
“Aku tidak bisa, Tuan Blanco. Putriku sudah menunggu di rumah,” tolak Paloma halus.
“Sebentar saja, Nyonya Hernandez,” pinta Elazar setengah memaksa. “Lihatlah, kita sudah tiba di tempat.”
Paloma melihat bangunan restoran dua lantai, yang berada di sebelah kiri kendaraan. Dia terus memperhatikan restoran mewah tersebut, hingga Elazar selesai memarkirkan mobil.
“Aku sudah memesan satu meja untuk kita. Menunya juga sudah siap. Kuharap kau cocok dengan hidangan pilihanku, Nyonya,” ucap Elazar, seraya membantu Paloma turun dari kendaraan.
Wanita cantik itu tampak kikuk, ketika Elazar terus menggenggam tangannya hingga tiba di dekat meja yang sudah dipesan sebelumnya.
“Kuharap kita tak ke mana-mana lagi setelah ini," ucap Paloma resah. Dia memeriksa ponselnya yang mati karena kehabisan baterai.
“Kau bisa menghubungi putrimu untuk memberitahunya, bahwa dirimu akan pulang terlambat,” saran Elazar.
“Itulah masalahnya.” Paloma meringis kecil. “Ponselku mati."
“Ya, ampun. Kenapa kau tidak mengatakan dari tadi, Nyonya?” Elazar langsung menyodorkan telepon genggam miliknya. “Pakailah ponselku."
Paloma menerima telepon genggam itu. Dia lalu menekan deretan angka untuk menghubungi Kalida. Tak berselang lama, panggilannya tersambung. Wajah cantiknya yang berseri-seri semakin tampak memesona, saat dia bercakap-cakap dengan Luz Maria.
Sesaat kemudian paras ceria Paloma seketika sirna. “Apa kau bilang, Sebastian?” tanyanya pelan. Namun, Elazar dapat mendengarnya dengan jelas. “Nanti kuhubungi lagi. Ponselku mati,” pungkas Paloma. Dia segera mengembalikan telepon genggam itu pada Elazar.
“Apakah ada masalah, Nyonya Hernandez?” tanya Elazar curiga.
“Ah, tidak apa-apa. Sebastian selalu saja khawatir berlebihan,” kilah Paloma seraya menggaruk kening.
“Sebastian masih ada di rumahmu, Nyonya?" tanya Elazar. "Ah, lupakan. Kita nikmati saja hidangannya sebelum dingin."
Elazar terlihat begitu bahagia saat berbincang dengan Paloma. Banyak hal ringan yang mereka bicarakan saat itu, hingga tak terasa waktu merayap pelan menuju pukul delapan malam.
Paloma sudah menyelesaikan makan malamnya. Dia mulai tak nyaman, ketika melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan. “Maaf jika aku tidak sopan. Bisakah kita pulang sekarang?” tanyanya hati-hati.
__ADS_1
“Oh, tentu,” jawab Elazar. Dia langsung mengangkat tangan sebagai tanda panggilan kepada pelayan, yang segera menghampiri sambil membawa bill.
Setelah membayar menggunakan kartu kredit, Elazar langsung berdiri dan mengajak Paloma kembali ke mobil. Akan tetapi, saat Elazar melajukan kendaraannya, lagi-lagi pria itu melaju ke arah lain.
“Ya, ampun. Ke mana lagi kita setelah ini?” tanya Paloma resah.
“Tenang saja, Nyonya. Aku hanya akan mengajakmu ke satu tempat. Setelah itu, kita langsung pulang,” jawab Elazar. Dia lalu menghentikan kendaraannya di sebuah showroom mobil yang masih buka.
Lampu-lampu terang berjajar di sepanjang jalan masuk menuju tempat pameran. Paloma tampak resah. Bukannya membawa wanita itu pulang, Elazar malah mengajaknya berkeliling melihat-lihat mobil-mobil mewah yang dipajang.
Seorang pria paruh baya, datang dari bagian dalam showroom dan menyapa Elazar. “Tuan Blanco? Tumben Anda malam-malam kemari,” sambutnya seraya menjabat tangan Elazar.
“Ya, kebetulan aku sedang berada di sekitar sini,” ucap Elazar sambil memamerkan senyumannya.
“Apakah Anda hendak menambah koleksi mobil lagi?” tanya si pemilik showroom.
“Ah, bukan untukku. Namun, untuk dia.” Elazar mengarahkan telunjuknya pada Paloma.
“Apakah Anda tidak bisa menyetir, Nyonya?” Elazar mengernyitkan kening.
“Bukan masalah itu, tapi ... ya. Aku tidak bisa menyetir. Itu merupakan salah satu masalahnya. Akan tetapi, aku tetap menolak,” tegas Paloma.
“Ayolah, Nyonya. Memiliki kendaraan akan memudahkan pergerakanmu. Aku yang akan mengajari kau menyetir,” bujuk Elazar.
“Ya. Belajar menyetir itu perlu. Jangan sampai mobil Anda menjadi rusak gara-gara berkendara dengan ugal-ugalan,” sahut si pemilik showroom diiringi tawa.
“Apakah Anda pengendara ugal-ugalan, Tuan?” Paloma mengalihkan perhatiannya pada Elazar.
“Ah! Dia berkali-kali datang kemari dengan membawa mobil rusak. Beruntung mobil itu berjenis SUV. Jadi, daya jualnya masih tetap bagus,” celoteh si pria. Membuat Paloma terhenyak, lalu menoleh pada Elazar dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Berhentilah membual, Juan.” Elazar langsung melotot pada pria pemilik showroom.
__ADS_1
Namun, Paloma terlanjur mendengar penjelasan Juan. Seluruh tubuhnya mendadak tegang. Entah kenapa, perasaannya begitu kalut. Dia menjadi lebih pendiam, sepanjang perjalanan pulang ke rumah barunya di Porcuna. Kembali terngiang perkataan Sebastian di telepon tadi.
“Berhati-hatilah, Paloma. Pembunuh suamimu masih berkeliaran di luar sana. Diperkirakan ada pelaku lain yang sudah melakukan pembunuhan itu,” ujar Sebastian beberapa saat lalu.
Paloma menelan ludah. Diam-diam dia melirik pada Elazar yang serius memegang kemudi.
"Kita akan pulang, 'kan?" tanya Paloma setelah beberapa menit terdiam.
"Itu pasti, Nyonya. Aku akan membawamu pulang sekarang." Elazar melirik pada Paloma sambil tersenyum simpul. "Besok mobilnya akan kukirim ke rumahmu," imbuhnya.
"Aku tidak mau, Tuan Blanco. Tolong jangan memaksaku." Paloma bersikukuh menolak.
"Aku tidak menerima penolakan," tegas Elazar, "atau aku tidak akan mengantarkanmu pulang," ancamnya sambil menyeringai.
"Astaga." Paloma berdecak pelan. Dia merasa agak takut dengan ancaman yang baginya terlihat serius. Akhirnya, paloma tak meengatakan apapun lagi, sampai kendaraan milik Elazar berhenti di depan rumah barunya.
Paloma dan Elazar cukup terkejut, saat melihat Sebastian yang sedang duduk di ruang tamu sambil memangku Luz Maria yang sudah tertidur. "Kenapa Luz Maria denganmu, Sebastian? Di mana Kalida?" tanya Paloma. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari sosok pengasuh putrinya.
"Luz Maria rewel sejak tadi siang. Dia menangis terus mencarimu," jawab Sebastian seraya melirik tajam ke arah Elazar.
"Ah! Maafkan aku, Sebastian. Aku memang bersalah mengajak Nyonya Hernandez tanpa rencana sebelumnya." Elazar maju, lalu mengulurkan tangannya pada Sebastian. Dia juga sempat berniat menyentuh pipi Luz Maria. Namun, balita itu menolak.
"Sepertinya dia lebih menyukaimu," ujar Elazar tak suka.
"Anak kecil memang memiliki perasaan yang sensitif. Dia dapat merasakan kasih sayang yang tulus dari seseorang," balas Sebastian.
Elazar hanya tersenyum kecut mendengarnya. Tanpa banyak basa-basi lagi, dia berpamitan.
Sepeninggal Elazar, Paloma segera memposisikan diri di samping Sebastian. Dia juga merengkuh tubuh mungil Luz Maria, kemudian memangkunya. "Kau tahu, Sebastian? Aku tadi sempat takut waktu Tuan Blanco mengajakku ke showroom mobil. Dia berniat hendak membelikanku mobil baru," tutur Paloma.
"Apa?" Mata Sebastian terbelalak tak percaya. "Apa kau menerimanya?"
__ADS_1
"Dengarlah dulu," protes Paloma. "Sang pemilik dealer mobil bercerita bahwa Elazar pernah membawa mobil SUV dalam kondisi rusak ke sana," jelas Paloma. "Apakah mungkin jika ...." Paloma menjeda kalimatnya, ketika memperhatikan raut wajah Sebastian yang seketika menegang.