
“Sebastian!” Paloma mendudukkan Luz Maria di tempat tidur. Sementara, dirinya berlari menghampiri sang pemilik perkebunan yang sudah terkapar tak berdaya. Darah mengalir membasahi lantai berlapis ubin, membuat Paloma semakin terlihat kacau.
Leandra yang menyaksikan hal itu, segera berbalik dan memanggil Raquela sang kepala pelayan senior. Beberapa saat kemudian, Raquela datang sambil tergopoh-gopoh. Dia melihat Sebastian terbaring di lantai, dengan kepala berada di pangkuan Paloma.
“Segera telepon ambulans, Raquela! Sebastian mengeluarkan banyak darah!” seru Paloma panik. Suasana menjadi kian ricuh, karena ditambah tangisan Luz Maria yang terdengar nyaring.
Tanpa diperintah dua kali, Raquela segera menghubungi ambulans. Beruntung, layanan darurat tersebut cepat tanggap dan tiba sepuluh menit kemudian. Dua orang petugas medis memasuki bangunan utama. Mereka langsung menuju kamar, di mana Sebastian berada. Pelan dan hati-hati, para petugas tadi mengangkat tubuh pria itu ke brankar.
“Kami akan membawanya ke rumah sakit pusat Porcuna. Anda bisa menyusul ke sana,” ujar salah seorang petugas medis.
Dengan rok yang basah oleh darah Sebastian, Paloma segera menggendong Luz Maria. Dia akan pergi ke rumah sakit yang telah disebutkan oleh petugas tadi. Paloma terus berlari menuju halaman depan, walaupun tak tahu akan pergi ke rumah sakit menggunakan kendaraan apa.
“Naiklah, Nyonya,” suruh Leandra yang telah berada di balik kemudi. Dia membawa mobil milik Sebastian, yang biasa dikendarai oleh Pedro.
“Apa kau akan ke rumah sakit juga?” tanya Paloma ragu.
“Ya, kita memiliki tujuan yang sama. Ikutlah denganku,” ajak Leandra.
Paloma tak memiliki pilihan selain menyetujuinya. Dia mengangguk dan segera masuk ke mobil. Paloma duduk di kursi depan, di samping Leandra yang lihai mengemudi. Dua wanita tersebut tampak begitu tegang. Mereka tak saling bicara, hingga tiba di rumah sakit.
Leandra sempat membantu Paloma yang sedikit kewalahan karena menggendong Luz Maria. Mereka berjalan berdampingan ke ruang gawat darurat. Kedua wanita itu tiba, tepat pada saat seorang dokter keluar dari ruang tindakan.
“Apakah Anda yang menangani Sebastian Cruz Castaneda?” tanya Paloma dengan segera.
Dokter yang awalnya menunduk sambil membaca catatan, segera mendongak dan menoleh. “Iya, betul. Apakah Anda istrinya?” dokter itu balik bertanya.
“Ya!” jawab Paloma tanpa berpikir. Leandra sempat menoleh, tapi tak berkomentar apapun.
“Tuan Castaneda berada dalam kondisi yang stabil. Pelurunya menembus mengenai tulang lengan atas. Sebentar lagi kami akan mengambil tindakan operasi untuk memperbaiki tulangnya. Namun, secara keseluruhan, suami Anda akan baik-baik saja,” terang sang dokter.
Paloma mengembuskan napas lega. Setidaknya, satu beban besar telah sirna dari pundaknya. “Syukurlah,” ucap ibunda Luz Maria tersebut.
“Anda bisa menunggu, atau pulang ke rumah. Operasi akan berlangsung cukup lama. Bisa sampai beberapa jam, Nyonya,” ujar sang dokter.
“Tidak apa-apa. Aku akan menunggu di sini,” putus Paloma meski bimbang. Dia memikirkan kondisi Luz Maria yang dibawa ke rumah sakit.
__ADS_1
“Pulanglah, Nyonya. Biar aku yang menjaga Tuan Sebastian di sini. Kasihan putri Anda jika terlalu lama berada di sini,” ucap Leandra lembut. “Jangan khawatir. Aku akan terus mengabarkan perkembangannya kepada Anda.”
Paloma berpikir selama beberapa saat sebelum menjawab. Akhirnya, dia mengangguk setuju. Bagaimanapun juga, dia harus tetap mengutamakan Luz Maria. Apalagi baju yang dipakai saat itu sudah penuh dengan noda darah Sebastian.
“Baiklah, aku akan pulang dan membersihkan diri. Akan tetapi, aku akan datang lagi ke sini nanti,” putusnya.
“Tentu, Nyonya. Biar kucarikan taksi online untuk Anda." Jemari lentik Leandra gesit mengoperasikan telepon genggamnya. Beberapa saat kemudian, dia memberitahukan bahwa taksi yang dipesan sudah menunggu di halaman depan rumah sakit.
Setelah mengucapkan terima kasih, Paloma berpamitan pada Leandra. Dia bergegas menuju taksi yang menunggunya. Sambil terus mendekap Luz Maria, Paloma tiba di rumahnya. Di sana ada beberapa polisi yang berjaga, walaupun tidak seketat sebelumnya.
Kalida berlari dari dalam rumah. Dia terlihat begitu panik saat menyambut kehadiran Paloma. “Astaga, Nyonya. Apakah Anda terluka? Mari kubantu," ucap sang pengasuh yang terlihat begitu panik.
“Tidak. Aku baik-baik saja." Dengan tubuh gemetaran, Paloma menceritakan kondisi Sebastian yang terluka.
“Siapa yang melukai Tuan Castaneda, Nyonya?” tanya Kalida.
“A-aku … entahlah. Aku sendiri belum mengetahui secara pasti tentang apa yang terjadi,” jawab Paloma seraya menggeleng lemah. Dia baru saja sadar, bahwa dirinya tidak sempat bertanya apapun pada Leandra.
Akan tetapi, Paloma tak membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan informasi. Setelah selesai membersihkan diri, Kepala Polisi Abelardo menghubungi serta menjelaskan semuanya secara terperinci.
Tak terkira betapa lega perasaan Paloma saat itu. “Elazar sudah tertangkap,” gumamnya sembari tersenyum samar. Berita bagus itu langsung dia sampaikan pada sang ayah. Termasuk semua yang terjadi pada Sebastian.
“Ya, Ayah. Dia sudah membahayakan nyawanya demi membantuku mengungkapkan kasus pembunuhan Rafael,” jelas Paloma.
“Ya, Tuhan,” ucap Rogelio lagi sebelum terdiam. Cukup lama ayah dan anak itu berada dalam keheningan, sampai suara Rogelio kembali terdengar. “Aku akan memesan tiket pesawat tujuan Spanyol secepatnya.”
“Kutunggu kedatanganmu, ayah. Aku harus segera kembali ke rumah sakit,” pungkas Paloma mengakhiri panggilan. Dengan terpaksa, dia meninggalkan Luz Maria yang telah bersih dan rapi bersama Kalida.
Paloma sempat mencium pipi gembul dan kening putrinya berkali-kali, sebelum menaiki taksi ke rumah sakit.
Di depan ruang gawat darurat, terlihat Leandra yang tampak kusut dan lelah. Wanita muda itu duduk setengah membungkuk, sambil menumpu kepala dengan kedua tangan.
“Aku sudah datang. Sekarang, giliranmu pulang dan beristirahat, Leandra,” ujar Paloma lembut.
“Tidak, Nyonya. Aku ….”
__ADS_1
“Setidaknya, bersihkan dulu dirimu. Dengan begitu, kau akan merasa lebih segar,” bujuk Paloma lagi, memotong kalimat Leandra.
Asisten pribadi Sebastian itu menatap sendu pada Paloma, yang tengah berdiri di depannya. “Baiklah, Nyonya. Aku akan pulang sebentar. Terima kasih.” Leandra memaksakan senyumnya, kemudian berdiri. Dia mengangguk sopan pada Paloma sebelum berlalu dari sana.
Kini, giliran Paloma yang menunggu. Dia terus berdoa untuk Sebastian. Doa itu akhirnya terkabul, ketika dua jam kemudian pintu ruang operasi terbuka lebar. Paloma bergegas menghampiri dua orang dokter yang baru saja keluar dari ruangan tersebut.
“Bagaimana suamiku?” tanya Paloma tanpa sadar. Sesaat kemudian dia mengulum bibir, karena telah memanggil Sebastian dengan sebutan ‘suami’.
“Nyonya Castaneda?"
“Iya." Paloma mengangguk cepat.
“Suami Anda baik-baik saja, Nyonya. Operasinya berjalan dengan lancar. Setelah melewati observasi, kami akan memindahkan suami Anda ke ruang perawatan biasa,” jelas dokter itu.
“Terima kasih, Tuhan.” Paloma berlinang air mata. Tak terkira betapa bahagia dan lega dirinya saat itu. Dia tak dapat menyembunyikan rasa haru, ketika menyalami kedua dokter tadi.
Paloma sabar menunggu sendirian, hingga tahap observasi selesai beberapa jam kemudian. Dia juga ikut menemani, ketika Sebastian dipindahkan ke ruang perawatan. Dia duduk tenang di dekat ranjang sambil memandangi paras tampan Sebastian yang masih berada dalam pengaruh obat bius.
Namun, saat Paloma hendak beranjak dari duduknya, terdengar Sebastian memanggil pelan. “Paloma?” Tangan Sebastian lemah terulur meraba samping ranjang.
“Aku di sini, Sebastian,” balas paloma pelan seraya meraih tangan Sebastian, lalu menggenggamnya erat.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Sebastian.
“Astaga.” Paloma tertawa pelan, “harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu."
“Bagaimana dengan Luz Maria?” tanya Sebastian lagi.
“Dia aman bersama Kalida,” jawab Paloma, untuk menenangkan duda tampan yang masih terlihat lemah itu.
“Di mana?” Seketika mata Sebastian terbuka lebih lebar dari sebelumnya.
“Tentu saja di rumahku," sahut Paloma lembut. "Sudahlah, tenangkan dirimu."
“Bawa Luz Maria ke rumahku, Sayang,” ucap Sebastian pelan. “Kau juga. Pindahlah ke tempatku. Aku akan menjagamu setiap waktu."
__ADS_1
“Bisakah untuk tidak membahas hal itu dulu, Sebastian? Kau baru sadar setelah menjalani operasi." Paloma berdecak pelan.
“Tidak." Sebastian menggeleng lemah. “Aku tidak bisa tenang, sebelum menjadikanmu sebagai milikku seutuhnya. Menikahlah denganku sekarang, sebelum Tuhan mengambil nyawaku.”