Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Memanas


__ADS_3

Paloma mengalah. Dia mengalihkan pandangannya. Wanita muda itu tak ingin melawan sorot tajam Sebastian, yang dialamatkan langsung padanya. Dia lebih memilih menunduk, di tengah senyum lebar Rogelio, Rafael, serta tamu undangan yang lain.


Tak ingin larut dalam pikiran tidak menentu, Sebastian meletakkan gelas yang tengah dipegangnya. Dia berjalan gagah menghampiri Paloma yang kembali kehilangan keceriaan. Duda tampan tiga puluh tujuh tahun tersebut berdiri di hadapan wanita yang telah membuat dunianya kembali berputar, setelah sekian lama terdiam. “Kita harus bicara,” ucap Sebastian, dengan suara yang terdengar begitu dalam.


“Ada apa ini?” tanya Rogelio. Dia yang sudah penasaran sejak tadi, merasa diberi jalan untuk mencari tahu yang sebenarnya.


“Aku ingin bicara sebentar dengan menantu Anda, Tuan Gallardo,” jawab Sebastian tanpa mengalihkan pandangan dari Paloma yang hanya tertunduk. Sebastian meraih tangan wanita muda berambut pendek itu. Dia bermaksud membawa Paloma pergi dari aula pesta.


Akan tetapi, sebelum sang pemilik perkebunan zaitun terbesar di Porcuna itu melakukan niatnya, Rogelio lebih dulu memegangi tangan Sebastian yang tengah mencekal pergelangan Paloma. “Lepaskan tangan menantuku, Tuan Castaneda. Anda tidak kuizinkan bersikap tak sopan terhadap Paloma,” tegas pria paruh baya tersebut.


Sebastian menatap tajam Rogelio. Senyum dan keakraban yang sempat terjalin, sirna sudah antara keduanya. “Aku ingin bicara berdua dengan kekasihku,” balasnya penuh penekanan.


“Kekasih?” Rogelio menautkan alisnya. Dia menatap Paloma, seakan meminta penjelasan dari sang menantu yang tak bicara sepatah kata pun.


“Bicaralah, Paloma.” Nada bicara Sebastian masih penuh penekanan. Dia melayangkan tatapan tajam kepada wanita yang memilih berlalu dari hadapan ketiga pria tadi.


Paloma menaikkan bagian bawah gaunnya. Dia melangkah tergesa-gesa menyusuri koridor hingga tiba di halaman belakang bangunan megah Kediaman Rogelio. Dia berdiri di dekat tembok pembatas. Di hadapannya, terbentang luas pemandangan terjal. Indah tapi menakutkan. Terlebih, karena berselimut temaram malam berhiaskan pancaran lampu taman yang di pasang pada sepanjang tembok pembatas, dengan jarak yang sudah diatur sedemikian rupa.


Angin malam berembus pelan, menerpa wajah dan menggerakkan rambut pendek Paloma. Jemari lentiknya menggenggam erat tembok pembatas tadi. Ada perasaan berkecamuk yang tak dapat dia ungkapkan dengan leluasa. Paloma hanya dapat terisak pelan.


“Apa maksud semua ini?” Suara Sebastian tiba-tiba sudah terdengar di belakang Paloma.

__ADS_1


“Maafkan aku, Sebastian,” sahut Paloma di sela isakannya.


“Apa yang harus kumaafkan? Aku bahkan tak mengerti dengan semua ini. Kau tidak mengatakan apapun padaku.” Nada bicara Sebastian masih terdengar tak bersahabat.


“Aku bingung bagaimana cara menyampaikannya padamu,” balas Paloma lirih.


“Bingung?” Sebastian tersenyum sinis. “Ke mana larinya keberanian Paloma yang kukenal?”


“Semuanya hilang! Semua sudah pergi!” Paloma membalikkan badan. Dia seakan hendak melawan ucapan Sebastian, seperti yang biasa dirinya lakukan dulu. Namun, tak lama kemudian dia kembali memalingkan wajah. “Aku bahkan tak memiliki keberanian untuk memandangmu.”


“Ada apa? Kenapa kau tidak bicara padaku? Tatiana mengatakan padaku bahwa Rafael sudah berniat untuk kembali rujuk denganmu, dari ketika kalian masih berada di Spanyol beberapa hari yang lalu. Kenapa kau tak mengatakannya padaku?” Nada bicara Sebastian yang tadinya masih pelan, tiba-tiba meninggi. “Kau memberikan harapan. Membalas semua pernyataan cintaku. Namun, lihat bagaimana kenyataannya?” Pria bermata cokelat madu itu semakin tersulut amarah, karena merasa kecewa atas sikap diam Paloma.


“Aku tidak tahu, Sebastian!” bantah Paloma tegas. “Aku tidak tahu jika Rafael akan mencabut gugatan cerai, yang sudah kami layangkan ke pengadilan!” tegasnya.


“Sudah kukatakan, aku sama sekali tidak menyangka dia akan berubah pikiran!” bantah Paloma.


“Kau menipuku, Paloma Sanchez de Luna!” Sebastian begitu marah. Dia mencekal kedua lengan Paloma dengan kencang, hingga wanita itu meringis kesakitan.


“Kau menyakitiku, Sebastian!” Paloma berusaha melepaskan tangan Sebastian, yang terus mere•mas erat lengannya. “Singkirkan tanganmu!”


“Kau jauh lebih menyakitiku!” Sebastian tak mau kalah. “Aku sudah berharap lebih padamu, tapi kau membohongiku! Kau adalah wanita penipu!” Sebastian mengempaskan cengkeramannya dengan kasar. Dia benar-benar kalap dan tak kuasa mengendalikan segala amarah. Perasaan tak menentu yang dirinya bawa dari Spanyol, terlampiaskan meski tak sepenuhnya habis.

__ADS_1


Bagaimanapun juga, Sebastian tetap menyisakan beberapa persen kontrol dalam diri. Walaupun kemarahan sudah semakin kuat melanda, tetapi Sebastian masih sadar sepenuhnya bahwa yang dia hadapi adalah seorang wanita. Makhluk indah yang harus diakui telah berhasil mengalihkan dunianya.


Menyaksikan kemarahan Sebastian yang menakutkan, Paloma tak berani menantangnya lagi. Wanita bergaun hijau emerald itu hanya terpaku. Perlahan, tubuhnya merosot dan ambruk. Paloma terduduk di lantai yang dingin dengan kepala tertunduk. Tetesan air mata pun ikut mengiringi kepedihannya.


Saat itu, Paloma kembali merasakan ketidakadilan dunia terhadapnya. Sebuah penyelesaian masalah yang seharusnya tak berlarut-larut dan menjadi solusi, justru kembali membuat dirinya berada dalam kubangan air mata kesedihan. Niat hati untuk memulai hidup baru yang lebih baik, pupus sudah setelah mendapati dirinya kembali dikalahkan.


Beberapa saat berlalu. Sebastian yang masih berdiri di tempatnya, sudah mulai menenangkan diri. Dia lalu menoleh kepada Paloma yang masih duduk dengan wajah tertunduk. Isakan pelan tertahan, sesekali terdengar dari wanita muda itu.


Sisi hati Sebastian yang lain mulai berontak. Ada pergulatan batin yang besar dalam dada pria tiga puluh tujuh tahun tersebut. Namun, pada akhirnya Sebastian mengalah. Dia melangkah ke hadapan Paloma. Pria itu menurunkan tubuhnya. “Bangunlah,” ucap Sebastian dengan nada bicara yang jauh lebih lembut. Dia bermaksud untuk membantu, dengan cara memegangi lengan Paloma. Akan tetapi, Paloma segera beringsut menghindar.


“Maafkan aku, Paloma,” ucap Sebastian penuh sesal. “Maaf karena aku sudah lepas kendali. Aku sama sekali tidak bermaksud menyakitimu.”


“Pergilah, Sebastian. Aku tidak bisa kau harapkan lagi,” ucap Paloma lirih.


“Kenapa? Kau bisa menolaknya, Paloma.” Sebastian menautkan alis karena tak mengerti. “Kau bisa mengajukan keberatan dan tetap maju. Kau tak harus mengikuti apa yang menjadi keinginan Rafael!” tegas pria asal Spanyol itu.


“Aku bisa menolak Rafael tanpa merasa sungkan sama sekali. Akan tetapi, aku tak mungkin membantah ucapan ayah. Tuan Rogelio sudah sangat baik padaku. Pada ayahku kandungku. Dia adalah seorang panutan. Aku sangat berutang budi padanya.” Paloma kembali menundukkan wajah. Menyembunyikan duka yang tak dapat dia tahan.


“Berapa banyak?” tanya Sebastian.


Sontak, Paloma mendongak. “Apanya yang berapa banyak?” Wanita itu balik bertanya.

__ADS_1


“Berapa banyak yang harus kuganti, agar kau terbebas dari rasa utang budi yang membelit langkahmu? Aku ingin kau melepaskan diri dari sini. Ayo, Paloma. Ikutlah denganku.”


__ADS_2