Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Duda Idaman


__ADS_3

Sebastian berdiri terpaku, memperhatikan aktivitas para pekerja perkebunan yang tengah sibuk memanen buah zaitun. Seperti biasa, Martin sang mandor menemaninya dengan setia. Martin tak banyak bicara, karena dia melihat sang tuan juga hanya terdiam.


Lain halnya dengan Paloma. Dia sedang menerima tamu yang membuatnya tak nyaman. Elazar datang kembali ke Granada, dengan membawa berita tentang tempat tinggal untuk dirinya.


“Ada beberapa tempat yang bisa kau pilih, Nyonya. Semua memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing tentunya. Namun, sebagai seorang pengembang yang terbiasa melihat prospek suatu wilayah, aku menyarankanmu memilih tinggal di bagian utara perusahaan. Selain karena jarak tempuh yang relatif dekat, wilayah itu juga sudah mulai ramai saat ini. Kau bisa menemukan banyak pertokoan dan minimarket di sana,” jelas Elazar menerangkan dengan detail.


“Bagaimana, Ayah?” tanya Paloma seraya menoleh kepada Rogelio. Dia terlihat sedang memikirkan apa yang Elazar terangkan tadi.


“Elazar pasti jauh lebih mengetahui daerah itu, Nak. Lagi pula, dia seorang pemilik perusahaan konstruksi sekaligus pengembang. Aku rasa, pengamatan menurut kacamatanya pasti akan jauh lebih tepat,” sahut Rogelio. Dia membalas tatapan Paloma, lalu mengangguk yakin.


“Baiklah, jika kau sudah setuju. Kalau begitu, kapan aku bisa melihat lokasinya?” tanya Paloma.


“Aku sudah membuat janji dengan orang yang akan menjual rumah itu. Dia baru bisa ditemui besok atau lusa. Terserah kau, Nyonya. Aku bersedia mengantarmu kapanpun kau mau,” jawab Elazar dengan pasti. Tatap mata serta senyuman pria dengan wajah serta perawakan mirip Rafael tersebut, lagi-lagi membuat Paloma merasa tidak nyaman.


“Aku akan berangkat besok dengan penerbangan pagi. Paloma pasti akan lelah jika harus bepergian jauh dalam satu waktu,” ujar Rogelio. Dia kembali mengarahkan perhatiannya kepada sang putri. “Pergilah lusa, Nak. Kau bisa menentukan dan mengambil keputusan sendiri.” Rogelio menyentuh punggung tangan ibunda Luz Maria tersebut, lalu kembali tersenyum.


“Ayah,” ucap Paloma lirih. Saat itu, dia merasakan keharuan yang luar biasa. Paloma menyesali pertengkarannya kemarin dengan sang ayah. Wanita dua puluh delapan tahun tersebut mengangguk pelan. “Aku tidak akan mengecewakanmu. Aku akan berusaha sebaik mungkin,” ucapnya.


Malam itu, Paloma membantu Rogelio berkemas. Sementara, Rogelio sendiri asyik bermain dengan Luz Maria. Pria paruh baya tersebut ingin memanfaatkan waktu yang tinggal tersisa beberapa jam lagi, hingga dirinya harus berangkat besok pagi.


Sekitar pukul sembilan malam, Paloma baru menyelesaikan pekerjaannya. Setelah berpamitan dengan sang ayah yang akan beristirahat lebih cepat, dia membawa Luz Maria ke kamar. Paloma menidurkan anak itu, yang sudah kelelahan bermain dengan sang kakek.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Luz Maria akhirnya terlelap. Paloma memindahkan ke dalam box tempat tidur. Seperti biasa, dia selalu memandangi wajah polos anak itu setiap malam, saat sang putri sudah tertidur nyenyak.


“Kuatkan aku, Luz Maria. Aku ingin menjadi ibu terbaik untukmu. Memberimu contoh seperti apa seharusnya seorang wanita dalam menjalani kehidupan, meski tanpa adanya lengan dan pundak untuk bersandar. Berikan aku semangat lebih, Sayang.” Paloma menyeka air mata yang menetes di sudut bibirnya.


Gelimangan harta yang dimiliki Rogelio, nyatanya tidak membuat Paloma merasa memiliki kemewahan itu. Dia lebih memilih hidup dari uang yang dihasilkan oleh Rafael. Seperti saat ini, Paloma ingin memulai bisnis sendiri, karena dia sadar bahwa dirinya memiliki tanggung jawab besar terhadap Luz Maria.


Lamunan Paloma berakhir, ketika terdengar suara dering ponsel. Di layar, tertera nama Sebastian sebagai pemanggil. Meskipun agak malas, Paloma tetap menjawab panggilan telepon tersebut. “Hola. Habla Paloma,” sapa janda cantik itu pelan. Dia duduk di tepian tempat tidur.


“Apa kau sudah tidur?” tanya Sebastian. Suara berat dan dalam itu teramat menggetarkan perasaan Paloma, sehingga ibunda Luz Maria tersebut sampai memejamkan mata.


Kembali hadir dalam ingatan Paloma, ciuman terakhir yang dilakukannya bersama duda kaya pemilik tanah ribuan hektar tersebut. Terlalu cepat rasanya jika dia harus tergoda oleh pria lain, di saat dirinya baru menyandang status janda.


“Ayahku akan kembali ke Meksiko besok pagi. Aku akan mengantarnya ke bandara,” ucap Paloma diiringi embusan napas pelan.


“Ayolah. Kenapa aku harus selalu melibatkannya dalam setiap urusan?” protes Paloma. Dia lalu tertawa pelan. “Terserah dia jika dirinya ingin ikut mengantar ayahku. Namun, kami sudah menyewa mobil beserta sopirnya,” jelas ibu satu anak itu.


“Oh, baiklah,” balas Sebastian. “Jadi, apa yang sedang kau lakukan sekarang?”


“Menurutmu apa?” Paloma balik bertanya, seakan tengah mengajak Sebastian bermain-main.


“Jangan katakan jika kau tengah memikirkanku. Jika itu memang benar, maka artinya kita sedang melakukan hal yang sama,” goda Sebastian.

__ADS_1


Paloma tertawa renyah. Dia seakan lupa dengan rasa kesalnya kemarin. Malam itu, dirinya berbincang ringan bersama Sebastian, hingga baterai ponselnya hanya tersisa beberapa persen. Sebelum telepon genggamnya benar-benar mati, Paloma lebih dulu berpamitan kepada si pemilik mata cokelat madu tersebut.


Keesokan paginya, Paloma dan Rogelio sudah bersiap untuk berangkat. Dia juga mengajak Luz Maria. Hanya Kalida yang tinggal sendiri di rumah. Namun, ketika Rogelio dan Paloma baru keluar dari rumah, keduanya dibuat terkejut dengan keberadaan mobil SUV putih yang tak lain adalah milik Sebastian.


“Selamat pagi, Tuan Gallardo,” sapa duda tampan kaya raya itu. Sebastian terlihat rapi, dengan T-Shirt lengan panjang berwarna hitam. Dia juga menyisir rambutnya yang agak gondrong. Sang tuan tanah ribuan hektar tersebut, memamerkan senyum menawannya kepada Paloma serta Rogelio.


“Sedang apa kau di sini?” tanya Rogelio ketus.


“Aku sengaja berangkat pagi-pagi sekali dari Porcuna, agar bisa mengantar Anda ke bandara. Kuharap, kali ini Anda tidak menolak.” Sebastian membukakan pintu mobilnya untuk Rogelio.


“Astaga!” Rogelio berdecak pelan. “Kami sudah menyewa mobil beserta sopir yang akan datang sebentar lagi,” ujar pria paruh baya itu menolak halus kebaikan Sebastian.


Namun, duda empat puluh tahun tadi lagi-lagi hanya tersenyum kalem. “Kebetulan, sopir dan mobil yang Anda sewa telah datang beberapa saat yang lalu. Akan tetapi, aku sudah menyuruhnya kembali. Anda tidak perlu khawatir, karena aku juga telah membayar biaya ganti rugi untuk pembatalan pemesanan,” terang Sebastian dengan raut dan senyuman hangat.


Rogelio terlihat akan menanggapi ucapan pria tampan dengan T-Shirt lengan panjang tadi. Namun, dengan segera Paloma menggeret koper ke dekat Sebastian berdiri. “Kalau begitu, sekalian saja kau masukkan barang-barang ayahku ke bagasi,” suruhnya enteng seraya mengulum senyum.


“Tentu, Nyonya yang cantik,” balas Sebastian. Dia setengah membungkuk, sambil meletakkan tangan kanan di perut. Setelah itu, Sebastian membukakan pintu untuk Paloma.


Seketika, wanita cantik berambut pendek tadi terbelalak. Pasalnya, Sebastian juga sudah memasang kursi khusus untuk balita. “Kau?” Paloma menoleh kepada sang pemilik kendaraan sebelum masuk. Sedangkan, Sebastian hanya tersenyum sambil mengedipkan mata, mengisyaratkan bahwa dia tak ingin membuang waktu lagi.


“Masuklah, Ayah. Jangan sampai kau terlambat tiba di bandara,” ucap Paloma diiringi senyuman.

__ADS_1


Mau tak mau, Rogelio menuruti ucapan putrinya. Dengan wajah masam, dia duduk di jok tengah bersama Paloma dan Luz Maria. Balita itu menghadap pada mereka. Setelah semua siap di dalam kendaraan, Sebastian segera melajukan mobil mewahnya menuju Bandara Internasional Federico Garcia Lorca Granada-Jaen.


__ADS_2