul setengah satu malam.


“Aku … aku akan pergi ke Meksiko besok,” ujar Sebastian agak ragu.


“Besok?” ulang Martin seraya menautkan alis. “Ada acara apa, Tuan? Kenapa mendadak sekali?” tanyanya.

__ADS_1


“Aku … um ....” Sebastian memijit tengkuknya, lalu berpikir sejenak. “Aku akan memenuhi undangan Tuan Gallardo di Meksiko,” jawab Sebastian pada akhirnya.


“Acara perayaan kerja sama yang Anda ceritakan kemarin, Tuan? Bukankah itu diadakan akhir pekan? Itu berarti masih tiga hari lagi,” sahut Martin tak mengerti, sebab majikannya tersebut tampak begitu terburu-buru.


“Ya, aku tahu. Hanya saja, aku ada sedikit urusan yang harus lebih dulu diselesaikan di sana,” ucap Sebastian.


Martin ingin sekali menebak. Namun, dia terlalu sungkan untuk mengeluarkan suaranya. Sang mandor pun hanya dapat mengangguk penuh pengertian. “Baiklah. Apakah ada tugas yang harus kuselesaikan sebelum Anda berangkat, Tuan?” tanya Martin lagi.


“Tidak ada,” sahut Sebastian cepat. “Aku hanya ingin menyampaikan bahwa kau yang bertanggung jawab terhadap perkebunan ini selagi aku tak ada. Semuanya kuserahkan padamu. Jadi, jangan kecewakan kepercayaanku,” pesan Sebastian.


“Siap, Tuan. Anda tak akan menyesal karena telah memercayaiku,” sahut Martin seraya mengangguk yakin.


“Bagus.” Sebastian tersenyum lebar, seraya menepuk bahu Martin. “Kau memang bisa diandalkan,” ucapnya sebelum berlalu dari hadapan pria itu. Sebastian bermaksud untuk kembali ke kamarnya dan beristirahat.


Keesokan paginya, Pedro mengantarkan sang tuan menuju bandara dengan kecepatan sedang. “Aku ingin kau membantu pekerjaan Martin. Aku tahu itu bukan wilayah pekerjaanmu. Nanti aku akan menggajimu dua kali lipat,” pesan Sebastian, sesaat setelah dirinya tiba di depan terminal keberangkatan.


“Baik, Tuan.” Pedro membungkuk penuh hormat sekaligus sebagai simbol ucapan selamat jalan bagi sang majikan.


Sebastian tersenyum samar sambil berbalik meninggalkan Pedro, yang tetap berdiri di tempatnya sampai Sebastian menghilang dari pandangan.


“Apa kau mengenal Keluarga Gallardo?” tanya Sebastian, ketika sopir itu membantunya menurunkan koper.


“Tuan Besar Gallardo pemilik Estrella Pharmacies?” Si sopir balik bertanya untuk meyakinkan.


“Ya. Itu yang dulu pernah dia katakan padaku,” jawab Sebastian.


“Tidak ada yang tidak mengenalnya di kota ini, Tuan. Perusahaan farmasi secara turun temurun dimiliki oleh Keluarga Gallardo. Produknya tak hanya merambah wilayah Meksiko, melainkan hingga Amerika Serikat dan Eropa,” jelas si sopir dengan yakin.


“Oh.” Hanya sebuah tanggapan singkat yang dilontarkan oleh Sebastian saat itu.


“Apakah Anda ingin kuantarkan ke kediamannya, Tuan?” tawar si sopir.


“Kurasa, itu bukan ide yang buruk. Tunggu sampai kau kuhubungi nanti. Berapa nomormu?” Sebastian merogoh telepon genggamnya dari saku jaket, lalu mengetikkan satu demi satu angka yang disebutkan oleh si sopir taksi.

__ADS_1


“Namaku Hector, Tuan,” ucap si sopir menyebutkan namanya tanpa diminta.


“Baiklah, Hector. Sampai jumpa lagi.” Sebastian mengangguk seraya menyerahkan lembaran uang peso pada Hector. Dia lalu berbalik, ketika seorang bellboy menghampiri dan membawakan kopernya sampai ke depan meja reseposionis.


Setelah melakukan proses check in, Sebastian menerima kunci kamar di lantai teratas. Dia butuh sedikit waktu untuk mengistirahatkan badan akibat jetlag. Perbedaan waktu antara Spanyol dan Meksiko yang cukup jauh, membuat Sebastian sedikit pusing.


Sekitar pukul empat sore waktu Chihuahua, Sebastian terbangun dari istirahatnya yang cukup nyaman di ranjang besar kamar suite. Pria itu segera bersiap-siap. Tak sampai setengah jam, Sebastian sudah terlihat bersih dan rapi dalam balutan outfit casual. Dia lalu mengambil tempat duduk di sofa lobi sambil menghubungi Hector.


Sekitar sepuluh menit berlalu, taksi Hector berhenti di area depan hotel. Pria bertubuh agak tambun itu kemudian menjemput Sebastian di lobi, dan mempersilakannya masuk ke kendaraan. “Jadi, tujuan kita langsung ke kediaman Keluarga Gallardo, Tuan?” tanya Hector.


“Ya, kita langsung ke sana,” putus Sebastian.


“Baik, Tuan.” Hector cekatan memutar haluan kemudi. Dia melajukan kendaraan menyusuri ruas jalan utama, hingga keluar menuju jalur kecil ke arah pinggiran kota. Taksi itu lalu berhenti di bawah sebuah jalan menanjak ke arah bukit.


“Di mana ini?” Sebastian menunduk, mengamati pemandangan indah di depan kaca depan mobil.


“Ini bukit Guadalupe, Tuan. Ratusan tahun yang lalu, Keluarga Gallardo telah membeli bukit ini secara pribadi dari dewan kota. Mereka lalu membangun kastil di puncak bukit. Entah apa tujuannya, Tuan. Mungkin secara turun temurun, Keluarga Gallardo tak suka keramaian. Pernah ada rumor yang sempat berhembus, mengatakan bahwa mereka adalah keturunan para vampir,” ujar Hector seraya terbahak.


“Hm.” Sebastian manggut-manggut mendengar penjelasan si sopir taksi.


“Apakah Anda ingin melanjutkan perjalanan sampai ke puncak, Tuan?” tawar Hector lagi. “Akan tetapi, setahuku Anda harus membuat janji terlebih dulu. Tidak semua orang boleh memasuki kawasan itu,” imbuhnya.


“Tidak, sampai di sini saja. Antar aku kembali. Carikan aku restoran paling enak di sekitar sini.” Sebastian mengurungkan niatnya untuk melanjutkan perjalanan, ketika tiba-tiba dari arah atas bukit muncul sebuah sedan mewah berwarna hitam. Kendaraan itu melaju pelan, melewati taksi yang dia tumpangi. Sekilas Sebastian melihat wajah cantik Paloma di balik jendela mobil yang terbuka separuh.


“Ikuti mobil itu!” titah Sebastian cepat. “Jangan terlalu dekat supaya mereka tidak curiga!”


“Baik, Tuan.” Hector menuruti setiap perkataan Sebastian. Dia menghentikan mobil, ketika kendaraan di depannya berhenti dan melajukannya kembali saat sedan mewah tadi kembali bergerak.


Sedan hitam itu lalu berhenti di depan sebuah butik. Sebastian menahan napasnya, ketika melihat sosok cantik Paloma turun dengan anggun dari mobil mewah itu. Senyumnya seketika terkembang. Ingin rasanya dia turun dan menghampiri wanita yang kini berhasil merajai angan dan hatinya.


Namun, keinginan itu segera Sebastian tahan, ketika dia juga melihat sosok Rafael ikut turun dari dalam mobil. Rafael berusaha mengikuti langkah wanita pujaannya.


Dari dalam taksi, Sebastian dapat melihat dengan jelas bahwa raut Paloma tampak sangat tidak nyaman. Terlebih, saat Paloma dengan sengaja mendorong tubuh Rafael agar menjauh darinya. Sebastian langsung terkesiap. Dia sudah bersiap seandainya Rafael membalas sikap Paloma. Akan tetapi, pria tampan bermata abu-abu itu hanya diam, sambil memamerkan senyuman kalem. Rafael tampak mengangguk, lalu membukakan pintu butik bagi Paloma.

__ADS_1


“Hm. Sepertinya, ini akan menjadi teka-teki yang sangat menarik,” pikir Sebastian pelan. “Aku jadi tidak sabar menghadiri pesta Tuan Gallardo,” tandasnya seraya menyeringai kecil.


__ADS_2