
Selama perjalanan menuju kantor pengacara, Paloma tak banyak bicara. Wanita cantik itu lebih banyak terdiam dan memandang keluar jendela. Terngiang kembali kalimat sang ayah mertua, yang mendesaknya agar rujuk kembali dengan Rafael.
“Aku memiliki alasan kuat untuk menyatukan kalian kembali, Nak. Suatu saat kau akan mengetahuinya, tapi tidak sekarang.” Kalimat Rogelio terus terngiang di kepalanya. Tanpa sadar, Paloma mengembuskan napas kasar. Dia juga mengusap wajahnya sembari menggumam pelan.
“Kita sudah sampai, Paloma,” ucap Rafael seraya menepuk pelan lengan ramping di sebelahnya.
Namun, di luar dugaan Rafael. Paloma menanggapinya dengan reaksi yang sangat keras dan terkesan kasar. “Berhenti menyentuhku!” sentak Paloma menatap tajam pria itu. Dia bergegas membuka pintu mobil, lalu turun begitu saja tanpa menunggu Rafael.
Sementara, Rafael hanya bisa menggeleng pelan. Dia tak hendak membalas apapun perlakuan Paloma. Pria itu kemudian meraih berkas-berkas yang tersimpan di tas selempang, yang dia letakkan di pangkuannya sedari tadi. Rafael beranjak turun. Dia mengikuti langkah Paloma menuju gedung kantor milik Pengacara Ramos.
“Selamat pagi,” sambut Pengacara Ramos tepat di depan ruang kerjanya. “Berkas-berkas perceraiannya sudah kuserahkan pada pengadilan. Paling cepat, empat hari lagi akan ada panggilan untuk kalian berdua agar menghadiri sidang,” ujarnya. Dia mempersilakan pasangan suami istri itu untuk masuk ke ruangannya.
“Justru itu tujuan kami datang kemari.” Rafael menanggapi ucapan Pengacara Ramos dengan wajah berseri. “Kami telah sepakat untuk membatalkan pengajuan perceraian," ujar Rafael sambil duduk. Begitu juga dengan Paloma.
“Oh! Itu adalah berita yang sangat bagus.” Pengacara Ramos cukup terkejut mendengarnya. Namun, dia terlihat bahagia. “Kalau begitu, aku akan segera mengurus proses pembatalan gugatan."
“Ini." Rafael menyodorkan tumpukan map yang sudah sedari tadi dia bawa. “Siapa tahu, Anda membutuhkan file pelengkap nantinya.”
“Ah, tentu. Kau sangat brilian dan dapat diandalkan, Rafael. Aku yakin Paloma tak akan menyesali keputusan yang sangat bagus ini,” ujar Pengacara Ramos.
“Sekarang saja aku sudah sangat menyesalinya!” sahut Paloma ketus dengan wajah yang sangat tidak bersahabat.
Rafael tertawa pelan melihat sikap Paloma. Akan tetapi, dia tak ingin menanggapinya lebih lanjut. “Apakah semuanya bisa diurus dalam waktu singkat, Tuan Ramos? Aku tak sabar ingin memulai hidup baru dengan lebih baik bersama Paloma." Rafael melirik wanita yang memasang raut masam. Paloma bahkan seakan tak ingin melihat wajahnya.
“Tentu saja. Kau hanya perlu membubuhkan tanda tangan." Pengacara Ramos mengambil sesuatu dari meja kerjanya. Selagi itu, seorang wanita masuk untuk menyughkan tiga cangkir kopi khas Meksiko di atas meja.
__ADS_1
"Silakan, Tuan. Silakan, Nyonya," ucap wanita yang tiada lain adalah asisten Pengacara Ramos.
Rafael mengangguk diiringi senyuman ramah. Sementara, Paloma tak menanggapi sama sekali. Dia sedang tak ingin berbasa-basi atau sekadar memperlihatkan senyumannya pada siapa pun. Paloma benar-benar merasa marah dan kesal.
“Kau bisa tanda tangan di sini." Pengacara Ramos telah kembali duduk di sofa. Dia menunjuk ke sudut kanan bawah masing-masing kertas yang harus ditandatangani oleh Rafael dan Paloma.
“Baiklah." Rafael tak ingin membuang waktu. Dia segera membubuhkan tanda tangannya di tempat yang sudah ditunjukkan oleh Pengacara Ramos. Demikian juga dengan Paloma, yang melakukan hal sama tanpa banyak bicara.
Setelah semuanya selesai, Rafael dan Paloma berpamitan pada Pengacara Ramos. Tujuan mereka selanjutnya adalah gereja paroki, tempat sepasang suami istri itu mengajukan permintaan pembatalan pernikahan.
Di sana, mereka kembali disambut dengan pastor yang sama. Pria paruh baya itu selalu dengan raut wajah dan sikap yang tak berubah. “Anak-anakku,” sapanya sambil merentangkan kedua tangan ke samping. “Kuharap kalian datang dengan membawa berita bagus.”
“Ya. Anda benar sekali, Bapa. Kami datang untuk menyampaikan berita baik. Aku dan istriku, sudah memutuskan untuk menarik kembali pengajuan pembatalan perceraian kami sebelumnya,” tutur Rafael.
“Ya. Kami tidak ingin melanjutkan proses pembatalan pernikahan. Kami ingin mencoba memulai semuanya kembali dari awal,” jawab Rafael yakin.
“Begitukah?” Sang pastor segera mengalihkan pandangannya pada Paloma yang lebih banyak membuang muka. “Bagaimana menurutmu, Nak? Kulihat, wajahmu tak seceria suamimu?" kelakar sang pastor seraya tertawa.
“Apapun yang kukatakan, tidak akan bisa mengubah keputusannya,” sahut Paloma tak bertenaga. Dia tak bisa memperlihatkan sikap ketus di hadapan pemuka agama tersebut.
“Apa kau merasa keberatan, Nak?” tanya pastor itu hati-hati.
“Ya. Aku sangat keberatan,” sahut Paloma dengan segera. Sepasang mata hazelnya mulai berkaca-kaca. “Aku sama sekali tidak berharap untuk hidup kembali berdua dengannya. Kenapa di saat aku mulai berhasil menapaki jalan yang terang dan mulus, Rafael malah mengacaukan segalanya? Aku sudah menemukan cinta dalam hidupku. Namun, pria ini menghancurkannya,” ungkap Paloma. Dia seakan mendapat kesempatan untuk mengutarakan segala isi hati.
Paloma memandang pria tampan yang duduk di sebelahnya dengan sorot tajam. Sedangkan, Rafael hanya tersenyum nanar sambil melemparkan tatapan sendu. Lagi-lagi, dia tak ingin menanggapi kemarahan sang istri. Rafael lebih memilih diam.
__ADS_1
“Apakah kau yakin?” tanya sang pastor lagi.
“Apa maksud Anda? Tentu saja aku yakin! Aku tidak pernah merasa seyakin ini dalam seumur hidupku!” tegas Paloma dengan nada tinggi. Pada akhirnya, dia tak dapat mengendalikan amarah. Paloma sekan lupa tengah berbicara dengan siapa. Kemarahan telah mengaburkan akal sehatnya.
“Nak.” Pastor itu tersenyum lembut, lalu meraih tangan Paloma. Dia mengusap-usap punggung tangan wanita cantik tersebut, dengan harapan agar amarahnya mereda. “Terkadang, apa yang kita sangka sebagai pilihan terbaik, nyatanya hanyalah satu dari sekian pilihan buruk yang sudah kita ambil dalam hidup.”
“Sebastian bukanlah pilihan buruk. Dia jauh lebih baik dari Rafael Hernandez!” Paloma menarik tangannya, tak terima dengan kalimat sang pastor. “Aku sudah pernah merasakan hidup dengan pria ini, dan aku tak menyukainya," tunjuk Paloma pada Rafael.
Pastor itu masih menanggapi Paloma dengan penuh kesabaran. Dia lalu beralih pada Rafael. “Bagaimana, Nak? Istrimu sepertinya keberatan untuk melanjutkan pernikahan ini.”
“Aku sangat mengerti akan sikap Paloma, Bapa. Aku tidak akan menyalahkannya. Aku memang pria brengsek yang telah sangat menyakitinya. Akan tetapi, kali ini aku sudah menyadari semuanya, Bapa. Paloma adalah wanita terbaik. Aku mencintainya.” Rafael serius mengucapkan kalimat tersebut.
“Kau tahu bahwa semuanya sudah terlambat!” sentak Paloma.
“Tenanglah, Nak.” Pastor itu mengangkat satu tangannya. “Tenangkan dulu dirimu. Tak baik mengambil keputusan dalam keadaan marah, karena iblis akan turut berperan di dalamnya.”
Seketika Paloma tersadar. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. “Maafkan aku, Bapa. Aku telah lepas kendali,” sesal Paloma.
“Tidak apa-apa. Aku sangat mengerti." Pastor itu mengangguk seraya tersenyum lembut. Wajahnya yang teduh, sedikit banyak mempengaruhi suasana hati Paloma. “Setiap orang berhak mengambil keputusan. Akan tetapi, kalian harus ingat bahwa setiap keputusan akan memiliki risikonya masing-masing.”
“Entah kau akan memilih Sebastian seperti yang kau katakan tadi, atau kembali pada Rafael. Semua akan ada risiko yang mengiringi. Tidak menutup kemungkinan bahwa kau akan hidup berbahagia bersama pria pilihanmu. Namun, bukan tidak mungkin jika kau juga menemukan kebahagiaanmu bersama Rafael,” tutur sang Pastor.
“Dengarkan aku, Nak. Untuk sementara, akan kutangguhkan pengajuan pembatalan pernikahan kalian sampai tiga bulan ke depan. Selama rentang waktu itu, kuminta kalian tinggal bersama dan hanya berdua saja. Berinteraksilah sesering mungkin. Jika setelah tiga bulan berakhir dan kau tak dapat menemukan kebahagiaanmu bersama Rafael, atau dia kembali berbuat kejam padamu, maka aku akan segera memproses pembatalan pernikahan kalian ke keuskupan. Aku tak akan membuang-buang waktu lagi andai hal itu terjadi,” terang sang Pastor.
“Akan tetapi, jika Rafael dapat membahagiakanmu dan berhasil membuktikan bahwa dirinya memang benar-benar berubah, maka tak ada alasan bagiku untuk memproses pembatalan pernikahan ini,” pungkas sang Pastor yang membuat Paloma terdiam.
__ADS_1