
Paloma tersentak. Matanya terbelalak sempurna menatap langit-langit kamar. Wanita itu tak dapat bergerak, di bawah selimut yang menutupi tubuhnya. Sementara, bulir-bulir keringat sudah membasahi kening, bahkan ada sebagian yang menetes ke bantal.
“Ayah,” desah Paloma lirih. Susah payah dia mengucapkan kata itu, di sela degup jantung yang berdetak jauh lebih kencang dari biasanya. Kesendirian yang dijalaninya, mulai terasa menyiksa. Entah ke mana semua keberanian, yang selama ini ada dalam diri wanita berambut cokelat itu.
Mimpi yang teramat menakutkan dan seakan begitu nyata. Paloma bahkan dapat merasakan betapa sakit, ketika timah panas itu menembus ke dalam tubuh. Ini bukan kali pertama dia mengalami mimpi mengerikan tentang Rafael, yang melakukan kekerasan terhadapnya.
Paloma menjadi resah, karena mimpi-mimpi yang dirasa sudah sangat mengganggu ketenangan pikiran wanita muda tersebut. “Rafael, mengapa kau begitu ingin menghabisiku?” Sebuah pertanyaan yang tak akan mendapat jawaban. Rafael saat ini masih berada ribuan kilometer jauhnya, di belahan bumi lain.
Akan tetapi, pria itu akan segera datang. Ya, Rafael akan ke Meksiko, untuk mengurus segala hal yang berkaitan dengan perceraiannya bersama Paloma. Itu berarti, Paloma akan kembali bertemu dengan pria tampan yang telah memberinya seorang putra.
Haruskah Paloma merasa takut? Pada kenyataannya, Rafael pernah melakukan tindakan percobaan pembunuhan terhadap dirinya secara terang-terangan. Sama persis seperti yang ada di dalam mimpi tadi dan beberapa malam ke belakang.
Paloma bangkit, lalu duduk bersandar pada kepala tempat tidur. Dia mencoba menetralkan semua rasa gugup yang ada dalam dada. Apakah Rafael masih ingin menghabisinya? Wanita muda itu segera menggeleng kencang. Dia tak ingin mati sia-sia di tangan pria tidak berguna seperti Rafael Hernandez. "Aku tidak boleh takut. Kau bukanlah Tuhan yang dapat mencabut nyawaku sekehendak hatimu," ucap Paloma pada diri sendiri.
Hingga malam berganti pagi, Paloma tak dapat lagi memejamkan mata. Suasana sudah cukup terang. Dia memutuskan turun dari tempat tidur. Paloma beranjak ke dapur. Dia hendak memeriksa sisa bahan makanan. Biasanya, ada orang suruhan Rogelio yang datang ke sana, untuk mengirimkan segala keperluan yang dirinya butuhkan. Namun, ternyata hari ini tak ada siapa pun yang datang. Paloma memasak makanan seadanya.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan lebih lima belas menit, ketika terdengar suara ketukan di pintu. Paloma yang sedang berada di dapur untuk menyiapkan sarapan, langsung tertegun. Bayangan mimpi buruk semalam kembali hadir dalam ingatan. Wanita itu memutuskan untuk tak membuka pintu.
Akan tetapi, suara ketukan tak juga berhenti. Paloma mengedarkan pandangan, mencari sesuatu yang bisa dijadikan sebagai senjata pertahanan diri. Berhubung tak ada apapun di dapur selain peralatan masak, akhirnya Paloma mengambil wajan dengan diameter 25 cm. Si pemilik mata hazel itu melangkah pelan, sambil memegangi gagang wajan dengan erat. Dia berjalan menuju pintu.
Setelah tiba di sana, Paloma mengintip dari lubang kecil di pintu. Di luar, telah berdiri Rogelio dengan wajah yang terlihat gelisah. Mengetahui bahwa yang datang adalah sang ayah mertua, Paloma segera membukanya lebar-lebar. "Ayah?" sapanya.
“Astaga. Kupikir kau tak ada di rumah,” ucap Rogelio lega. Dia langsung masuk tanpa harus dipersilakan. “Lihatlah. Aku membawakanmu bahan makanan. Kupikir, ini cukup untuk beberapa hari ke depan.” Rogelio memperlihatkan beberapa kantong belanja yang dia bawa di tangan kanan dan kiri.
“Kenapa harus repot-repot, Ayah?” Paloma merasa tak enak dengan perhatian Rogelio yang sangat berlebihan padanya.
__ADS_1
“Apanya yang merepotkan? Kau membutuhkan ini semua,” ujar Rogelio tak memedulikan raut tak enak dari Paloma. Pria itu berjalan menuju dapur, kemudian meletakkan semua barang bawaannya di atas meja. “Apa kau belum sarapan, Nak?” seru Rogelio dari dapur, karena Paloma masih berdiri dekat pintu sambil membolak-balikkan wajan yang dia pegang.
Paloma mengembuskan napas pelan. “Belum,” jawabnya sambil berjalan ke dapur, “tapi, aku sudah menyiapkan semuanya. Apa Ayah akan sarapan di sini?” tawar Paloma diiringi senyuman hangat.
“Bukan ide buruk,” sahut Rogelio setuju. Dia memilih salah satu kursi di meja makan, lalu duduk.
“Cuma, menu yang kubuat tak semewah di kediaman Ayah,” ucap Paloma sambil menyiapkan dua piring untuk mereka. Dia juga menyajikan menu sarapan hari itu. Huevos Divorciadios alias telur bercerai. Menu sarapan yang membuat Rogelio mengernyitkan kening, lalu tersenyum simpul.
Paloma ikut duduk di kursi yang berhadapan dengan Rogelio. Dia sudah mulai menyantap menu sarapannya. Wanita bermata hazel tersebut mencoba mengabaikan keresahannya, atas gangguan mimpi-mimpi tentang Rafael.
“Kemarin, aku menghubungi Rafael. Dia mengatakan akan segera berangkat ke Meksiko. Tatiana juga ikut bersamanya,” tutur Rogelio, kembali membuka percakapan setelah beberapa saat saling terdiam.
“Kelihatannya, wanita itu sangat tergila-gila kepada Rafael,” ucap Paloma menanggapi. Dia telah menghabiskan sisa makanan di piring.
Paloma mengembuskan napas pelan. Dia berpikir sejenak. Sesaat kemudian, Paloma tersenyum simpul. “Aku akan mencari pekerjaan. Aku tidak bisa selamanya seperti ini. Mengandalkan Ayah bahkan hanya untuk mengisi perut. Aku tidak menyukainya,” ucap wanita itu pelan.
“Itu bukan masalah besar, Nak,” sahut Rogelio. Dia kembali meneguk minumannya. “Saat bertandang ke Casa del Castaneda beberapa waktu lalu, aku dan Tuan Castaneda sudah membuat kesepakatan. Kami akan melakukan kerja sama,” tutur Rogelio.
“Kerja sama apa?” tanya Paloma. Bayangan paras tampan Sebastian tiba-tiba hadir. Begitu juga dengan adegan ciuman mereka sebelum Paloma meninggalkan Spanyol. Wanita muda itu mengulum bibirnya. Menyembunyikan perasaan aneh yang hadir.
“Aku berencana untuk mengimpor zaitun dari perkebunannya. Seperti yang kita ketahui, bahwa kualitas buah zaitun dari Porcuna merupakan yang terbaik. Aku tak ingin melewatkan hal itu. Perusahaan farmasiku bisa mengolahnya menjadi produk obat atau untuk perawatan tubuh,” jelas Rogelio begitu yakin.
Paloma hanya manggut-manggut mendengarkan penjelasan sang ayah mertua. Rogelio juga bercerita tentang rencana, bahwa dia akan membuat produk kecantikan di bawah naungan perusahaannya. Itu akan mempermudah dirinya, dalam mendapat perizinan juga pemasaran. Seluruh Chihuahua bahkan Meksiko, sudah mengetahui nama besar Estrella Pharmacies.
“Lalu, bagaimana pendapat Tuan Castaneda tentang hal itu? Maksudku, kita tahu sendiri jarak antara Spanyol dan Meksiko ….”
__ADS_1
“Tuan Castaneda sudah sering mengimpor hasil perkebunannya ke luar negeri. Aku rasa, itu tak masalah. Jarak ribuan kilometer bukanlah hambatan yang berarti. Ada banyak perusahaan ekspedisi yang bagus dan terpercaya saat ini,” terang Rogelio lagi.
Paloma kembali manggut-manggut. “Iya. Anda benar, Ayah,” ucapnya. Dia lalu terdiam.
“Kenapa? Apa kau ada masalah?” tanya Rogelio. Dia seakan dapat memahami dengan baik, bahasa tubuh yang diperlihatkan Paloma. Padahal, si pemilik mata hazel itu sudah berusaha untuk tidak menunjukkan keresahannya secara terang-terangan.
“Aku pasti akan sangat merindukan Nilo. Suatu hari nanti, aku ingin kembali ke Spanyol untuk mengunjungi makamnya. Saat ini, aku hanya dapat menitipkan kepada Bibi Theresa. Semoga dia selalu sehat dan panjang umur.” Paloma mengembuskan napas pelan, lalu tertunduk lesu.
Rasa haru muncul dalam hati Rogelio, saat melihat keadaan Paloma. Sama seperti kepada Rafael, kasih sayang pria paruh baya itu teramat besar untuk sang menantu. Selain karena persahabatannya dengan Carlos yang sudah terjalin sejak puluhan tahun silam, Rogelio menganggap bahwa Paloma adalah wanita yang sangat baik. Karena itulah, dia menjadikannya sebagai menantu.
Rogelio tak pernah menyangka, bahwa keputusannya ternyata keliru. Dia telah menghadirkan banyak penderitaan kepada putri dari sahabatnya tersebut. Mungkin karena itu juga, pria dengan penampilan rapi dan sangat bersih itu ingin menebus segalanya.
“Jadi, kau ingin bekerja?” tanya Rogelio beberapa saat kemudian.
“Iya. Aku akan mencari pekerjaan. Setidaknya, aku mempunyai uang untuk membeli makanan dan keperluan lainnya,” jawab Paloma seraya tersenyum polos.
“Baiklah. Itu bukan hal yang sulit,” ujar Rogelio enteng.
Paloma yang baru saja meletakkan piring kotor ke dalam bak tempat mencuci, segera menoleh. Niat untuk membasuh peralatan makan kotor tadi, dia urungkan. Paloma mengelap tangannya yang basah, lalu kembali duduk di kursi kayu meja makan. “Ayah tahu ke mana aku harus mengirimkan lamaran?” tanyanya penuh harap.
“Tentu saja,” jawab Rogelio.
Paloma menatap lekat ayah mertuanya. “Ke mana?” tanyanya lagi.
“Padaku. Aku menawarkan jabatan, untuk menjadi perwakilan dalam kerja sama bisnis dengan Tuan Castaneda.”
__ADS_1