Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Kebahagiaan yang Sempurna


__ADS_3

Beberapa hari setelah itu, Casa del Castaneda tampak ramai didatangi banyak tamu dari kalangan para pembesar. Mereka semua berpenampilan rapi, dengan pakaian bagus dan pasti mahal. Tak ada satu pun yang tidak terlihat cantik dan tampan serta berkelas tentunya.


Namun, di antara semua tamu yang datang ke rumah perkebunan duda kaya Sebastian Cruz Castaneda, tak ada yang mengalahkan kecantikan Paloma dalam balutan gaun pengantin putih. Dengan langkah anggun dan penuh percaya diri, ibunda Luz Maria tersebut berjalan menyusuri karpet merah. Paloma seperti seorang bidadari yang berjalan di jalur berhiaskan bunga-bunga indah, yang menjadi pembatas antara dirinya dengan para tamu undangan.


Sepasang mata hazel janda Rafael Hernandez tadi, terus tertuju pada sosok tampan yang tengah menunggu di dekat altar. Pria itu berdiri gagah dalam balutan tuksedo rapi bersama seorang pendeta, yang telah siap menjadi pemimpin dalam acara sakral penyatuan cinta antara Paloma dan Sebastian.


Senyuman manis tak lepas dari paras cantik wanita dua puluh delapan tahun itu. Paloma rasanya ingin berlari, karena tak sabar untuk segera tiba di dekat pria berpostur tinggi tegap, yang juga sama gelisah saat menunggu calon mempelai wanitanya.


“Mi angel (bidadariku),” sambut Sebastian saat Paloma sudah tiba. Pria itu mengulurkan tangan, menuntun sang mempelai agar berdiri di sampingnya. Diam-diam, sang duda tampan empat puluh tahun tersebut mencuri-curi pandang kepada wanita cantik, yang tak lama lagi akan segera dia miliki seutuhnya.


Sang pendeta memulai acara pemberkatan itu dengan sangat khidmat. Semua yang hadir di sana diam menyimak dengan khusyuk. Hanya Luz Maria, yang sesekali meronta ingin segera digendong oleh Paloma dan Sebastian. Namun, untungnya Khalida bisa mengendalikan anak itu, sehingga bisa kembali tenang. Terlebih, karena Rogelio juga sesekali membantu mengajak main sang cucu.


“Kau dipersilakan untuk mencium mempelai wanitamu,” tutup sang pendeta, yang disambut perasaan lega dari Sebastian dan Paloma.


Sepasang pengantin baru itu saling berhadapan. Mereka berdua melempar senyuman. Setelah itu, Sebastian mencium Paloma yang telah resmi menjadi istrinya. “Aku mencintaimu,” bisik sang tuan tanah, yang mulai detik ini sudah melepas status dudanya.


"Aku juga sangat mencintaimu," balas Paloma disertai senyuman lepas. Segala beban yang selama ini selalu menyertai perjalanan hidupnya seakan terlepas.


Pesta yang meriah berlangsung di Casa del Castaneda hingga malam hari. Ada banyak tawa kebahagiaan, keceriaan, musik, dan tarian yang terus menghiasi jalannya acara hingga berakhir sekitar pukul sembilan malam.


“Apa kau lelah, Sayangku?” tanya Sebastian. Dia berdiri di belakang Paloma yang baru selesai berganti pakaian dan membersihkan sisa make up, yang membuat wajah wanita cantik itu terasa berat.


“Memangnya kenapa?” Paloma balik bertanya. Bukannya tidak mengerti dengan bahasa tubuh Sebastian, tapi Paloma hanya ingin sedikit bermain-main dengan suaminya tersebut.


Apa yang Paloma duga memang benar adanya. Sebastian mengelus lembut kedua lengan wanita itu. Dia juga menciumi pundak ibunda Luz Maria.

__ADS_1


Sebastian lalu menyandarkan tubuh ramping Paloma di dadanya. Untuk pertama kali setelah beberapa tahun berlalu, pria itu akhirnya mengetahui seperti apa rasanya menyentuh raga indah, yang selama ini hanya dapat dirinya pandangi. “Bersiaplah untuk tidak tidur malam ini,” bisik Sebastian penuh rayuan.


Paloma hanya membalas dengan senyuman lembut. Sepertinya, dia memang harus mengabaikan rasa lelah setelah seharian menjalani acara pesta. Sebastian rupanya tak ingin membuang waktu untuk segera merayakan kebersamaan mereka, dengan sesuatu yang jauh lebih pribadi.


“Kuharap, Luz Maria tidak menangis malam ini,” ucap Sebastian lagi seraya membopong tubuh Paloma menuju tempat tidur. Dia membaringkannya di sana dengan hati-hati.


Tak ada hal lain yang ingin Sebastian lakukan malam itu, selain menikmati anugerah yang selama ini dirinya tunggu. Rasa bahagia itu terlalu besar untuk bisa dijabarkan, saat penantian panjangnya berakhir di ranjang bersama sang wanita pujaan hati. Merupakan sesuatu yang menjadi angan-angan penghias malam Sebastian, ketika bisa mereguk kenikmatan bersama Paloma.


“Sayang,” bisik Sebastian di sela deru napas memburu. Setiap sentuhan yang diterima pria tampan empat puluh tahun tersebut, benar-benar melenakan. Paloma begitu pandai memanjakan dirinya, yang telah sekian lama tak bersentuhan dengan keindahan fisik wanita.


Sebastian merasa jadi seorang raja malam itu. Kenikmatan dunia seakan berada dalam genggaman tangannya. Merupakan satu kepuasan yang tiada tara, saat melihat raga polos Paloma tak berdaya dalam keperkasaannya. Wanita itu tak berdaya, menghadapi kekuatan dan semangat besar seorang Sebastian, yang bagaikan seorang perjaka dengan stamina tinggi.


Lenguhan dan de•sahan berbaur, menghiasi penyatuan yang sudah berlangsung sejak beberapa saat lalu. Lelah serta keringat tak lagi dipedulikan, demi mencapai puncak kepuasan yang selama ini menjadi khayalan.


“Sebastian.” Paloma terengah, ketika pria itu terus memacu dirinya bagai seekor kuda di medan pertempuran. Tak ada kata mundur atau mengendorkan serangan. “Apa kau masih lama?” tanya Paloma seraya menoleh ke belakang, di mana Sebastian berada.


Akan tetapi, Sebastian keliru. Ibunda Luz Maria tersebut nyatanya tak bersedia mengaku kalah. Paloma masih tetap bertahan dan seakan ingin terus melakukan perlawanan. Hingga hampir satu jam lamanya, sepasang pengantin baru tersebut menjadikan tempat tidur berukuran besar itu menjadi medan pertempuran mereka.


Beberapa saat kemudian, Sebastian membalikkan tubuh dengan wajah yang sudah terlihat lusuh disertai rambut yang sedikit acak-acakan. “Katakan jika kau mengaku kalah,” ucap Sebastian yang kali ini berada di atas tubuh Paloma.


“Haruskah?” Paloma tersenyum di sela ringisan kecil yang kemudian berganti menjadi de•sahan pelan, ketika merasakan hangat tubuh Sebastian bersentuhan langsung dengan permukaan kulitnya. Wanita bermata hazel tersebut memeluk erat sang tuan tanah pemilik ribuan hektar perkebunan zaitun, yang kembali memacu dirinya hingga detik terakhir.


Helaan napas berat tertahan meluncur dari bibir Sebastian, ketika dirinya tiba di puncak nirwana. Bersamaan dengan itu, rasa hangat mulai menjalari bagian terindah Paloma. Sesuatu yang terakhir kali dia rasakan bersama Rafael.


Sepasang pengantin baru itu terengah. Mereka sama-sama mengatur napas agar lebih teratur.

__ADS_1


“Astaga.” Paloma tertawa renyah, saat Sebastian mengangkat tubuhnya yang tadi terasa menghimpit.


Sebastian menatap paras cantik wanita yang telah dia miliki seutuhnya. Kebahagiaan itu tak akan pernah dia ingkari. Tak akan puas bagi pria bermata cokelat madu tersebut, untuk kembali mengulang percintaan panas seperti tadi bersama istri tercinta.


......................


Waktu terus berjalan tanpa terasa. Dua bulan berlalu dari pesta pernikahan mewah antara Sebastian dengan Paloma. Seperti biasa, Sebastian disibukkan dengan urusan perkebunan. Sementara, Paloma sudah mulai menjalankan bisnisnya.


Luz Beauty, produk kecantikan yang mulai diperkenalkan ke khalayak umum. Dengan bantuan beberapa pihak yang sudah memiliki kompetensi dalam bidangnya, Paloma dapat mewujudkan impian serta cita-cita yang selama ini dirinya simpan. Tak membutuhkan waktu terlalu lama, Luz Beauty sudah menjadi salah satu produk kecantikan berstandar yang mulai digemari masyarakat.


Berbagai tanggapan positif diterima oleh Paloma, melalui suara konsumen dalam kolom komentar jejaring sosial resmi perusahaan. Itu merupakan pencapaian terbesar dalam hidupnya. Namun, sayang sekali dia harus mewakilkan segala pekerjaan yang selama ini dirinya pantau sendiri kepada asisten pribadi, karena Paloma harus lebih banyak beristirahat dalam menjalani masa kehamilan.


Kebahagiaan yang sesungguhnya terus menaungi Sebastian. Kekayaan, kesuksesan, cinta, telah berhasil diraih meski di usia yang tak lagi muda. Satu anugerah yang menambah rasa syukur pria itu, adalah ketika dirinya benar-benar menjadi seorang ayah dari darah dagingnya. Namun, meski Sebastian muda telah terlahir ke dunia, hal itu tak mengurangi rasa sayang yang telah lama dipupuk terhadap Luz Maria. Sebastian tak pernah membeda-bedakan perlakuannya.


“Terima kasih, Sayangku. Kau, Luz Maria, dan Diego Nilo, telah menjadi pelengkap kesempurnaan hidupku,” ucap Sebastian penuh haru, saat dirinya menggendong bayi yang Paloma lahirkan. Bayi laki-laki yang sangat tampan.


“Aku yang seharusnya berterima kasih. Kau selalu setia dengan cintamu yang sangat besar untukku,” balas Paloma. Dia tersenyum lembut, sambil sesekali melihat Luz Maria yang tengah bermain di halaman berumput. Anak itu berlarian ke sana kemari. Dia juga sudah dapat berbicara dengan jelas.


Sebastian tersenyum bahagia. Dia duduk di dekat Paloma. Tatapan pria tampan tersebut juga tertuju kepada Luz Maria. Sore itu, mereka nikmati dengan penuh suka cita, ditemani semilir angin yang menyejukan. Tak ada hal lain yang mereka inginkan, selain menjaga kebersaman seperti saat ini.


..._ The End _...


Hai, readers. Terima kasih telah mengikuti novel ini dari awal hingga akhir. Mohon maaf untuk segala kekurangan dalam penyampaiannya. Jangan lupa, untuk mampir ke judul lain yang pasti tak kalah seru dengan kisah-kisah berbeda. Follow juga ceuceu author ya, agar tidak ketinggalan notifikasi untuk novel terbaru.


Salam sayang,

__ADS_1


🍒 Komalasari


__ADS_2