
“Paloma? Apa kau masih di situ?” tanya Sebastian dari seberang sana. Namun, Paloma tak segera menjawab. Pikiran wanita itu tengah melayang entah ke mana. Dia menatap kososng ke arah Rafael berada. Paloma terus memperhatikannya.
“Paloma? Apa kau mendengarku?” Sebastian kembali berbicara.
Setelah dua kali disebut namanya, barulah Paloma tersadar. Dia mengalihkan pandangan ke arah lain. Paloma bahkan berpindah tempat. Wanita itu memilih duduk di tepian tempat tidur. “Maaf, Sebastian. Aku ….” Ucapan Paloma terjeda.
“Apa kau sedang sibuk?” tanya Sebastian yang merasa tak nyaman dengan sikap Paloma. “Aku bisa menghubungimu lagi nanti jika kau sedang ada urusan,” ucap pria asal Spanyol tersebut.
“Ah, tidak. Iya … um … maksudku ….” Paloma kebingungan harus berkata apa. Sejujurnya, dia sedang tidak berkonsentrasi. “Sebastian, aku mencemaskan sesuatu,” ucap Paloma kemudian.
“Tentang apa?” tanya sang pemilik perkebunan zaitun itu.
“Rafael,” jawab Paloma pelan.
“Apa dia berusaha menyakitimu lagi? Sudah kukatakan berapa kali agar kau tak ….”
“Tidak.Tidak. Bukan itu,” bantah Paloma dengan segera.
“Lalu?” tanya Sebastian lagi.
Paloma mengembuskan napas panjang. Terbesit rasa ragu dalam hatinya, untuk membahas sesuatu yang berkaitan dengan Rafael. Namun, Paloma juga merasa resah. “Ada seseorang yang mengirimkan pesan bernada ancaman kepada Rafael. Dia mengatakan bahwa pesan seperti itu sudah diterimanya sebanyak dua kali. Aku ….”
“Kenapa kau harus mengkhawatirkan pria brengsek seperti dia? Kalaupun dia mati, itu akan jauh lebih baik. Dengan begitu, kau tak harus direpotkan lagi untuk mengurusi proses perceraianmu,” ujar Sebastian dengan nada tak suka.
Sikap demikian dari Sebastian, tentu saja membuat Paloma memperlihatkan raut tak percaya. Paloma tak tahu harus menanggapi bagaimana, atas ucapan yang terdengar kurang pantas dari seseorang yang berpendidikan seperti Sebastian Cruz Castaneda.
Satu keanehan berbalut rasa curiga, tiba-tiba hadir menggelayuti pikiran wanita dua puluh lima tahun tersebut. Sebastian, terdengar begitu enteng saat mengatakan bahwa Rafael memang pantas mati.
__ADS_1
Tidak!
Paloma menggeleng kencang. Dia tak ingin berprasangka buruk, terhadap pria yang telah berhasil mengalihkan perhatiannya tersebut dari Rafael. Akan tetapi, segala kemungkinan tetap bisa saja terjadi. Haruskah Paloma mencurigai sang penguasa Casa del Castaneda tersebut?
“Sebastian. Apa kau sadar dengan yang baru saja dirimu katakan?” tegur Paloma tak percaya.
“Memangnya kenapa? Apa masalahnya?” Sebastian balik bertanya.
“Kau ….” Berat bagi Paloma untuk mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya.
“Rafael terlalu brengsek! Dia memang pantas menerima akibat dari segala perbuatannya selama ini! Kenapa kau harus mencemaskan seseorang yang sudah membuat hidupmu menderita selama bertahun-tahun?” Sebastian mendengkus kesal. Suasana hati pria itu kembali kacau. Pertengkaran demi pertengkaran terus berlangsung, sehingga membuat dia kehilangan konsentrasi untuk menyelesaikan urusan yang lain.
“Iya, aku tahu jika yang Rafael lakukan memang sangat keterlaluan. Akan tetapi, tidak sepantasnya kau mengatakan hal yang menakutkan seperti itu,” protes Paloma.
Sebastian tertawa mendengar ucapan Paloma. Nada tawanya terdengar seperti seseorang yang terkesan mengejek. “Astaga,” desah pria itu kemudian. “Jadi, sekarang kau merasa jika aku salah karena memberikan perhatian lebih padamu? Kumohon, Paloma! Bangun dan sadarlah! Apa yang kau harapkan dari pria seperti Rafael? Kenapa kau justru malah memilih tinggal bersamanya?” Intonasi Sebastian semakin meninggi. Pria tampan tersebut menjadi sangat sensitif. Rasa kecewanya terhadap sikap Paloma, membuat dia menjadi kesulitan mengendalikan amarah saat berbicara dengan wanita muda itu.
“Berapa kali harus kukatakan padamu, Sebastian. Aku harus tinggal bersamanya selama tiga bulan. Itu adalah syarat mutlak sebelum bisa melakukan proses perceraian lebih lanjut!” Nada bicara Paloma ikut meninggi, mengikuti sikap Sebastian yang menurutnya menjadi terasa menyebalkan.
“Hentikan, Sebastian!” sentak Paloma memotong kalimat pemilik perkebunan zaitun terbesar di Porcuna tersebut. Paloma sudah kehilangan kesabarannya.
“Kita memang baru saling mengenal dan sedang belajar mendalami sifat masing-masing. Akan tetapi, aku tak menyangka bahwa kau bisa mengatakan sesuatu yang menyakitkan seperti tadi. Kau membuatku bimbang, Sebastian. Kukira kau tak akan bisa membuatku terluka, meskipun hanya lewat kata-kata. Namun, nyatanya kau ….” Paloma sengaja tak melanjutkan kalimatnya, lalu mengakhiri panggilan itu tanpa berpamitan terlebih dulu.
“Oh, Tuhan. Kenapa berat sekali?” Paloma mulai menangis sambil memukul-mukul kepalanya menggunakan kedua tangan yang terkepal rapat. “Seandainya waktu itu aku mati bersamamu Nilo, mungkin aku tak perlu merasakan beban hidup seperti saat ini,” ujarnya sembari terisak.
“Aku tidak suka kata-kata itu, Paloma,” ucap sebuah suara yang berasal dari ambang pintu. Membuat Paloma seketika menoleh.
Rafael sudah berdiri sambil melipat tangannya di dada. Pria itu menyandarkan lengannya di dinding samping pintu masuk. “Apa yang terjadi sampai-sampai kau ingin ikut mati bersama Nilo? Apa karena Sebastian?” tanyanya.
__ADS_1
Paloma yang sudah mengalihkan pandangan, kembali menoleh sekilas pada Rafael. Namun, sesaat kemudian wanita itu memilih untuk menunduk dalam-dalam. “Pergilah, Rafael. Aku ingin merenung sendiri,” usirnya pelan.
“Tidak,” tolak Rafael tegas. “Aku tidak akan pergi ke manapun!” Pria tampan berambut ikal dan sedikit gondrong itu berjalan mendekat. Rafael kemudian duduk di samping Paloma.
“Aku dulu pernah menuruti perkataan Selena untuk membiarkannya merenung sendiri. Lalu, saat aku kembali ternyata dia sudah tewas gantung diri." Rafael tersenyum getir. “Aku tidak akan membiarkan kejadian yang sama berulang pada siapa pun. Terlebih padamu, Paloma. Aku sudah berjanji untuk membahagiakanmu selama tiga bulan ke depan, sebelum kau kukembalikan pada Sebastian.”
“Aku tidak akan menemuinya lagi sampai kita benar-benar resmi bercerai,” sahut Paloma yakin.
“Bagaimana jika proses perceraiannya berlangsung lebih lama dari yang kita kira?” Bagaimana hal itu memang benar-benar berlangsung lebih dari dua tahun, seperti yang pernah ayah katakan padaku?” Rafael menghadapkan tubuh sepenuhnya pada Paloma.
“Seperti yang pernah kau katakan. Jika Sebastian memang mencintaiku, maka dia pasti akan tetap menungguku selama apapun itu. Lagi pula, aku baru menyadari bahwa aku belum terlalu mengenalnya.” Paloma mengembuskan napas dalam-dalam.
Rafael menatap tak percaya saat mendengar penjelasan wanita yang masih berstatus sebagai istri sahnya tersebut. “Jangan ada lagi yang kau korbankan, Paloma. Terutama perasaanmu. Lebih baik aku mengalah ….”
Rafael terdiam sejenak sembari berpikir.
“Sebenarnya … kau bisa melakukan semua yang kau inginkan, Paloma. Kau tak perlu menuruti kata-kata pastor. Kau bahkan bisa keluar dan menjalin hubungan bersama siapa pun,” ucap Rafael lagi setelah terdiam beberapa saat.
“Apa maksudmu?” Paloma kembali menoleh pada Rafael seraya mengernyitkan kening.
“Seperti diriku dulu. Aku bisa menikah dengan Tatiana, meskipun masih terikat pernikahan denganmu. Kau hanya membutuhkan surat cerai yang sah di mata hukum. Asalkan semua syarat sudah terpenuhi secara catatan sipil,” terang Rafael.
“Tak usah kau pedulikan perkataan pastor. Kita … maksudku … kau yang menjalani hidupmu. Kau yang paling tahu seberapa nyaman atau bahagia dirimu. Seberapa sakit dan sedih,” lanjut Rafael lesu.
“Bagaimana bisa aku tidak memedulikan perkataan pastor?” Paloma mendengkus kesal. “Aku memang bukanlah seorang yang religius. Namun, bagiku pernikahan kita dulu adalah suatu hal yang benar-benar nyata dan bukan main-main. Pastor dulu mengikat kita dalam tali suci, maka dialah yang berhak melepas simpul tali itu. Tak peduli meskipun kita sudah berpisah secara hukum."
Paloma terdiam beberapa saat. Tatapannya tertuju pada lantai berlapis karpet. Paloma kembali merasa bimbang dengan perasaannya. Harapan indah itu seperti kembali menjauh, dan seakan meninggalkannya begitu saja.
__ADS_1
Sementara, Rafael juga ikut terdiam, meski hatinya penasaran. Namun, dia tak ingin mengusik lamunan Paloma.
“Biarlah Sebastian menunggu. Aku ingin tahu, sebesar apa cintanya dan sejauh apa pengorbanan dia untuk mendapatkanku,” pungkas Paloma sebelum berdiri dan keluar dari kamar.